Pulang oleh Ani Suryani

Posted: 30 March 2018 by Ani Suryani

Catatan Redaksi:
Puisi-puisi Ani Suryani mengisahkan cerita cinta yang sederhana seperti cinta seorang ayah pada anaknya, cinta dua sejoli atau cinta seorang kepala keluarga pada keluarganya. Diksi-diksi yang dipilih adalah diksi-diksi sehari-hari dan metafor-metafor yang hadir juga mudah dipahami, menjadikan puisi ini mengesankan kesederhanaan penggunaan bahasa. Dengan tema yang sederhana dan bahasa yang mudah dipahami, puisi ini menjadi sajian yang cukup nikmat, menawarkan citarasa yang sederhana, kendati dalam beberapa sisi kita akan menemukan rasa yang unik yang hadir dari serpihan-sepihan nuansa kedaerahan yang khas di dalamnya.

 

 

Pulang

Dua anak kecil bermain tali di taman
dekat gubuk Bapakku. Mereka tertawa tanpa
tau jika derita telah mengantri sekilan di depan jidat yang
jenong.

Aku memasang tali sepatu, berharap tapak membolehkanku
beristirahat sejenak. Di muka gubuk, di wajah keriput Bapak
kudapati debar yang berebut hambur. Bapak mengusap jilbabku
‘Bapak hanya akan mencintaimu pada dua waktu’
Lantas kujawab ‘Kapan itu?’
‘Sekarang dan selamanya’.

(Januari, 2018)

 

 

Batanghari

Saat itu cuaca tak terbaca,
seperti bibirmu yang dikecup batanghari,
kau ingat itu? Tengkulukmu sedikit ditiup angin pada pinggiran
sungai ini.

Kita bawa pedih-perih berlari,
memandikan dosamu. Tapi
kita sudah terlanjur bahagia
hidup dalam kata sederhana. Sesederhana air di depan muka kita
yang selalu setia. Menunggu, seperti kisah angso duo
yang terus menelusuri aliran coklat sungai ini
tanpa peta,
tanpa tahu ujungnya.

 

 

Telepon Pukul Sembilan Malam

Sejak dulu aku sudah sering
memintamu. Ajari aku mengeja
cuaca dan mengecap rasa gula yang
dicampur sebotol wisky.

Apakah seharian tadi kau lupa suatu berita?
kau datang kepadaku lewat gelombang
gelombang suara. Kita menyulam malam menjadi
inti rindu yang curiga.

Tapi kenangan telah habis kita obrolkan. Kutatap kaca
jendela. Disana tergambar wajahmu, wajahnya. Seperti
galeri dalam sebuah lumbung, aku berjejal mencari celah
untuk sekedar mendengar debar dari jantungmu
lebih dekat sembilan inchi.

‘Aku pendengar yang baik, ceritakan saja semua
rindumu’, tawarmu.

Barangkali, debar akan selalu mencari namaku dalam
ponselmu. Entah untuk mengajakku bercinta, atau sekedar rindu
yang retak di selimut kamarmu.

(2018)

 

 

Tarian Penyadap Karet

Pernah ia menari di atas tempurung penuh
getah. Lengket, tapi kaki dan tangannya terlanjur gemar
bergerak. Dipejamkan matanya, ada
gelisah dalam rongga dadanya.

Pernah pula ia berhenti menari,
‘Ah, harga beras lebih mahal dari sekilo
karet. Sial! Babi!’, dia memaki pada babi di
hutan. Tapi beruang ikut maki-maki.

Tapi getah tadi tetaplah getah, mengucur pada
darah dan ruas-ruas tulang anak isterinya. Sementara ia menanti
musik dari kawanan jangkring, untuk terus menari.

Disayat lagi pepohonan sambil menari, hingga
tak ada lagi lapar dalam perutnya
sendiri.

(2018)

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: https://kibul.in/cara-berkontribusi

Pendapat Anda: