[Ngibul #31] Gara-Gara Tere Liye

Posted: 11 September 2017 by Andreas Nova

Barangkali jika polemik pajak penulis dan Tere Liye sudah bergulir satu dekade yang lalu, mungkin ibu saya tidak akan memberikan restu untuk berkuliah di Jurusan Sastra. Selepas SMA, masuk UGM bukan tujuan utama saya. Predikatnya sebagai salah satu universitas terbaik di Indonesia sudah membuat saya minder. Semula saya lebih memilih main aman untuk mendaftar universitas-swasta-yang-jelas-diterima-dan-tinggal-bayar-lebih atau sekolah-tinggi-yang-kekurangan-mahasiswa-masuknya-mudah-keluarnya-apalagi. Tapi ibu saya mendorong untuk ikut UM UGM. Masuk ya syukur, enggak ya silakan masuk ke universitas-swasta-yang-biaya-kuliahnya-bisa-buat-modal-dagang. Untungnya saya lolos UM UGM. Cita-cita ibu saya untuk melihat anaknya diwisuda di Grha Sabha Pramana pun dikabulkan Tuhan (walaupun harus menunggu selama lima belas semester). Selayaknya ibu yang sayang pada anaknya, ibu ingin masa depan anaknya jelas. Tapi apakah universitas mampu menjamin masa depan? Hanya Fakultas Kedokteran yang menjamin lulusannya bisa menjadi dokter (setelah koas), Yang lain? saya rasa tidak. Tidak semua lulusan hukum menjadi advokat atau notaris, tidak semua lulusan teknik mesin bekerja di pabrik mobil, tidak semua sarjana pendidikan menjadi guru, tidak semua anak filsafat menjadi filsuf dan tidak semua anak sastra menjadi sastrawan. Kebanyakan dari mereka menjadi pegawai bank. Seandainya ibu saya mendengar berita kalau pajak penulis sebesar 245 juta seperti yang dituturkan Tere Liye, mungkin beliau akan menyarankan masuk ke jurusan lain atau bekerja sebagai staff kantor dengan penghasilan yang di bawah Pendapatan Tidak Kena Pajak.

Gara-gara heboh berita Tere Liye yang memprotes pengenaan pajak penulis yang dirasanya tidak adil tersebut membuka mata masyarakat kita bahwa semakin banyak profesi-profesi yang di luar negeri cukup menjanjikan tapi menjadi tidak menjanjikan ketika sampai di negeri ini. Misalnya pemain sepakbola. Di luar negeri, khususnya di Eropa, pemain sepakbola adalah profesi yang cukup menghasilkan, bermain di liga kasta kedua saja sudah bergaji ratusan ribu euro per tahun, apalagi jika pemain tersebut bermain di liga utama dan klub yang terkenal alhasil gaji dan nilai kontraknya akan bertambah berkali-kali lipat. Jika ditambah wajah yang rupawan, bisalah pundi-pundi uangnya kembali berlipat ganda dari pendapatan iklan—walaupun pajaknya juga berlipat ganda. Misalnya Cristiano Ronaldo dos Santos Aveiro. Seorang anak muda dari Madeira, Portugal, mengawali karier di Sporting Lisbon pada tahun 2002. Kemudian dilirik oleh Sir Alex Ferguson lalu dibeli Manchester United pada tahun 2003, Bermain dari 2003 hingga 2009 di Old Trafford kemudian dibeli Real Madrid sekaligus memecahkan rekor transfer waktu itu dengan harga €94 juta dan kemudian menjadi salah satu atlet terkaya di dunia. Nampak mudah dan menyenangkan ya? Percayalah semua itu hanya wang sinawang. Berapa persen sih kemungkinan anak muda di Madeira untuk menjadi pemain Real Madrid? Tidak mudah walau kemungkinannya tidak nol persen. Tidak hanya butuh kerja keras tapi juga butuh keberuntungan. Profesi pemain sepakbola yang keren dan luar biasa itu menjadi menyedihkan ketika kita melihat kenyataan yang terjadi di negara ini. Ada pemain sepakbola yang setelah pensiun malah menjadi PNS, atau malah jualan es, atau menjadi entah apa setelah fisiknya tak kuat lagi diajak beradu di lapangan rumput. Pemain sepakbola hanya salah satu contoh saja, umumnya semua atlet memiliki kemungkinan untuk menghadapi nasib yang kurang lebih sama jika tidak pandai mengelola keuangannya dengan baik untuk masa depannya. Itu juga kalau ada uang untuk dikelola.

Penulis lebih menyedihkan lagi. Di luar negeri, setahu saya penulis yang terkenal kere itu cuma Edgar Allan Poe, dan itu sudah lebih dari seabad yang lalu. Penulis seperti Dan Brown, J.K Rowling, Neil Gaiman, Yann Mattel, Paulo Coelho itu nominal royaltinya luar biasa. Padahal mungkin persenan royaltinya tidak jauh beda dengan penulis-penulis Indonesia. Penulis Indonesia itu musuhnya banyak, mulai dari minat baca masyarakat yang mending-kepoin-mantan-di-instagram-daripada-baca-buku, daya beli buku yang di-atas-lima-puluh-ribu-udah-dianggap-mahal-seratus-ribu-mending-enggak-usah-kecuali-buku-penulis-terkenal, penerbit yang kelamaan-bikin-laporan-penjualan-karena-kebanyakan-manipulasi, pembajak buku yang bukunya-dijual-separuh-dari-harga-asli-karena-cuma-fotokopi-yang-kadang-hasilnya-miring-tapi-duitnya-masuk-kantung-sendiri, ditambah pajak yang dipersoalkan Tere Liye.

Gara-gara Tere Liye, masyarakat jadi terbuka matanya kalau ide yang dituangkan dalam bentuk tertulis itu dikenai pajak. Pajak ada sebagai eksistensi ide. Saya sih setuju saja kalau untuk saat ini pajak bagi penulis dibuat lebih ringan atau malah dihilangkan. Supaya ide dan segala pemikiran kritis dapat meluap dan memperkaya budaya berpikir dan berdiskusi di negara kita. Bahkan jika perlu semua yang menunjang industri perbukuan dari hulu sampai hilir pajak dan birokrasinya dipermudah. Karena industri perbukuan di Indonesia ini belum mapan. Ada beberapa penerbit besar yang menang modal melawan ratusan penerbit kecil yang sama-sama memperebutkan pasar yang kecil. Minat baca kecil, daya belinya juga kecil. Bisnis apa itu? Nggak seksi di mata para investor. Hanya orang yang mencintai buku dan punya gairah terhadap dunia perbukuan saja yang mau berkecimpung di industri perbukuan. Pemerintah berbuat apa untuk meningkatkan minat baca? Mewajibkan pelajar membaca buku selama lima belas menit sebelum pelajaran? Lima belas menit itu dapat berapa halaman? Berapa bulan baru bisa menghabiskan satu buku? Gini mau mencerdaskan kehidupan bangsa? Meh!

Gara-gara penjelasan Tere Liye yang menyederhanakan ilustrasi hitung-hitungan pajak ini, masyarakat awam menganggap penulis di Indonesia bisa memiliki pendapatan royaltinya satu milyar setahun. Hoax aja ditelan mentah-mentah apalagi mislead information seperti ini. Apalagi kecenderungan masyarakat kita suka mengeneralisasikan semua hal. Kasus Rohingya di Myanmar, yang mau di-grudug Candi Borobudur, atau menganggap semua Liberal adalah PKI terlepas hal itu benar atau salah. Kalau misal memang penulis Indonesia pendapatannya sampai semilyar setahun, berarti budaya membaca masyarakat sudah sangat baik karena minat baca—juga daya beli dan kesadaran masyarakat untuk tidak membeli buku bajakan—meningkat. Bisa jadi muncul banyak Sekolah Tinggi Ilmu Sastra (terserah mau disingkat apa). Penerbit-penerbit berlomba untuk menerbitkan buku yang bermutu, percetakan-percetakan berlomba untuk meningkatkan mutu cetaknya sehingga tidak ada insiden-salah-cetak-bendera-terbalik. Distributor, toko buku dan penjual buku menjadi sama larisnya dengan penjual gawai. Perpustakaan ada di mana-mana dan menjadi center of community. Ide akan dilawan dengan ide, buku dilawan dengan buku bukan dengan laporan kepolisian. Taman Budaya Yogyakarta selalu ramai dengan acara apresiasi sastra, juga negara ini akan aman tenteram loh jinawi. Tapi kan enggak seperti itu. Walaupun tidak berarti kemungkinan penulis Indonesia yang berpenghasilan satu milyar hanya dari royalti buku itu tidak ada sama sekali. Mungkin ada, tapi berapa banyak? Berapa buku yang telah ia tulis? Dengan minat baca masyarakat yang menyedihkan, berapa banyak buku yang harus ia hasilkan untuk sampai angka satu milyar? Akan lebih lucu lagi kalau ada masyarakat yang nggak ngerti soal royalti dan perpajakan asal nyeletuk aja, “Bajigur, pajaké 245 yuta, iso-iso Tere Liye dadi Kere Hore

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi

Pendapat Anda:

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *