Penjual Minyak Tanah oleh Polanco S. Achri

Posted: 20 July 2018 by Polanco Surya Achri

Penjual Minyak Tanah

Setelah perjalanan jauh menjajakan dagangannya
ia duduk di pelataran rumah-Mu. Tubuhnya memang
beraroma minyak tanah dan bercampur keringat,
namun ia tak ingin membakar rumah-Mu—ataupun surga-Mu.
Jadi, izinkanlah ia masuk.

Maret-April, 2018

 

Dalam Sebuah Khotbah

Si pengkhotbah begitu berapi-api menyampaikan khotbahnya,
bercerita tentang setan yang begitu suka menggoda manusia.
“Setan itu siapa?” tanya seorang bocah tiba-tiba.
Hadirin terdiam. Si pengkhotbah lebih terdiam. Sedangkan aku
tertawa sejadi-jadinya, di barisan paling belakang.

September, 2017

 

Kisah Sandal Jepit Selepas Salat Jumat

Aku mencari sandalku cukup lama dan belum kutemukan,
mungkin ia tengah berjalan-jalan di surga dan neraka:
mencari tempat mana yang cocok untuk aku; pemiliknya.
Tapi, aku berharap agar ia cepat kembali
karena aku hendak pulang dan menulis puisi.

Mei, 2017

 

Pertanyaan Seorang yang Bukan Penyair:

Jika penyair masuk surga, apakah ia akan tetap menulis puisi?
Saya penasaran. Tuhan, izinkan saya masuk ke sana.

Maret, 2018

 

Penjual Es Dung-dung

Menuju rumah-Mu, hendak meminta izin:
apakah boleh memberikan dagangannya
pada penghuni neraka. Sebab ia tak ingin
ada yang membenci-Mu—meski di neraka.

April, 2018

 

Soal Ujian Akhir

        siapa nama yang akan kau sebut
saat kematian datang, dan mengecup
keningmu dengan bibir paling manis?

Januari, 2018

 

Saat Aku Melewati Mereka
yang Pulang Selepas Mendengar Kisah-mu

Setelah kematianku, akankah aku bangkit ke dunia ini lagi?
Aku ingin menyelesaikan puisi tentang-Mu—yang (mungkin)
takkan pernah selesai.

April, 2018

 

Mungkin Kau Anggap Ini Bukan Pilihan
tapi Jujur Aku Bingung

Dari seratus ekor domba, seekor hilang dan tersesat
haruskah aku mencari yang hilang dan meninggalkan
99 ekor yang lain? Bantulah aku menjawab,
sebab seekor yang hilang adalah dirimu.

Maret, 2018

Pendapat Anda: