[Ngibul #58] Melawan Sistem Kerja seperti Dashrath Manjhi

Posted: 26 March 2018 by Bagus Panuntun

Erich Fromm, seorang psikolog, sosiolog, dan filsuf, asal Jerman dalam bukunya Seni Mencintai sempat menyinggung persoalan kerja dengan menyebut dua jenis sistem kerja. Ia menyebut kerja yang pertama sebagai sistem kerja modern, sementara kerja yang kedua sebagai sistem kerja produktif. Sistem kerja modern adalah sistem kerja yang paling jamak kita temui sekarang, yaitu sistem kerja di mana tugas-tugas manusia tidak ditentukan oleh inisiatifnya, tetapi oleh organisasi kerja. Dalam sistem yang dibangun organisasi kerja modern, manusia menjadi makhluk delapan jam, mengerjakan tugas-tugas dengan cara dan kecepatan yang ditentukan, bahkan perasaan dan sifatnya pun telah ditentukan: ia harus murah senyum, ceria, ambisius, bersedia bekerja di bawah tekanan, bahkan dilarang jatuh cinta dengan teman kantornya sendiri. Sementara itu, sistem kerja yang kedua adalah sistem kerja produktif, yaitu sistem kerja yang saya rencanakan, saya ciptakan, dan saya nikmati hasilnya. Sistem kerja produktif adalah sistem kerja yang ditentukan inisiatif sendiri. Dalam kerja ini, orang dianggap menyatu dengan pekerjaannya. Pekerjaan macam ini biasanya dapat kita lihat pada para seniman, sastrawan, atau pekerjaan-pekerjaan lain yang berhubungan dengan mencipta.

Dalam bukunya yang lain berjudul Konsep Manusia menurut Karl Marx, Fromm juga mewanti-wanti kita tentang dua sistem kerja tersebut. Menurutnya, manusia seharusnya terbebas dari kerja modern yang menghancurkan individualitas. Bahwa manusia sebaiknya mengerjakan sesuatu yang tidak terpisahkan dari sifat potensialnya, yaitu kekuatan kreatif manusia agar ia bisa menjadi apa yang dia “dapat menjadi”, bukan menjadi apa yang “harus menjadi”. Bagi Fromm, hanya dengan bekerja sesuai sifat potensialnya itulah manusia dapat terhindar dari rasa keterasingan, menemukan dirinya sendiri, dan pada akhirnya berbahagia—tulisan Fromm ini terinsipirasi dari tulisan Karl Marx tentang konsep alienasi (Untuk memahami lebih lanjut soal konsep alienasi silahkan baca esai Olav Iban, Hubungan Cinta, Kerja, dan keterasingan).

Permasalahannya, di era modern di mana model kerja kapitalisme semakin mapan dan terus bertransformasi, mungkinkah kita bekerja dengan sistem kerja produktif dan terbebas dari sistem kerja modern? Sebagaimana kita tahu, kerja produktif identik dengan idealisme. Mereka yang ngotot lepas dari sistem kerja modern tak jarang harus hidup dalam keadaan miskin dan menderita. Beberapa di antaranya bahkan sampai ditinggalkan orang-orang terdekatnya. Vincent Willem van Gogh, pelukis pasca-impresionis asal Belanda yang memutuskan menghabiskan waktunya untuk melukis sejak umur 27 tahun itu misalnya, harus rela ditinggalkan hampir seluruh keluarganya hingga sepanjang hidupnya terus didera kesepian. Karl Marx sendiri yang menghabiskan waktunya untuk menekuni filsafat dan konon selalu berada di perpustakaan 15 jam sehari juga mengalami kemiskinan akut dan menelantarkan keluarganya ketika berada di London. Di penghujung hidupnya, ia bahkan menderita bronkitis dan radang selaput dada selama 15 bulan sebelum akhirnya meninggal tanpa status kewarganegaraan dan pemakamannya hanya dihadiri 9 pelayat.

Dari beberapa kisah ironis itu, pada akhirnya kita kerap mendengar omongan orang yang kira-kira berbunyi “kalau mau idealis, jadi kaya raya dulu lah”.

Pertanyaannya, benarkah untuk menjadi idealis dan menjalani hidup dengan laku kerja produktif, maka kita harus kaya dulu? Pertanyaan tersebut mungkin patut kita renungkan kembali jika kita menonton kisah hidup Dashrath Manjhi dalam film India berjudul Manjhi The Mountain Man (2015) karya Ketan Mehta.

Manjhi adalah sosok yang riwayatnya dikenang sebagai manusia yang menghancurkan gunung dengan palu selama 22 tahun (1960 sampai 1982). Film ini diadaptasi dari kisah nyata seorang pemuda dari kasta terendah India. Ia tinggal di sebuah desa terpencil yang kering kerontang bernama Gahlore. Di Gahlore, jarak adalah kematian yang mengintai.  Sebuah gunung di desa itu membuat Gahlore terpisah sejauh 70 kilometer dari kota terdekat. Akibatnya, akses pendidikan, teknologi, dan kesehatan hampir tak terjangkau.

Suatu hari, istri Manjhi yang tengah hamil tua jatuh terjengkang. Ia mengalami keguguran dan Manjhi harus membawanya ke kota terdekat untuk memberinya pertolongan. Tapi di tengah perjalanan yang belum seperempat ditempuh, darah terus mengalir deras dari lobang peranakannya dan meluruhkan dua nyawa orang yang paling Manjhi sayang—istri dan anaknya.

Selepas hari itu, Manjhi tak pernah lagi jadi orang yang sama. Setiap hari dalam hidupnya, sejak pagi hingga larut, ia selalu pergi ke gunung dengan menggenggam satu palu untuk menghantam gunung yang memisahkan Gahlore dengan peradaban. Akibat tindakannya tersebut, Manjhi dianggap gila. Tapi kegilaannya terus berlanjut sampai akhirnya ia bisa menghancurkan gunung itu dan memangkas jarak antara Gahlore menuju kota terdekat sejauh 69 kilometer.

Setelah film Manjhi the Mountain Man, Dashrath Manjhi akhirnya dikenal di seluruh dunia. Sebagian orang mengenangnya karena cintanya pada sang istri yang begitu agung. Sebagian lagi mengenangnya karena tindakannya yang dianggap sangat radikal dan bahkan menantang Tuhan. Salah satu ungkapannya yang paling terkenal adalah “Never depend upon God. Who knows that God may depend on you?”.

Tapi saya mengenangnya dengan cara lain. Menurut saya, Manjhi adalah gambaran dari seorang yang melakukan kerja produktif paling total dari pencipta manapun. Seniman lain mungkin hanya memahat batu jadi kuda, sedangkan Manjhi justru memahat batu raksasa (gunung) menjadi jalan yang dapat dilalui seribu kuda. Lebih dari itu, ia juga menjadi antitesis dari siapapun yang meyakini bahwa kerja produktif hanya bisa dilakukan oleh mereka yang kaya raya. Dari Manjhi, saya justru meyakini bahwa kerja paling produktif justru bisa dilakukan oleh mereka yang sudah tak punya apapun.

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi

Pendapat Anda: