Kalau pun ada kuncup yang tak mekar oleh Sukandar

Posted: 14 April 2017 by Sukandar

Kalau pun ada kuncup yang tak mekar

: murniwangi

Kalau pun ada kuncup yang tak mekar, itu sebab luka cuaca,
gegar musim duhai jelita. Kelak ia akan bergegas datang lagi
tanpa gusar mengantar ruh-ruh yang tanggal karenanya

Ingatlah jelita, tak ada rindu yang terlantar, ia pun serupa
kuncup bunga yang akan senatiasa dikecup musim, menjadi
yang semestinya

 

Yk, 2007

 

 

 

Kebun dan Peraduan Kita

: Sriheni

Kebun bunga, itu yang akan kita punya sebelum kulkas, meja, atau rak-rak juga taplak aneka warna. Kita yang mesti siapkan semua: olah tanah, pupuk dari kotoran satwa atau pun ramuan daun-daun tua untuk daur kebun kita.

Sepanjang siang kita mesti berkeringat dan tak boleh sambat, semua mesti kita semai dan tanam kembali untuk kebun kita. Dan ketika malam, kita tak boleh lagi mengintip melati yang sumringah dijamah cahaya bulan, tapi kita sendiri  yang akan menjadikan ia iri saat cahaya dan wangi tak lagi berlainan di peraduan kita.

 

Yk, 2007

 

 

 

Katamu

Katamu,
kadang-kadang hati memang mesti seperti kolam, tak bisa ditusuk semisal oleh duri atau belati, malahan membawanya kembali ke tepian atau menenggelamkan. Di bawah, ikan-ikan riang mendapatkan makanan atau setidaknya kawan baru yang mengasyikkan.

Kadang-kadang hati mesti seperti duri, yang bisa menusuk, semisal bisul yang menyembul. Meski timbul sakit dan bau, tapi leganya berkepanjangan bukan?

Ah, kadang-kadang hati memang seperti sedang bisulan, tak nyaman dan serasa ingin kuggencet bagian matanya biar pecah, muncrat, karena tak henti-henti ia memelototi.

 

Yk, 2008

 

 

 

Sajak pulang ke rumah

Di secuil pelataran rumah, bersyukur masih ada satu dua
kuncup melati, yang memapah rindu pada kampung sawah
dongeng Lelepah juga Wewe Gombel di pinggiran kali

sedang kunang-kunang, belalang kayu, mengantar
ke halaman kenangan masa bocah, berlari terengah
menjemput kemenangan di bawah bundar purnama:
betengan, jamuran dan dingklik oglak aglik
menjadi taman sepanjang malam

Pulang ke rumah, duduk di beranda memandang lalu
lalang kenangan, sejenak tetirah

setelah haru biru jalanan reklame, ramai mesin
meninggalkan bising dan gaduh, wajah-wajah haus
dan cemas, juga segepok makian yang sesekali tertahan

Ah, pulang ke rumah
Pulang ke kelopak matamu
Rebah di pangkuan senyum rindumu

Yk, 2012

 

 

 

Doa di telapak tanganku

Pagar bambu, perigi batu, sederet pohon waru.
Guguran karuk si bunga jambu, tampak telapak kaki
sisa embun di rumputan. Bapak dan ibu sebelum subuh
sudah ke pasar, meninggalkan doa, memanggul
panenan kebun sepetak

Di daun pintu, ada goresan paku dan kuku,
tergambar tokoh wayang, Bambang Wisanggeni.
Aku masih ingat itu, dengan kardus sisa rokok orang mantu,
aku meniru. Berkali-kali dan selalu tak mampu

‘Bambang Wisanggeni, risang pandawa putra Arjuna,
penantang para dewa itu, bahasanya satu: keberanian.’
Demikian ujar simbah kepadaku.

Kini Wisanggeni, goresan di daun pintu itu telah lapuk
dimakan waktu. Juga perigi batu, guguran bunga jambu
dan deretan pohon waru. Namun, doa sebelum subuh itu,
tapaknya nampak jelas di telapak tanganku.

 

Yk, 2015

 

 

 

Senandika

Jangan terlalu berapi-api,
nanti malah terbakar diri sendiri
Tak perlu terus bersepi-sepi,
biar tak mati ditelan angan-angan

Juga jangan terus-terusan merasa gagah,
tegak berdiri memampang wajah di sana-sini
Tekuklah lututmu, rendahkan wajahmu
serata tanah, belajarlah pada rumput teki

Jangan terlalu bergantung pada di luar diri,
asah dan asuhlah nyali agar berani
berdiri di atas kaki sendiri

Tempuhlah hidupmu dengan laku mesu budi
Teruslah berjalan dengan nyanyian puja-puji
dan ampunan kepada pengatur matahari
dan rembulan, tanpa henti

Yk, 2016

 

 

Dari Ruang Abimanyu

: untuk istriku

Serbuan jarum suntik yang menembus lembut
kulitmu bukanlah kisah ribuan anak panah
yang menghunjam di tubuh Abimanyu. Bukan!
Abimanyu, engkau tahu, satria itu telah mendapatkan
sumpahnya di kurusetra. Abimanyu berdusta,
mengaku perjaka pada Utari.

