Sikap Chairil di Hadapan Komunalisme

Posted: 6 May 2017 by Asef Saeful Anwar

“Partai apakah yang akan dimasuki Chairil Anwar jika dirinya masih hidup di alam Demokrasi Terpimpin?” demikian pertanyaan yang banyak diajukan kepada Ajip Rosidi sehingga ia memerikan jawabannya dalam karangannya “Chairil Anwar dan Politik” yang termuat dalam buku Masalah Angkatan dan Periodisasi Sejarah Sastra Indonesia. Pada zamannya, pertanyaan serupa itu muncul seiring dengan banyaknya sastrawan dan seniman yang bergabung dalam wadah kesenian yang dimiliki partai-partai peserta pemilu 1955.

Ajip lalu menyorot sajak saduran “Krawang-Bekasi” dan sajak “Persetujuan Dengan Bung Karno”. Munculnya nama Bung Karno dalam kedua sajak itu buru-buru ditanggapi Ajip sebagai simbol pemimpin impian masa itu. Menurutnya, kemunculan nama tersebut terjadi karena pada masa perjuangan meraih kemerdekaan Bung Karno merupakan lambang eksistensi bangsa Indonesia. Rakyat pada masa perjuangan meraih kemerdekaan butuh figur seorang pemimpin untuk menyatukan perasaannya sehingga wajar jika Chairil menyebut nama Bung Karno, selain juga nama Hatta dan Sjahrir. Dengan alasan ini, di akhir karangannya Ajip menyimpulkan bahwa Chairil pasti akan memilih kebebasan, yang tentu mengandung arti tidak bersepakat lagi dengan Bung Karno yang saat itu mulai condong ke Partai Komunis Indonesia dan dengan cara kepemimpinannya yang mulai tidak demokratis—sampai-sampai Hatta pun mematahkan ke-dwitunggal-an mereka.

Pendapat Ajip sejajar dengan sikap hidup Chairil yang dengan tegas mengemukakan bahwa “keindahan adalah pertimbangan perpaduan dan getaran-getaran hidup” dan “…vitalitas adalah sesuatu yang tidak bisa dielakkan dalam mencapai keindahan,” serta lebih lanjut: “seniman adalah tanda dari hidup yang melepas-bebas”. Ya, hidup yang melepas-bebas, berkarya yang melepas-bebas, atau dalam bahasanya bebas dari segala merdeka…

Jika Chairil masih hidup pada waktu itu sepertinya ia memang tidak akan bergabung dengan Sitor Situmorang dalam Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN) bentukan Partai Nasional Indonesia, tidak juga akan masuk Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) untuk bergabung dengan karibnya Rivai Apin di PKI, dan tidak pula akan masuk ke dalam Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi) milik Partai Nahdlatul Ulama untuk bergabung dengan Usmar Ismail dan Asrul Sani. Sebab telah jelas, lembaga-lembaga tersebut secara tak langsung akan mengikat—untuk tidak dikatakan mengekang—hasil karya para seniman sehingga karya yang muncul tidaklah murni timbul dari mata batin seniman. Lembaga kesenian dalam sebuah partai tak ubahnya sekat bagi para seniman di dalamnya yang menyebabkan karya yang mereka hasilkan bersifat komunal, tidak individual, karyanya cenderung pragmatis daripada idealis. Maka, jelas Chairil memilih bebas dengan prinsip individualisme yang dipegangnya teguh.

Individualisme yang diperjuangkan Chairil ini bukanlah dalam arti sempit. Chairil memandang individualisme sebagai sebuah jalan keluar bagi kebekuan dan kebakuan komunalisme yang cenderung menyeragamkan. Selain itu, apa yang dibincangkan dalam ruang-ruang formal seperti rapat, diskusi, seminar, dan lain sebagainya kebanyakan adalah hasil-hasil permenungan ketika seorang manusia menyendiri sehabis bergumul dengan lingkungan sosialnya. Dalam hal berkesenian, Chairil tidak setuju dengan cara beberapa seniman sezamannya—terlebih dengan generasi sebelumnya—yang begitu mendapat inspirasi mereka langsung membuat sebuah karya lalu menganggap pekerjaan sudah selesai. Bahkan, ada banyak dari mereka yang bangga akan kerja semacam itu, yang tak segan menganggap inspirasi yang diterimanya itu sebagai “wahyu”. Cara kerja semacam ini sejatinya justru menihilkan kemampuan berpikir para seniman yang dituntun sesuatu yang tak diketahuinya merasuk begitu saja lalu “menjajahnya” dalam berkarya.

Bagi Chairil, pekerjaan seorang seniman dalam mencipta tak sesederhana hanya mencari, menerima, dan menuangkan inspirasi dalam sebuah karya. Apa yang membedakan profesi seorang seniman dengan profesi-profesi lainnya justru terletak pada bagaimana ia dapat mengendapkan inspirasi yang didapatkannya untuk kemudian mengkaji dan merefleksikannya sebagai karya. Dan proses yang demikian panjang ini tentu akan terganggu bila ia menjadi anggota sebuah partai. Maka wajar ketika banyak kawan senimannya bergabung dalam partai-partai politik, ia memilih tetap sendiri demi elan vitalisme kerja berkeseniannya. Selain karena cara hidupnya yang demikian, kesan individualisme yang melekat pada dirinya hingga kini tak terlepas juga karena sajak “Aku”. Sajak yang menyimpan hidupnya itu ditulis tiga tahun sebelum dia wafat pada 1949. Kini, telah bertahun-tahun dirinya rutin dihidupkan dalam peringatan-peringatan yang sengaja dihadirkan pada tanggal kematiannya; 28 April.

Menariknya, peringatan-peringatan itu dilakukan secara bersama-sama, kumpul bareng, guyub, dan seremonial, jauh dari kesan individualisme. Tentu, cara peringatan semacam itu baik, tapi tak ada salahnya juga bila memperingati hari Chairil Anwar dengan cara menyendiri, merenung, dan berkarya, sebab kita, warga negara Indonesia, terlalu banyak memiliki hari untuk diperingati, hingga lupa sejatinya kita diminta untuk mengingat, bukan sekadar merayakan.

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: https://kibul.in/cara-berkontribusi/

Pendapat Anda:

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *