Pulang oleh Ani Suryani

Catatan Redaksi: Puisi-puisi Ani Suryani mengisahkan cerita cinta yang sederhana seperti cinta seorang ayah pada anaknya, cinta dua sejoli atau cinta seorang kepala keluarga pada keluarganya. Diksi-diksi yang dipilih adalah diksi-diksi sehari-hari dan metafor-metafor yang hadir juga mudah dipahami, menjadikan puisi ini mengesankan kesederhanaan penggunaan bahasa. Dengan tema yang sederhana dan bahasa yang mudah dipahami, puisi ini menjadi sajian yang cukup nikmat, menawarkan citarasa yang sederhana, kendati dalam beberapa sisi kita akan menemukan rasa yang unik yang hadir dari serpihan-sepihan nuansa kedaerahan yang khas di dalamnya.    

Pulang

Dua anak kecil bermain tali di taman dekat gubuk Bapakku. Mereka tertawa tanpa tau jika derita telah mengantri sekilan di depan jidat yang jenong. Aku memasang tali sepatu, berharap tapak membolehkanku beristirahat sejenak. Di muka gubuk, di wajah keriput Bapak kudapati debar yang berebut hambur. Bapak mengusap jilbabku ‘Bapak hanya akan mencintaimu pada dua waktu’ Lantas kujawab ‘Kapan itu?’ ‘Sekarang dan selamanya’. (Januari, 2018)    

Batanghari

Saat itu cuaca tak terbaca, seperti bibirmu yang dikecup batanghari, kau ingat itu? Tengkulukmu sedikit ditiup angin pada pinggiran sungai ini.

Kita bawa pedih-perih berlari, memandikan dosamu. Tapi kita sudah terlanjur bahagia hidup dalam kata sederhana. Sesederhana air di depan muka kita yang selalu setia. Menunggu, seperti kisah angso duo yang terus menelusuri aliran coklat sungai ini tanpa peta, tanpa tahu ujungnya.

   

Telepon Pukul Sembilan Malam

Sejak dulu aku sudah sering memintamu. Ajari aku mengeja cuaca dan mengecap rasa gula yang dicampur sebotol wisky. Apakah seharian tadi kau lupa suatu berita? kau datang kepadaku lewat gelombang gelombang suara. Kita menyulam malam menjadi inti rindu yang curiga. Tapi kenangan telah habis kita obrolkan. Kutatap kaca jendela. Disana tergambar wajahmu, wajahnya. Seperti galeri dalam sebuah lumbung, aku berjejal mencari celah untuk sekedar mendengar debar dari jantungmu lebih dekat sembilan inchi. ‘Aku pendengar yang baik, ceritakan saja semua rindumu’, tawarmu. Barangkali, debar akan selalu mencari namaku dalam ponselmu. Entah untuk mengajakku bercinta, atau sekedar rindu yang retak di selimut kamarmu. (2018)    

Tarian Penyadap Karet

Pernah ia menari di atas tempurung penuh getah. Lengket, tapi kaki dan tangannya terlanjur gemar bergerak. Dipejamkan matanya, ada gelisah dalam rongga dadanya.

Pernah pula ia berhenti menari, ‘Ah, harga beras lebih mahal dari sekilo karet. Sial! Babi!’, dia memaki pada babi di hutan. Tapi beruang ikut maki-maki.

Tapi getah tadi tetaplah getah, mengucur pada darah dan ruas-ruas tulang anak isterinya. Sementara ia menanti musik dari kawanan jangkring, untuk terus menari.

Disayat lagi pepohonan sambil menari, hingga tak ada lagi lapar dalam perutnya sendiri.

(2018)

   

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: https://kibul.in/cara-berkontribusi

Ani Suryani

Ani Suryani

Lahir di Palembang, 17 Januari 1997 silam. Suka menulis sejak kecil. Beberapa puisinya dimuat dalam beberapa antologi puisi bersama. Pernah memenangkan PEKSIMIDA Provinsi Jambi 2016 dalam dua tangkai lomba sekaligus. Saat ini, menempuh pendidikan S-1 Bahasa Arab di FIB Universitas Jambi.

Bagikan tulisan ini

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Tulisan Terkait