[Ngibul #16] Antara Scrummy, Baklave, dan Strudel

Posted: 22 May 2017 by Andreas Nova

scrummy

Ketika seseorang pergi dari daerahnya—entah merantau, entah pergi untuk urusan bisnis, umumnya barang bawaannya ketika pulang bertambah dengan adanya buah tangan alias oleh-oleh. Awalnya buah tangan digunakan sebagai kenangan bahwa seseorang pernah berkunjung ke daerah lain, biasanya berupa barang khas daerah yang dikunjungi. Dengan kekayaan budayanya, hampir semua daerah di Indonesia memiliki buah tangan khas daerah masing-masing. Bentuknya pun beragam, mulai dari gantungan kunci hingga—dengan alasan kepraktisan—makanan. Rasanya belum lengkap jika pulang tanpa membawa buah tangan. Apabila anda berpergian ke Yogyakarta, hampir dapat dipastikan akan membeli oleh-oleh Bakpia atau Gudeg, dua makanan khas Yogyakarta—walaupun kedua makanan tersebut juga bisa ditemukan di Solo dan sekitarnya. Bahkan tidak perlu khawatir makanan tersebut cepat basi jika dibawa pulang, karena tersedia Bakpia kering—yang diklaim bisa bertahan sampai seminggu, juga Gudeg kaleng—yang konon bisa bertahan lebih dari sebulan. Yang mengherankan adalah ketika suatu saat seorang teman saya berkunjung ke Yogyakarta, ia ingin membeli Jogja Scrummy sebagai oleh-oleh.

Awalnya saya bingung, Scrummy itu apa? Dan kenapa oleh-olehnya Scrummy? Saya baru tahu ketika saya mengantarkan teman saya ke salah satu outlet Jogja Scrummy di Jalan Brigjen Katamso. Outlet tersebut didominasi warna kuning, dengan papan nama toko di atasnya, di situ nampak foto Dude Herlino, membawa sekotak kue dan bertuliskan ‘Kini oleh-oleh Jogja tidak hanya Bakpia’ di sebelahnya. Di situ saya mengerti seperti apa bentuk kue yang diberi nama Scrummy ini. Pertanyaan saya sederhana, oleh-oleh umumnya adalah suatu hal yang menjadi khas daerah tersebut. Seberapa khas sih Scrummy ini untuk Yogyakarta? Pertanyaan serupa saya mungkin bisa saya ajukan kepada Baklave Makassar juga Strudel Malang yang tiba-tiba mengklaim bahwa produk mereka adalah makanan khas daerah tersebut.

Sepemahaman saya, ada dua hal yang membentuk identitas sebuah makanan menjadi makanan khas daerah tertentu. Yang pertama penggunaan bahan lokal atau metode tradisional, yang kedua melalui relasi sejarah yang kuat terhadap daerah asalnya. Bakpia dan Gudeg bagi Yogyakarta memiliki sejarahnya masing-masing. Bakpia yang aslinya merupakan kuliner Tiongkok yang disesuaikan dengan budaya masyarakat Yogyakarta tercatat sudah ada sejak tahun 1948. Bakpia yang asli berisi daging babi, namun karena mayoritas masyarakat Yogyakarta adalah muslim, maka isi Bakpia ini diganti dengan kumbu. Awalnya terkenal di daerah Pathok, kemudian berkembang di daerah Ngasem. Sedangkan Gudeg malah lebih lama lagi. Prof. Murdijati Gardjito, peneliti di Pusat Kajian Makanan Tradisional (PKMT), Pusat Studi Pangan dan Gizi UGM dalam bukunya Gudeg Yogyakarta, menuturkan bahwa Gudeg sudah ada sejak Kerajaan Mataram Islam berdiri.

“Saat pembangunan kerajaan Mataram di alas Mentaok, banyak pohon yang ditebang, dan di antaranya adalah pohon nangka, kelapa, dan tangkil atau melinjo,” jelasnya.

Karena banyaknya buah gori (nangka muda), kelapa, dan daun tangkil (melinjo), akhrinya mendorong para pekerja untuk membuat makanan dari bahan-bahan tersebut. Untuk memenuhi makan para pekerja yang jumlahnya begitu besar, nangka muda yang dimasak jumlahnya juga sangat banyak. Bahkan untuk mengaduknya atau dalam bahasa Jawa disebut hangudeg harus menggunakan alat menyerupai dayung perahu. Dari proses mengaduk (hangudeg) ini makanan yang diciptakan dari nangka muda ini disebut gudeg. Gudeg juga merupakan salah satu makanan yang tercatat dalam karya sastra Jawa, Serat Centhini. Diceritakan di dalamnya, Raden Mas Cebolang tengah singgah di pedepokan Pengeran Tembayat yang saat ini berada di wilayah Klaten. Di sana Pengeran Tembayat menjamu tamunya yang bernama Ki Anom dengan beragam makanan dan salah satunya adalah gudeg. Selain menggunakan gori (nangka muda), Gudeg juga bisa dibuat menggunakan manggar (bunga kelapa), dan rebung (bambu muda). Pembangunan kampus UGM di daerah Bulaksumur, juga memunculkan kampung sentra gudeg Mbarek—sebelah utara Kampus Bulaksumur. Seiring dengan berjalannya waktu, sektor wisata juga semakin berkembang. Hal ini melatarbelakangi pemerintah untuk mengkontruksi sentra gudeg baru, yang berada di Wijilan sekitar tahun 1970-an.

Sedangkan Scrummy adalah kreasi boga yang merupakan perpaduan antara Puff Pastry dan Brownies kukus. Puff Pastry alias Pâte Feuilletée berasal dari Prancis dan sudah ada semenjak abad ke-17. Puff Pastry menggunakan komposisi adonan yang sama dengan Croissant yang merupakan kue khas Prancis. Sementara Brownies yang ada di bawahnya merupakan varian kue yang berasal dari Chicago, Amerika Serikat. Kedua fakta sejarah tersebut semakin membuat saya bingung dengan klaim Scrummy sebagai oleh-oleh Jogja. Sama halnya dengan Baklave Makassar dan Strudel Malang. Baklave atau Baklava adalah hidangan pencuci mulut yang memiliki rasa khas tersendiri. Tumpukan filo super tipis nan renyah, diperkaya dengan isian yang biasanya berupa aneka kacang dan kismis, yang telah direndam di dalam campuran simple syrup dan kayumanis. Menurut sejarah, Baklava berasal dari Kesultanan Ottoman. Konon Kesultanan Ottoman secara khusus menghidangkan Baklava kepada pasukan infanteri elit mereka, Yanisari. Tidak ada relasi sejarah yang menghubungkan Baklava dengan Makassar—kecuali dihubungkan oleh Irfan Hakim. Sementara Strudel dikenal sebagai makanan khas Austria, yang konon sudah ada sejak masa Monarki Habsburg—dikemudian hari menjadi Kekaisaran Austro-Hungaria. Strudel adalah kue berlapis, yang terbuat dari Puff Pastry dan di isi berbagai buah-buahan. Kue ini sangat populer di Eropa, saking populernya, makanan ini menjadi makanan favorit rakyat Austria, Jerman dan negara Eropa lainnya. Strudel yang paling populer adalah strudel dengan isi buah apel. Lalu hanya karena apel tersebut diganti menjadi Apel Malang, lalu bolehkah diklaim —oleh Teuku Wisnu—menjadi Strudel khas malang? Apakah karena hanya secara eksklusif dijual di kota-kota tersebut maka otomatis menjadi makanan khas? Coba lepaskan kata Baklave dari Makassar, Strudel dari Malang, dan Jogja dari Scrummy. Ketiganya akan menjadi kue modern berbasis Puff Pastry yang tidak memiliki identitas sebagai makanan khas.

Mengkreasi Baklava, Strudel hingga Scrummy ke selera masyarakat Indonesia adalah hal yang baik dan patut diapresiasi. Apalagi Scrummy yang setahu saya memang varian baru dari kue berbasis Puff Pastry—berbeda dari Baklava dan Strudel yang dikreasi dari makanan yang sudah ada sebelumnya. Apresiasi tersebut terlihat dari reaksi masyarakat yang menyambut baik, terlihat dari ramainya outlet-outlet makanan tersebut. Namun bukankah demikian sifat masyarakat kita. Mudah meniru dan latah sosial, sehingga segala sesuatu mudah menjadi viral melalui media sosial. Apalagi ketiga makanan tersebut hadir seolah menyusul maraknya para selebriti yang berbisnis oleh-oleh kekinian dengan masakan dari luar negeri.

Lalu apakah tidak boleh memperkenalkan makanan dari negara lain untuk kemudian dimodifikasi sedemikian rupa menjadi masakan khas suatu daerah? Tentu saja boleh. Kue Mochi yang diperkenalkan tentara Jepang pada masa penjajahan juga menjadi oleh-oleh khas Semarang dan Sukabumi. Namun lucu rasanya ketika tiba-tiba sebuah makanan asing yang tidak ada hubungan sejarah dan budaya tiba-tiba diproklamasikan sebagai makanan khas suatu daerah. Tanpa bermaksud ofensif, ibarat seorang mahasiswa dari Medan, berkuliah di Jogja baru satu tahun, kos di daerah Pogung, pas ditanya asal usulnya oleh orang tua sang pacar, ia menjawab, “Kulo asli Pogung” dengan logat Batak kental.

Ada baiknya status kekhasan suatu makanan —atau juga yang lain, diberikan bukan karena klaim sepihak, namun juga dibiarkan membentuk identitas dan sejarahnya dulu. Lidah memang tidak mengenal batasan sejarah dan budaya, tapi memperkenalkan identitasnya sebagai makanan khas rasanya berlebihan dan terburu-buru. Jangan mentang-mentang semuanya sekarang serba instan, lalu identitas suatu makanan jadi instan juga.

 

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi/

Pendapat Anda:

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *