Tentang Naik Haji, Kristianitas, dan Sentimen Perbedaan

Posted: 25 February 2017 by Olav Iban

Mungkin karena saya seorang Nasrani, sehingga keanggunan naik haji begitu menarik minat saya. Seandainya saja saya terlahir Hinduis, bisa jadi pada inkarnasi sebelum ini saya adalah seorang haji. Haji mardud rasanya, karena masih hidup lagi dan berdosa lagi.

Sebagai mantan civitas akademika yang dididik dengan paradigma positivistik, mulanya saya memahami teologi berhaji sebagai ritus dari masa lampau yang sama asingnya dengan Trinitas suci Kristen. Ada kecanggungan arkaik yang tidak masuk akal. Mungkin rasa canggung yang sama yang dialami pengikut Yesus ketika berupaya memahami reinkarnasi Hinduisme: misalnya, dari seorang gembala —karena buruk laku hidupnya, maka dia bereinkarnasi menjadi seekor domba. Atau mungkin secanggung penganut Hindu —yang memuliakan Nandi— saat menyaksikan sapi-sapi disembelih tiap-tiap Idul Adha. Atau mungkin seperti seorang Muslim yang kikuk melihat umat Kristen minum-minum anggur di gereja sementara si pendeta berkata anggur itu adalah darah.

Sekonyol apapun itu, bagi saya aroma lampau yang menyelubungi Ka’bah dengan kabut kisah-kisah unik nan gaib sungguh memikat hati. Naik haji itu mempesona.

Walau sekalipun belum pernah naik haji, akan tetapi kisah-kisahnya selalu mencandu seperti yang saya baca dalam tiga jilid buku Naik Haji di Masa Silam (Henri Chambert-Loir, 2013). Ada haji yang berkisah bahwa anjing biasa berkeliaran santai layaknya pelancong di Mekkah. Sebagai penjaga, katanya. Orang kafir pasti terendus dan digigit anjing sampai mati jika berani-beraninya menerobos ke Mekkah yang suci itu. Entah benar entah tidak, belum pernah saya ke Mekkah dan digigit anjing.

Ada juga haji yang berkisah tentang isi Ka’bah yang melompong kecuali dua tiang penyangga. Dan menggelantung di langit-langitnya: perkakas rumah tangga kuno seperti kendi kuningan, baskom, dan sejenisnya, yang konon milik Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad. Sungguh kesederhanaan yang patut dikagumi mengingat Ka’bah adalah pusat dunia Islam.

Dan yang paling mempesona, ada haji yang bercerita tentang seorang syekh mata duitan (sebenarnya bukan syekh tapi mutawif) yang menarik sekurangnya satu ringgit untuk mengucapkan, “Sammaituka sammakallah, bil Haji Fulan; falyaj’al hajjaka mabruran wa sa’yan mashkuran”  (Aku namai engkau, dan Allah menamai engkau Haji Anu. Moga-moga dijadikan-Nya hajimu berpahala dan sa’imu yang disyukuri) kepada jemaahnya yang linglung berharap ganti-nama dapat menghapus dosa-dosanya.

Kalau tidak salah, ialah Buya Hamka yang bercerita begitu dengan geram tidak setuju. “Nama yang telah diberikan ayahku kepadaku tidak akan kutukar!” begitu ucap Buya seperti yang dicatat Henri Chambert-Loir.

Bukan maksud hati berlawanan dengan Buya, namun tradisi mengganti nama setelah tuntas berhaji justru yang paling menarik minat saya. Bila mana dihendaki menukar nama di Mina pada hari kesepuluh sesudah rambut dicukur, saya tidak akan enggan dibaiat dengan nama baru: Abdul Latif “hamba yang lemah lembut.” Aduhai, sungguh nama yang Kristiani.

Bagi sementara orang, Kristianitas dan naik haji adalah dua hal berseberangan. Bukan tanpa sebab lebaran haji disebut juga Idul Adha, hari raya kurban —suatu pengulangan kembali kisah Nabi Ibrahim mengurbankan anaknya. Bagian uniknya, umat Islam meyakini ialah Ismail anak Siti Hajar yang diminta Allah untuk direlakan Ibrahim sebagai kurban. Sedangkan dalam dogma Kristen —juga Yahudi— adalah Ishak anak Sara-lah orangnya.

Efek kupu-kupu dari perbedaan ini meliuk-liuk sampai pada legitimasi ‘ilahiah’ tokoh terbesar dan terpenting dalam dua keyakinan itu, yakni Nabi Muhammad (keturunan Ismail) dan Yesus Kristus (keturunan Ishak). Kedua tokoh super ini memiliki banyak kemiripan, namun sayang tiap-tiap pengikutnya memandang dengan cara yang berseberangan. Mungkin bagi sementara orang hal itu dianggap selisih paham, namun kebanyakan orang Kristen tidak terlalu memperdebatkannya. Bagi mereka, terserah Ishak atau Ismail, yang pasti Allah memberi seekor domba (atau kambing, bebas saja) sebagai ganti kurban persembahan, dan itulah representasi Kristus yang mati disalib menebus dosa manusia. Sementara bagi sebagian umat Muslim, perbedaan ini juga tidak terlalu dipusingkan. Seperti celetukan Gus Dur kepada warga nahdliyin supaya tidak terlalu mempermasalahkan siapa yang dipilih antara Ismail atau Ishak, toh dua-duanya tidak jadi dikorbankan, kenapa harus ribut? Tapi sudahlah, tulisan ini bertujuan lain. Intinya, sebagian dari kita menganggap Kristianitas dan naik haji tidaklah nyambung.

Tetapi justru dengan merenungi naik haji-lah (tanpa bermaksud mengatakan ‘dengan naik haji’, karena memang belum pernah berhaji) saya dapat melihat Kristianitas terjun dari menara gadingnya yang biasanya terlalu tinggi untuk dimengerti.

Kendati sudah Kristen dari lahir, dan telah mengikuti ribuan kali Sekolah Minggu hingga baptis dewasa, tetap saja Kristianitas adalah hal yang rumit bagi saya. Pikir punya pikir, akhirnya saya coba teguhkan diri mengkategorikan Kritianitas sebagai satu dari sekian banyak gaya berenang.

Ketika Kapal Van der Wijck mengalami bocor lambung, ribuan orang berlompatan ke laut, berenang menjauh menggapai-gapai segala hal yang bisa dipakainya mengapung. Ada yang memakai gaya bebas sambil dagu tetap di permukaan. Ada gaya katak yang sesekali menyelam. Ada yang memilih pakai gaya punggung supaya bisa menyaksikan raksasa Van der Wijck perlahan karam di belakangnya. Dan ada pula yang tidak bergaya karena memang tidak bisa berenang. Semuanya sama, sama-sama mencari keselamatan. Begitulah Kristianitas menurut saya.

Tapi pendapat itu ternyata salah. Begini ceritanya.

Dua tahun lalu, sesaat setelah serangan teror di Paris pada malam 13 November 2015, saya sangat terkejut pada dua hal. Pertama, reaksi kartunis Majalah Charlie Hebdo —yang karyanya memicu teror ini— yang men-tweet: “Friends from the whole world, thank you for #prayforparis, but we don’t need more religion. Our faith goes to Music! Kisses! Life! Champagne and Joy!” (Teman-teman dari seluruh dunia, terimakasih atas doa kalian untuk Paris, tetapi kita tidak memerlukan agama lagi. Keimanan kami tertuju pada musik, ciuman, hidup, sampanye, dan kegembiraan!).

Yang kedua adalah kisah supir taksi di New York yang mengucapkan terimakasih sambil menangis kepada penumpang pertamanya setelah berjam-jam tidak ada yang berani memakai jasa taksinya hanya karena ia seorang Muslim.

Dari dua kejutan itulah saya tersadar bahwa pemaknaan agama di zaman posmo ini mulai absurd. Agama bukan lagi sekadar jalan keselamatan, tapi dipakai sebagai alasan untuk menjatuhkan mereka yang liyan, yang berbeda, yang bukan mereka.

Saya bayangkan ketika Van der Wijck tenggelam dalam gelapnya malam dan dinginnya Laut Jawa, para penumpangnya justru saling menenggelamkan. Berenang untuk bertahan hidup bukan lagi tujuan mereka, karena justru mati tenggelam adalah keselamatan (asal harus bisa membuat tenggelam penumpang yang lain). Dan pada akhirnya, tidak ada satu pun penyintas.

Kemudian bayangkan setelah tim SAR mengumumkan bahwa tidak ada korban selamat, akan muncul dua jenis keluarga korban yang masing-masing punya respon tersendiri mengenai tenggelamnya kapal Van der Wijck.

Keluarga korban jenis pertama adalah mereka yang marah dan menyalahkan paham keselamatan radikal di otak orang-orang yang menenggelamkan sesama penumpang itu. Saking marahnya, mereka lalu men-generalisir bahwa semua orang dari ras A pasti pandangannya radikal. Dalam dunia nyata, jenis keluarga korban yang seperti ini adalah para calon penumpang taksi di New York yang batal naik karena sopirnya seorang Muslim.

Jenis keluarga korban yang kedua adalah mereka yang sinis dan menyalahkan konsep ‘berenang’ ketimbang menyalahkan orang-orang yang saling menenggelamkan tadi. Mereka beranggapan bahwa ‘berenang’ itu kuno. Penumpang mestinya memakai sekoci penyelamat ketika terjadi bencana —lebih rasional, modern, dan tingkat kemungkinan bertahan hidupnya tinggi. Jenis keluarga korban ini adalah Charlie Hebdo dengan pemikiran ateistiknya.

Lalu, pikir-pikir, pada jenis manakah saya —seorang Kristen di negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia?

Saya tumbuh dan dibesarkan di Jawa Timur yang  pengikut NU-nya menganut doktrin toleransi yang kuat. Kemudian hampir 10 tahun berikutnya saya habiskan di Yogyakarta yang pengikut Muhammadiyah-nya berpendidikan cukup tinggi untuk memahami perbedaan sebagai keindahan. Dari sini saya mulai lagi merenungkan tentang makna Kristianitas dalam hidup saya lewat cermin toleransi yang saudara-saudara Muslim telah lakukan, yang memantulkan makna cinta kasih kepada kaum Kristiani yang minoritas di negara ini.

Haruskah saya seperti Charlie Hebdo yang menyalahkan konsep Tuhan dalam wacana agama? Atau seperti kaum ultra-kanan yang radikal menyalahkan pemeluk keyakinan lain?

Tumbuh besar di negara dengan penduduk Muslim terbesar membuat saya banyak bersahabat dengan teman-teman Muslim, dan sedikit banyak memahami bahwa sentimen perbedaan bukan hal yang patut dipermasalahkan mereka.

Seperti naik haji di mana semua ras, suku, bahasa, adat-budaya, hingga warna rambut dari timur barat bumi berkumpul jadi satu di Mekkah dalam satu keyakinan bernama Islam, maka begitu pula hidup di dunia: apapun keyakinanmu (beragama atau pun ateis) kita sama-sama berkumpul di planet Bumi dalam satu keyakinan bernama kemanusiaan.

Bagi sebagian orang, naik haji adalah idaman, dambaan, harapan, cita-cita yang mesti terwujud sebelum hayat berakhir. Suatu momentum ragawi akan kecintaan manusia kepada Tuhannya. Namun bagi saya (yang amatlah kecil memiliki kesempatan ke Mekkah), naik haji adalah perenungan yang sangat dalam tentang manusia. Betapa sebenarnya saya iri ingin sama seperti mayoritas penduduk negeri ini yang mengantri puluhan tahun untuk berhaji, iri menghadiri tahlilan, iri ikut keliling kampung menabuh bedug meneriakan takbir, mengucap tahmid ketika perut kekenyangan, atau membatin tasbih ketika melihat gadis ayu. Tapi siapalah saya? Hanya seorang kufur. Apalah yang saya bisa selain merenungi bahwa inilah indahnya perbedaan.

 

Palangka Raya, Februari 2017

 

*Foto adalah screenshot dari iklan Amazon Prime. Versi penuh dapat dilihat di sini

 

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi/

 

Pendapat Anda:

1 Comment

  • Danu Saputra 26 February 2017 at 08:39

    Perspektif Olav Abdul Latif Iban yang selalu berpijak pada kemanusiaan dan kelembutan hati memang selalu menarik sekaligus menyenangkan untuk diikuti.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *