Tamasya ke Alam Baka oleh Fatah Anshori

Posted: 16 February 2018 by Fatah Anshori

Catatan Redaksi:
Tamasya ke alam baka adalah puisi yang bisa ditafsirkan menjadi dua hal:
1. Bercerita tentang perjalanan ruh menuju yang abadi
2. Bercerita tentang penantian sebelum ajal tiba

Jika yang pertama, maka puisi ini menceritakan sebuah proses perjalanan ruh. Artinya, alam baka merupakan sebuah alam yang berlapis setelah kematian. Ruh belum sampai ke tujuan tetapi masih melalui proses yang begitu panjang. Sementara itu jika yang kedua, maka kehidupan menjelma alam penantian, bahwa setelah kehidupan yang singkat dan penuh kecemasan pada akhirnya seorang akan mati.

Dalam puisi ini, sebelum menemu keabadian, manusia (baik yang masih menyatu antara jasad dan ruh, maupun ruh yang sudah terpisah) sama-sama merasakan kesunyian. Baik yang pertama maupun yang kedua pada akhirnya, keduanya sama-sama terikat pada yang lain, yakni kabar baik dari Langit. Bisakah kabar baik diartikan jawaban kegelisahan, kesunyian itu: berita gembira bahwa kehidupan keabadiaan akan bergelimang kebahagiaan?
Tamasya dalam puisi ini nampaknya memang belum sampai pada tahap menikmati tempat yang dituju, tapi masih berada dalam sebuah perjalanan. Dengan demikian, dalam puisi ini, tamasya yang dimaksud adalah menikmati perjalanan itu sendiri(?)

 

Tamasya ke Alam Baka

Apa yang kau cari jika puisi
tak lagi sakti. Orang mati
tetap mati ditinggal nyawa
yang tamasya ke alam baka.

Ujung jalan
masih menanti. Seseorang
dari seberang datang dengan
tubuh yang lapang dan kedua
lengan yang rimbun.

Agar cemas lekas lemas
di nadinya. Ia menunggu
kabar baik jatuh dari langit
mungkin bersama hujan,
yang langsung membawanya
ke dekat mata jendela. Yang
rela seumur hidupnya
memendam kata-kata
di dalam sepi matanya.

Malang, 2017

 

Pucuk-pucuk Cemara

1.
Pagi sudah nampak di
pucuk-pucuk cemara
yang menanggung gigil
sepanjang hujan sore itu.

Air matanya pernah jatuh
memenuhi: deras sungai
di halaman kampus, lapangan
basket yang kesepian, juga
tubuhku yang kuyup di dekat
koridor.

2.
Aku pernah mencintai matamu
yang merah. Taman bunga dan
kota yang marah seperti sedang
diputar di sana.

Kota ini belum pernah menulis
kasus kebakaran. Pembajakan
liar atau penebangan hutan. Orang
-orangnya mencintai dingin dan
ingin bekerja di dalam rasa malas
yang memenuhi pagi.

3.
Seorang relawan kecil
yang tidur bersama lapar dan
kehendak melarikan diri yang
tak mungkin. Rebah di belahan
dadamu,

Bau amis seperti sedang ditumis
di beranda depan, di tenda-tenda
korban perang perasaan. Dengki
dan iri kerap menyalakan api
di dalam hati. Tak perlu waktu
lama untuk menghapus nama
sebuah kota yang kau cintai
dingin dan wangi paginya.

4.
Pada suatu pagi yang keruh kau
pergi ke sungai. Batu-batu di sana
seperti sedang meramal ricik
air. Atau air yang sengaja
mengeja diam di tubuh batu-batu.

Tapi kau bertanya tentang untuk
apa sungai menaruh batu-batu
dan ricik air di dada(nya).

5.
Lalu tampat ini menawarkan dingin
dimana-mana. Bayang-bayang kadang
bangkit dan mengenakan selimut, tapi
kau tetap menjadi diam yang rela
sekaligus tidak peduli pada ucapan
kasar dan tajam orang-orang.

Dingin yang mengambang di lorong
dalam matamu memutar cerita tentang
hari-hari yang jatuh ke dalam hati-hati.

Malang-Lamongan, 2017

 

Mungkin Matamu yang Menelan Matahari Sore

Atau mungkin matamu yang
sudah menelan matahari sore
yang sempat mengambang
dua atau tiga senti di atas
gudang para kuli batu.

Lalu desa menjadi bilangan
prima yang habis dibagi
tubuhnya sendiri dan perihal
-perihal ganjil: seperti
kepergianmu setahun
lalu. Tapi kau menyebutnya
pulang.

Gunung kapur hancur lebur
hutan perdu susut dalam buku
cerita.

Tubuh(nya) membelah menjadi
kotak-kotak kecil yang hendak
membangun kota dan beberapa
pusat perbelanjaan. Ia ingin
menangis tapi tuhan baik hati,
tak memberi mata apalagi
air mata.

Lalu kau sudah pergi ke kota
bersama pacar baru dan
kenangan, kau biarkan tinggal
dan menangis di sudut desa.

Kota menyediakan apapun yang
kau bayangkan sejak kecil: cafe
24 jam, studio musik super berisik,
jalan raya yang kerap memakan
nyawa, malam yang menolak sepi,
dan hari-hari yang penuh warna-warni.

Sementara desa hanya bayang-bayang
yang ingin kau lepaskan dari ujung
kakimu tapi kau tak mampu.

Lamongan, 2017

 

Menjadi Firman

Kadang aku ingin menjadi keping-keping kaca yang pecah. Dan diabadikan firman di dalam kitab. Kau membacaku berkali-kali dan aku keluar masuk dirimu tanpa pernah kau sadar apa maksud yang sebenarnya. Kau tidak mengerti tapi aku tetap menunggu, kebiasaan yang menjelma cinta kasih. Cerita masa lalu, perang antar suku, dan ramalan masa depan saling berkelindan di bait-bait yang kau baca ketika petang menjelang. Aku mengisi kepalamu yang kosong, menghapus segala yang tak mau hangus. Membakar dosa-dosa yang basah bersama resah yang kau pelihara di lorong-lorong sepi tubuhmu. Pada akhirnya aku hanya ingin menjadi cerita, pengisi sore ketika kau berdua saja dengan anakmu yang manja dan belum mengerti apa-apa tentang cinta dan segala hal yang hendak binasa.

Lamongan, 2017

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: https://kibul.in/cara-berkontribusi

Pendapat Anda:

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *