Mengingat Kembali Wajahmu oleh Arie A. Nasution

Posted: 11 August 2017 by Arie A. Nasution

Mengingat Kembali Wajahmu

    :Setiawati

Mengingat kembali wajahmu

seperti mengupas bawang di depan mata

sedikit terbayang paras sayu

selebihnya samar dalam air mata

 

mengingat kembali wajahmu

seperti menumpuk kayu-kayu

menjulang setinggi eru

hanya terlihat selipat kuku

 

andai mata bekerja

seperti digital kamera

wajahmu telah berjuta

memenuhi kornea

 

mengingat kembali wajahmu

beruntungnya aku

tidak lagi mudah tertipu

pada muramnya daun rindu

 

2013

 

 

Widuri

Kembali kita pada dentang

jam yang tak pernah pingsan

mengalir bagai malam

yang lupa kembalikan bulan,

semakin lupa

kemana kita pulang, sayang

kita hanya ingat

kapan harus berhenti

saat malam berdesah lirih.

jiwa kitapun bermandikan peluh.

oh, widuri yang tidur saat tiba subuh

tenggelamlah dalam mimpi

sampai tiba saat berlabuh

dan kita menuai sisa kisah dalam setubuh

 

 

Semoga

semoga kita jumpa setiap petang

di  kolong mega jingga membentang

kita datang dan pulang

membawa kisah untuk dikenang

 

adakah selama ini membayang

pada persinggahan akhir raga melayang

tulang dan daging tak pernah pulang

duduk bersama di tepi jurang

jiwa-jiwa kita pun terbang

 

kau dan aku membasuh wajah

bersama menengadah

mengawali prosesi sembahyang

dan di kedua tangan

doa kita bentang

untuk yang tak sampai dalam gapaian

 

 

Saujana Khayal

dengarlah, peri mendendang lagu di pucuk hujan

kuyup gaunnya berkilauan. gemuruh sesekali

tenggelamkan suaranya yang merdu, seperti not-not musik

yang menarik nada minor dan mayor berganti-ganti, antara seribu

suara burung yang melahap jerit derita bertahun-tahun.

seseorang berlari ke hutan, deritanya menggurat

sepanjang pepohonan, sesekali terdengar rintihnya

menyayat baris-baris sajak pendek dari akar tumbuhan.

di atas, dedaun menggigil karena angin datang bersama

suara asing dan tak terjamah.

yang kulihat adalah peri mengiringi derita tahun-tahun

seseorang itu dan suaranya tak pernah sampai

pada siapapun yang diteriakinya.

semua berhembus: angin,de daun, peri , aku,

seseorang ,dan waktu yang tanpa sengaja sampai

pada dendang sajak yang sunyi di jalan itu.

 

 

Nubuat

Seseorang baru saja turun dari gunung. Memberitakan seorang petapa di atas sedang menentang tuhan. Keyakinan mereka. Keyakinannya. Sebuah agama. Tergesa ia mengabarkan ke punjuru negeri. “Gerangan apa bencana menimpa, kali ini.”

Berita tersiar. Berbondong rakyat menuju gunung itu. Petapa sudah tiada. Jejaknya tertingggal. Lima kaki dewasa hanya tapaknya. Mereka bingung. “Gerangan siapa pemilik jejak agung?”

Di sebuah desa, agama disiarkan dengan lapang. menembus dada orang-orang papa. Keyakinan berhamburan, kemana saja. Di pintu, di tembok, gang-gang, rumah ibadah, sampai bilik pelacuran. Tak lagi ada jejak kebesaran. Semua keyakinan mereka sama:

“Gerangan siapa pemilik tuhan?”

 

Catatan Redaksi:

Sebagian besar puisi Arie A. Nasution menyoal masa lalu, kenangan, kerinduan akan segala yang telah lampau dan terlewati. Kerinduan selalu berisikan harapan untuk dapat mengulang kembali hal-hal indah yang pernah terjadi, yang tak terdapat lagi di masa kini. Harapan itulah yang membentuk khayalan mengenai masa depan: kebersamaan dan kebahagiaan yang terulang. Dalam posisi inilah kita bisa melihat bahwa tak khayal saat merindu, aku lirik berada dalam kesepian dan kesendirian. Dan pada saat mengenang itulah hati  bergejolak, bibir tersenyum namun sekaligus  juga meneteskan air mata. Inilah tragik dari sebuah romansa.

 

*Gambar karya Agnes Cecile

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: https://kibul.in/cara-berkontribusi

Pendapat Anda:

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *