Catatan dari Cintamulya karya Imam Khoironi

Catatan dari Cintamulya

Kepada Sapardi Djoko Damono

Sepertinya, dalam tiap kata-katamu
ada ruh yang menggeliat,
menyebut-nyebutkan namamu.
Lalu jika ia berantai menjadi bait puisi,
mulailah ia, menggemakan sebuah rasa
yang ada dalam sanubarimu.

Sepertinya, hanya kau, satu-satunya,
penyihir tak bermantra.
Sehingga awanpun tak segan untuk diam,
saat hujan mulai menggerus badannya.
Begitu pula kayu membisu,
karena kesederhanaan kata cintamu.

Titik itu, sekali lagi. Aku tak mengerti.
Kesederhanaanmu adalah tiap-tiap yang kuselami,
dalam memahami seluk-beluk puisi.

Aku jatuh cinta pada puisimu,
dengan sederhana.

Cintamulya, 18 Maret 2019

Wawancara

Apakah kau punya tanah untuk ditanami jagung?
“Tidak, aku cuma punya tanah untuk ditanami harapan”
Apakah kau punya kandang tempat ternakmu istirahat?
“Tidak, aku hanya punya rumah bagiku dan tikus-tikus bermain kejar-kejaran”
Apakah kau punya perhiasan, jam tangan misalnya?
“Tidak, aku cuma punya waktu untuk membuat perubahan,
kelak, setelah kau berhenti bertanya
karena harus kau tahu,
sebenarnya kau hanya membunuh waktuku”

Cintamulya, 2018

Adalah Ibuku

Bila habis duniaku
Aku pulang pada mentari,
yang hinggap dipematang pagi
Disinari dengan hangat, dipeluk dengan terang

Aku yang sudah patah dan tercela
direbahkan pada lengkung pelangi di senja hari,
sehabis hujan turun tadi
Diusap oleh kasih,
lewat telapak tangan lembutnya

Dibisikkan kata cinta pembakar lara.
Kehadirannya lebih dari obat untuk yang luka
Kasihnya lebih dari salju untuk sejukkan raga
Satu janjiku, takkan kubiarkan dunia menghempasnya
Selemah apapun aku,
Sehina apapun aku,
Karena dia adalah ibuku

2018

Sebuah Masa

Aku hidup di masa yang penuh suka cita
Masa ketika rumput-rumput dan semak
Berpesta kembang api
Di sekitaran regu teh dan pletonan kopi,
Yang sedang ingin beralih menjadi lada
Namun di kampungku kakau sedang menderu
Memaksa para pemimpin menelisik
Kenapa para petani acuh padanya,
Rupanya, dalam memang sakit ini
Luka-luka itu membekas dalam jingga
Tak ada bedanya, antara matang dan busuk
Mungkin saja tanah ini benci kenaikan harga
Tapi tuan dan puan pasti tau,
Di mana rumah yang harus dihuni, dan dibela
Dari mana kau bisa hidup
Yang kau tanggalkan itulah yang kau cari
Seluruh celanya, kelak

Cintamulya, 29 Agustus 2018

Tanahku

tanahku kering, tanahku gersang
pohon dan rumput senantiasa kehausan
saban hari berteriak minta air
sampai kulit keriput dan merah terbakar

setitik sahara singgah di antara rindangnya rumah manusia

daun-daun yang gugur pagi tadi
menari bersama debu-debu dan asap kendaraan
burung puyuh membangun kemah
mengepakkan sayap, bernyanyian
ayam mengorek tumpukan kering jerami
siapa tahu belalang bersemedi dalam teduh kemarau

sementara aku mengamati. duduk di pematang kolam ilusi
sembari menyeka keringat. untuk kujadikan tinta. menulis puisi
di tanah yang kering ini

Cintamulya, 01 Oktober 2018

Imam Khoironi

Imam Khoironi

Lahir di desa Cintamulya, Lampung Selatan, pada bulan Februari tahun 2000. Berdomisili di dusun Sindang Ayu, Cintamulya. Bekerja sebagai editor di Seniman Publisher dan Mandiri Jaya Lampung. Menulis puisi, cerpen dan esai. Menjadi kontributor dalam banyak buku Antologi bersama.

Bagikan tulisan ini

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Tulisan Terkait