100 Tahun HB Jassin: Merenungkan Masa Depan Jassin dan Warisannya

Posted: 3 August 2017 by Fitriawan Nur Indrianto

HB Jassin

Tanggal 31 Juli menjadi hari penting bagi sastra Indonesia. Pada tanggal itu, 100 tahun silam lahir seorang anak yang kelak dikenal dan dikenang sebagai sosok Paus Sastra Indonesia.  Ia tidak lain adalah HB Jassin, seorang kritikus sastra yang hingga hari ini masih terus dikenang jasa-jasanya.

Meskipun telah lahir banyak kritikus yang mungkin lebih mumpuni dalam soal mengkritik karya sastra, HB Jassin nyatanya memang tetap menjadi yang utama dan tiada duanya. Selain ketekunan dan konsistensinya, Jassin hadir membawa ciri khas tersendiri dalam usahanya menghadirkan kritik sastra. Ia dikenal lebih menekankan apresiasi dibandingkan pembacaan analitik dan teoretik terhadap suatu karya.  Melalui pembacaan dan tulisan-tulisannya lah, kemudian banyak karya sastra yang  dikenal dan diperhitungkan sebagai sebuah karya sastra yang baik dalam sastra Indonesia.

Selain warisan kritiknya, Jassin juga dikenal sebagai seorang juru kliping. Berkat pekerjaan yang ditekuninya selama berpuluh tahun itu, ia pun mewariskan koleksi dokumen-dokumen sastra Indonesia yang saya kira belum ada tandingannya. Dokumen-dokumen yang dikumpulkan Jassin tersebut kini tersimpan dengan rapi di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin yang berada di lingkungan Taman Ismail Marzuki (TIM).

Saya sedang berada di Jakarta ketika beberapa hari lalu Nissa Rengganis mengunggah–via instagram-nya– sebuah poster acara bertajuk “Mengenang 100 Tahun HB Jassin”. Acara tersebut akan dihelat pada tanggal 31 Juli 2017 tepatnya pada jam 7 malam berlokasi di TIM Jakarta. Saya pun memutuskan bahwa sore itu juga saya akan pergi ke TIM untuk menghadiri acara tersebut. Di hari H, dengan modal sisa kuota yang ada di gawai, saya pun segera mengajak beberapa penulis yang saya kenal dan tinggal di sekitaran Jabodetabek untuk meluncur ke lokasi.

Acara “Mengenang 100 Tahun HB Jassin” diprakarsai oleh Fadli Zon Library, PDS HB Jassin, dan Akademi Jakarta. Lokasi tempat berlangsungnya acara tersebut berada di gedung Teater Kecil di kawasan TIM. Ketika saya sampai, panitia masih terlihat serius mempersiapkan acara tersebut. Beberapa tengah mempersiapkan panggung, sementara yang lain tengah menyusun buku-buku karya Fadli Zon yang hari itu akan dipamerkan sekaligus dijual. Saya datang bersama Adek Risma Dedees (salah seorang penulis Ubud Writers and Readers Festival angkatan ke 10). Sembari menikmati camilan yang dibawa olehnya, saya mencoba mengamati keadaan sekitar barangkali ada orang lain yang saya kenal. Alih-alih menemukan seorang kenalan, saya justru mendadak merasa cupu di tempat itu. Mereka yang hadir tampak begitu rapi, mengenakan baju batik dan bersepatu. Suasana ini terasa sangat berbeda dengan acara-acara sastra di Jogja yang biasanya cenderung lebih santai dan tidak formal. Saya terpaksa berganti pakaian dan alas kaki sebelum akhirnya menuju meja registrasi dan membubuhkan tandatangan lalu bergegas menyantap hidangan prasmanan yang telah disediakan. Pasca makan saya kembali duduk di luar gedung menikmati rokok sembari menunggu penyair Gemi Mohawk–penulis Ubud Writers and Readers Festival angkatan 16–yang sore itu berjanji akan datang.

Satu persatu “nama besar” mulai bemunculan. Saya sempat melihat Maman Mahayana tergopoh-gopoh menyambut kehadiran Taufik Ismail. Selain itu nampak pula Ajip Rosidi, Husain Umar, Prof. Taufik Abdullah dan Fadli Zon. Di antara hadirin yang lain nampak pula beberapa sastrawan muda dan jurnalis yang terlihat duduk tenang menikmati acara.

Acara hari itu sebagian besar diisi dengan pembacaan testimoni oleh orang-orang yang pernah dekat dengan sosok HB Jassin. Selain itu, acara juga diisi dengan pembacaan puisi oleh beberapa seniman. Dari acara malam itu, ada beberapa peristiwa menarik yang menjadi catatan di kepala saya. Salah satu yang menarik adalah keberadaan wakil ketua DPR RI, Fadli Zon. Sebagai salah satu penggagas acara ini (mungkin juga yang utama), Fadli Zon memang hadir sebagai orang pertama yang diberi kesempatan untuk berbicara. Dalam kesempatan itu, sosok Fadli Zon memang tidak nampak seperti ketika ia berada dalam siaran di Televisi. Ia nampak begitu tenang menceritakan pengalaman pernah “dekat” dengan Paus Sastra Indonesia tersebut. Di dalam testimoninya, Fadli Zon mengenang bagaimana ia mengenal HB Jassin. Ia juga bercerita tentang karya puisinya yang pernah dicorat-coret oleh sang kritikus. Konon, puisi-puisi itu masih tersimpan rapi di PDS HB Jassin.

Sementara itu, sambutan Prof. Taufik Abdullah juga tak kalah seru. Sang Profesor berkelakar mengenai permasalahan antara UI dan UGM yang mempermasalahkan istilah universitet dan universitit yang akhirnya ditengahi Jassin menjadi Universitas. Selain itu, kelakar yang paling mengocok perut adalah sindiran sang Prof. terhadap sosok Fadli Zon. Prof. Taufik Abdullah mengatakan bahwa sebenarnya dia sudah kesal dengan Fadli Zon di dunia politik, namun bagaimanapun ia mengapresiasi sosok kontroversial ini berkat kepeduliannya yang besar pada dunia sastra.

Meski acara ini terlihat santai dan hikmat, namun saya melihat bahwa acara ini sebenarnya berisi tarik-menarik kepentingan. Terlepas tulus atau tidaknya (yang akan sulit diukur) penyelenggaraan acara tersebut, saya tetap melihat adanya persinggungan antara politik-kekuasaan dan dunia kesusastraan. Terutama ketika acara tersebut membahas isu utama yang menyoal masa depan PDS HB Jassin.

Permasalahan mengenai  PDS HB Jassin memang sudah muncul sejak berdirinya yayasan ini. Masalah ini berawal ketika saat itu Jassin yang mengumpulkan dokumen-dokumen sastra secara pribadi harus pindah rumah kontrakan. Hal tersebut turut mengundang keresahan di kalangan rekan-rekan HB Jassin mengenai masa depan dokumen-dokumen yang dikumpulkannya tersebut.  Gubernur Ali Sadikin—yang juga mendirikan Taman Ismail Marzuki—pun tergerak untuk ikut menceburkan diri pada masalah tersebut hingga kemudian ia menjadi fasilitator terbentuknya PDS HB Jassin. Sayangnya setelah sang Gubernur tak lagi menjabat, nasib pusat dokumentasi sastra terbesar di Indonesia ini mengalami pasang surut. Agaknya hal itu pula yang kembali diangkat oleh Ajip Rosidi dalam pidato kebudayaannya pada malam kemarin. Di hadapan Fadli Zon yang juga merupakan bagian dari suksesor gubernur DKI Jakarta yang baru, Ajip Rosidi mengajukan permohonan kepada pempov DKI agar PDS HB Jassin difasilitasi lebih layak. Ajip mengusulkan agar PDS HB Jassin dibuatkan tempat khusus berupa gedung sendiri yang tidak hanya mampu dijadikan sebagai tempat penyimpanan tapi juga ruang bagi penelitian, diskusi dan acara sastra lainnya.

Begitu pentingnya sosok HB Jassin dan PDS nampaknya memang sebuah keniscayaan. Tetapi, benarkah kepentingan kemajuan PDS HB Jassin dan sosok HB Jassin sendiri menjadi tujuan utama dari rangkaian acara tersebut? Beberapa waktu silam, kita tentu mengingat bahwa tempat tersebut pernah dijadikan tempat peluncuran buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh. Kita selanjutnya mengetahui bahwa buku tersebut menjadi polemik yang bahkan terus diperdebatkan hingga kini. Tentu melalui peristiwa tersebut, kita menyadari bahwa pemilihan PDS HB Jassin sebagai tempat peluncuran buku memiliki tujuan tertentu. Dari hal tersebut setidaknya kita bisa berasumsi bahwa kebesaran nama sang kritikus seringkali dijadikan alat dan fasilitas yang di belakangannya terdapat kepentingan terselubung demi menaikkan popularitas seseorang.

Kemunculan Fadli Zon pada acara tersebut mungkin membawa nuansa politik dalam acara tersebut. Meskipun kita tahu juga bahwa Fadli Zon memang pernah aktif di dunia sastra ketika menjadi dewan redaktur majalah sastra Horizon. Tentu banyak pihak yang berharap ini bukanlah bagian dari politisasi sastra, apalagi di tengah situasi politik di Jakarta dan nasional yang begitu panas dan melibatkan sosok ini di dalamnya. Jika teori Bourdieu benar, maka memang tidak bisa dipungkiri bahwa akan selalu ada hubungan antara arena sastra dengan arena-arena lainnya termasuk arena politik/kekuasaan. Hal tersebut memang merupakan sebuah keniscayaan. Tetapi seperti kata Bourdieu pula bahwa arena sastra selalu memiliki otonomi relatif. Oleh sebab itu, tetap merupakan tanggung jawab para pelaku sastra Indonesia untuk mempertahankan keberadaan PDS HB Jassin dan ketokohan HB Jassin agar setidaknya tidak (selalu) menjadi bagian yang termanfaatkan sekaligus terkooptasi dalam arus pusaran politik.

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi/

Pendapat Anda:

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *