Kemarin [Haruki Murakami]

Posted: 16 January 2018 by Devi Santi Ariani

Ia menyesap teh lalu mengembalikan cangkirnya pada lepek, menoleh padaku dan tersenyum. “Karena Aki-kun mengusulkan kita melakukan ini, Tanimura-kun, ayo kita pergi kencan. Kedengarannya menyenangkan. Kapan kamu ada waktu?”

Aku tercekat, tidak bisa bicara. Tidak bisa menemukan kata yang tepat pada saat krisis adalah satu dari banyak masalahku.

Erika mengeluarkan planner bersampul kulit dari tas, membukanya dan mengecek jadwal. “Bagaimana kalau Sabtu ini?” tanya Erika.

“Aku tidak ada jadwal,” jawabku.

“Sabtu kalau begitu. Kemana kita kencan?”

“Dia suka film,” ujar Kitaru pada Erika. “ Ia ingin menulis skenario suatu saat nanti.”

“Ke bioskop saja kalau begitu. Film seperti apa yang akan kita tonton? Kamu saja yang putuskan, Tanimura-kun. Aku tidak suka film horor, tapi, selain itu apa saja boleh.”

“Dia ini penakut sekali,” ucap Kitaru padaku. “Saat kami masih kecil dan masuk ke rumah hantu di Korakuen, dia terus memegangi tanganku dan—”

“Setelah nonton, kita bisa makan bareng,” ujar Erika, menyela Kitaru. Ia menulis nomor telponnya di kertas dan memberikannya padaku. “Kalau sudah tahu tempat dan waktunya, bisakah kau menelponku?”

Aku tidak punya telepon saat itu (kejadian ini jauh sebelum ada telepon genggam), jadi aku memberikan nomor telepon kedai kopi tempat Kitaru dan aku bekerja pada Erika. Aku melirik jam tanganku.

“Maaf, tapi aku harus pergi,” ucapku, seriang mungkin. “Aku punya laporan yang harus selesai besok.”

“Tidak bisa dikerjakan nanti saja?” ucap Kitaru. “Kita baru saja sampai. Tinggal lah sebentar lagi supaya kita bisa ngobrol sedikit. Ada toko mie yang enak banget di pojok situ.”

Erika diam saja. Aku meletakkan uang kopi di meja dan berdiri. “Laporannya penting sekali,” jelasku, “jadi benar-benar nggak bisa ditinggalkan.” Sebenarnya, laporan itu tidak begitu penting.

“Aku akan menelpon besok atau lusa,” ucapku pada Erika.

“Aku tunggu,” ujarnya, senyum manis muncul di bibirnya. Senyum yang, setidaknya bagiku, sedikit terlalu bagus untuk jadi nyata.

Aku meninggalkan kedai kopi dan selagi berjalan menuju stasiun aku bertanya-tanya apa yang tengah kulakukan. Merenungkan bahwa ternyata—setelah semuanya telah diputuskan—hal ini menjelma menjadi sebuah masalah kronis.

Sabtu, aku dan Erika bertemu di Shibuya. Kami menonton film Woody Allen yang berlatar New York. Entah bagaimana, aku punya perasaan dia mungkin menyukai film-film Woody Allen. Dan aku agak yakin Kitaru tidak pernah mengajak Erika menonton Woody Allen. Untungnya, filmnya bagus dan kami meninggalkan bioskop dengan perasaan riang.

Kami jalan-jalan menyusuri jalanan kala senja, kemudian pergi ke restoran italia kecil di Sakuragaoka, makan pizza dan Chianti. Restorannya kasual dengan harga terjangkau, pencahayaannya lumayan dengan lilin di atas meja. (Kebanyakan restoran italia kala itu menggunakan lilin di atas meja dan taplak meja jenis gingham.) Kami berbincang tentang banyak hal, jenis percakapan dua mahasiswa tahun kedua saat kencan pertama (kalau bisa disebut kencan pertama). Film yang baru saja kami tonton, kehidupan perkuliahan, hobi. Lebih dari dugaanku, kami menikmati obrolan itu, Erika bahkan beberapa kali tertawa terbahak-bahak. Aku tidak mau membual, tapi sepertinya aku punya bakat membuat gadis tertawa.

“Aku dengar dari Aki-kun kalau kamu belum lama putus dengan pacarmu?” tanya Erika.

“Ya, begitulah,” jawabku. “Kami pacaran hampir tiga tahun, Sayangnya tidak berjalan baik.”

“Aki-kun bilang karena sex. Bahwa, ia tidak—bagaimana ya—memberimu yang kau inginkan?”

“Sebagian karena itu. Kalau aku memang mencintainya, kupikir aku bisa bersabar. Jika aku yakin aku mencintainya, maksudku. Tapi aku tidak yakin.”

Erika mengangguk.

“Walaupun ia memberikan yang aku inginkan. Sex, begitu. Kurasa hubungan kami tetap akan berakhir demikian,” jawabku. “Itu tak terelakkan.”

“Apakah sulit?” tanyanya.

“Apanya?”

“Mendadak melajang, setelah sebelumnya bersama seseorang.”

“Terkadang,” jawabku jujur.

“Tapi, mungkin merasakan kesepian dan pengalaman sulit di masa muda memang perlu? Bagian dari proses pendewasaan diri?”

“Menurutmu begitu?”

“Sebuah pohon bisa tumbuh lebih kuat ketika ia berhasil bertahan melawan musim dingin. Cincin tahunan dalam batangnya tumbuh lebih kencang.”

Aku mencoba membayangkan cincin tahunan dalam diriku, seperti dalam batang pohon. Tapi aku hanya bisa membayangkan kue Baumkuchen, kue yang punya cincin di dalamnya seperti pohon.

“Aku setuju kalau manusia butuh masa seperti itu dalam hidup mereka,” ujarku. “Bahkan lebih baik jika mereka tahu bahwa masa itu akan berakhir suatu saat nanti.”

Ia tersenyum. “Jangan khawatir. Aku tahu kamu akan segera bertemu seseorang.”

“Kuharap begitu,” ucapku.

Erika merenungkan sesuatu selagi aku menggigit pizzaku.

“Tanimura-kun, aku ingin meminta saranmu tentang sesuatu. Boleh?”

“Tentu,” ujarku. Ini adalah masalah lain yang kerap kuhadapi : orang-orang yang baru saja kukenal meminta saran untuk masalah penting. Dan aku cukup yakin Erika menginginkan saran tentang sesuatu yang tidak terlalu menyenangkan.

“Aku bingung,” ia memulai.

Pandangannya bergeser maju-mundur, seperti kucing sedang mencari sesuatu.

“Aku yakin, kamu sudah tahu, Aki-kun sudah dua tahun kursus untuk ujian masuk kuliah, tapi ia jarang sekali belajar. Ia juga sering membolos ujian simulasi. Jadi, aku yakin ia akan gagal lagi tahun depan. Kalau saja ia menurunkan sedikit level universitas tujuannya, dia bisa saja diterima. Tapi ia bersikeras mendaftar ke Waseda. Aki-kun tidak mendengarkan orang tuanya, apalagi aku. Dia jadi agak terobsesi… tapi kalau memang begitu, seharusnya ia belajar dengan giat agar lulus ujian masuk. Tapi ia tidak belajar.”

“Kenapa ia tidak belajar lebih giat?”

“Aki-kun yakin ia akan lulus ujian kalau ia beruntung,” jawab Erika. “Belajar itu buang-buang waktu, katanya.” Erika menghela napas dan melanjutkan, “di sekolah dasar, ia selalu juara kelas. Tapi begitu naik ke SMP, nilainya semakin menurun. Sejak kecil ia anak yang jenius—jadi kepribadiannya tidak cocok dengan keharusan belajar setiap hari. Lebih baik dia pergi melakukan hal-hal gila yang menurutnya menyenangkan. Aku justru kebalikannya. Aku tidak begitu pintar sejak kecil, tapi aku selalu bekerja keras.”

Aku juga tidak terlalu giat belajar dan berhasil masuk kuliah dalam sekali ujian. Mungkin aku memang sedang beruntung.

“Aku sangat mengagumi Aki-kun,” lanjutnya. “Dia punya banyak kelebihan. Tapi terkadang sulit bagiku untuk mengikuti cara berpikirnya yang ekstrim. Seperti saat ia belajar dialek Kansai. Kenapa seseorang yang lahir dan besar di Tokyo repot-repot belajar dialek Kansai? Aku tidak mengerti, benar-benar tidak mengerti. Awalnya kupikir ia cuma bercanda, tapi tidak. Dia benar-benar serius.”

“Mungkin ia ingin berubah, menjadi seseorang yang bukan Kitaru,” ujarku.

“Itu kenapa dia belajar dialek Kansai?”

“Aku setuju, agak sedikit radikal kalau ia memilih cara itu.”

Erika mengangkat potongan pizza dan menggigitnya sedikit. Ia mengunyah pizzanya perlahan sebelum lanjut berbicara.

“Tanimura-kun, aku bertanya karena aku tidak tahu harus bertanya pada siapa lagi. Kau tidak keberatan?”

“Tentu tidak,” ucapku. Aku bisa bilang apa lagi?

“Umumnya,” ucapnya, “saat laki-laki dan perempuan berpacaran untuk waktu yang lama dan mengenal satu sama lain lebih dalam, si pemuda biasanya punya, semacam, ketertarikan fisik pada si perempuan, kan?”

“Umumnya, biasanya iya.”

“Jika mereka berciuman, dia, biasanya ingin melanjutkan, ke.. kau tahu?”

“Normalnya, ya. Tentu.”

“Kau juga begitu?”

“Tentu,” ucapku.

“Tapi Aki-kun tidak. Saat kami berduaan, dia tidak mau melanjutkannya.”

Butuh beberapa saat bagiku untuk memilih kata yang tepat. “Itu hal pribadi, personal,” ucapku akhirnya. “Masing-masing punya cara sendiri untuk mendapatkan keinginan mereka. Kitaru sangat menyukaimu—sudah pasti—tapi hubungan kalian terlalu dekat dan nyaman, dia mungkin tidak bisa melangkah ke level selanjutnya, seperti kebanyakan orang.”

“Kau pikir begitu?”

Aku menggeleng. “Sejujurnya, aku juga tidak paham. Aku tidak pernah mengalami yang semacam itu. Aku hanya bilang kemungkinannya demikian.”

“Terkadang rasanya seperti dia tidak punya hasrat seksual padaku.”

“Aku yakin dia punya. Mungkin itu memalukan untuk diakui Kitaru.”

“Tapi kami sudah dua puluh, sudah dewasa. Cukup dewasa untuk tidak merasa malu.”

“Beberapa orang mungkin dewasa lebih cepat dari orang kebanyakan,” ucapku.

Erika berpikir sejenak. Dia terlihat seperti tipe orang yang selalu mengahadapi masalah langsung pada intinya.

“Aku pikir Kitaru, sejujurnya sedang mencari sesuatu,” lanjutku. “Dengan caranya sendiri, dengan langkahnya sendiri. Hanya saja, aku tidak yakin ia sudah menemukan sesuatu. Maka ia tidak bisa melangkah lebih jauh. Jika kau tidak tahu apa yang kau cari, tidak mudah mencarinya.”

Erika mendongak dan menatap mataku. Nyala lilin tercermin di mata gelapnya yang saking cantiknya hingga aku refleks berpaling.

“Tentu, kau mengenalnya lebih baik daripada aku,” ujarku menegaskan.

Erika menghela napas lagi.

“Sebenarnya, aku naksir orang lain selain Aki-kun,” ujarnya. “Dia satu tahun di atasku, kami sama-sama di klub tenis.”

Giliranku terdiam.

“Aku sungguh mencintai Aki-kun, dan aku tidak mungkin mencintai orang lain dengan kuantitas yang sama. Kapanpun aku jauh darinya, aku merasakan sakit yang luar biasa di dadaku. Sakitnya selalu di tempat yang sama. Sungguh. Ada tempat dalam hatiku, khusus untuknya. Tapi di saat bersamaan, ada keinginan kuat dalam diriku untuk mencoba hal lain, untuk berhubungan dengan berbagai macam orang. Sebut saja kuriositas, kehausan untuk tahu lebih banyak. Ini perasaan alami dan tak bisa kutekan, tidak peduli seberapa keras aku mencoba.”

Aku membayangkan sebuah tanaman yang tumbuh melampaui pot tempat ia ditanam.

“Saat aku bilang aku bingung, itu yang kumaksud,” jawab Erika.

“Kalau begitu kau harus memberitahu Kitaru apa yang kau rasakan,” ucapku. “Jika kau menyembunyikan fakta kau menyukai orang lain, dan kebetulan dia tahu, itu akan menyakitinya. Kau tidak mau itu terjadi, kan?”

