Dan Di Kamar Ini Kami Telanjang oleh Chaerus Sabry

Catatan Redaksi: Puisi Dan Di Kamar Ini Kami Telanjang mencoba menceritakan soal kemalangan hidup. Menariknya, masalalu dalam puisi ini digambarkan sebagai sesuatu yang bernyawa, entitas yang juga memiliki daya hidup. Ada baris-baris yang mengingatkan saya pada kutipan puisi Tak Sepadan karya Chairil berikut: “Aku kira: Beginilah nanti jadinya Kau kawin, beranak dan berbahagia Sedang aku mengembara serupa Ahasveros Dikutuk-sumpahi Eros.” Meskipun dalam puisi ini, ada kesan paradoks mengenai siapa yang sesungguhnya berada dalam kemalangan tersebut, apakah aku atau masalalu. Tapi kesan itu segera cair ketika muncul baris-baris yang menyatakan antara yang kini dan yang akan datang adalah dua hal yang berbeda. Nyatanya, aku liriklah yang dari awal sampai akhir akan tetap menderita. Pertanyaannya adalah, mengapa bisa seperti itu? Jawabannya adalah karena yang bergerak ternyata diam, sementara yang diam ternyata bergegas. Barangkali inilah yang dinamakan ilusi, yang hadir dalam dunia yang fana ini. Bisa dikatakan, puisi ini adalah puisi yang menyoal kegelisahan hidup manusia yang berhadap-hadapan dengan kehidupan, takdir, kematian dan esok.  

Dan Di Kamar Ini Kami Telanjang

aku dan masalalu berbaring berdampingan berdua. tak bercakap suatu apa kami tidak pernah benarbenar bersua. aku bertaun berjalan di sepanjang jenjang jalan kepulangan sementara masalalu bertahan menunggu, bagai pesakitan bersetia di suaka kami tidak pernah saling menyangsi, tentang kemalangan masingmasing dia tampak lebih tua, waktu berlalu terlalu lekas baginya sementara aku serupa dulu, selalu serupa batu jika kelak kami mati, masalalu akan malih jelma bulan yang dipuja sepasang kekasih kasmaran atau seorang penyair majir di tengah malam musim pengujan dan aku datang ke lain dunia jadi seorang tukang pos kesepian yang tak bakalan jemu mengirim surat untuknya lantaran rasa rindu yang membatu, kelak retas digerus waktu aku dan masalalu berbaring berdampingan di luar, rinai hujan seperti sunyi kubur dan kami telanjang, maut menunggu di balik pintu Indekos, 2016    

Alegori Kafe Sepi

_k

Kafe sepi itu adalah kecemasan Di manakah kita dalam kesunyian ini? Jendela, bangku, atau buku-buku berdebu Udara buruk dan cuaca tak menentu Mengabarkan rasa rindu yang melulu biru. Sementara hari beranjak pagi, dingin meninggi Di gigil batang pohonan, percakapan kita embun Yang embuh jadi puisi. Kasih, butuh lebih dari setubuh Untuk menyimpan bimbang dan menimbang alasan Agar bisa tetap utuh. Patung-patung mengajarkan kita arti menunggu Diam adalah jalan pulang Simpang paling ujung dari tualang Sebelum pada akhirnya kita tersia Terlupa, besok dan seterus akan sama saja. Tersadar, janji paling pasti yang belum sempat tersepakati, Adalah beradu punggung, menutup pintu, lalu ingatan menjelma berlaksa gagang yang menolak dipegang. Waktu cuma memutar tengkuknya Kita tahu, kenangan hanyalah ruang berbincang Jeda berjela-jela, lalang lalu yang tak selalu luang. Kafe ini, seperti mengingatkan kesetiaan yang terlupa ; Cinta tak lebih dari sebuah kecupan hangat di pipi Sudah itu, puisi mengisi hari-hari

Cafe Semesta, 2017

   

Mencium Cekam Kenang di Dirimu

aku mencium bau gaharu dan ingatan yang biru dari tubuhmu sebiru biri, termangu ditaburi serbuk salju sebaru diri, tertegun dibantun lengkung langit belacu orang-orang memasuki lurung batu lurung yang mengumpar waktu ke dalam kedalaman matamu dan mata-mata tamu menyaru lubang pintu mengantar angin berselang ingin, menghampar angan ke selembar kenangan :kenangan yang fana dan suka berubah warna berwarna apakah masa lalu? sebiru bajumu yang memeluk lekuk rindu atau seungu tubuhku yang piatu harum tubuhmu, menitis lewat tetes sunyaruri, lalu sepi dalam diriku mencekam seperti malam di kampung lebaran ketika jalan kelewat bingar dan ingatan riuh terdengar seperti pawai kenalpot kampanye partai aku gontai, digoyang sepi dalam ramai kita berjalan dalam kenangan berjalan kenangan membatu dalam waktu membatu kau-aku melaju seling silang kau mengetuk pintu baru, aku mengutuk hari lalu :kesalehan dan kesalahan di tangan tahun berlalu kuharap bau rindu menyeruap dari dekap baju baru Kindang, 2016    

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: https://kibul.in/cara-berkontribusi

Chaerus Sabry

Chaerus Sabry

Lahir di Kindang, Bulukumba, Sulawesi Selatan. Dua puluh satu tahun lalu. Berdomisili di Yogyakarta.

Bagikan tulisan ini

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Tulisan Terkait