Belajar dari Rujak

Pohon mangga di depan rumah Nana dan Rara sedang berbuah. Banyak yang sudah matang. Pagi ini, Ayah memetiknya memakai galah. Beberapa mangga disimpan dan ada pula yang diberikan ke tetangga di kanan-kiri rumah. Nana dan Rara diminta oleh Bunda mengantar beberapa mangga ke rumah Bibi.

Rumah Bibi tidak begitu jauh, jadi mereka berdua berjalan kaki.

“Rara, apa kamu sudah mengerjakan tugas mengarangmu?” tanya Nana penasaran.

“Belum, Kak,” jawab Rara sedikit murung. “Padahal, Ayah bilang boleh ke pasar malam kalau tugas sekolah besok Senin sudah selesai.”

“Kan masih ada sore nanti,” ucap Nana berusaha menghibur.

“Tapi Rara tidak tahu harus mengarang apa, Kak?”

“Siapa tahu nanti di rumah Bibi kamu mendapatkan ide.”

Mendengar ucapan Nana, Rara pun kembali bersemangat. Tanpa sadar mereka berdua sudah sampai di depan pintu rumah Bibi. Mereka berdua mengetuk pintu, lalu mengucapkan salam bebarengan.

“Ternyata Nana dan Rara,” ucap Bibi begitu senang.

“Iya, Bi,” jawab Rara.

“Ini, Bi, dari Bunda.” Nana memberikan kantong plastik berisi mangga itu.

“Wah, pas sekali,” ucap Bibi senang. “Di dalam, Bibi punya banyak buah, tapi tidak ada mangga. Bagaimana kalau kita buat rujak?”

“Tidak papa, Bi?” tanya Rara dan Nana malu-malu.

“Tentu saja,” jawab Bibi. “Sekarang, mari masuk.” Mereka semua pun masuk.

Nana dan Rara membantu Bibi mencuci buah-buahan yang ada, Bibi sendiri memotong-motong buah serta membuat bumbu rujak.

“Ada apa Rara?” tanya Bibi yang melihat Rara dari tadi tampak agak murung.

“Begini, Bi, Ayah nanti malam mau mengajak kami ke pasar malam, asal tugas-tugas sekolah untuk besok Senin sudah selesai,” sahut Nana.

“Benar begitu?” tanya Bibi pada Rara, dan Rara pun mengiyakan. “Memang, apa tugasnya?” tanya Bibi lagi.

“Membuat karangan,” jawab Rara pelan.

“Tentang apa?” tanya Bibi, kian penasaran.

“Indonesia,” jawab Rara dan Nana bersamaan.

“Kalau begitu, Rara bisa mulai dari sini,” kata Bibi menunjukan rujak yang sudah siap disantap itu.

Mendengar ucapan Bibi, Nana dan Rara berpandangan: bertanya-tanya. Bibi pun akhirnya menjelaskan, “Indonesia itu negara yang sangat kaya dengan budaya. Berbagai suku, ras, agama, dan golongan ada di Indonesia. Perbedaan itu, Tuhan ciptakan untuk saling mengisi dan mewarnai. Seperti rujak ini.”

Nana dan Rara pun tersenyum, mulai paham.

“Coba kalau rujak ini hanya satu jenis buahnya? Mungkin tetap enak dan segar, tapi tentu lebih enak lagi jika bermacam-macam, kan?” Bibi makin bersemangat menjelaskan.

“Terima kasih Bibi, penjelasan dari Bibi memberikanku ide untuk membuat karangan tentang Indonesia. Aku yakin dapat menyelesaikan tugas mengarang sore nanti,” ucap Rara. Mendengar itu, Bibi pun tersenyum senang.

“Apa rujaknya sudah boleh dimakan?” tanya Nana dengan riang.

“Boleh,” jawab Bibi. “Nanti Ayah dan Bunda dibawakan. Masih banyak soalnya.”

Nana dan Rara pun dengan mantap berkata, “Siap.”

Polanco Surya Achri

Polanco Surya Achri

Lahir di Yogyakarta 17 Juli 1998. Mahasiswa di jurusan Sastra Indonesia. Suka membaca dan menulis puisi, berharap punya ikan cupang—lagi.

Bagikan tulisan ini

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Tulisan Terkait