Cinta Setinggi Langit [Etgar Keret]

Posted: 13 February 2018 by Gary Ghaffuri

Aku selalu terlambat satu hari atau satu hari lebih awal ketika merayakan hari ulang tahun anakku. Bagiku ini omong kosong belaka. Mengapa? Karena yang mulia hakim  memutuskan bahwa anak itu harus bersama ibunya tepat pada hari ulang tahunnya meski ibunya adalah perempuan yang menyebalkan dan tukang bohong. Perempuan itu bakal dengan sukarela meniduri setiap bajingan yang ngasih senyuman padanya di tempat kerja. Bagi tuan hakim, seorang ayah bukanlah sosok yang penting-penting amat.

Lidor dan aku pergi ke mal, bukan untuk beli hadiah; aku sudah membelikannya sebuah pesawat drone ketika aku libur kerja kemarin. Delapan puluh sembilan dolar, ya delapan puluh sembilan! Bukan main! Semahal itu dan mereka bahkan nggak memasukkan baterai untuk kontroler di dalam kotaknya. Jadi kami pergi ke mal untuk membeli baterai. Aku jelas nggak mungkin bilang mengenai hal itu pada Lidor. Memangnya aku mau bilang apa? Hei, maaf ya Ayah nggak cuma telat ngasih hadiah ulang tahun, tapi Ayah juga nggak lihat apakah ada baterai di dalamnya. Nggak bakalan kan aku bilang gitu?

Perempuan sundal. Kemarin aku minta izin padanya untuk datang ke pesta ulang tahun

Lidor, yah sekitar sepuluh menit saja. Cuma buat ngasih selamat dan ciuman pada Lidor, ambil foto pas Lidor meniup lilin, dan kemudian aku bakalan cabut. Namun, si sundal itu malah mengancam dengan surat perintah penahanan. Dia bahkan sibuk chatting dengan pacarnya yang orang hukum waktu bicara di telepon denganku (Aku bisa dengar suara ketukan jari jemarinya). Dia lalu mengancam kalau melihat batang hidungku di dekat rumahnya, aku bakal dibikinnya sengsara tujuh turunan.

Lidor ingin menerbangkan drone barunya terlebih dulu dan baru kemudian pergi ke mal. Tapi nggak ada baterai di kontrolernya dan aku jelas nggak mau bilang itu kepadanya. Kemudian aku jelaskan saja, kami akan pergi ke toko permen besar di lantai tiga, yang punya balon helium berbentuk Sponge Bob Square Pants dan seorang tante-tante bergigi kuning yang suka berteriak, “Sayang anak! Sayang anak! Permennya Bapak Ibu, buat anaknya,” lalu aku bakal membelikannya hadiah lain di sana, apa pun yang dia mau.

Lidor bilang bahwa pergi ke mal bakalan asik, tapi bocah ini pengen nerbangin drone terlebih dulu. Aku berbohong padanya, kukatakan padanya bahwa mal hari ini bakalan tutup lebih awal. Aku beruntung, bocah ini percaya saja.

Jam tiga sore, dan mal penuh sesak. Untuk bisa jalan-jalan bareng Lidor aku harus ngambil izin setengah hari kerja. Dilihat dari seberapa maraknya mal ini, aku pasti satu-satunya orang di negeri ini yang bekerja. Tapi Lidor adalah anak yang manis, dia selalu tertawa, nggak pernah merengek, bahkan saat kami harus mengantre lama untuk bisa masuk.

Di eskalator, dia ingin ke atas dari tangga yang bergerak turun buat senang-senang, dan aku ikut dengannya. Ini adalah olahraga yang bagus buat kami berdua. Kami harus berlari secepat mungkin biar nggak terseret ke bawah, harus sedikit berjuang agar nggak jatuh. Yah, hampir sama-lah dengan kehidupan. Seorang perempuan tua bungkuk yang turun mencoba berdebat dengan kami. Dia bertanya mengapa kami nggak naik dengan cara normal seperti orang lain. Hei, perempuan tua ini sebentar lagi bakal mendekam di kuburan dan hal remeh macam inilah yang mengganggunya? Aku sih cuma diam saja.

Ketika sampai di toko permen di lantai tiga, si tante bergigi kuning nggak ada di sana, hanya ada seorang kasir, remaja berjerawat yang badannya sekurus sumpit. Aku berkata pada Lidor, “Pilih apa pun yang kau mau. Tapi hanya satu barang, oke? Dan apa pun itu, meski harganya satu juta syikal, Ayah akan membelinya untukmu, janji. Lidor mau apa?”

Bocah itu senang bukan main, dia keliling toko dengan antusias macam pemadat ketemu sama ladang ganja, melihat-lihat rak, mengambil berbagai macam barang, dan mencoba memutuskan satu untuk dibawa pulang. Sementara dia sibuk, aku membeli baterai AAA. Si kasir jerawatan bergeming ketika aku menyerahkan baterai dan melambaikan uang di depannya. “Hei, nungguin apa sih?” tanyaku.

“Nungguin bocah itu,” katanya, dan mengeluarkan permen karet dari mulutnya. “Biar barangnya dihitung sekaligus, Om.” Sebelum aku mengatakan apa pun, dia sudah mulai sibuk dengan ponselnya.

“Dipisah aja bayarnya, Mas,” desakku sambil memasukkan baterai ke dalam tas berisi drone.

“Sebelum bocah itu kemari. Aku mau bikin kejutan.” Si kasir jerawatan akhirnya menekan tombol mesin kasir dan laci mesin terbuka dengan suara yang nyaring. Karena nggak punya uang kecil untuk kembalian, dia menghamburkan banyak koin kepadaku.

Saat itulah, Lidor datang. “Ayah beli apaan?”

“Nggak ada,” kataku. “Cuma permen karet.”

“Mana permennya?” Lidor bertanya.

“Udah Ayah telan.”

“Tapi kan nggak baik nelen permen karet,” katanya. “Nanti bisa nempel di usus.”

Si kasir jerawatan tertawa terbahak-bahak.

“Mau hadiah nggak,” Aku mencoba mengalihkan pembicaraan. “Ayo, pilih satu.”

“Aku mau itu,” kata Lidor sambil menunjuk mesin kasir. “Kalau aku punya itu, aku bisa

main toko-tokoan sama Yanir dan Lyri.”

“Mesin kasir itu nggak dijual,” kataku. “Pilih yang lain deh.”

“Tapi aku mau mesin kasir itu,” Lidor bersikeras. “Ayah kan udah janji.”

“Ayah bohong!” Lidor berteriak sambil menendang kakiku kuat-kuat. “Bener kata Ibu,

Ayah cuma bisa ngomong doang.”

Tendangan Lidor lumayan sakit juga. Biasanya, kalau ada yang bikin sakit aku bakal muntab. Tapi hari ini aku menahan diri. Karena aku menyayangi anak lelakiku lebih dari apa pun di dunia ini dan hari ini adalah hari yang istimewa, hari ulang tahunnya. Ah bukan, satu hari setelah hari ulang tahunnya. Sundal sialan.

“Mesin kasir ini dijual berapa?” tanyaku dengan dingin pada si kasir jerawatan “Kayak bocah umur enam tahun aja, Om,” katanya dengan senyum mengejek. “Om tahu kan ini nggak dijual.” Dia mengatakan “enam tahun” seolah Lidor adalah orang tolol atau semacamnya, dan sekarang aku sadar telah dijebak. Aku harus memilih apakah aku harus membenarkannya atau aku harus membela Lidor.

“Seribu syikal,” kataku sambil mengulurkan tangan. “Kita salaman, deal, lalu abis itu Aku pergi ke ATM dan balik dengan uangnya.”

“Mesin ini bukan punyaku, Om,” katanya. “Aku cuma kerja di sini.”

“Jadi siapa bosmu?” tanyaku. “Tante-tante yang giginya kuning itu?”

“Ya,” katanya sambil mengangguk. “Tirza.”

“Cepat telepon dia,” perintahku. “Biar aku ngomong sama dia. Dengan seribu syikal, dia bisa beli yang baru. Yang lebih bagus. “

Lidor menatapku seperti sedang melihat seorang superhero. Nggak ada yang lebih membanggakan selain melihat anak Anda menatap dengan pandangan seperti itu. Ini lebih membahagiakan dibandingkan liburan ke Thailand. Lebih menyenangkan daripada disepong sama cewek. Lebih menyenangkan dibandingkan mukulin orang yang menyebalkan. “Cepetan, telepon bosmu,” desakku. Bukan karena aku marah. Yah, namanya juga buat anak.

Dia memencet nomor telepon dan sedikit menjauh dari kami, setengah berbisik ke telepon. Aku mengikutinya kemana pun dia pergi, Lidor di belakang kami. Dia terlihat senang. Dia sudah bahagia tadi, saat aku menjemputnya, tapi sekarang dia terbang.

“Dia bilang nggak dijual,” si kasir jerawatan memberitahuku dengan mengangkat bahu

seolah-olah baru saja menyampaikan wahyu dari Tuhan.

“Sini biar Aku yang ngomong.” Aku memberi isyarat dengan tanganku.

“Dia bilang toko nggak bisa menjual mesin kasir mereka,” katanya. Aku merampas

gagang telepon darinya. Lidor tertawa. Aku sudah membuat Lidor tertawa.

“Sia-sia aja, Om, cuma cari penyakit aja.”

“Tirza,” kataku. “Halo, ini Gabi, pelanggan tokomu. Anda mungkin nggak kenal sama saya, tapi Anda bakal tahu wajah saya sebentar lagi. Dengar, saya cuma mau minta tolong. Seribu syikal. Anda nggak cuma bisa membeli mesin kasir yang baru, tapi saya juga bakal berutang budi padamu. “

“Lalu di mana kami nyimpen duitnya?” tanya Tirza di ujung telepon yang lain. Dia berada di tempat yang bising. Aku hampir nggak bisa mendengarnya.

Nggak usah dimasukin ke mesin kasir lah,” kataku. “Toh saya bukan petugas pajak kan? Seribu syikal langsung ke kantong Anda. Ayo, gimana?”

“Biarkan aku bicara dengannya,” katanya tak sabar.

“Si kasir jerawatan?” tanyaku.

“Ya,” kata Tirza, mulai terdengar marah. “Kasih teleponnya ke dia.”

Aku menyerahkan gagang telepon kepada si kasir jerawatan. Dia berbicara dengan bosnya sebentar, lalu mengakhiri panggilannya. “Dia bilang nggak,” katanya padaku. “Maaf, Om.”

Lidor meraih tanganku. “Mesin kasir,” katanya dengan suara yang paling serius. “Ayah udah janji.”

“Dua ribu deh,” kataku pada si kasir jerawatan. “Telepon bosmu lagi dan katakan padanya kalau aku bakal ngasih dua ribu, seribu sekarang dan seribu lagi besok.”

“Tapi..” sela si kasir jerawatan dengan wajah tidak setuju.

“Aku nggak bisa narik lebih dari seribu dalam sehari,” aku langsung menyela. “Aku bawain sisanya yang seribu besok pagi. Nggak usah khawatir, nanti aku ninggalin SIM buat jaminan.”

“Tirza bilang dia tidak mau nerima telepon lagi,” katanya. “Dia sedang shivah (masa berduka penganut Yahudi, biasanya selama 7 hari pen ) untuk mendoakan ayahnya. Dia sedang nggak ingin diganggu. “

“Aku turut berduka cita,” kataku sambil menepuk bahunya. “Coba kamu pikirin. Dua ribu

itu duit yang banyak lho. Kalau bosmu tahu bahwa aku nawarin duit segitu tapi kamu bilang nggak, dia bakal marah besar. Saranku sih, kamu nggak layak dapat masalah besar karena hal kecil seperti ini. “

Aku menekan bagian bawah laci mesin kasir dan, bam, lacinya terbuka. Ini adalah trik yang kupelajari saat bekerja di Burger Ranch setelah aku keluar dari Angkatan Darat.

“Keluarkan uangnya,” kataku padanya, tapi dia bergeming, jadi aku mengumpulkan uang tersebut untuknya dan memasukkannya ke dalam saku depan celana jinsnya.

“Maaf Om, nggak ada toko yang jual mesin kasir mereka,” katanya.

Nggak bakalan ada yang peduli,” kataku. “Percaya deh, ini kesepakatan yang bagus. Tunggu sebentar, aku balik ke sini lima menit lagi dengan seribu syikal jadi duit di kantongmu nggak bakal kesepian. “

Sebelum dia menjawab, aku menggamit tangan Lidor dan menuju ke mesin ATM. Aku sebenarnya kerap bermasalah dengan mesin ATM, tapi hari ini mesin ATM meludahkan seribu dua ratus syikal dengan lancar tanpa banyak cingcong.

Saat aku dan Lidor kembali, nampak seorang pria gembrot kumisan sedang berbicara dengan si kasir jerawatan. Aku mengenalnya, dia pemilik toko yoghurt beku di sebelah. Saat si kasir jerawatan melihat kami masuk, dia menunjuk ke arahku. Aku mengedipkan mata padanya dan meletakkan seribu di meja kasir. “Ini,” kataku. Si kasir jerawatan bergeming. “Ayo, ambil! Nggak usah malu-malu!” Aku mengambil uang tersebut dan mencoba memasukkannya ke dalam sakunya.

“Jangan ganggu dia,” kata si pria gembrot. “Dia cuma bocah.”

Nggak bisa,” kataku. “Aku sudah berjanji pada anakku. Hari ini hari ulang tahunnya.”

“Selamat ulang tahun ya,” kata si pria gembrot sambil mengelus rambut Lidor tanpa sedikit pun memalingkan wajah gembulnya dariku. “Mau es krim? Om kasih hadiah secangkir es krim dengan krim kocok, sirup cokelat, dan jeli beruang di atasnya.” Si gembrot ini bicara tanpa melepasakan pandangannya dariku.

“Aku mau mesin kasir,” kata Lidor, menjauh si gembrot dan memelukku. “Ayah udah

janji.”

“Kamu mau main apa sama mesin kasir?” tanya si gembrot. Tanpa menunggu jawaban dia meneruskan “Om juga punya satu, tapi cuma karena disuruh oleh orang pajak. Mesin ini sebenarnya nggak ada gunanya sama sekali. Cuma bikin berisik. Nah, sekarang gimana? Sekarang kau minta anterin ayah kamu buat pergi ke toko komputer di lantai dua dan beli Xbox. Dengan seribu syikal, kau bisa beli Xbox dengan Kinect dan lain sebagainya. “

Aku diam saja. Jujur, aku benar-benar menyukai idenya. Si gembrot bakal menyelamatkanku dari masalah di sini, dan kemudian, masalah dengan Lilia, saat aku membawa si bocah pulang ke rumah. Karena begitu Lilia melihat mesin kasir, dia bakal marah-marah.

“Jadi gimana?” tanya si gembrot pada Lidor. “Xbox itu keren lho. Kamu bisa main game balap atau apa pun yang kamu mau. “

“Mesin kasir,” kata Lidor sambil memeluk kedua kakiku erat-erat.

“Lihatlah betapa manisnya dia,” kataku dan mencoba menyerahkan uang itu pada si pria gembrot. “Bantu aku membuatnya bahagia pada hari ulang tahunnya.”

“Hei, ini bukan tokoku,” protes si gembrot. “Aku bahkan nggak kerja di sini. Aku cuma

pengen bantuin.”

“Tapi nyatanya kamu nggak membantu sama sekali.” Aku bergerak begitu dekat dengannya sehingga wajahku hampir menyentuh wajahnya.

“Saya harus balik ke toko.” Si gembrot cuma mengangkat bahu dan berkata pada si kasir jerawatan, “Jika dia bikin ulah, hubungi polisi,” dan kemudian dia pergi. Ah, betapa

dia seorang pahlawan sejati.

Aku meletakkan seribu syikal di meja kasir, mencabut steker-nya, dan menggulung kabelnya, dan saat Lidor melihat itu, dia bertepuk tangan.

“Aku panggilin polisi nih,” kata si kasir jerawatan, dan dia mulai memencet nomor telepon. Aku merebut gagang telepon dari tangannya.

“Kenapa?” kataku. “Ini hari ulang tahun anakku. Semua orang bahagia, jangan coba-coba merusaknya.” Si kasir jerawatan memandangi ponselnya yang kini ada di tanganku, lalu ke arahku, dan kemudian berlari keluar toko. Aku meletakkan kembali gagang telepon ke tempatnya dan mengambil mesin kasir. “Sekarang kita akan segera pergi dari sini,” kataku pada Lidor, suaraku ceria, seolah ini permainan. “Kita akan kembali ke rumah dan menunjukkan hadiah barumu pada Ibu.”

“Tidak,” kata Lidor sambil mengatupkan kakinya. “Pertama kita menerbangkan drone

lalu kita pulang. Ayah udah janji.”

“Ya,” jawabku dengan suaraku yang paling lembut. “Tapi mesin kasirnya berat. Ayah tidak bisa membawa mesin ini sambil menerbangkan drone. Sekarang kita bawa mesin kasir dulu dan besok, tepat setelah kamu pulang sekolah, kita akan menerbangkan drone di taman. “

Lidor berpikir sebentar. “Sekarang drone ,” katanya. “Mesin kasirnya besok aja.” Dan

saat itu juga, si kasir jerawatan berlari ke dalam toko sambil membawa seorang satpam.

“Hei, lagi ngapain kamu, Mas?” Kata penjaga itu. Dia pria pendek dan berbulu, terlihat

lebih mirip seekor anjing doberman daripada satpam.

Nggak lagi apa-apa, Pak.” Aku mengedipkan mata dan mengembalikan mesin kasir ke

tempatnya. “Hanya mencoba membuat anakku senang. Ini hari ulang tahunnya.”

“Selamat ulang tahun, Nak,” kata penjaga itu kepada Lidor, seolah tak peduli. “Semoga

berbahagia. Tapi sekarang kau dan ayahmu harus pergi. “

“Ya,” kata Lidor. “Kita harus pergi dan menerbangkan drone .”

Di taman, aku dan Lidor bermain dengan drone . Di buku manualnya tertulis bahwa mesin itu bisa terbang sampai ke ketinggian empat puluh meter, tapi setelah sekitar lima belas meter, drone sialan itu nggak bisa menangkap sinyal dari kontroler, baling-balingnya berhenti berputar, dan jatuh. Tapi Lidor menyukainya.

“Siapa orang yang paling Lidor sayangi di dunia?” tanyaku, dan Lidor menjawab, “Ayah!”

“Seberapa banyak Lidor sayang sama Ayah?” tanyaku sementara pesawat drone berputar mengelilinginya, dan dia berteriak, “Banyak sekali!”

“Sampai ke langit,” teriakku. “Sampai setinggi langit hingga ke bulan!” Ponselku di dalam saku bergetar, tapi kubiarkan saja. Paling si Lilia. Di atas kami, drone kelihatan semakin kecil dan kecil. Sebentar lagi, drone itu akan hilang dari penglihatan dan jatuh. Lalu kami berdua akan berlarian untuk menangkapnya, dan jika Lidor berhasil mengalahkanku, dia bakal tertawa terbahak-bahak. Tidak ada yang lebih menyenangkan di dunia yang busuk ini daripada suara anak kecil yang tertawa.

 

 

To The Moon And Back, oleh Etgar Keret dipublikasikan pertama kali pada 3 Oktober 2016 di The New Yorker, diterjemahkan dari versi Bahasa Inggris. Naskah asli

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: https://kibul.in/cara-berkontribusi

Pendapat Anda:

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *