Biografi Matamu oleh Raedu Basha

Posted: 11 February 2017 by Raedu Basha

BIOGRAFI MATAMU (1)

aku akan pergi saat matamu merah
menatapku tak lebih
dari seonggok kunang-kunang
sekerjap gelap sekerjap terang
hinggap di batang kerontang

(malam petang
kau jerat pekat kesendirianku yang gamang
kapankah awan lenyap kapankah langit benderang
kubawa kelap-kelip bokong sedesas-desus bimbang)

saat kedip matamu terbuka memandangi sepi
menatap seekor kunang ini teronggok terbang tak pasti
aku akan pergi melayangi udara yang bukan malam kita lagi
karena aku tak ingin dipandang seperti ini

 

Ganding Pustaka, 2014-2017

 

 

 

 

BIOGRAFI MATAMU (2)

lebih baik terpejam.

terpejamlah saja dan pastikan
aku ada dalam peram mata
bukan bayang wajahku bergentayang
melainkan benang-benang aura
mungkin akan kau rajut ia
menyulami dahaga bagi keringmu di dada
kau untai helai aura bibirku menyentuh inti jiwa
menjahit urat-urat lubukmu
yang bersemayam luka purba
sehelai lain dibuat jaring
menyaring ampas dosa
membening selaksa pahala
sari-sari kejujuran dan tabah rindu bertapa
benang-benangnya juga
menjahit robekan urat nadimu yang renta

ohoi, kita adalah darah
yang merah dengan sendirinya
yang mengalir ke lubuk laut
di mana gelombangnya tak reda
mendetakkan kederasannya
dan menepi di batas aorta

tetapi denyut akan susut
saat matamu terbuka
maka aku akan pergi
saat matamu tak terpejam lagi
dan menatapkan ujung taji

Ganding Pustaka, 2014-2017

 

 

 

DAUN KERING

tak ada kumbang pada kembangmu
tak ada embun di ujung alismu
kemarau yang tak pernah berpaling
dari basah dan hujan yang jatuh bila resah
tapi jangan menyerah
selama angin belum menyentakmu dengan amarah
atau luka yang menumbangkan kembang ke tanah

dirimu
daun kering
di pohon yang senantiasa tumbuh di tanah tabah
di pinggir sungai tepi sawah
tempat seonggok boneka terantuk
memperhatikan alam dengan payah

kumbang kumbang mencari madu
ke lembah, ke gigil mimpimu di punggung bukit
lebah menyepak manis sari bunga rindu
putik-putik berhamburan ke angin yang berangkat
dan menepi di jantung hujan doa ibumu

tapi hujan tak jatuh ke daunmu yang kering
kecuali bila kau menangis dengan air mata
kerontangmu, tanah dan musim kan menjawabnya
dengan ceritera…

 

Ganding Pustaka, 2014

 

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: https://kibul.in/cara-berkontribusi/

 
 

Pendapat Anda:

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *