Tragedi Potong Rambut oleh Andre Wijaya

Posted: 12 May 2017 by Andre Wijaya

TRAGEDI POTONG RAMBUT

Tragedi potong rambut serupa upacara keluarga

menyucikan diri dari libur paling panjang

anak pulang milik penuh orang tua

 

di kepala hidup sebuah kecamatan

aku adalah camat membangun segalanya

kota yang resah gagal diselamatkan

dari hari pemotongan

 

jalanan kembali lengang di kota kami

kehilangan pohon hitam yang rindang

anak tidak akan tumbuh

bayi-bayi mati

kehabisan ketombe pada akar dan batang

 

seorang anak dari kutu jenis lain sedang mencari ibu

cemas menunggu popok dan puting susu

isak tangis tak akan lama dan tersesat

air mata jatuh ke perut

membentuk kesedihan yang tak pernah larut

 

aku kenang rambut gugur sebagai kesedihan

menyabari rumah runtuh dan rubuh

lelaki di ujung sana menjelma gunting cukur

meresmikan kutu menjadi yatim piatu

 

aku masuk ke dalam cermin

tidak berkenalan sama sekali

rumah tangga hancur

dan kematian terus berlompatan dari kepala

entah siapa saja

cinta seluruh rambut panjangku

kecuali satu

: perintah mama adalah nyanyian burung

serupa radio rusak dan murung

 

di rahim

perempuan membangun puisi

menuliskan syair tentang surai pendek

untuk setiap anak lelaki

 

aku pulang dengan perasaan yang lain

menuntaskan bon dan keinginan

 

di wajah

jiwa muda sudah murah meriah

mama jadi sumringah

 

suatu hari

seseorang berjanji melupakan panjang dan halus rambut

pagi ini Chris Hemsworth ada di televisi

rambut Thor menjuntai ke bahu dan indah sekali

pandanganku kabut

sesuatu menciptakan hujan di mata sendiri

: mengingatkanku pada sebuah tragedi

 

Perpustakaan UGM, 23 Februari 2017

 

 

SEORANG LELAKI DAN PEREMPUAN TAK PERNAH ADA

Seorang lelaki dan perempuan berbincang pada sebuah kepala

dan di kepalaku mimpi basah susah diciptakan

imaji sudah tawuran

tapi tertangkap polisi

segala mesum dipulangkan

dibimbing terlebih dahulu

membawa malu

gagal menghadirkan seorang perempuan di kamar kosku

seorang lelaki tidak pernah bertanya

mengapa di kepala lain perempuan menjadi begitu purba?

pada mimpi paling getas

kesunyian paling purna

ketidakberhasilan yang berulang

adalah kesepian yang mudah pecah

aku putuskan bicara pada kasur

jejak di lantai tercipta saat bangun dan mau tidur

aku adalah si bodoh

yang tak pandai menghapus langkah

pada panjang pendek jarak

dan begitu lumrah

mungkin tidak ada yang tahu

ketakutan menjadi aku sekarang

malam yang kita sebut adalah kecewa

gagal memesumi mimpi-mimpi paling basah

sesuatu mencoba kabur pada sepi yang gigil

seorang perempuan tak berhasil dipanggil

dalam angan-angan yang begitu kecil

maka aku ini orang sederhana bukan?

tidak menjadi istimewa

pada mimpiku yang biasa-biasa saja

Perpustakaan UGM, 2017

 

 

 

INI HARI TAK ADA JEMURAN

Ini hari tak ada jemuran

kau menolak lupa segala hal untuk mencuci

bernyanyi di kamar mandi

melepas pakaian

menggantung segalanya pada paku pintu dengan harapan

: kenangan malam

bekas dan ingatan

tak akan bersih bersama deterjen

yang kau beli dari toko sebelah

ketika baru saja buka

setelah hari lalu menggelar kawinan

 

hari ini terik sekali

tetapi kau tak sedikitpun punya niat

mengeringkannya dari masa lalu

yang memecahkan kepalamu

 

karikatur yang membentuk dadamu

seringkali bersentuhan dengan gambar bibir di bajunya

kau paham

: ciuman hanya membuatmu

tidak mau mengambil ember dan sikat di pagi ini

Malam Minggu serupa malam-malam lain

yang gembira menziarahi kesedihan

 

tentu kau mengingat

hari di mana kau resmi sendiri

: sepulang menonton dari bioskop

dia memutuskanmu

hanya karena tak suka film komedi

yang membuatmu terbahak setengah mati

 

setelah itu kau lupa

bagaimana cara tertawa

juga bahagia

 

kawat di luar sana menyuruhmu segera menjemur apapun

karena tidak kuat menjadi sesuatu yang bukan apa-apa

 

kau melamun di atas kloset

 

sikat gigi

shampo dan sabun mandi menunggumu sejak tadi

muak menyaksikan laba-laba

: membangun jaring

memamerkan kejantanan pada betina

yang tak lagi takjub setelah ada sesuatu mulai jatuh

dan berisik di atap rumahmu

 

gerimis

kau tersentak

baru saju ingat

lupa tak membeli pewangi dari toko sebelah

: suami istri yang tiap hari ribut

 

Mungkin Malam Minggu waktu yang tepat untuk pergi ke laundry pikirmu

 

Perpustakaan UGM, 5 Februari 2017

 

 

 

BAJU BARU DARI IBU WARNA BIRU

Kau tidak pernah suka baju baru dari ibu warna biru

mengapa tidak abu-abu katamu

membuatku cemas

tak sengaja menemukan masa lalu

: kau dan berak menjadi tontonan

di sela-sela pelajaran berhitung

yang tidak pernah kuingat lagi tanggal dan waktu

besok adalah Rabu

hari di mana kau memulainya tanpa kau yang dulu

kemarin kau membeli sesuatu dari toko buku

judulnya membingungkanku

bagaimana bisa kau membeli sebuah buku

Tips Jitu Melupakan Kekasih dan Malam Minggu

tepat di samping novel Cintaku di Kampus Biru?

SMP celana kau hampir ungu

kata ibuku coba pakai belau

celanaku sudah luntur

kau terbayang-bayang saat angin menyibak roknya

celana dalamnya juga ungu lebih ke laut-laut biru

matamu tak bisa mengenali warna

bentuknya memalingkan logika

aku malu berteman denganmu

aku memanggil Tuhan untuk mengutukmu

kelas bersorak

menutup hidung dan teriak panggil guru

itu pertama kali kau lihat sabit di bibirnya

wajahmu purnama bulan digagal awan

membuat kau tidak perlu malu

dengan tahi yang jatuh satu-satu

tak sekalipun ragu-ragu

kau tidak pernah suka baju baru dari ibu warna biru

lebih-lebih celana yang berwarna…

kau tahu?

aku dijuluki anak lugu saat itu

Perpustakaan UGM, 6 Februari 2017

 

 

 

DEODORAN MURAH MERIAH BELI DUA DAPAT SATU

Ada sesuatu yang kau beli dari Pasar yang Baru Buka Beberapa Minggu. Shampo Anti Ketombe, Sabun Mandi Anti Kurap Kadas Panu, Deodoran Murah Meriah Beli Dua Dapat Satu. Kau bertanya, berapa harga yang harus kau bayar? Dua puluh lima ribu, kata Pria Itu. Setelah membayar, seorang pria teriak-teriak ingin bertemu dan mengambil maju. Segalanya menjadi kesal, orang-orang sibuk mencaci maki sambil mengepal tangan dan membentuk tinju. Sesampai di rumah, kau terbayang-bayang kejadian seru. Orang-orang mengingat si Ketiak Kuning yang tak ada malu, itu, sisa deodoran tak hilang di area baju. Kau baru saja mengambil dan membuang sesuatu. Esok. Berencana menjadi pria lain. Datang ke Pasar yang Baru Buka Beberapa Minggu itu.

Perpustakaan UGM, 9 Februari 2017

 

Catatan Redaksi:

Puisi-puisi Andre Wijaya bisa dikatakan ekspresif sekaligus eksperimental. Memperlihatkan bagaimana ledakan jiwa muda penulis terhadap situasi-situasi di sekelilingnya, terlihat emosional dan tergesa.

Dalam beberapa puisi, ia tampak memilih diksi-diksi yang cenderung bisa dipahami sebagai sesuatu yang jorok. Sebagai contoh kutu, berak, sempak, BH dan lain lain. Agaknya pilihan kata itu untuk menjauhkan diri kesan indah yang sering dipahami dalam penciptaan sebuah puisi. Dalam posisi ini terlihat bagaimana penulis mencoba melakukan gebrakan, hanya saja ia lupa bahwa meskipun tak melulu menggunakan diksi-diksi yang indah keindahan puisi tetap saja muncul, tergantung pada tinggat kepandaian penyairnya sendiri.

Kalau kita lihat puisi-puisi ini masih dikategorikan sebagai tulisan baru—dilihat dari tanggal penciptaannya—sehingga penulis mungkin perlu lebih berhati-hati dalam mengekspresikan pikiran dan perasaannya terlebih dalam bentuk puisi. Tapi keberanian penulis untuk bereksperimen dalam penulisan puisi-puisinya perlu diapresiasi meskipun ia mesti berjuang keras lagi untuk memperoleh kematangannya.

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: https://kibul.in/cara-berkontribusi/

Pendapat Anda:

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *