Puisi/Cinta Membawa Janji

Posted: 18 November 2018 by Muhammad Qadhafi

Perulangan, Pertentangan, dan Kejutan

Searah Jalan Pulang hadir dan mendorong saya untuk berupaya pulang kepada cinta, pulang kepada puisi. Tetapi, adakah orang yang bisa kembali pada cinta? Dari sinilah saya akan mulai membual tentang cinta/puisi.  

Setiap kepulangan selalu berupa kepulangan yang baru, kepulangan yang tak akan pernah sama dengan kepulangan-kepulangan sebelumnya.Begitu pula cinta, begitu pula puisi. Mereka mungkin saja datang berkali-kali, berulang, namun tidak pernah dengan rasa dan kesan yang sama.

Puisi-puisi Asef sebagian besar memuat perulangan-perulangan. Anggap saja perulangan ini sama halnya dengan perulangan “cinta”, misalnya dalam potongan puisi berikut

“ketika kawankawannya menyebutnya sebagai si keras
kepala karena sudah setahun setiap hari jatuh cinta pada
perempuan yang sama bahkan mungkin tidak akan pernah
membalasnya, ia justru meyakini dirinya sebagai lelaki setia;
tak pernah mengkhianati perasaannya sendiri.

ketika kawankawannya menyebutnya sebagai si bodoh
karena sudah lima tahun mencintai perempuan yang sama
bahkan kini telah memiliki suami ia malah meyakini dirinya
sebagai lelaki teguh pendirian; tak pernah sedikitpun
mengalihkan pandangan kepada perempuan lain.

[….]”.[1]

Cinta si dia berulang kepada perempuan yang sama: setiap hari, setahun, lima tahun. Walau begitu, “rasa” cinta si dia tak lagi sama persis. Di tahun pertama, cinta membuat si dia merasa sebagai lelaki setia. Di tahun kelima, cinta membuat si dia merasa sebagai lelaki teguh pendirian. Dan ironisnya, si perempuan itu rupanya pernah “mengguna-guna” si dia, tapi setelah menikah, ia lupa mencabut peletnya. Dengan demikian, selain “serupa tapi tak sama”, perulangan dalam cinta/puisi Asef juga hampir selalu berkomposisi dengan “pertentangan” dan “kejutan”.

Pertentangan dan kejutan inilah yang biasanya membekas, dirindukan, dikenang. Dan tentu saja harapan untuk kembali “mengulang kenangan” adalah suatu kekonyolan, apalagi mengulang kenangan bersama mantan, karena “Sesungguhnya kembali ke jalan Tuhan jauh lebih mudah daripada kembali jalan dengan mantan[2]. Ini sama konyolnya dengan seorang penyair yang mengulang “kejutan yang sama” pada puisi-puisi berikutnya.

Janji Cinta/Puisi

Bahan-bahan pembentuk cinta/puisi selalu merupakan perpaduan antara pengalaman-pengalaman internal individu (batin-pikiran) dan hal-hal di luar dirinya (orang lain, masyarakat, Tuhan, alam, dan sebagainya). Karena itu, cinta/puisi hanya mungkin terbentuk dalam proses interaksi.

Cinta/puisi akan dirasakan keberadaannya ketika dikomunikasikan atau dibagikan [shared]. Entah pihak lain menerima atau menolak, itu bukan persoalan. Asalkan dikomunikasikan, cinta/puisi itu akan ada. Sebagaimana pada kasus puisi “Takdir Penyair”, si perempuan menolak mentah-mentah pecintanya, jelas-jelas sudah bersuami, tetapi ia tahu dan merasakan bahwa pecintanya itu cinta mati padanya. Begitu juga puisi, entah disambut baik maupun diolok-olok, ketika puisi itu dibagikan, maka keberadaannya lantas dapat diketahui.

Ketika seseorang membagikan cinta/puisinya kepada orang lain, cinta/puisinya itu senantiasa disertai “janji”, janji yang tak berubah meskipun diingkari maupun dipenuhi. Seperti janji “berdekatanlah kita saat jauh[3]”dan “kau dan aku kelak berbagi tubuh dalam satu ruh[4], cinta/puisi itu tidak lantas hilang ketika “kita ternyata tidak bisa berdekatan saat jauh”dan “kau dan aku rupanya tidak bisa berbagi tubuh dalam satu ruh”. Janji tak berisi makna lain selain janji itu sendiri. “Dan kita sepakat mendinginkan diri dalam janji[5]. Namun, uniknya, janji “kosong” inilah yang justru mendorong setiap orang menganggap bahwa cinta/puisi yang diterimanya patut diharapkan, dinikmati, dihayati,dipikirkan, dipelihara, ditangisi, disesalkan, dikutuk, dirayakan, bahkan disucikan.

Cinta/Puisi tidak Pernah Absolut

Bualan-bualan saya di bagian sebelumnya, menunjukkan bahwa cinta/puisi sesungguhnya tidak bisa benar-benar didefinisikan maupun dimaknai tunggal. Sifat dan cara kerja cinta/puisi bisa beda-beda, bisa berubah-ubah, bisa sangat berlawanan, dan tidak pernah bisa diulang, bahkan oleh sepasang kekasih (penyair-pembaca) yang paling harmonis sedunia.

Ada yang menganggap cinta/puisi itu rumit. Ada yang mengggap cinta/puisi itu sederhana. Tapi, sesederhana-sederhananya cinta, kata benda abstrak ini memang tidak bisa benar-benar ditentukan apa maknanya, bahkan ilmu sintaksis yang berurusan dengan tetek-bengek makna pun kelimpungan menjelaskan maknanya. Dan  memang “cinta…tak ada rumus[6]”.Karena cinta/puisi hanya dapat dirasakan keberadaannya ketika dibagi, maka makna cinta/puisi itu pun tidak pernah absolut. Ia selalu terpecah atau terbagi, tak terhingga jumlahnya. Jika ada cinta/puisi Asef yang absolut, jika ada makna cinta/puisi yang pasti, jika ada makna cinta/puisi yang tunggal dan tetap, itu hanya“ibarat[7]”, itu hanya janji—Searah Jalan Pulang.


[1] Puisi “Takdir Penyair” (12)

[2] Puisi “Ayat-Ayat Mantan” (60)

[3] Puisi “Berdekatanlah Kita pada Jauh” (17)

[4] Puisi “Selepas Akad” (32)

[5] Puisi “Menjelang Kerinduan” (38)

[6] Puisi “Kadangkadang Cinta” (40)

[7] Puisi “Ibarat” (55)

Pendapat Anda: