Sebuah Perahu yang Menuju ke Cina [Haruki Murakami]

Posted: 10 April 2018 by Dian Annisa

4.

Cerita tentang orang Cina yang ketiga.

Seperti yang kutuliskan sebelumnya, dia adalah kenalanku ketika SMA, temannya temanku. Aku pernah berbicara dengannya beberapa kali.

Ketika itu, aku berusia dua puluh delapan tahun. Sudah enam tahun berlalu setelah aku menikah. Dalam kurun waktu enam tahun itu, aku telah menguburkan tiga ekor kucing. Aku membakar beberapa harapan, membungkus beberapa kesedihan dengan sweter yang tebal, dan menguburnya di tanah. Semuanya terjadi di kota besar yang samar-samar ini.

Sore hari yang dingin di bulan Desember. Tidak ada angin, tetapi udara terasa dingin di kulit sehingga cahaya yang menerobos dari sela-sela awan pun tidak mampu untuk menghapus mendung tipis yang menyelimuti kota. Aku dalam perjalanan pulang dari bank, lalu masuk ke sebuah kafe yang berjendela kaca di jalan Aoyama, kemudian minum kopi sambil membaca novel yang baru saja kubeli. Kalau aku bosan membaca novel, aku mengangkat mataku sejenak dan memandangi mobil-mobil yang melaju di jalan, lalu kembali membaca novel.

Tiba-tiba laki-laki itu sudah berdiri di depanku. Kemudian dia menyebut namaku.

“Ya, kan.”

Aku terkejut, lalu mengalihkan pandanganku dari buku dan mengangguk. Aku tidak ingat wajahnya. Kelihatannya dia seusia denganku, memakai blazer coat warna biru tua yang dijahit dengan rapi dan dasi yang bagus. Akan tetapi, ada sesuatu yang terasa aneh. Pakaiannya tidak terlihat kuno dan dia pun tidak terlihat lelah. Ada sesuatu yang aneh pada ekspresi wajahnya. Ekspresi wajahnya seperti beberapa fragmen, yang walaupun rapi, tetapi terlihat seperti dikumpulkan secara paksa. Seperti piring-piring tidak seragam yang diatur di meja pesta.

“Boleh aku duduk di sini?”

“Silakan,” kataku. Dia duduk di kursi di hadapanku, kemudian mengeluarkan sebungkus rokok dan korek kecil berwarna emas dari sakunya, lalu meletakkannya di atas meja tanpa menyulutnya.

“Kamu ingat aku?”

“Tidak,” aku menjawab santai karena tidak tahu lagi harus berkata apa. “Maaf, tapi aku selalu begitu. Aku tidak mudah mengingat wajah orang.”

“Atau mungkin sepertinya secara tidak sadar kamu selalu melupakan masa lalu.”

“Mungkin,” kataku mengakui. Sepertinya memang begitu.

Pelayan datang membawakan air, lalu laki-laki itu memesan American Coffee. “Tolong kopinya agak cair,” katanya.

“Lambungku agak sakit. Seharusnya aku berhenti minum kopi dan merokok,” dia berkata begitu sambil memainkan bungkus rokoknya. Dia memiliki ekspresi wajah ketika orang yang sakit lambung sedang membicarakan kondisi lambungnya. “Oh ya, tentang kelanjutan pembicaraan yang tadi, dengan alasan yang sama sepertimu, aku benar-benar mengingat masa lalu tanpa ada satu pun yang terlupa. Aneh, ya. Aku sebenarnya juga ingin melupakan banyak hal begitu saja. Tapi semakin aku berusaha melupakan hal itu, semakin aku mengingatnya. Kadang-kadang kalau kita berusaha tidur, kita malah semakin tidak bisa tidur, kan. Sama seperti itu. Aku sendiri tidak tahu mengapa bisa jadi seperti itu. Aku juga mengingat hal-hal yang tidak seharusnya kuingat. Ingatan itu sangat jelas sampai-sampai aku khawatir kalau terus-menerus mengingat masa lalu, aku tidak akan punya cukup ruangan untuk menyimpan memoriku di masa yang akan datang. Repot, ya.”

Aku meletakkan buku yang dari tadi kupegang di atas meja dengan posisi terbalik, lalu minum kopi seteguk.

“Bahkan aku mengingat semuanya dengan jelas. Cuaca pada saat itu, suhu udara, sampai aroma. Seolah-olah sekarang aku sedang ada di sana. Kadang-kadang aku sendiri juga tidak mengerti. Aku yang sebenarnya adalah aku yang hidup di mana? Sampai-sampai aku berpikir, jangan-jangan semua yang ada di sini saat ini sebenarnya juga tidak lebih dari sebuah memori. Apa kamu tidak pernah merasa seperti itu?”

Aku menggelengkan kepala dengan pandangan kosong.

“Aku juga mengingatmu. Ketika sedang berjalan di luar, aku melihatmu dari jendela kaca dan langsung mengenalimu. Apa aku mengganggu?”

“Tidak,” kataku. “Tapi bagaimanapun aku yang tidak ingat. Aku jadi merasa tidak enak.”

“Tidak apa-apa. Aku yang seenaknya menyapamu. Tidak usah terlalu dipikirkan. Kalau sudah waktunya, kamu akan ingat dengan sendirinya. Begitulah. Memori itu cara bekerjanya berbeda pada setiap orang. Kalau kadarnya berbeda, arahnya pun akan berbeda. Ada memori yang membantu kerja otak kita, ada juga yang menghambat. Tidak ada yang baik atau buruk. Jadi tidak usah terlalu dipikirkan. Ini bukan sesuatu yang besar.”

“Boleh aku tahu namamu? Bagaimanapun aku tidak ingat. Aku tidak enak kalau tidak ingat,” kataku.

“Nama itu tidak penting,” katanya. “Kalau kamu ingat ya bagus, kalau tidak ingat ya tidak apa-apa. Yang manapun boleh. Tapi kalau misalnya kamu merasa tidak enak karena tidak ingat namaku, anggap saja kita baru bertemu untuk yang pertama kali. Tidak ada masalah.”

Setelah kopinya datang, dia menghirupnya dengan ekspresi tidak enak. Aku tidak bisa menangkap maksud perkataannya.

Banyak air mengalir di bawah jembatan. Ada kalimat seperti itu di buku pelajaran Bahasa Inggris SMA. Masih ingat?” katanya.

SMA? Apa berarti laki-laki ini adalah kenalanku ketika SMA?

“Itu memang benar. Beberapa waktu yang lalu aku berdiri di atas jembatan sambil memandang ke bawah. Lalu aku teringat contoh kalimat Bahasa Inggris itu. Aku bisa memahaminya. Ternyata waktu berlalu dengan cara seperti ini.”

Dia duduk di kursi sambil melipat tangannya. Ekspresi wajahnya tidak jelas. Itu memang sebuah ekspresi, tetapi aku sama sekali tidak bisa memahami arti ekspresi wajahnya. Mungkin gen yang dimilikinya untuk membuat ekspresi wajah agak rusak.

“Sudah menikah?” tanyanya.

Aku mengangguk.

“Punya anak?”

“Tidak.”

“Anakku satu. Laki-laki,” katanya. “Sudah empat tahun, TK.”

Pembicaraan tentang anak berakhir sampai di situ, kemudian kami terdiam. Ketika aku akan merokok, dia segera menyalakan koreknya. Caranya melakukan hal itu sangat alami. Aku tidak terlalu suka apabila ada orang yang menyulutkan rokok atau menuangkan sake untukku, tetapi aku tidak ada masalah dengan hal yang dilakukannya tadi. Bahkan aku hampir tidak sadar kalau dia tadi menyulutkan rokok untukku.

“Kerja di mana?”

“Bisnis,” jawabku.

“Bisnis?” katanya setelah terdiam sejenak.

“Ya. Bukan sesuatu yang besar,” kataku. Dia mengangguk beberapa kali, lalu tidak bertanya lebih lanjut. Aku bukan tidak ingin membicarakan tentang pekerjaan. Akan tetapi, apabila sudah mulai berbicara, obrolan akan menjadi panjang dan aku capek kalau harus menjelaskan semuanya satu-persatu. Lagipula aku tidak tahu nama laki-laki itu.

“Tapi aku kaget, lho. Kamu berbisnis. Aku tidak menyangka kalau kamu akan berbisnis.”

Aku tersenyum.

“Dulu sepertinya kamu cuma baca buku,” dia melanjutkan sambil masih sedikit heran.

“Kalau buku sih, sampai sekarang aku juga masih baca,” kataku sambil tersenyum.

“Kalau ensiklopedia?”

“Ensiklopedia?”

“Ya, punya eksiklopedia?”

“Tidak,” aku menggelengkan kepala sambil terheran-heran.

“Kamu tidak baca ensiklopedia?”

“Kalau ada sih, mungkin aku akan baca,” kataku. Akan tetapi, di rumahku sekarang tidak ada tempat untuk meletakkan barang seperti itu.

“Sebenarnya, aku sekarang menjual ensiklopedia,” katanya.

Seketika setengah rasa ketertarikanku terhadap laki-laki itu menghilang. Oh, jadi dia sales ensiklopedia. Aku menghirup kopi yang sudah dingin, lalu meletakkan kembali gelas di tatakan pelan-pelan agar tidak berbunyi.

“Aku sih, mau. Bagus juga kalau punya. Tapi sekarang aku sedang tidak punya uang. Benar-benar hampir tidak punya. Aku baru saja mulai membayar utang-utangku.”

“Hei,” katanya. Kemudian dia menggelengkan kepala. “Aku tidak bermaksud menjual ensiklopedia kepadamu. Aku memang miskin, tapi tidak separah itu. Lagipula sebenarnya aku tidak perlu menjual ensiklopedia kepada orang Jepang. Itu ketentuannya.”

“Orang Jepang?” kataku.

“Ya, aku hanya menjual ensiklopedia khusus untuk orang Cina. Aku mencari nama orang Cina yang ada di buku telepon, membuat daftar, lalu mendatangi mereka satu per satu dari rumah ke rumah. Aku memencet bel rumah mereka, selamat siang, perkenalkan, nama saya … sambil mengeluarkan kartu nama. Hanya itu. Setelah itu, pembicaraan akan berlanjut.”

Tiba-tiba aku teringat sesuatu.

“Aku ingat sekarang,” kataku.

Dia adalah orang Cina kenalanku ketika SMA.

“Aneh, ya. Aku sendiri juga masih tidak tahu, entah bagaimana awalnya sehingga aku akhirnya menjual ensiklopedia kepada orang Cina,” katanya. Nada bicaranya sangat objektif. “Tentu saja aku ingat detail situasinya satu-persatu, tapi aku tidak tahu bagaimana semua itu bisa tersambung menjadi satu ke arah yang seperti ini. Tiba-tiba ketika aku sadar, semua sudah terjadi.”

Aku tidak pernah sekelas dan tidak terlalu akrab dengannya. Dia hanya temannya temanku. Akan tetapi, seingatku dia bukan tipe laki-laki yang akan menjadi sales ensiklopedia. Dia berasal dari keluarga yang baik dan sepertinya nilai-nilainya di atasku. Seingatku, dia juga populer di kalangan murid perempuan.

“Ada banyak hal yang terjadi. Ceritanya panjang, gelap, dan tidak menarik. Lebih baik kamu tidak usah dengar,” katanya.

Aku terdiam karena tidak tahu lagi harus menjawab apa.

“Bukan sepenuhnya salahku, sih,” katanya. “Ada banyak hal membingungkan yang terjadi. Tapi ya, akhirnya semua tetap salahku.”

Aku mencoba untuk mengingat tentang dirinya ketika SMA. Akan tetapi, aku hanya bisa mengingatnya secara samar-samar. Sepertinya kami pernah duduk di meja dapur seorang teman, minum bir bersama-sama sambil mengobrol tentang musik. Mungkin suatu sore di musim panas. Akan tetapi, itu juga tidak jelas. Hal itu seperti mimpi yang dulu pernah kulihat dan terlupakan begitu saja.

“Mengapa aku menyapamu, ya?” dia bertanya kepada dirinya sendiri. Kemudian dia memutar-mutar korek yang ada di atas meja dengan jarinya. “Aku mengganggumu, kan? Maaf ya. Tapi aku senang bisa bernostalgia denganmu. Walaupun aku tidak tahu nostalgia dalam hal apa.”

“Tidak mengganggu kok,” kataku. Itu benar. Entah mengapa aku juga merasa bernostalgia.

Kami terdiam sejenak karena tidak tahu lagi harus berbicara apa. Kemudian aku mengisap sisa rokokku dan dia meminum sisa kopinya.

“Baiklah, aku harus pergi,” katanya sambil memasukkan rokok dan korek ke dalam sakunya. Kemudian dia sedikit memundurkan kursinya. “Aku tidak bisa menghabiskan waktu seharian hanya untuk mengobrol. Masih ada banyak barang yang harus dijual.”

“Kamu tidak bawa pamflet?” tanyaku.

“Pamflet?”

“Pamflet ensiklopedia.”

“Oh,” katanya. “Sekarang tidak bawa. Mau lihat?”

“Mau. Aku sedikit tertarik.”

“Aku kirim ke rumahmu. Beri tahu aku alamatmu.”

Aku merobek halaman buku agendaku, menulis alamat, dan menyerahkan kepadanya. Dia melihatnya sejenak, lalu melipatnya dengan rapi dan memasukkannya ke dalam tempat kartu nama.

“Ensiklopedianya bagus, lho. Aku bicara begini bukan karena aku yang jual. Benar-benar bagus. Ada banyak foto berwarna. Pasti berguna. Kadang-kadang aku juga baca. Tidak membosankan.”

“Aku tidak tahu kapan, tapi kalau punya uang mungkin aku akan beli.”

“Mudah-mudahan, ya,” dia menjawab sambil tersenyum seperti senyum orang yang ada di poster pemilihan umum. “Tapi mungkin ketika itu aku sudah memutuskan hubunganku dengan ensiklopedia. Karena kalau aku sudah mengunjungi rumah semua orang Cina, pekerjaanku sudah habis. Kalau sudah begitu apa yang sebaiknya kulakukan, ya. Mungkin asuransi khusus untuk orang Cina. Atau sales batu nisan. Sudahlah, pasti ada sesuatu yang bisa dijual, kan.”

Ketika itu, aku ingin mengatakan sesuatu kepadanya karena aku berpikir bahwa mungkin aku tidak akan bertemu lagi dengan laki-laki itu. Hal yang ingin kukatakan kepadanya adalah tentang orang Cina. Akan tetapi, aku tidak tahu apa yang sebenarnya ingin kukatakan. Maka, aku tidak mengatakan apa-apa. Hanya salam perpisahan yang biasa.

Sampai sekarang pun kupikir aku juga tidak bisa mengatakan apa-apa.

 

5.

Apabila aku sekali lagi mengejar bola baseball dan menabrak tiang papan gol bola basket, kemudian tersadar di bangku bawah pohon dengan sarung tangan baseball yang kugunakan sebagai pengganti bantal, apa yang kira-kira akan kuucapkan sebagai laki-laki yang telah melewati usia tiga puluh tahun? Mungkin aku akan mengatakan hal ini. Ini bukan tempatku.

Aku memikirkan hal ini ketika sedang naik kereta jalur Yamanote. Aku berdiri di depan pintu, melihat pemandangan di luar jendela sambil menggenggam erat tiketku agar tidak hilang. Entah mengapa pemandangan kota kami membuat hatiku terasa galau. Perasaan galau yang lazim dirasakan orang-orang yang tinggal di kota yang gelap seperti coffee jelly itu kembali menyergapku. Gedung yang sedikit kotor, kerumunan orang yang tanpa nama, bising yang tanpa henti, kemacetan yang tidak terurai, langit yang berwarna abu-abu, baliho yang memenuhi setiap ruang, keinginan dan keputusasaan, serta amarah dan kegembiraan. Di sana ada pilihan dan kemungkinan yang tak terhingga. Pilihan dan kemungkinan yang tak terhingga, dan pada saat yang sama, tak ada. Kami berusaha meraih semua itu, tetapi tak ada satu pun hal yang bisa kami raih. Itulah kota. Tiba-tiba aku teringat kata-kata mahasiswi Cina itu. “Sebenarnya aku tidak seharusnya berada di sini”.

Aku melihat kota Tokyo sambil berpikir tentang Cina.

Begitulah ceritanya sehingga aku bisa bertemu dengan banyak orang Cina. Kemudian aku membaca banyak buku tentang Cina, dari Catatan Sejarah Agung1)Buku sejarah terlengkap yang memuat tentang peradaban Cina selama 3000 tahun, mulai dari zaman Kaisar Kuning hingga Dinasti Han Barat. Buku ini ditulis oleh Sima Qian, seorang sejarawan yang terkenal di Cina. hingga Red Star Over China2)Buku yang berisi catatan dari Partai Komunis Cina yang ditulis ketika mereka menjadi tentara gerilya, ditulis oleh Edgar Snow.. Aku ingin mengetahui lebih banyak tentang Cina. Walaupun begitu, itu adalah Cina yang hanya diperuntukkan bagiku. Hanya itulah Cina yang bisa kubaca. Itu adalah Cina yang mengirimkan pesan hanya untukku. Bukan Cina yang yang berwarna kuning seperti yang ada di globe, tetapi Cina yang lain. Sebuah hipotesis yang lain. Bisa juga berarti hal itu adalah bagian dari diriku yang telah terpotong dengan sebuah kata bernama Cina. Aku bertualang mengelilingi Cina. Akan tetapi, aku tidak perlu naik pesawat. Petualanganku ada di gerbong kereta bawah tanah Tokyo atau di kursi penumpang di dalam taksi. Petualanganku juga ada di ruang tunggu praktik dokter gigi dekat rumah atau di loket bank. Aku bisa pergi ke mana-mana dan bisa juga tidak pergi ke mana-mana.

Tokyo—kemudian pada suatu hari, di dalam gerbong kereta jalur Yamanote kota Tokyo pun tiba-tiba kehilangan realitasnya. Secara tiba-tiba, di luar jendela kereta, pemandangan itu hancur. Aku menggenggam tiketku sambil melihat pemandangan itu. Di Tokyo, Cina-ku turun seperti abu dan dengan pasti akan merusak kota ini. Hal itu akan berlangsung terus-menerus. Ya, ini pun bukan tempatku. Dengan begitu, kata-kata dan mimpi yang kami miliki suatu saat akan menghilang. Seperti masa muda membosankan yang kami kira akan berlangsung selamanya itu, yang ternyata juga tiba-tiba menghilang di salah satu titik kehidupan.

Kesalahan—seperti yang dikatakan oleh mahasiswi Cina itu (atau seperti yang dikatakan oleh para ahli psikologi)—pada akhirnya mungkin kesalahan adalah sebuah keinginan yang paradoks. Kalau begitu, kesalahan adalah diriku sendiri, termasuk juga Anda. Maka tidak ada jalan keluar.

Walaupun begitu, aku tetap memasukkan sedikit rasa kebanggaanku ke dalam bagasi, duduk di tangga batu di pelabuhan, dan menunggu sebuah perahu yang menuju ke Cina, yang suatu saat akan muncul dari cakrawala yang hampa. Kemudian aku memikirkan atap bangunan yang bersinar di Cina, juga padang rumput yang hijau.

Maka aku tidak takut dengan apa pun yang akan muncul setelah kehilangan atau kehancuran itu. Seperti para pemukul bola baseball yang tidak takut dengan bola yang melaju kencang, seperti para revolusioner yang tidak takut dengan tiang hukuman gantung. Apabila hal itu memang benar-benar akan terjadi ….

Kawan, Cina sangatlah jauh.

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: https://kibul.in/cara-berkontribusi

Pendapat Anda:

References   [ + ]

1. Buku sejarah terlengkap yang memuat tentang peradaban Cina selama 3000 tahun, mulai dari zaman Kaisar Kuning hingga Dinasti Han Barat. Buku ini ditulis oleh Sima Qian, seorang sejarawan yang terkenal di Cina.
2. Buku yang berisi catatan dari Partai Komunis Cina yang ditulis ketika mereka menjadi tentara gerilya, ditulis oleh Edgar Snow.

Pages: 1 2 3