Serbuan jarum suntik yang datang kepadamu adalah
peneguh hati seorang ibu: jangankan ribuan panah,
seluruh senjata yang ada di muka bumi dikerocokkan,
ia tetaplah ibu, yang  tegak karena cinta, kokoh
memangku segala dukalara.

Lalu, kau pun bertanya tentang ketakutan,
Kapan ia datang kepada seorang Ibu?

Ketakutan hanya datang ketika kita, anak-anaknya
mulai meninggikan suara dan kepala di hadapannya,
di sanalah rasa takut lahir sebagai air mata ibu
yang menjelma telaga nirmala dan sendang sumala

Di sini, dari ruang Abimanyu, kita pun berangkat
ke ruang Kunthi, untuk kembali meniti, mengenali
laku Indradi,  Dewi Sri, mbok Sinem, mak Darmi,
biyung Sukemi, dan tentu, ibu kita sendiri.

 

Yk, 2016

 

 

 

Dendam Aswatama

Hari ke sembilan belas di Kurukasetra
Selesai sudah Bharatayuda.

Tapi tidak bagi Aswatama, putra kinasih resi Durna
Dadanya membara, penuh dendam. Teringat ia
Akan jasad ayahdanda, juga para junjungan Korawa

Di pucuk ubun-ubun terbitlah segala dendam
Memenuhi langit pikirannya.

Duduk bersila, mencoba melawan segenap dendam
Bermenung  ia di atas batu hitam, batinnya belum juga
bisa  terpejam. Matanya terus menyala dibakar resah
sedang senja perlahan merapat di halaman.

Sepoi angin, kelebat kelelawar
dan gelap mulai rimbun. Pecahlah suara

Anakku,
sudahilah perang mulai hari ini, bapakmu ini sudah
kenyang akan darah, muslihat dan segenap dusta-dusta
yang menjalar dari abad ke abad, dari raja ke raja, dari dusun
ke kampung-kampung bahkan dari rumah ibumu sendiri.
Percayalah, perang hanyalah  api pada seikat blarak.
ingatlah, perang hanyalah api pada seikat daun kelapa kering,
segalanya dengan cepat  kembali pada gelap.

Malam merapat di pelataran,
turun dari cungkup-cungkup,
melepas angin basah.

Sejenak Sang Resi menata kain di pundaknya,

Anakku,
adapun tentang manusia, adalah ketika keberanian berayun
dengan ketakutan. Manusia berperang di antaranya,
merumat tiap benturan dan ayunan. Ke mana dia akan
memihak. Ke mana dia mesti bertindak.  Engkau mesti berani,
tapi mesti juga gemetar dalam ketakutan.

Anakku,
Menjadi manusia adalah menitis dalam gerimis.
Bergerak bak hujan, dan terkadang harus bergemuruh
menjadi  banjir bandang.

Rumput di pelataran mulai basah,
beranjak timbul tenggelam.

Aswatama teguh, kukuh duduk di hadapan. Air mengalir,
menenggelamkan sebagian kakinya.  Hujan menderas,
air bergerak mengitari tubuh sang resi.  Memusar .
Durna hilang,  Aswatama bangun dari pejamnya.

Terdiam.

Yk, 2013-2016

 

* Foto karya Amalya Suchy Mustikapurnamasari.

 

Catatan Redaksi:

Puisi-puisi Sukandar sepenuhnya bercerita mengenai hidup dan perjuangan menjalaninya. Dengan mengambil beberapa beberapa cerita wayang, unsur Jawa dan filosofi hidup terasa kental dalam puisi-puisi ini. Salah satu yang kentara adalah ajaran mengenai keseimbangan. Kehidupan harus dijalani dengan penuh semangat dan keberanian. Meskipun begitu, menjalani kehidupan bukanlah dengan cara yang membabi buta namun selalu berada dalam ketegangan antara baik buruk, suka duka, tinggi rendah: yang pada intinya untuk selalu tidak terjebak pada “kahanan” maupun “keakuan”. Dengan demikian maka akan tercipta kesadaran diri yang akan membebaskan manusia dari kehidupan itu sendiri: menjadikan manusia sepenuhnya menjadi manusia.

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: https://kibul.in/cara-berkontribusi/

 

Pendapat Anda:

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *