Larilah, Melos! [Osamu Dazai]

Posted: 13 March 2018 by Muhammad Al Mukhlishiddin

Melos murka. Dia membulatkan tekad melakukan apa pun untuk membebaskan negeri itu dari raja yang jahat dan lalim itu. Melos tidak tahu apa-apa soal politik. Dia hanyalah seorang gembala dari kampung terpencil yang menghabiskan waktu dengan memainkan suling dan mengawasi domba-domba. Tapi, Melos adalah seorang pria yang merasakan sengatan ketimpangan lebih dalam daripada kebanyakan orang.

Sebelum subuh tadi, Melos meninggalkan kampungnya untuk bepergian sejauh tiga puluh mil, melewati padang rumput dan gunung, menuju kota Sirakus. Melos tidak memiliki ibu atau bapak, juga tidak punya istri. Dia tinggal bersama adik perempuannya, seorang gadis pemalu enam belas tahun yang akan segera menikah dengan seorang peternak jujur dan setia. Untuk membeli baju pengantin adiknya dan makanan dan minuman untuk perjamuan pernikahanlah dia melakukan perjalanan jauh ke kota itu. Dia sudah berbelanja dan sedang melangkah di salah satu jalan utama ibu kota itu, dalam perjalanannya untuk mengunjungi Selinuntius, seorang karib sejak masa kanak-kanak. Selinuntius tinggal di Sirakus, tempat dia bekerja sebagai seorang tukang batu. Sudah beberapa lama sejak mereka terakhir bertemu, dan Melos menanti-nanti kesempatan untuk berkunjung itu. Tapi, saat dia berjalan, dia mulai menyadari ada yang aneh dengan suasana kota itu. Betapa hening dan amat sunyi. Matahari sudah tenggelam, dan jalanan memang wajar gelap, tapi suasana murung yang menggantung di atas kota itu entah kenapa lebih dari sekadar dampak kedatangan malam belaka. Melos orang yang riang dan santai, tapi sekarang dia mulai merasa was-was. Menghentikan langkah seorang pemuda di jalan, dia bertanya apakah suatu bencana telah menimpa kota itu, menambahkan bahwa dalam kunjungan sebelumnya, sekitar dua tahun lalu, jalanan bahkan pada malam hari dipenuhi oleh orang-orang yang tertawa dan bernyanyi dan berjoget ceria. Pemuda asing itu hanya menggelengkan kepala dan buru-buru pergi. Tidak jauh dari situ, Melos bertemu seorang tua dan mengajukan pertanyaan yang sama, kali ini dengan lebih mendesak. Orang tua itu tidak berkata apa-apa. Barulah ketika Melos meraih pundaknya dan mengguncang-guncangnya, mengulangi pertanyaan itu, akhirnya dia menjawab, berbisik seolah-olah takut ada yang menguping.

“Sang raja membunuhi orang-orang.”

“Atas dasar apa?”

“Dia bilang orang-orang dipenuhi niat jahat. Tentu saja itu tidak benar.”

“Apakah sudah banyak yang dibunuhnya?”

“Ya. Yang pertama adalah suami saudarinya. Selanjutnya sang pangeran, putra dan penerusnya sendiri. Lalu, saudari dan kemenakannya. Lalu, istrinya, sang ratu. Lalu, pengikutnya, Alekis yang bijaksana…”

“Mengejutkan sekali. Dia sudah gila?”

“Tidak, dia tidak gila, tapi dia berkata bahwa tidak ada yang bisa dipercaya. Baru-baru ini dia merasa curiga atas abdi-abdinya, dan telah memerintahkan abdinya yang lebih kaya untuk memberi jaminan satu sandera. Hukuman bagi yang menolak adalah hukum salib. Enam orang sudah dieksekusi hari ini.”

Mendengar ini, Melos murka. “Raja macam apa itu?” serunya. “Dia tidak boleh dibiarkan hidup!”

Melos adalah seorang pria yang polos. Dengan belanjaan masih bergandul di pundaknya, dia berjalan menuju kastil dan berusaha masuk. Tapi, segera saja dia ditangkap oleh penjaga, yang memiting tangan dan kakinya. Pergumulan itu makin menjadi-jadi ketika, begitu Melos digeledah, sebuah belati ditemukan di sakunya. Dia diseret ke hadapan sang raja.

“Apa yang akan kau lakukan dengan belatimu ini?” sang tiran Dionysius bertanya dengan penuh wibawa. “Katakan!”

“Aku akan membebaskan kota ini dari tangan seorang tiran,” jawab Melos gagah berani.

“Kau?” Sang raja tersenyum merendahkan. “Pria menyedihkan yang patut dikasihani. Apa yang kau tahu tentang duka dan kesepianku?”

“Hentikan!” Melos berseru balik, dipenuhi amarah. “Meragukan nurani manusia adalah kejahatan paling besar dan paling memalukan. Dan kau, rajaku, meragukan kesetiaan hamba-hambamu.”

“Kau tidak percaya kecurigaanku berdasar? Manusia itu tidak bisa dipercaya. Apalah manusia itu kalau bukan setumpuk daging yang egois dan serakah? Memercayai ucapan mereka hanya akan mendatangkan keruntuhan.” Sang raja mengatakannya dengan tenang, dan yakin, dan sekarang dia menghela napas. “Kau kira aku sendiri tidak mengharapkan kedamaian?”

“Kedamaian? Untuk tujuan apa? Untuk melanggengkan takhtamu?” Sekarang Melos-lah yang tersenyum mencela. “Kedamaian macam apa yang didapat dengan membunuhi orang-orang tidak bersalah?”

“Diam, makhluk rendah.” Sang raja mendongak. “Betapa bagusnya kata-kata yang meluncur dari mulutmu itu. Tapi, sayang sekali bagimu, aku adalah orang yang tatapannya bisa menembus relung hati manusia. Tidak lama lagi kau juga ketika dipaku di salib akan meratap dan meraung-raung dan memohon pengampunan. Jangan berharap lebih.”

“Ah, sungguh raja yang bijaksana. Tidak heran kau sangat mencintai dirimu sendiri. Kalau aku, aku siap untuk mati. Aku tidak akan mohon ampun. Tapi…” Melos ragu-ragu, menunduk. “Tapi, kalau kau memberiku satu permintaan, aku memintamu untuk menunda eksekusi selama tiga hari. Aku berharap untuk menyaksikan pernikahan adikku satu-satunya. Beri aku tiga hari untuk kembali ke kampungku dan menghadiri upacara pernikahan. Aku pasti akan kembali ke sini sebelum hari ketiga berakhir.”

“Bodoh.” Sebuah kikikan kering keluar dari mulut sang tiran. “Kebohongan konyol. Apakah seekor burung liar, begitu dilepas, akan kembali ke sarangnya?”

“Aku akan kembali,” Melos bersikeras, suaranya dipenuhi emosi. “Aku adalah orang yang memegang janjiku. Tiga hari, hanya itu pintaku. Adikku menungguku bahkan sekarang. Tapi, karena kau sangat tidak memercayaiku, baiklah kalau begitu… Di kota ini ada seorang tukang batu bernama Selinuntius. Dia adalah temanku yang tiada bandingannya. Aku akan meninggalkannya di sini sebagai sandera. Kalau aku kabur, kalau saat matahari terbenam pada hari ketiga aku belum kembali, maka kau boleh menggantungnya sebagai penggantiku.”

Sang raja termenung, dan tersenyum jahat. Kurang ajar makhluk rendah ini. Tentu dia tidak akan kembali. Tapi, barangkali akan menarik kalau pura-pura tertipu dan membiarkannya pergi. Begitu juga bukan suatu yang tidak menyenangkan kalau pada hari ketiga mengeksekusi penggantinya. Menyaksikan penyaliban sandera yang wajahnya penuh duka itu seolah-olah berkata: Lihat dia—bukti bahwa manusia tidak bisa dipercaya. Bukankah itu adalah pelajaran yang tepat untuk umat manusia yang katanya jujur?

“Baiklah. Panggil sanderanya ke sini. Kau harus kembali ke sini sebelum matahari terbenam pada hari ketiga. Kalau kau terlambat, sandera itu akan mati. Ya, kau dipersilakan untuk datang agak terlambat: kesalahanmu akan diampuni.”

“Apa! Apa yang kau katakan?”

“Ha, ha! Terlambatlah, kalau kau masih menyayangi nyawamu. Aku tahu isi hatimu.”

Melos hanya bisa menghentakkan kakinya geram. Dia merasa tidak perlu lagi berkata-kata.

Malamnya, Selinuntius dibawa ke kastil. Di situ, di hadapan sang tiran Dionysius, dua sahabat karib itu saling menyapa untuk pertama kalinya sejak dua tahun terakhir. Melos menjelaskan segalanya. Selinuntius mengangguk diam dan memeluknya. Sebab bagi dua sahabat sejati itu sudah cukup. Selinuntius diikat dengan tali. Melos yang bebas segera pergi. Langit awal musim panas bertabur bintang.

Semalaman Melos berlari, bergegas kembali tiga puluh mil ke kampungnya tanpa istirahat tidur. Dia datang pada keesokan paginya. Matahari sudah tinggi, dan orang kampung mulai bekerja di sawah. Adik Melos mengawasi domba-domba, menggantikannya. Dia terkejut dan sangat khawatir ketika melihatnya berjalan lunglai menujunya, kelelahan, dan dia membanjirinya dengan pertanyaan.

“Tidak ada apa-apa.” Melos memaksakan senyum. “Aku meninggalkan suatu urusan yang belum tuntas di kota. Aku harus kembali ke sana segera. Lebih baik kita mengadakan pesta pernikahannya besok. Aku yakin kamu tidak akan keberatan untuk mempercepatnya, kan?”

Pipi adiknya merona.

“Kamu senang? Aku membelikanmu gaun yang indah. Sekarang pergilah dan kabarkan pada orang kampung. Pernikahannya akan diselenggarakan besok.”

Begitulah, Melos berjalan lunglai ke dalam rumah. Begitu di sana dia mempersiapkan altar dan menyiapkan meja dan kursi untuk pesta. Tidak lama kemudian selesai dan dia pingsan dan tidur selelap bangkai.

Hari sudah malam ketika Melos bangun. Dia berdiri dan buru-buru menuju rumah mempelai pria. Dia mendapatinya di rumah dan menjelaskan ada suatu keadaan yang mendesaknya agar pernikahannya diselenggarakan besok. Peternak muda itu terkejut dan protes bahwa terlalu cepat, bahwa dia belum mengurus apa-apa, dan meminta Melos untuk menunggu sampai anggur dituai. Melos bersikeras bahwa tidak mungkin ditunda lagi, bahwa mesti diselenggarakan besok. Mempelai pria itu juga berkeras menolak. Mereka berdebat dan saling membujuk sampai subuh, ketika setelah banyak sanjung puji, Melos akhirnya berhasil membujuk pemuda itu untuk setuju.

Upacara pernikahan diselenggarakan pada tengah hari. Begitu kedua mempelai mengakhiri sumpah pada para dewa, langit menjadi mendung. Hujan rintik-rintik turun, dan kemudian menjadi deras. Para tamu mengira bahwa ini pertanda buruk, tapi mereka mengabaikannya dan bersuka ria. Segera, meskipun sangat pengap di dalam rumah kecil itu, mereka semua bernyanyi dan bertepuk tangan dengan gembira. Melos juga dipenuhi kebahagiaan dan bahkan bisa melupakan barang sejenak janjinya pada sang raja. Kegembiraan itu makin meningkat begitu malam tiba, dan sekarang para tamu sama sekali mengabaikan hujan di luar. Ah, tinggal selamanya begini, dengan orang-orang baik ini, pikir Melos. Tapi, dia tahu tidak bisa begitu. Hidupnya bukan lagi miliknya sendiri, dan dia menyiapkan mental untuk memantapkan kepulangannya ke Sirakus. Tapi, masih ada cukup waktu sebelum matahari terbenam esok harinya. Dia akan berangkat setelah dia tidur sebentar. Hujan juga mungkin sudah reda nanti, pikirnya. Bahkan orang seperti Melos enggan berpisah dengan orang-orang yang dicintainya, dan tiap waktu tambahan untuk bersantai di rumahnya sendiri menjadi sangat berharga baginya. Dia berjalan menuju mempelai perempuan yang sepanjang pesta duduk kebingungan seolah-olah dirasuki kegembiraan.

Setelah memberikan ucapan selamat, Melos berkata, “Aku sangat lelah, dan begitu kamu pergi, aku akan tidur. Begitu aku bangun, aku mesti berangkat ke kota. Aku punya urusan penting di sana. Kamu sekarang punya suami yang sayang dan pengertian. Bahkan kalaupun aku meninggal, kamu tidak akan sendirian. Apa yang paling dibenci kakakmu di dunia ini adalah ketidakpercayaan pada orang lain, dan penipuan. Tahu, kan? Kamu dan suamimu jangan pernah saling menyimpan rahasia. Itulah yang ingin kukatakan padamu. Kakakmu ini mungkin seorang lelaki yang berarti. Berbanggalah.”

Mempelai perempuan hanya mengangguk mengantuk. Melos lalu menoleh pada mempelai pria, menepuk pundaknya, dan berkata, “Kita berdua tidak memiliki cukup waktu untuk mempersiapkan pernikahan yang pantas. Satu-satunya hartaku adalah adik dan domba-dombaku. Mereka milikmu. Aku hanya meminta ini sebagai balasan—bahwa kau selalu harus bangga menjadi saudara Melos.”

Mempelai pria, tidak tahu mesti berkata apa, menggenggam-genggamkan tangannya malu-malu. Melos tersenyum dan, membungkuk pelan untuk mengucapkan selamat tinggal pada mereka, meninggalkan perjamuan. Dia menuju kandang domba di luar, tempat dia tidur seperti bangkai.

Dia bangun keesokan harinya saat subuh. Aduh, Gusti!—dia berpikir sambil berdiri—aku terlambat bangun? Tidak, hari masih dini. Kalau aku berangkat sekarang aku akan tiba dengan masih menyisakan waktu. Hari ini, bagaimanapun caranya, aku harus menunjukkan pada sang raja bahwa manusia bisa, dan akan, memegang janjinya. Lalu, aku akan meniti salib itu sambil tersenyum.

Tenang, dan sungguh-sungguh, Melos mulai mempersiapkan perjalanannya. Hujan mereda kelihatannya, dan tidak lama kemudian dia selesai mempersiapkan diri, bergegas keluar, dan mulai berlari dengan kecepatan seperti anak panah meluncur.

Petang ini aku akan dibunuh. Aku berlari untuk menyongsong kematianku. Aku berlari untuk menyelamatkan temanku, yang menantiku sebagai pengganti. Aku berlari untuk memberi hantaman keras pada hati kejam sang raja. Aku tidak punya pilihan kecuali berlari. Dan aku akan dibunuh. Anak muda, kehormatan itu harus dijaga!

Tidak mudah bagi Melos. Beberapa kali dia hampir terhenti, dan dia mengumpat pada dirinya sambil berlari. Dia meninggalkan kampung, menyeberangi hamparan padang rumput, dan berhasil masuk ke sebuah hutan. Pada saat dia mencapai kampung selanjutnya, hujan berhenti, matahari tinggi, dan hari menjadi panas. Melos mengusap keringat dari keningnya dengan tangan. Sekarang setelah dia mencapai sejauh ini, dia tidak lagi dihantui pikiran tentang rumah dan kampung.

Adikku dan suaminya akan bahagia bersama. Tidak ada yang membebani pikiranku sekarang. Aku hanya perlu berlari terus ke kastil sang raja. Juga aku tidak perlu terburu-buru. Aku bisa berjalan pelan-pelan dan tetap tepat waktu.

Melos melambat dan mulai bernyanyi, dengan suaranya yang indah, lagu sederhana yang disukainya. Dia berjalan enam mil, sembilan mil dengan santai. Tapi, ketika hampir setengah jalan sampai ke kota, suatu bencana tidak terduga menghentikannya. Lihatlah! Hujan deras kemarin menyebabkan mata air pegunungan meluap, kali membeludak, air keruh menuruni lereng dan meluap di bantaran sungai, tempat, dengan hantaman keras, arus itu mendebur jembatan, menghancurkannya. Melos berdiri dan menatap tidak percaya. Dia menatap bantaran sungai dan berseru senyaring-nyaringnya; tapi tidak kelihatan ada perahu maupun tukang perahu. Sungai masih meluap, seperti laut mengamuk. Melos rubuh di bantaran sungai, meratap, dan menengadahkan tangannya ke langit.

“Oh, Zeus, hentikanlah arus menggelora ini! Matahari sudah di puncak. Kalau ketika matahari terbenam aku belum mencapai gerbang kastil, temanku yang setia mesti mati karena aku!”

Seolah-olah marah atas seruan Melos, air keruh itu meluap dan menggelora lebih dahsyat. Ombak menelan ombak, berolak dan berdebur-debur, dan Melos hanya bisa menyaksikannya sementara waktu terus berjalan. Akhirnya keputusasaannya berubah menjadi keberanian. Dia tidak punya pilihan kecuali mencoba berenang menyeberang.

“Gusti! Aku berseru padamu untuk menyaksikan kekuatan kasih dan kebenaran yang tidak akan tunduk pada arus deras ini!”

Melos mencebur ke dalam arus dan memulai upaya terakhirnya mengatasi ombak ganas yang mencambuk dan membelitnya seperti ratusan ular raksasa. Dengan segenap tenaga yang bisa dikerahkannya, dia menyibak jeram yang bergelora dan berolak seperti singa ganas dalam pertempuran. Dan mungkin para dewa, karena melihat tontonan heroik ini, tersentuh untuk memberikan kemurahan hati. Bahkan saat Melos diombang-ambing dan dihanyutkan sepanjang arus deras itu, entah bagaimana dia berhasil mencapai seberang bantaran sungai dan memeluk batang pohon di sana. Dia memanjat, menyibak air dari badannya sambil menggigil, dan segera bergegas. Tidak boleh membuang-buang waktu. Matahari sudah condong ke barat. Napasnya berat dan tersengal-sengal, dia berlari ke jalan gunung. Baru saja dia mencapai puncak dia berhenti untuk mengambil napas, dan ketika itulah, tiba-tiba saja, sekumpulan rampok gunung muncul di jalan di hadapannya.

“Berhenti.”

“Apa-apaan ini? Aku harus sudah berada di kastil sang raja sebelum matahari terbenam. Biarkan aku pergi.”

“Tidak, sampai kami mendapatkan barang berhargamu, tidak akan.”

“Aku tidak punya apa-apa. Tidak punya apa-apa kecuali nyawaku. Dan hari ini aku mesti menyerahkannya pada sang raja.”

“Nyawamulah yang kami minta, kalau begitu.”

“Tunggu. Apakah sang rajalah yang mengutus kalian untuk menghentikanku?”

Para rampok tidak menjawab, tapi mengayunkan gadanya ke udara. Melos membungkuk sampai menjongkok, melompat ke orang yang paling dekat dengan dia, dan segera menghempaskan gadanya.

“Aku tidak akan melukai kalian, kecuali demi kebaikan urusanku!” Melos berseru, dan dengan tiga hantaman gada yang penuh tenaga dan liar, tiga rampok tergeletak tak bernyawa. Ketika yang lainnya menggigil ketakutan, Melos kabur dan berlari menuruni jalur gunung.

Dia mencapai kaki gunung dalam sekali lari, tapi kelelahan mulai menguasainya. Surya tengah hari sekarang bersinar sangat membara menusuk-nusuk wajahnya. Gelombang kepusingan menyapunya, dan lagi dia berusaha mengatasi perasaan itu sampai, setelah sempoyongan dua tiga langkah, lututnya menyerah dan dia ambruk. Dia tidak bisa bangun. Dia tergeletak, meratap.

Ah, Melos, kamu sudah berhasil sampai sejauh ini. Kamu sudah menyeberangi sungai deras, mengalahkan tiga rampok, dan berlari seperti Hermes. Melos yang jujur dan berani, betapa memalukannya rebah di sini sekarang, terlalu lelah untuk bergerak. Tidak lama lagi temanmu tercinta akan membayar kepercayaannya padamu dengan nyawanya. Oh, orang yang khianat, kalau begitu, bukankah kamu seperti yang dicurigai sang raja?

Begitulah Melos menggerutu pada dirinya, tapi segala tenaganya lenyap. Dia terkulai di sebelah padang rumput di sebelah jalan, dan tidak bisa bergerak lagi bahkan selataan cacing. Ketika tubuh lelah, jiwa juga melemah. Segalanya tidak penting lagi sekarang, dia berkata pada dirinya sendiri, merajuk bersungut-sungut, sifat yang tidak cocok bagi seorang pahlawan, mulai meruah dalam hatinya.

Aku sudah berusaha sekuat tenaga. Aku tidak memiliki niat sedikit pun untuk melanggar janjiku. Sebagaimana disaksikan para dewa, aku mencurahkan segenap tenagaku. Aku bukan lelaki yang khianat. Ah, kalau saja aku bisa merobek dada ini sehingga kamu bisa melihat merahnya hatiku, yang urat nadinya adalah cinta dan kebenaran. Tapi, kekuatanku telah habis, jiwaku kelelahan. Terkutuklah nasibku! Namaku akan menjadi bahan olok-olok. Kalau aku gugur sekarang di sini, seolah-olah aku sama sekali tidak melakukan apa-apa. Aku menipu temanku. Segalanya tidak ada yang berarti lagi sekarang. Jadi, apakah ini akan menjadi takdirku? Maafkan aku, Selinuntius. Kamu telah terus mempercayaiku. Bukan juga aku menipumu. Kau dan aku adalah teman baik yang saling jujur. Tidak pernah sekali pun kita melabuhkan awan gelap keraguan dalam dada kita. Bahkan sekarang kau dengan sabar menantikan kembalinya aku. Ah, aku tahu kau menanti. Terima kasih, Selinuntius. Kamu memercayaiku, dan kepercayaan antara teman adalah harta paling berharga dalam hidup. Aku tidak sanggup memikirkannya. Aku sudah berlari, Selinuntius. Aku tidak punya sedikit pun niat untuk menipumu. Tolong percayalah! Aku telah mengatasi sungai deras. Aku telah melarikan diri dari para rampok yang mengepungku, dan berlari menuju kaki gunung tanpa sekali pun berhenti. Siapa lagi selain aku yang bisa bertindak sejauh ini?

Ah, tapi jangan berharap apa-apa lagi dari aku sekarang. Lupakan aku. Tidak ada lagi yang berarti sekarang. Aku kalah. Orang yang memalukan. Tertawakanlah aku. Sang raja berbisik bahwa aku dipersilakan terlambat. Kalau begitu, dia akan membunuh sanderanya, katanya, dan mengampuni nyawaku. Aku membencinya karena itu. Tapi, sekarang lihatlah aku: bukankah aku sedang melakukan tepat seperti dianjurkannya? Aku akan datang terlambat. Sang raja akan menganggap aku melakukannya dengan sengaja. Dia akan menertawakan aku dan membiarkan aku pergi, seorang lelaki bebas. Itu, bagiku, adalah nasib yang lebih buruk daripada mati. Aku akan dicap sebagai pengkhianat selamanya, aib terbesar manusia. Tidak, Selinuntius, aku juga akan mati. Kau dan kau saja yang percaya bahwa hatiku jujur. Izinkan aku mati bersamamu.

Tapi, apakah aku berhak? Haruskah aku terus hidup dalam kebusukan dan dosa? Aku memiliki rumah di kampung. Aku memiliki domba-dombaku. Tentu adikku dan suaminya tidak akan mengusirku dari rumahku. Kebajikan, kepercayaan, cinta—bukankah semua itu kata-kata belaka? Kita membunuh orang lain kalau kita mau hidup. Itulah cara kerja dunia. Dan betapa sia-sia segalanya. Aku adalah pengkhianat yang penuh tipu daya dan keji. Apa pun yang kulakukan tidak berarti. Sial!

Saat Melos terlentang dengan tangan dan kaki menjulur di tanah, kantuk mulai menguasainya. Tapi, kemudian, tiba-tiba saja, suara gemericik terdengar olehnya. Sambil sedikit mengangkat kepalanya, dia menahan napasnya dan mendengar. Suara itu berasal dari suatu tempat yang tak jauh dari situ. Sambil berdiri goyah, dia melihatnya—air bergerobok lamat-lamat dari retakan batu. Aliran air terasa berbisik pada Melos, untuk menggerakkannya, dan dia jongkok di depannya dan minum, menangguk air dengan dua tangannya. Dia menghela napas panjang dan dalam, dan merasa seolah-olah terbangun dari sebuah mimpi. Dia bisa melanjutkan perjalanan. Dia akan melanjutkan perjalanan. Seiring tubuhnya kembali pulih, percikan harapan mulai muncul dalam hatinya. Harapan bahwa dia bisa memenuhi tugasnya. Harapan bahwa dia bisa mempertahankan kehormatannya dengan mati di tangan algojo. Surya merah yang menurun bersinar sangat terang seolah-olah bisa membakar dedaunan dan cabang-cabang pohon.

Masih ada waktu sampai sebelum matahari terbenam. Ada yang menantikanku. Dengan sabar, tidak pernah meragukanku, dia menantikan kehadiranku kembali. Aku dipercayainya. Hidupku? Tidak ada harganya. Tapi, ini bukan waktu untuk meminta pengampunan lewat kematianku. Aku mesti membuktikan betapa berharganya kepercayaannya. Itulah, untuk sekarang, segalanya. Larilah, Melos!

Dia memercayaiku. Dia memercayaiku. Bisikan setan itu tadi hanyalah sebuah mimpi. Mimpi buruk. Lenyapkan dari pikiranmu. Orang akan punya mimpi semacam itu kalau tubuhnya kelelahan. Tidak perlu malu karena itu, Melos. Kamu adalah pemberani sejati. Belumkah kamu berdiri, apakah kamu tidak akan berlari kembali? Terpujilah para dewa. Aku bisa mati sebagai manusia bajik. Ah, surya tenggelam. Betapa cepat tenggelamnya! Tunggulah, wahai, Zeus. Aku telah hidup sebagai manusia jujur. Izinkan aku untuk mati dalam keadaan jujur juga.

Menyibak orang-orang yang berkerumun di jalan, bahkan melontarkan sebagiannya, Melos berlari seperti badai. Dia mengejutkan orang-orang yang bersuka ria bersantap di padang rumput dengan bergegas masa bodoh lewat di tengah-tengah mereka. Menendang anjing-anjing dan melompati kali, dia berlari sepuluh kali lebih cepat dari surya tenggelam. Ketika dia berpapasan dengan sekelompok pejalanlah dia mendengar kata-kata tidak jelas ini: “Orang itu akan disalib sekarang.”

“Orang itu.” Untuk orang itulah aku berlari. Orang itu tidak boleh mati. Lebih cepat, Melos. Kamu tidak boleh terlambat. Sekaranglah saatnya untuk membuktikan kekuatan cinta dan kebenaran.

Pakaiannya tanggal saking cepatnya sampai nyaris telanjang—karena penampilan sudah tidak berarti lagi baginya—Melos terus berlari. Dia kesulitan bernapas, dan dua atau tiga kali dia memuntahkan darah. Tapi, lihatlah. Itu dia, kecil di kejauhan, menara-menara Sirakus. Menara-menara itu bersinar di tengah surya tenggelam.

“Ah, Melos, bukan?” sebuah suara seperti erangan mencapai telinganya bersamaan dengan suara angin.

“Siapa yang bicara itu?” kata Melos tanpa menghentikan langkah.

“Namaku Filostratus, Tuan, anak magang temanmu Selinuntius.” Pemuda itu berlari di belakang Melos, berseru. “Anda terlambat, Tuan. Percuma. Anda tidak perlu berlari lagi. Anda tidak bisa menolongnya lagi.”

“Matahari belum terbenam sepenuhnya.”

“Bahkan sekarang dia sedang dipersiapkan untuk dieksekusi. Anda terlambat, Tuan. Sial. Kalau saja Anda datang lebih cepat!”

“Matahari belum terbenam sepenuhnya.” Melos merasa seolah-olah hatinya akan meledak. Matanya terpaku pada surya merah besar di kaki langit di barat sana. Tidak ada yang bisa dilakukan kecuali lari.

“Cukup, Tuan. Berhentilah, kumohon. Hiduplah yang penting sekarang. Tuanku memercayai Anda. Bahkan ketika mereka menyeretnya ke tempat eksekusi, dia tetap tidak khawatir. Dan ketika sang raja mengejek dan mencemoohnya, yang dia bilang hanya, ‘Melos akan datang.’ Kepercayaannya padamu tidak tergoyahkan sampai detik terakhir.”

“Itulah kenapa aku harus berlari. Aku berlari karena kesetiaan itu, kepercayaan itu. Tepat waktu atau tidaknya aku bukanlah persoalan. Bukan juga hanya sekadar demi nyawa seorang manusia. Aku berlari karena sesuatu yang lebih besar tak terhingga dan lebih menyeramkan dari kematian. Larilah bersamaku, Filostratus!”

“Ah, apakah kegilaanlah yang mendorongmu, kalau begitu? Baiklah, Tuan, larilah! Larilah sekuat tenagamu. Barangkali, barangkali saja, masih ada waktu. Larilah!”

Tidak juga ada yang bisa menghentikannya. Matahari belum sepenuhnya tenggelam. Mengerahkan segenap tenaganya yang terakhir dalam keputusasaan, Melos terus berlari. Tidak ada satu pun pikiran terbersit dalam benaknya. Dia berlari, digerakkan oleh suatu daya besar yang entah apa namanya. Sementara itu, matahari terbenam pelan ke balik kaki langit, dan tepat ketika sorotan cahaya hendak lenyap, Melos yang menunggangi sayap angin merangsek ke tempat eksekusi. Dia berhasil.

“Tunggu, algojo. Lepaskan orang itu. Melos telah kembali, seperti janjinya.” Dari balik kerumunan yang telah berkumpul, Melos mencoba menyerukan kata-kata itu. Tapi, yang keluar dari tenggorokannya yang kering hanyalah bisikan samar, dan tidak ada satu pun orang di kerumunan itu yang memperhatikan kedatangannya. Salib itu telah ditegakkan di tempatnya, bertengger megah di hadapan kerumunan, dan Selinuntius, terikat dengan tali, sedang dikerek pelan. Melos, dengan ledakan tenaga terakhirnya, berhasil menyibak kerumunan, mirip seperti sebelumnya dia menyibak arus ganas sungai itu.

“Algojo! Ini aku! Akulah yang mesti dihukum mati. Aku Melos. Melos, yang meninggalkan orang ini sebagai jaminan, berdiri di hadapanmu!” Berupaya keras untuk memperdengarkan suaranya yang kasar, Melos memanjat panggung yang menopang salib itu dan memeluk kaki temannya.

Kehebohan muncul dari kerumunan. Dari segala penjuru terdengar seruan “Terpujilah!” dan “Bebaskan dia!” Selinuntius dikerek turun ke panggung dan ikatannya dilepaskan.

“Selinuntius,” kata Melos, matanya berkaca-kaca. “Tampar aku. Hantam aku sekeras mungkin. Sebab sekali, dalam perjalananku ke sini, sebuah mimpi buruk menguasaiku. Kalau kau tidak menghantamku, aku tidak berhak untuk memelukmu. Pukul aku, Selinuntius!”

Selinuntius kelihatannya paham. Dia mengangguk, dan menghantam pipi kanan Melos dengan gebukan yang suaranya bergema seantero tempat eksekusi. Lalu, dia tersenyum lembut.

“Melos,” katanya. “Pukul aku. Tampar aku sekeras aku menghantammu tadi. Sekali selama tiga hari terakhir, aku meragukanmu. Hanya sekali, tapi pertama kalinya dalam hidupku. Kalau kau tidak menghantamku, aku tidak bisa memelukmu.”

Tangan Melos berayun di udara dan menghantam pipi Selinuntius.

“Terima kasih, kawanku!” Melos dan Selinuntius berucap bersamaan, berpelukan erat, dan menangis terharu.

Dari kerumunan pun terdengar tangisan. Sang tiran Dionysius melonjak dari kursinya di balik kerumunan, menatap lekat-lekat dua sahabat itu beberapa lama. Lalu, dia berjalan tak bersuara ke tempat mereka berdiri. Wajahnya merona ketika dia bicara.

“Harapanmu sudah terpenuhi. Kau telah memenangkan hatiku. Kepercayaan di antara manusia bukan sekadar ilusi kosong. Aku juga ingin menjadi temanmu. Katakanlah, kalian akan membiarkan ikatan kasih sayang itu untuk tiga orang.”

Seruan dan sorak-sorai “Dirgahayu sang raja!” menyeruak dari kerumunan. Dan dari kerumunan yang bersorak-sorai itu, seorang gadis maju menating sebuah jubah merah. Ketika dia menyerahkan jubah itu pada Melos, dia hanya bisa terkejut. Temannya, Selinuntius yang jujur, segera menjelaskan.

“Lihatlah dirimu, Melos—pakaianmu tanggal sama sekali. Pakailah jubah itu. Gadis cantik ini tidak tahan melihatmu dalam keadaan demikian di hadapan orang-orang.”

Pipi sang pahlawan menjadi merona.

(berdasarkan legenda kuno, dan sebuah puisi karya Schiller)

 

“Run Melos” oleh Osamu Dazai dipublikasikan pertama kali pada 1940 dalam Bahasa Jepang, diterjemahkan dari versi Bahasa Inggris dalam Run Melos and Other Stories (1988) terjemahan Ralph F. McCarthy.
Osamu Dazai adalah salah satu sastrawan Jepang termahsyur pascaperang. Dikenal sebagai penulis aliran I-Novel (Shishoetsu) dan merupakan bagian dari lingkaran sastra Buraiha. Karya-karyanya sampai sekarang masih banyak dicetak ulang karena dianggap mampu menggambarkan kegelisahan manusia modern. Dia juga banyak menulis karya yang didasarkan pada dongeng Jepang. Karyanya yang paling terkenal adalah Ningen Shikkaku atau No Longer Human (1948) yang pernah diadaptasi menjadi film dan anime.

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: https://kibul.in/cara-berkontribusi

Pendapat Anda: