Puisi-puisi Jane Hirshfield

Dahulu, Ia Puisi Cinta

Dahulu, ia puisi cinta,
sebelum pahanya gempal, napasnya pendek,
sebelum ia menyadari dirinya duduk,
buncah dan sedikit jengah,
di sepatbor sebuah mobil yang sedang terparkir,
sementara banyak orang melintas tanpa menoleh

Ia ingat dirinya bersolek seakan ada janji penting.
Ia ingat memilih sepatu,
syal atau dasi istimewa ini.

Sekali waktu, ia minum bir saat sarapan,
mengayun langkah kaki
di sepanjang sisi sungai, beriring dengan kaki seseorang.

Pernah ia pura-pura malu, lalu benar-benar malu,
menundukkan kepala sampai rambutnya jatuh tergerai,
menutupi mata.

Ia bicara penuh gairah tentang sejarah, atau seni.
Dahulu ia sungguh rupawan.
Di bawah dagunya, tiada gelambir.
Di belakang lututnya, tiada lapik lemak kuning.
Apa yang ia pahami di pagi hari masih ia yakini saat malam tiba.
Rahasia tak diundang membuat alis dan pipinya terangkat.

Renjana tiada pula berkurang.
Tapi ia tetap mafhum. Waktunya menimbang seekor kucing,
budidaya Violces atau kaktus-bunga.

Baiklah, ia memutuskan:
Kaktus-kaktus mini, dalam pot biru dan merah.
Ketika ia menemukan dirinya gelisah
lantaran sunyi-senyap yang asing dalam kehidupan barunya,
ia akan menyentuh mereka—satu kaktus, lalu yang lain—
dengan satu jari yang terulur serupa nyala api kecil.

Dari Given Sugar, Given Salt, diterbitkan oleh HarperCollins (2011). Dipublikasi ulang di laman Academy of American Poets (https://poets.org/poem/was-once-love-poem).

Matematika

Aku selalu iri pada mereka
yang mampu mencipta benda
yang berguna, kokoh—
kursi, sepasang sepatu bot.

Bahkan sup,
sarat kentang dan krim.

Atau mereka yang mahir meminda,
barangkali, tiris jendela
mengelupas retakan dempul lawas,
menutup sempurna dengan segaris baru.

Kau bisa belajar,
cermin itu memberitahuku di malam yang larut,
tanpa keyakinan, tampaknya.
Satu alisku sedikit bergetar.

Aku memandang
apartemen sewa ini—
di mana pun aku meragukannya,
pola kertas dinding tersambung sempurna.

Kemarin seorang perempuan
menunjukkan padaku
sebuah bangunan berbentuk
serupa lambung kapal terbalik,

rangka atapnya, di balik plester,
diikat dengan kulit-mentah lentur,
kolom-kolom marmer
dicat menyerupai kayu.
Atau mungkin sebaliknya?

Aku menatap tangan tak cakap itu,
begitu polos,
bentuknya sama belaka sebagaimana tangan orang lain.
Bahkan pena yang dipegangnya: sebuah misteri, sungguh.

Kulit-mentah, tulisnya,
dan kursi, dan marmer.
Alis.

Lantas perempuan itu bertanya padaku—
Barulah aku mengenalinya:
saudariku, diriku yang lebih muda—

Apakah sebuah puisi memperluas dunia,
atau sekadar gagasan kita tentang dunia?

Bagaimana kau memilih satu dan bukan yang lain,
Aku berdusta, atau tak berdusta,
sebagai jawaban.

Dari Given Sugar, Given Salt, diterbitkan oleh HarperCollins (2011). Dipublikasi ulang di laman Poetry Foundation (https://www.poetryfoundation.org/poems/47098/mathematics-56d22750792c3)

Pemikiran

Sesuatu yang terlalu sempurna untuk diingat:
batu hanya indah ketika basah.

***

Dibutakan sinar atau selubung hitam—
begitu banyak cara
tak melihat derita orang lain.

***

Terlalu pekat rindu:

memisahkan kita
bagai aroma dari roti,
karat dari besi.

***

Dari jauh atau dekat sekali—
cekung tegas gunung lembut belaka.

***

Seolah mengubur lengan ke dalam mantel wol,
kita mendengar gumam si mati.

***

Setiap titik dalam lingkaran adalah titik mula:
hasrat menolak kepuasan memutar hasrat jenis lain.

***

Di sebuah ruang di mana tiada
apa pun yang terjadi,
aroma-manis tembakau.

***

Tangan-tangan tua saling memeluk, mengenang sesepuh.

***

Timbang pikiran rawan, atau siap-siap kesepian.

Dari majalah Poetry (December 2010). Dipublikasi ulang di laman Poetry Foundation (https://www.poetryfoundation.org/poetrymagazine/poems/54219/sentencings).

Segalanya Tampak Kokoh

Segalanya tampak kokoh.
Rumah-rumah, pohonan, truk—bahkan sebuah kursi.
Sebuah meja.

Kau tak berharap salah satunya akan hancur.
Tidak, butuh palu untuk menghancurkan,
atau perang, gergaji, atau gempa bumi.

Troy demi Troy demi Troy tampak kokoh
bagi mereka yang tinggal dalam perlindungannya.
Sembilan lapis Troy pastilah kokoh,
masing-masing gemetar di bawah yang lain.

Tatkala tanah banjir
dan semut api meninggalkan kota kokoh yang mereka bangun,
mereka saling menghubungkan kaki dan membentuk rakit,
mengapung dan tetap hidup, lalu mulai membangun lagi di tempat lain.

Kokohlah, harapan hidupmu
terus menautkan lengan dengan riwayat kedipan mata, riwayat sumur tangis,
riwayat lembar tembaga yang berulang ditempa dan penanaman cedar Port Orford,
riwayat lelucon tok-tok.

Tok, tok. Siapa di sana?
Aku.
Aku siapa?

Pertanyaan pertama dan terakhir.

Ia yang dahulu memakai piyama,
ia yang dahulu berlimpah ciuman.
ia yang tampak begitu kokoh
Aku tak bisa membayangkan mulutmu berhenti bertanya.

Dari majalah The New Yorker (5 September 2016). Sebelumnya dipublikasikan di laman The New Yorker pada 29 Agustus 2016. (https://www.newyorker.com/magazine/2016/09/05/things-seem-strong-by-jane-hirshfield).

Aku Ingin Dikejutkan

Untuk permohonan semacam itu, dunia akan membantu.

Buktinya seminggu lalu, bersua seekor landak gemuk,
ia sama terkejutnya denganku.

Pria yang menelan mikrofon kecil
untuk merekam suara-suara tubuhnya,
tak berpikir sebelumnya bagaimana ia bisa selamat.

Roti lapis kubis dan mustar berbentuk bulat kelereng.

Betapa mudahnya laba-laba besar terperangkap dalam cangkir plastik bening,
bahkan mereka pun terkejut.

Aku tak tahu mengapa aku terkejut setiap kali cinta bersemi atau berakhir.
Atau setiap kali ditemukan fosil baru, planet mirip Bumi, atau pecah perang.
Atau tak ada siapa pun di sana ketika kenop pintu jelas-jelas bergerak.

Apa yang mestinya tak begitu mengejutkan:
silap demi silap, kuakui saat terjadi di hadapan orang lain.

Apa yang tak cukup mengejutkan:
harapan rutin bahwa segala hal akan sinambung,
banyak hal memang terus berlanjut, tapi banyak hal berhenti pula.

Sungai kecil masih mengalir menuruni bukit, bahkan kala hujan absen sekian lama.
Hari lahir saudara perempuan.

Juga, keteguhan yang keras kepala dan santun.
Bahkan hari ini tolong bermakna tolong,
selamat pagi masih dipahami sebagai selamat pagi,

dan ketika aku terjaga,
gunung di luar jendela tetaplah gunung,
kota di sekitarku tetaplah kota, tabah berdiri.
Lorong-lorong dan pasar, tempat praktik dokter gigi,
Rite-Aid, toko minuman keras, Chevron.
Perpustakaan—ah, kejutan menyenangkan—yang tak mengutip denda untuk buku
yang terlambat dikembalikan: Borges, Baldwin, Szymborska, Morrison, Cavafy.

Dari majalah The New Yorker (10 & 17 Juni 2019). Sebelumnya dipublikasikan di laman The New Yorker pada 3 Juni 2019 (https://www.newyorker.com/magazine/2019/06/10/i-wanted-to-be-surprised).

Tentang Penyair

Jane Hirshfield adalah penyair, esais, dan penerjemah berkebangsaan Amerika Serikat. Anggota American Academy of Arts and Sciences ini lahir di New York pada 24 Februari 1953. Selepas menyelesaikan pendidikan di Universitas Princeton, ia belajar dan mendalami Zen di San Fransisco Zen Center selama delapan tahun. Telah menerbitkan sejumlah buku puisi yang meraih berbagai penghargaan, di antaranya: The Beauty (2015), finalis National Book Award; After (2006), daftar pendek T.S. Eliot Prize; dan Given Sugar, Given Salt (2001), finalis National Book Critics Award. Puisi-puisinya terpilih dalam tujuh edisi tahunan Best American Poetry. Tahun 2004, ia menerima penghargaan Academy Fellowship for Distinguished Poetic Achievement dari Academy of American Poets. Buku kumpulan puisinya yang kesembilan, Ledger, akan segera terbit

A. Nabil Wibisana

A. Nabil Wibisana

bergiat di Komunitas Sastra Dusun Flobamora, Kupang – NTT. Menulis puisi dan esai yang telah dipublikasikan di berbagai media massa. Penerjemah lepas, dengan minat khusus pada penerjemahan prosa dan puisi Amerika kontemporer.

Bagikan tulisan ini

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Tulisan Terkait