“Tapi, bisakah dia menerimanya? Fakta kalau aku kencan dengan orang lain?”

“Aku bisa membayangkan ia akan mengerti perasaanmu,” ucapku.

“Menurutmu begitu?”

“Tentu,” ucapku.

Aku merasa Kitaru bisa mengerti kebingungan Erika, karena ia merasakan hal yang sama. Dalam hal ini, mereka ada di gelombang yang sama. Namun, aku tidak sepenuhnya yakin ia akan menerima kenyataan itu dengan tenang. Menurutku Kitaru bukan orang yang kuat. Tapi akan lebih berat jika Erika punya rahasia dan berbohong padanya.

Erika menatap nyala lilin yang berkedip-kedip diterpa semilir angin pendingin ruangan. “Aku sering memimpikan hal yang sama,” ujarnya. “Aki-kun dan aku berada di sebuah kapal. Perjalanan panjang dengan sebuah kapal besar. Kami bersama di dalam sebuah kabin, sudah larut malam, dan lewat jendela kapal kami bisa melihat bulan. Tapi bulan itu terbuat dari es transparan. Dan setengahnya sudah tenggelam dalam air laut. ‘Itu terlihat seperti bulan,’ ucap Aki-kun padaku, ‘tapi sebenarnya bulan itu terbuat dari es dan tebalnya hanya delapan inci. Jadi, ketika matahari terbit besok pagi, semuanya akan meleleh. Kamu harus melihatnya dengan baik sekarang, selagi punya kesempatan.’ Aku sudah sering sekali memimpikan mimpi ini. Mimpi yang indah. Selalu bulan yang sama. Selalu delapan inci tebalnya. Aku bersandar pada Aki-kun, hanya kami berdua, ombak berkecipak lembut di luar. Tapi setiap kali aku terbangun, ada perasaan sedih yang tak tertahankan.”

Erika Kuritani terdiam sejenak. Kemudian ia kembali berujar. “Aku membayangkan betapa luar biasa jika aku dan Aki-kun dapat berlayar bersama selamanya. Setiap malam kami meringkuk berdua di ranjang dan memandang bulan es itu melalui jendela kapal. Lalu pagi akan datang, bulan meleleh, tapi malam selalu datang kembali. Tapi, mungkin bukan itu masalahnya. Mungkin suatu malam, bulan es itu tidak akan muncul. Memikirkannya saja membuatku takut. Begitu ketakutan hingga bisa kurasakan tubuhku menyusut.”

Saat aku melihat Kitaru di kedai kopi keesokan harinya, ia bertanya bagaimana kencan kami berjalan.

“Kau menciumnya?”

Nggak mungkin.”

“Jangan takut—aku nggak akan marah,” ujarnya.

“Aku tidak melakukan apa pun.”

“Kau tidak menggandeng tangannya?”

“Tidak, aku tidak menggandengnya.”

“Jadi apa yang kalian lakukan?”

“Kami nonton film, jalan, makan makan, dan ngobrol,” jawabku.

“Cuma itu?”

“Umumnya, tidak boleh gerak terlalu cepat di kencan pertama.”

“Benarkah?” ucap Kitaru. “Aku belum pernah merasakan kencan yang umum, jadi aku nggak tahu.”

“Tapi aku menikmati kencan kami. Jika dia pacarku, tidak akan kubiarkan lolos pengawasanku.”

Kitaru menimbang pernyataanku. Ia hendak mengatakan sesuatu tapi urung dilakukan. “Jadi, kalian makan apa?” tanya Kitaru akhirnya.

Kuceritakan padanya tentang pizza dan Chianti.

“Pizza dan Chianti?” Kitaru terdengar syok. “Aku tidak tahu Erika suka pizza. Kami selalu makan mie, yang murah-murah. Anggur? Aku bahkan nggak tahu dia bisa minum.”

Kitaru sendiri tidak pernah minum.

“Ada beberapa masalah yang tidak kau tahu tentang dia,” ujarku.

Aku menjawab semua pertanyaan Kitaru. Tentang film Woody Allen (dia memaksa aku mereview seluruh plotnya), makan makan (berapa tagihan restorannya, kami bayar masing-masing atau tidak), apa yang Erika kenakan (dres katun warna putih, rambutnya ditata keatas dengan pin), dalaman apa yang ia pakai (mana aku tahu?), apa yang kami obrolkan. Aku tidak menyebutkan apapun soal Erika jalan dengan orang lain atau mimpinya tentang bulan es.

“Kalian sudah memutuskan kapan kencan kedua?”

“Tidak, tidak ada kencan kedua,” jawabku.

“Kenapa tidak? Kamu suka Erika, kan?”

“Dia baik. Tapi kami tidak bisa lanjut seperti ini. Maksudku, dia pacarmu, kan? Walaupun kau bilang tidak masalah kalau aku menciumnya, tetap tidak mungkin aku melakukannya.”

Kitaru merenung. “Kau mau tahu?” tanya Kitaru, akhirnya. “Aku sudah berkonsultasi ke seorang terapis sejak SMP. Orang tua dan guruku menyarankan untuk terapi. Karena aku sering melakukan hal-hal di sekolah dari waktu ke waktu. Kau tahu lah—hal-hal tidak normal. Tapi konsultasi dengan terapis sama sekali tidak membantu, sejauh pengalamanku. Secara teori kedengarannya bagus, kan? Tapi para terapis tidak peduli sama sekali. Mereka cuma menatapmu seperti mereka tahu segalanya, lalu membuatmu bercerita panjang lebar dan mereka hanya mendengarkan. Bung, kalau cuma itu sih aku juga bisa.”

“Kau masih sering terapi?”

“Yah, dua kali sebulan. Kayak membuang-buang uang, kalau kau tanya pendapatku. Erika nggak cerita soal itu?”

Aku menggeleng.

“Sejujurnya, aku tidak tahu apa yang salah dengan cara berpikirku. Bagiku, seperti melakukan hal-hal biasa dengan cara biasa. Tapi orang-orang bilang hampir semua yang kulakukan itu aneh.”

“Yah, ada sesuatu dalam dirimu yang jelas nggak normal,” ujarku.

“Contohnya?”

“Contohnya, caramu bicara, dialek Kansai-mu.”

“Kau ada benarnya,” Kitaru mengiakan. “Itu sedikit tidak biasa.”

“Orang normal biasanya tidak akan sejauh itu.”

“Yah, kau mungkin benar.”

“Tapi, sejauh yang kutahu, bahkan jika yang kau lakukan itu tidak normal, itu nggak mengganggu siapapun.”

“Tidak sekarang.”

“Jadi, apa salahnya?” tanyaku. Aku mungkin sedikit kesal (pada apa atau siapa, aku tidak tahu). Aku rasa nada bicaraku semakin naik. “Kalau kau tidak mengganggu siapa pun, lalu kenapa? Kau mau bicara dengan dialek Kansai, ya sudah. Lakukan saja. Kau nggak mau belajar untuk ujian masuk kuliah? Jangan belajar. Kau nggak mau meniduri Erika Kuritani? Siapa yang mengharuskan? Ini hidupmu. Lakukan apapun yang kau mau dan lupakan apa kata orang lain.”

Kitaru menatapku keheranan, mulutnya menganga. “Kau tahu, Tanimura? Kau pemuda baik walaupun terkadang sedikit terlalu normal.”

“Apa yang akan kau lakukan?” tanyaku. “ Kau tidak bisa mengubah kepribadianmu begitu saja.”

“Tepat. Kau tidak bisa mengubah kepribadianmu begitu saja. Itu yang ingin kukatakan.”

“Tapi Erika itu gadis baik,” ujarku. “Dia benar-benar peduli padamu. Apa pun yang kau lakukan, jangan lepaskan dia. Kau tidak akan pernah bertemu gadis seperti dia lagi.”

“Aku tahu. Kau nggak perlu memberitahuku,” ujar Kitaru. “Tapi, hanya tahu saja tidak akan mengubah apa pun.”

Sekitar dua minggu kemudian, Kitaru berhenti bekerja di kedai kopi. Aku bilang berhenti, tapi sebenarnya ia tiba-tiba tidak berangkat bekerja. Dia tidak menelpon, tidak bilang kalau ingin cuti. Dan ini terjadi saat musim tersibuk, jadi pemilik kedai benar-benar kesal. Kitaru meninggalkan gajinya selama seminggu, tapi dia tidak pernah datang untuk mengambilnya. Dia lenyap begitu saja. Harus kuakui aku sakit hati. Aku kira kami teman baik dan tentu sulit bagiku untuk putus hubungan begitu saja. Aku tidak punya teman lain di Tokyo.

Dua hari sebelum Kitaru lenyap, tidak biasanya ia berdiam diri. Dia tidak bicara banyak saat kuajak bicara. Kemudian dia pergi dan menghilang. Aku bisa menelpon Erika Kuritani untuk bertanya, tapi aku tidak sanggup melakukannya. Kupikir apa yang terjadi di antara mereka adalah urusan pribadi, dan tidak sehat bagiku untuk terlibat lebih jauh. Bagaimanapun aku harus bisa bertahan dengan dunia kecil yang kumiliki.

Setelah semua yang terjadi, untuk beberapa alasan aku terus memikirkan mantan pacarku. Mungkin aku merasakan sesuatu setelah melihat Kitaru dan Erika bersama. Aku menulis surat panjang berisi permintaan maaf atas kelakuanku. Aku bisa lebih ramah padanya. Surat itu tidak pernah berbalas.

Aku langsung mengenali Erika Kuritani. Aku baru bertemu dengannya dua kali dan enam belas tahun sudah lewat sejak terakhir kali kami bertemu. Tapi tidak mungkin aku salah lihat. Ia masih secantik, sebergelora dulu. Erika mengenakan dres hitam berenda, dengan sepatu hak tinggi warna hitam dan kalung mutiara melingkar di lehernya. Ia juga langsung mengingatku. Kami berada di pesta wine-tasting di sebuah hotel di Asakasa. Acaranya formal dan aku harus mengenakan setelan gelap lengkap dengan dasi. Erika datang mewakili biro iklan yang mensponsori acara tersebut dan sudah jelas ia menangani pekerjaannya dengan baik. Sedang perlu waktu yang lama menjelaskan alasanku berada di acara itu.

“Tanimura-kun, kenapa kamu tidak pernah menghubungiku setelah kencan kita?” tanya Erika. “Aku berharap kita bisa lebih banyak ngobrol.”

“Kamu sedikit terlalu cantik untukku,” jawabku.

Erika tersenyum. “Senang mendengarnya, walau kamu hanya menyanjung saja.”

Tapi apa yang kukatakan bukan kebohongan atau pujian. Erika terlalu cantik bagiku untuk serius menyukainya. Dulu maupun sekarang.

“Aku menelpon kedai kopi tempat kamu dulu bekerja, tapi mereka bilang kamu tidak bekerja di sana lagi,” ujarnya.

Setelah Kitaru berhenti, pekerjaan itu jadi sangat membosankan dan aku ikut berhenti dua minggu kemudian.

Aku dan Erika merenungi hidup yang kami jalani enam belas tahun terakhir. Setelah kuliah, aku bekerja pada sebuah penerbit kecil tapi berhenti setelah tiga tahun dan menjadi penulis sejak saat itu. Aku menikah saat umurku dua puluh tujuh tahun tapi belum memiliki anak. Erika masih lajang. “Mereka mempekerjakanku sangat keras,” guraunya, “sampai-sampai aku tidak punya waktu menikah.” Dia yang pertama mengangkat topik tentang Kitaru.

“Aki-kun sekarang bekerja sebagai koki sushi di Denver,” ujarnya.

“Denver?”

“Denver, Colorado. Setidaknya menurut kartu pos yang ia kirimkan padaku beberapa bulan lalu.”

“Kenapa Denver?”

“Aku tidak tahu,” ucap Erika. “Kartu pos sebelumnya dikirim dari Seattle. Dia juga koki sushi di sana. Sekitar setahun yang lalu. Ia mengirim kartu pos sekali-kali. Kartu konyol dengan beberapa baris pesan saja. Kadang dia bahkan tidak menuliskan alamatnya.”

“Koki sushi?” aku kagum. “Jadi, dia tidak pernah kuliah?”

Erika menggeleng. “Saat musim panas berakhir, kalau tidak salah, tiba-tiba Aki-kun mengumumkan kalau ia menyerah belajar untuk ujian masuk kuliah dan dia akan masuk sekolah memasak di Osaka. Katanya ingin belajar masakan Kansai dan nonton pertandingan di Stadion Koshien, stadionnya Hanshin Tiger. Tentu saja aku tanya, ‘bagaimana bisa kamu memutuskan hal penting seperti itu tanpa bertanya padaku? Bagaimana denganku?’”

“Apa katanya?”

Erika tidak menjawab. Dia menutup mulut seolah-olah dia akan menangis kalau mencoba berbicara. Aku mengganti topik pembicaraan.

“Dulu kita pergi ke restoran itali di Shibuya, aku ingat kita minum Chianti yang murah. Sekarang, lihat kita, mencicipi anggur Napa kualitas premium. Putaran nasib yang agak aneh.

“Aku ingat,” ujarnya, menguatkan diri. “Kita nonton film Woody Allen. Apa judulnya?

Aku menyebutkan judul filmnya.

“Film yang bagus.”

Aku setuju. Sudah pasti salah satu karya terbaik Woody Allen.

“Apakah hubunganmu dengan cowok di klub tenis itu berhasil?” tanyaku.

Ia menggeleng. “Tidak. Kami tidak bisa berhubungan seperti keinginanku. Kami pacaran enam bulan lalu putus.”

“Boleh aku bertanya sesuatu?” tanyaku. “Ini sangat pribadi.”

“Tentu.”

“Aku tidak mau kamu tersinggung.”

“Tidak akan.”

“Kamu tidur dengannya?”

Erika melihatku dengan tatapan terkejut, pipinya memerah.

“Kenapa kamu membahas itu?”

“Pertanyaan bagus,” ucapku. “Sudah terpikir olehku sejak lama. Tapi itu hal aneh untuk ditanyakan. Maaf.”

Erika menggeleng. “Tidak, tidak masalah. Aku tidak tersingung. Aku hanya tidak menyangka. Itu sudah lama sekali.”

Erika menyapukan pandangan ke sekitar. Orang-orang dengan pakaian formal memenuhi ruangan. Prop tercabut satu demi satu dari botol-botol anggur mahal. Seorang pianis perempuan memainkan Like Someone in Love.

“Jawabannya iya,” jawab Erika. “Aku tidur dengannya beberapa kali.”

“Kuriositas, kehausan untuk tahu lebih banyak,” ujarku.

Erika tersenyum. “Benar. Kuriositas, kehausan untuk tahu lebih banyak.”

“Begitulah caranya mengencangkan cincin tahunan dalam diri kita.”

“Jika kamu bilang begitu,” ucapnya.

“Dan kalau boleh kutebak, pertama kali kau tidur dengannya adalah setelah kencan kita di Shibuya?”

Dia membalik-balik buku catatan dalam otaknya. “Sepertinya begitu. Sekitar seminggu setelahnya. Aku masih ingat dengan baik. Itu pertama kalinya untukku.”

“Dan Kitaru tahu sesuatu terjadi,” ucapku sambil menatap matanya.

Erika memandang meja dan mengusap mutiara di kalung satu demi satu, seolah memastikan jumlahnya masih lengkap. Ia menghela nafas, mungkin mengingat sesuatu. “Ya, kau benar. Aki-kun punya intuisi yang sangat kuat.”

“Tapi hubunganmu dengan laki-laki itu tidak berjalan baik.”

Dia mengangguk. “Sayangnya, aku tidak sepintar itu. Aku selalu mengambil jalan yang lebih jauh. Aku selalu mengambil jalan yang memutar.”

Itu yang semua orang lakukan : tanpa henti berjalan di rute yang memutar. Aku ingin memberitahunya, tapi urung. Menyampaikan kata-kata mutiara seperti itu adalah satu dari banyak masalahku yang lain.

“Apa Kitaru sudah menikah?”

“Sejauh yang kutahu, dia masih lajang,” jawab Erika. “Setidaknya, dia belum memberitahuku kalau ia menikah. Mungkin, kami berdua bukan tipe orang yang bisa menikah.”

“Atau mungkin kau hanya mengambil jalan memutar untuk sampai ke sana.”

“Mungkin.”

“Apa kau masih bermimpi tentang bulan es?” tanyaku.

Kepalanya mendongak tiba-tiba dan ia menatapku tidak percaya. Dengan tenang, perlahan, secercah senyum muncul di wajahnya. Senyum yang sangat natural.

“Kau ingat mimpiku?” tanyanya.

“Untuk beberapa alasan, ya, masih.”

“Meskipun itu mimpi orang lain?”

“Mimpi adalah sesuatu yang bisa kau pinjam dan pinjamkan,” ujarku.

“Itu ide yang luar biasa,” jawabnya.

Seseorang memanggil namanya dari belakangku. Sudah waktunya kembali bekerja.

“Aku tidak bermimpi lagi,” ujarnya ketika kami akan berpisah. “Tapi aku masih ingat setiap detilnya. Apa yang kulihat, apa yang kurasakan. Aku tidak bisa lupa, dan mungkin tidak akan pernah lupa.”

Ketika aku menyetir dan lagu The Beatles, Yesterday, diputar di radio, aku tidak bisa tidak mengingat lirik gila Kitaru yang teredam di kamar mandi. Dan aku menyesal tidak mencatatnya. Liriknya sangat aneh sehingga aku bisa mengingatnya untuk sementara waktu tapi lambat laun ingatanku mulai memudar sampai akhirnya aku hampir melupakannya. Yang kuingat sekarang hanya potongan fragmen. Aku bahkan tidak yakin apakah lirik ini yang dinyanyikan Kitaru dulu. Seiring waktu berlalu, kenangan, mau tidak mau menyusun kembali dirinya sendiri.

Saat aku masih dua puluhan, aku mencoba beberapa kali menulis buku harian, tapi aku tidak bisa. Banyak hal terjadi di sekitarku dulu dan aku tidak bisa menuliskan semuanya. Dan hampir semuanya bukan tipe kejadian yang membuatku berpikir ‘Oh, aku harus menuliskan ini’.  Yang bisa kulakukan hanya membuka mataku di tengah angin kencang, menarik napas, dan melangkah ke depan.

Tapi anehnya, aku mengingat Kitaru dengan baik. Kami hanya beberapa bulan berteman, tapi setiap aku mendengar Yesterday, adegan dan percakapan dengannya teringat betul olehku. Kami berdua ngobrol selagi ia berendam di kamar mandi rumahnya di Denenchofu. Berbincang soal urutan memukul Hanshin Tiger, betapa menyebalkannya beberapa aspek dalam bercinta, betapa membosankannya belajar untuk ujian masuk kuliah, dan bagaimana dialek Kansai bisa begitu kaya akan emosi. Aku ingat kencanku dengan Erika Kuritani. Dan apa yang diakui Erika—di atas lilin meja di retoran italia. Semuanya terasa seperti baru terjadi kemarin. Musik jelas punya kekuatan membangkitkan kenangan, yang kadang begitu instens hingga sakitnya terasa.

Tapi ketika kulihat kembali diriku saat dua puluh, yang sangat kuingat adalah rasa sepi dan kesendirian. Aku tidak punya kekasih yang bisa memeluk tubuhku atau jiwaku, tidak ada teman tempatku bisa membuka diri. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan, tidak ada visi untuk masa depan. Dan yang paling besar, aku selalu bersembunyi, jauh di dalam diriku. Terkadang, aku melewatkan seminggu tanpa bicara pada siapa pun. Hidup semacam itu berlanjut hingga satu tahun. Setahun yang terasa sangat panjang. Apakah itu masa musim dingin yang meninggalkan cincin tahunan penting dalam diriku, aku tidak tahu. Saat itu, aku merasa seperti setiap malam aku, juga, memandangi bulan es melalui jendela kapal. Sebuah bulan es setebal delapan inchi yang transparan. Tapi aku memandangi bulan itu sendirian, tidak bisa berbagi kecantikannya yang dingin dengan siapa pun.

Kemarin
Adalah dua hari sebelum besok,
Dan satu hari setelah dua hari yang lalu

 

Naskah asli ada di sini. 
Dialihbahasakan dari bahasa Jepang ke bahasa Inggris oleh Philip Gabriel

Haruki Murakami lahir di Kyoto, Jepang, 12 Januari 1949 merupakan penulis best-seller Jepang. Karyanya dalam tulisan fiksi dan non-fiksi telah menerima banyak klaim kritikus serta sejumlah penghargaan, baik di Jepang maupun di luar negeri, termasuk pada World Fantasy Award (2006) dan Frank O’Connor International Short Story Award (2006), sedang seluruh karyanya mendapatkan pernghargaan pada Franz Kafka Prize (2006) dan Jerusalem Prize (2009).

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: https://kibul.in/cara-berkontribusi

Pendapat Anda:

Pages: 1 2

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *