Padamu Ngeri karya Aditya Ardi N

Posted: 8 February 2019 by Aditya Ardi N

padamu ngeri

masihkah patut kau melagu “nenek moyangku seorang pelaut”
saat tak kau jumpai lagi tetabuhan ombak, juga arti kokohnya perahu pinissi
aku pun sepertimu: terlahir sebagai generasi nyaris tanpa identitas diri

“melempar jangkar – sauh berkarat
gelepar ikan-ikan dalam dendam kesumat
mengutuki mata kita yang menyiarkan mimpi kilat.”

kau ingin jadi penyanyi pop di ibukota, kau bilang jadi artis sinetron juga tak apa
asal bisa bergaya, mandi sauna, pedicure dan spa setiap harinya
mempesona tanpa bau amis ikan hasil tangkapan nelayan

aku pun demikian, bermimpi jadi petinggi
kemana saja diantar mobil sedan – dikawal adjudan
pakai baju keki, jas-dasi bikin percaya diri
meski rakyat melarat dan kurang gizi; aku tetap ingin jadi petinggi

entahlah, apa sebab mata kita selalu goyah
tiap kali memandang perahu, laut biru, kecipak ikan-ikan
dan wajah legam ayah selalu nampak lungkrah
seperti lanskap hitam temaram di atas air garam
ada juga jutaan mimpi yang timbul-tenggelam

untuk itu kuajukan tanya padamu:
masihkah patut kau melagu nenek moyangku seorang pelaut?

besi tua

berisik radio dan televisi menyapa kami ”selamat pagi!”
suara itu, sapaan yang asing, kami tidak mengerti
sebab bagi kami hidup adalah malam
yang turun tanpa mimpi, yang rapi terpagar duri
: kami hanya besi tua yang selalu menderu dalam gilingan waktu

tergencet pula pada barisan angka-angka−barisan teratur
:sejumlah rencana kerja, biaya produksi dan efisiensi
produksi harus berjalan tanpa tanda tanya
harus selalu terpacu, lurus tanpa tanda seru

jika tidak, mata-mata itu siap melipat
dan melempar kami tanpa ragu lalu
menggantinya dengan mesin baru yang siap diadu

maka kami kembali memasuki lorong-lorong bising pabrik ini
tanpa bisa menawar lagi, dan bara luka akan semakin sering
menjawil sisa-sisa umur kami hingga semua terpangkas-lunas

yang tertinggal hanya serak suara
terperam di kamar-kamar gelap peristiwa
: kami hanya besi tua yang selalu menderu dalam gilingan waktu

kesaksian cacing

kalian tahu supermarket di simpang jalan itu?
nah, tepat di bawah situ tempat tinggalku dulu
tanah humus yang gembur dan subur;
konon katanya dulu selalu dijagai oleh dewi sri

tapi tidak untuk saat ini: seperangkat alat berat
derap sepatu boot itu telah menginjak-injak rumahku
tanpa permisi menjarah semua yang kumiliki

tak cukup disitu, tanpa banyak kata mereka beli hak asasiku
dan juga kebebasanku dibayar tunai
atas nama pemerataan pembangunan, lalu menggusurku
ke selokan-selokan yang mengalirkan kotoran dan limbah
dari rumah mereka, sejauh ini aku masih bisa terima

tapi aku berjanji
bila ketenanganku diganggu-gugat lagi
bila kediamanku digusur-gusur lagi
maka, aku akan menghuni perut-perut mereka
biar tahu rasa!

buldozer

suara bising buldozer lantas membikin langkahmu keder
wajahmu jadi beringsut, senyummu kecut dalam luka terbalut
bahkan rambut-rambut yang menancap di kulitmu
kini mulai sangsi mencari arti
ketika shampo dan creambath essence tak lagi memberi solusi

kau pun angkat kaki
dengan langkah malu-malu di atas sendal jepitmu
segera ninggalkan gang, yang rusuh oleh deru buldozer itu

kata moyangku dulu, tanah adalah anugerah
tapi kata mereka kini, tanah adalah meja judi
jadi kita musti siap taruhan diantara kartu nasib dan mata dadu
dan jika kalah, maka bersiaplah mengganti paru-parumu dengan insang

laut yang cemar oleh merkuri itu sudah menunggu
jika sudah begitu, bising buldozer itu takkan lagi mengganggumu!

episode terakhir

sinetron segera dimulai
adik dan ibu-ibu sudah siap di depan televisi
sambil memegang sapu tangan untuk sekadar persiapan
sinetron sudah dimulai. adik dan ibu-ibu tanpa kedip menatap televisi.
mereka butuh hiburan, ini seperti rekreasi.
pelarian dari ledakan bom elpiji
dalam penjara dapur hari ini.

adik menangis minta susu perutnya lapar
ibu-ibu nampak gusar di depan layar
menukar muka. berganti menjadi wajah-wajah sedih
belajar menangis dengan air mata buatan tersedu sedan
karena kelilipan bedak pupur artis-artis mengkilap berkilauan
kala adegan syuting sedang makan di restoran.

sinetron sudah bubar
perut adik masih lapar, jantung ibu-ibu tetap berdebar.
lalu artis-artis itu masuk mobil sedan, kemudian kencang melaju
meninggalkan ibu-ibu, meninggalkan tangisan palsu.
ibu-ibu jadi kesepian:kasihan!

Pendapat Anda: