Yang Iteratif dan Karnival dalam Novel Jemput Terbawa karya Pinto Anugrah

Posted: 2 June 2018 by Ramayda Akmal

Jemput Terbawa Book Cover Jemput Terbawa
Pinto Anugrah
Buku Mojok
2018
206
Rp65.000

Laya, seorang perempuan dari ibukota, untuk pertama kalinya memutuskan pulang ke kampung halaman yang tidak pernah ia kunjungi sekali pun. Ia memilih meninggalkan segala kenyamanannya di Jakarta demi tinggal di sebuah kampung terpencil, di ceruk Bukit Barisan.

Alih-alih menjemput masa depan yang cerah di Jakarta, ia justru memilih menjemput babak baru hidupnya ke sebuah lembah yang asing. Titik balik yang akan membawanya dalam sebuah perjalanan panjang yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

 

Ketika menyelesaikan novel Jemput Terbawa karya Pinto Anugrah, saya merasa bahagia sekali layaknya berhasil menyelesaikan permainan yang saya belum mengerti itu apa sampai ketika permainannya berakhir. Novel ini begitu riuh, menuntut pengetahuan referensial yang luas, penuh teka-teki dan kejutan, dan dengan demikian kita akan keliru jika tergesa-gesa menyimpulkannya.

Pada halaman-halaman awal, saya menduganya sebagai novel sejarah, yang diceritakan lamat-lamat dibalik kisah pilu perempuan-perempuan yang terjebak dalam konflik peristiwa PRRI. Namun kemudian dugaan saya beralih, ketika berbagai versi cerita tentang Bundo Kanduang—cerita Puti Panjang Rambut dan cerita Dara Jingga—dinarasikan dengan panjang lebar penuh suspense. Saya melihat novel ini kemudian lebih sebagai sebuah representasi dan intepretasi atas kultur dan sejarah Minangkabau. Fitur-fitur adat Minang ditemukan di setiap celah cerita novel ini. Terutama, dengan lebih spesifik, dalam konteks bagaimana kultur ini menempatkan perempuan.

Namun juga, ketertarikan saya pada tema di atas segera surut, diganti oleh temuan-temuan lain yang lebih menggiurkan setelahnya. Bagaimana Pinto menghadirkan cerita-cerita tersebut, menyusun dan menghubungkannya satu sama lain dalam struktur yang kompleks, bagi saya merupakan keberhasilan yang ultima. Saya merasa, penelusuran terhadap bentuk yang intricate ini adalah kunci, untuk mengurai gagasan utama penciptaan novel Jemput Terbawa.

Novel Iteratif

Novel Jemput Terbawa memiliki begitu banyak level naratif, yang satu sama lain tidak terpisah secara jelas. Narasi-narasi tersebut saling menyusup dan bersinggungan satu dengan lainnya melalui kehadiran dispatching karakter, yakni Tukang Kaba, yang hadir dan datang-pergi melintasi berbagai level narasi.

Novel ini diawali oleh adegan Tukang Kaba yang hendak bercerita. Dalam dimensi cerita ini terdapat tokoh perempuan muda bernama Laya, yang pulang ke kampung halamannya di Lembah Pagadih, untuk menyusuri keluarganya yang ditemukan menjadi bagian dari sejarah PRRI yang rumit dan kelam. Cerita Laya merupakan narasi level pertama. Tukang Kaba kemudian juga menceritakan tentang Puti Panjang Rambut. Cerita ini menjadi narasi level berikutnya. Demikian pula dengan cerita tentang Dara Jingga yang juga menghadirkan level narasi berbeda. Menariknya, di dalam masing-masing cerita juga ditemukan Tukang Kaba, yang diisyaratkan memiliki kuasa untuk mengatur jalan cerita di masing-masing narasi tersebut.

Tidak berhenti sampai di situ, berbagai level narasi ini dihadirkan dalam order yang selang-seling atau seperti saya bilang di awal, dalam kondisi suspending. Dan novel ini tidak memberi tanda apapun terkait perpindahan dari satu narasi ke narasi berikutnya. Pembaca harus mengidentifikasi dari cerita dan karakter serta latar yang perlahan-lahan berubah.

Lalu apa yang saya dapatkan dari novel dengan formasi yang demikian? Tentu saja kemudian saya mengamati dan menemukan adanya cerita, karakter dan motif-motif yang paralel dari satu narasi ke narasi lainnya. Dalam konteks ini, novel Jemput Terbawa adalah novel yang iterative1)Bacaan lanjut: Genette, Gerard. 1980. Narrative Discourse: An Essay of Method. New York: Cornell University Press, yang pada satu kesempatan menarasikan banyak cerita yang terjadi pada dimensi yang berbeda. Banyak cerita itu pada akhirnya mendukung satu gagasan yang sama, atau secara sederhana, tema utama novel ini. Tragedi yang dialami tokoh Laya, adalah perulangan dan/atau kelanjutan dari tragedi yang dialami perempuan-perempuan lain, seperti tragedi Nurselah, ibunya, yang hamil di luar nikah pada masa gejolak PRRI; tragedi di balik percintaan Puti Panjang Rambut dan Bujang Salamat Panjang Gombak; juga lika-liku kehidupan Dara Jingga dan Dara Petak dalam selasar cerita Ekspedisi Pamalayu.

Saya sebut sebagai kelanjutan, sebab cerita Laya, selain mengulang kembali tema-tema dari sejarah masyarakat Minang itu, juga berupaya memberi nafas dan intepretasi baru. Cerita-cerita yang berpusat di istana, dalam ruang lingkup politik yang begitu luas, tiba-tiba diturunkan menjadi cerita yang tidak lebih seperti roman keluarga. Secara bentuk, melalui roman keluarga yang menjadi bingkai cerita yang lain, Pinto berupaya melakukan pembelokan. Jika pada cerita Puti Panjang Rambut dan Dara Jingga, akhir cerita dinarasikan dengan terpusat dan pasti, cerita Laya dihadirkan dengan dua pilihan akhir yang berbeda, akhir yang sedih dan akhir yang bahagia. Pilihan narasi ini bisa dikatakan mencerminkan upaya Pinto untuk mencairkan tatanan-tatanan yang diterima begitu saja, yakni tatanan cerita, mitos, yang juga melambangkan tatanan sosial yang lebih luas di masyarakat Minangkabau.

Novel Karnival

Upaya-upaya ini, kemudian mengarahkan saya untuk juga menyebut novel Jemput Terbawa sebagai novel karnival. Bakhtin2)Bacaan lanjut: Bakhtin, Mikhail. 1929. Problem of Dostoevsky’s Poetics. Minneapolis, MN: University of Minessota; Bakhtin, Mikhail. 1941. Rabelais and his World. Bloomington: Indiana University Press. menyebut beberapa karakter karnival yang saya juga temukan dalam novel karya Pinto Anugrah ini. Pertama, novel ini mempertemukan berbagai tokoh dengan karakteristik yang berbeda dalam interaksi yang unik, di mana tokoh-tokoh mempertahankan ekspresi dan pandangannya masing-masing. Kedua, terdapat hubungan-hubungan  yang tampaknya sulit terjalin, tapi toh disatukan juga dengan cara tertentu. Ketiga, tindakan-tindakan yang dianggap asusila, dihadirkan, tanpa disertai penilaian-penilaian, apalagi hukuman, justru sebagai bentuk “mempertanyakan kembali” penilaian dan hukuman-hukuman tersebut.

Jadi, novel yang karnival ini tidak hanya menarik karena menghadirkan begitu banyak cerita secara bersamaan, tetapi juga karena bentuknya sendiri mencerminkan gagasan-gagasan utama penciptaan novel ini, yakni pembacaan kritis terhadap nilai-nilai kepercayaan tunggal terkait adat, moral dan nilai kemanusiaan yang lain.

Meskipun ada satu level narasi yang tampak dominan dibandingkan yang lain, bukan berarti pula narasi-narasi yang lain tersebut tidak lebih signifikan. Novel ini bisa dibaca sebagai satu keutuhan, namun demikian pula masing-masing cerita di dalamnya. Setiap kali saya berhadapan dengan satu level narasi yang berbeda dalam novel ini, saya membacanya sebagai bagian dari novel Jemput Terbawa sekaligus sebagai satu cerita lain yang baru. Hal itu membawa kepada saya, informasi yang berlipat-lipat secara bersamaan dan itu adalah keuntungan.

Tentu saja, akan mudah bagi kita, ketika membaca Jemput Terbawa, merasa kelelahan oleh bentuk dan banyaknya level narasi yang dijejer dan disambung satu sama lain. Namun, saya lebih senang melihat ini dengan pandangan yang positif bahwa membaca tulisan yang baik itu memang tidak mudah: if it is not hurting, it is not working.  Dengan referensi yang saling bersilangan tanpa diberi pedoman, saya sebagai pembaca tertantang untuk bertanya, mencari dan membangun berbagai relasi yang mungkin di dalamnya. Dengan bentuknya yang karnival ini, Pinto mengajak saya, secara bersamaan mengamati berbagai narasi, di mana yang satu dimungkinkan menjadi respons kritis terhadap lainnya. Sekali lagi, ini justru keberhasilan terpenting seorang penulis. Selamat, Pinto!

2018.

Pendapat Anda:

References   [ + ]

1. Bacaan lanjut: Genette, Gerard. 1980. Narrative Discourse: An Essay of Method. New York: Cornell University Press
2. Bacaan lanjut: Bakhtin, Mikhail. 1929. Problem of Dostoevsky’s Poetics. Minneapolis, MN: University of Minessota; Bakhtin, Mikhail. 1941. Rabelais and his World. Bloomington: Indiana University Press.