Di Malam Hari Sebelum Kita Bergegas Tidur oleh Syafri Arifuddin

Posted: 22 December 2017 by Syafri Arifuddin

Catatan Redaksi:
Bantal guling bagi seorang lajang adalah kekasih paling setia. Tak pernah marah, selalu ada ketika dibutuhkan dan bisa diperlakukan layaknya apapun. Hal tersebut mungkin yang membedakan dengan pasangan hidup yang dihalalkan. Dalam puisi ini, benda mati itu nampaknya menjelma metafora kebebasan yang bertentangan dengan aturan, norma-norma yang seringkali terlalu mengikat. Kerinduan akan kebebasan itu nampaknya dirasakan kembali oleh aku lirik namun tak lagi bisa diraih sehingga menjelma kenangan semata. Hal ini karena aku lirik telah menemukan keindahan dan kenikmatan lain dalam dunia baru yang telah dijalani. Kebebasan pada akhirnya dianggap sebagai sebuah kebodohan, kesia-siaan namun senantiasa dikenang sebagai sesuatu yang nikmat, meski hanya sesaat.

 

Di Malam Hari Sebelum
Kita Bergegas Tidur

Bantal guling sungguh hanyalah benda mati.
Di dalam malam yang dingin ia hanya mampu
kupeluk tanpa membalas dengan gerakan yang
sama. Hanya rasa percaya yang menjaga tubuh
dan pikiranku agar kau selalu terasa ada.
Aku rindu—sungguh.

Itu dulu—dulu sekali. Sekarang tak lagi kuserahkan
tubuhku sepenuhnya. Ada aturan agama yang harus
kupatuhi setelah ijab kabul mempertegas hak kepemilikan
diriku. Bertahun-tahun tanpa nafkah batin dan materi
adalah penistaan terhadap ayat-ayat tuhan yang paling
sungguh, tapi kau tak lagi peduli dengan sabda-sabda.

Kau di sebelahku sekarang. Melingkarkan kedua
lenganmu tapi tak ada kehangatan lagi di dalamnya,
kecuali ingatan-ingatan yang membuatku tersenyum
mengingat kembali bahwa kau pulang tanpa sedikitpun
rasa bersalah—di wajahmu.

Selamat tidur, sayang.

(Mamuju,2017)

 

 

Bapak yang Pergi Tanpa Pamit
Tak Pernah Betul-Betul Pulang

Sudah lama ibu berubah tulang punggung
setelah bapak lepas tangan dari beban menanggung.
Masikah ia disebut lelaki bila ia pergi tanpa pamit
dan kembali mengetuk pintu rumah tanpa permisi?

Sudahlah, ia tak pernah betul-betul pulang.
Kedatangnya hanyalah remah-remah sepah.
Ingatan adalah penjara dan aku tak pernah
merasa sebagai penjahat sebab ingatan apa
yang tersisa dari lelaki yang hanya meninggalkan luka?

Tak ada seorang pun siap menjalani hidup seperti ini
tapi merengek tak akan melunasi urusan utang dan
segala tagihan mustahil dibayar dengan air mata.

Tangisan yang kau biarkan deras mengalir akan
menghanyutkanmu dari segala tempat dalam kepala
yang pernah kau tempati tinggal cukup lama di sana.

(Mamuju,2017)

 

 

Nasihat Ibu

Lihatlah ia sejauh matamu memandang,
jadilah seorang mata-mata agar kau tahu
siapa saja yang datang dengan hati yang lapang
Sebab pesulap yang paling handal adalah
lelaki dengan banyak peran.

Kau pantang lemah, menjadi ibu bukan
perkara merayu seorang remaja. Bila tembok
pertahananmu tak kukuh, kau akan dipaku
di jari telunjuk, mengikuti segala perintah
tanpa mampu membantah.

Belajarlah dari ingatan masa kecil
saat di mana semuanya harus dilalui
tanpa pundak kepala keluarga yang
kuat menopang.

Bila ia tak siap menjadi nahkoda dari bahtera
yang akan mengarungi labilnya samudera,
maka lepaskanlah.

Apa guna hidup berkalung emas
jika pada akhirnya berkalang lelaki.

(Mamuju,2017)

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: https://kibul.in/cara-berkontribusi

Pendapat Anda:

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *