Cokelat yang Salah

Suatu hari aku pergi ke rumah nenek. Rumah nenek cukup jauh dari rumahku. Aku bersama nenek menggunakan mobil untuk pergi ke rumah nenek. Dalam perjalanan, kami mampir ke toko kue. Di sana, nenek membelikanku cokelat. Cokelat itu terlihat sangat enak dan besar. Sepertinya aku membutuhkan waktu berjam-jam untuk menghabiskannya. Aku tidak sabar untuk segera sampai rumah nenek dan menikmati cokelat itu.

Sampai di rumah nenek, aku segera mencuci kaki dan tangan, lalu memakan coklat yang sudah sangat kuinginkan. Tidak lupa aku mengucapkan terima kasih pada nenek dan berdoa sebelum aku makan coklatnya. Cokelatnya terlalu besar sehingga aku butuh waktu lama untuk menghabiskannya. Karena terlalu lama, cokelatnya meleleh dah berceceran di mana-mana. Ada yang tercecer di kamar, kursi, tempat tidur dan tempat lainnya di rumah nenek. Coklat yang berceceran itu mengundang semut-semut untuk berdatangan. Semut di mana-mana, nenekku sampai bingung karena banyak semut di rumahnya.

Aku sangat suka cokelatnya, jadi aku mencolek lelehan cokelat di lantai. Aku tidak peduli kalau cokelatnya sudah kotor. Aku juga tidak peduli kalau cokelatnya sudah dikerumuti semut.

Karena sudah sore, aku ingin mandi. Cokelat sudah di mana-mana mengotori wajah, tangan, hidung dan bajuku. Tanganku sudah sangat lengket. Aku ingin segera mandi agar bersih kembali.

Tiba-tiba aku melihat lelehan cokelat di lantai kamar mandi dekat toilet. Aku mencoleknya dan menjilatnya. Anehnya cokelat itu berbau busuk. Aku kaget dan hampir muntah. Ternyata aku mencolek cokelat yang salah. Yang aku colek adalah kotoranku sendiri. Aku sangat kaget. Nenek juga sangat kaget dan menyuruhku segera berkumur dan menyikat gigiku hingga bersih.

Laksita Happy Ardhana

Laksita Happy Ardhana

Siswi Kinderfield Primary School Duren Sawit Jakarta Timur

Bagikan tulisan ini

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Tulisan Terkait