Kecap

Di Magelang, di tengah perjalanan menuju Semarang, saya, Damai, dan Icha berhenti di warung tenda untuk makan malam. Waktu itu Damai dan Icha sudah suami-istri. Dia menjelaskan pada saya, yang kebetulan sedang menuang kecap di kuah sop kaki kambing yang saya pesan.

“Kami kalau makan udah nggak mau nambahin kecap lagi, Can.” Damai teman kuliah saya. Terbiasa memanggil ‘Sinchan’.

“Kenapa Mai?”

“Kalau ditambah kecap, nanti rasanya nggak asli lagi dong,” balasnya.

“Iya. Pasti jadi bedalah.” Icha menimpali.

Saya yang pada dasarnya kurang suka perdebatan, manggut-manggut saja. Dari tadi saya perhatikan mereka memang tidak menyentuh botol kecap. Hanya menyendok sedikit sambal, karena keduanya (seingat saya) suka pedas. Sejujurnya saya ingin betul mengingatkan kalau sambal yang mereka tuang juga pasti akan membuat kuah makanan keduanya ‘tidak asli’ lagi tapi waktu itu sekuat tenaga saya tahan. Memang kenapa kalau menambah kecap?

Damai dan Icha mungkin memang tidak akrab dengan kecap sejak semula, tapi saya lain. Tak ada satu gagasan pun dalam pikiran saya yang bisa mendorong untuk mempersepsikan kecap sebagai sesuatu yang buruk. Terlanjur akrab. Juga terbiasa.

Waktu makan bakso, saya menambahkan kecap. Juga soto. Apalagi sop kaki kambing. Sedikit saja tercampur, yang penting kena. Seperti syarat. Yang paling krusial itu waktu makan telur dadar, pakai nasi hangat. Nah, kalau ini agak banyak saya tambahkan. Dengan uap tipis yang melayang-layang, kecap saya tuang. Pelan-pelan mengenai telur dan nasi. Andai kurang menggigit, sebelum kecap dituang, dicampur dulu dengan irisan rawit hijau. Di mangkuk kecil, irisan rawit ditekan-tekan dengan sendok lalu isinya berhambur. Begitu telur dadar dan nasi berlumur kecap sampai dimulut, haduh… enaknya sampai dimensi lain.

Keakraban dan kebiasaan ini rasanya berakar pada keluarga. Bisa begitu mudah ditelusuri di rumah, tempat keluarga saya tinggal. Kalau sekarang misal kamu mampir ke rumah itu, saya jamin kamu tak akan kesulitan menemukan kecap manis. Di meja makan ada. Di dapur juga pasti ada. Di meja tamu, waktu tersaji tempe mendoan misalnya, bahkan sering ada—diboyong ke depan dari dapur atau meja makan. Masakan yang kami masak sehari-hari lebih sering berbumbu kecap, ketimbang tidak. Dan kecap akhirnya tak pernah satu kali pun terlewat dari daftar belanja bulanan.

Jika ingin ditelurusi lagi pangkalnya, kira-kira keakraban/kebiasaan itu bermula dari selera Bapak. Bapak saya suka kecap, suka sekali. Sepertinya sejak kecil. Kalau dia makan bakso atau soto, sering saya lihat kuahnya malah jadi hitam alih-alih tetap bening atau kecokelatan. Seumur-umur saya belum pernah membuat kuah makanan saya sepekat itu dengan kecap. Dulu saya ingat, pernah ikut menemui teman kuliahnya, dan salah satu yang terucap dalam percakapan mereka, “Kamu dulu kan kalau makan bakso (kuahnya) malah jadi semur. Hehehe.”

Kecap, dalam pemahaman saya, adalah bumbu masak. Rasanya seperti itu pula yang dipahami orang-orang secara umum. Hal ini, misalnya, bisa dilihat pada laman Wikipedia berbahasa Indonesia, yang menerangkan kecap sebagai “bumbu dapur atau penyedap makanan, berupa cairan hitam yang manis atau asin.” Penulis laman itu secara spesifik mengaitkannya dengan ‘dapur’, yang kita ketahui sebagai ruang masak. Dari laman Wikipedia lain, yaitu yang berbahasa Inggris, kita kemudian mengerti, bumbu masak ini berasal dari Tiongkok, digunakan sejak tahun 220 sebelum masehi, dan telah menyebar ke berbagai bangsa dan wilayah; seperti Korea, Myanmar, Thailand, Filipina, Hawai, juga (tentu saja) Indonesia. Akibat persebarannya, varian kecap akhirnya beragam. Di Indonesia, misalnya, ada kecap manis dan asin. Di Jepang kita tahu ada Shoyu. Juga di negara-negara lain dengan nama dan rasa yang berbeda-beda.

Namun, kini kita ternyata tak bisa secara sederhana memahaminya terbatas sebagai bumbu masak. Masyarakat telah sejak lama melepas keterikatan kecap pada dapur dan aktivitas memasak, untuk juga menghadirkannya di meja makan. Dan hal itu membuat posisi kecap menjadi lebih kompleks. Kecap, dengan aksesnya yang kemudian lebih terbuka, terutama bagi para penyantap di meja makan, menjadi bumbu yang melintas. Dari satu fungsi yang eksklusif (relatif tertutup, misal, terbatas juru masak) menuju fungsi yang inklusif (secara mudah diakses). Atas hal ini, kecap tak lagi sepenuhnya tepat disebut sebagai bumbu masak atau bumbu dapur.

Mari coba kita pikirkan lebih jauh. Sebagai bumbu dapur, kecap merupakan instrumen bagi juru masak untuk menjalankan kekuasaannya dalam menentukan rasa masakan. Dengan juga menjadi ada di meja makan, kecap kemudian juga hadir sebagai perangkat bagi penyantap untuk ikut berperan atas rasa masakan—walau tentu jauh lebih terbatas. Dalam relasi dan perlintasannya, kecap merupakan media distribusi kuasa (nah lho, kok serem istilahnya). Kuasa milik siapa yang didistibusikan? Tentu juru masak. Setelah terdistribusikan, kekuasaan juru masak atas rasa masakan tidak lagi absolut. Terbuka ruang bagi penyantap untuk ikut menentukan dan berkontribusi, melalui penambahan kecap.

Dalam perspektif lain, kita juga dapat memahami bahwa hadirnya kecap di meja makan merupakan akses menuju ruang dialog antara juru masak dan penyantap. Kecap membuka kemungkinan lain, hingga rasa final masakan menjadi sesuatu yang bisa dinegosiasikan. Yang ditentukan secara dua arah. Terdapat peluang bagi penyantap untuk menyesuaikan rasa masakan atas ukuran/subjektifitasnya, yang mungkin berbeda dengan ukuran/subjektifitas juru masak. Walau, tentu saja, sangat terbatas. Penyantap, misalnya, akan sulit dibayangkan bisa membatalkan atau mengurangi rasa kecap pada masakan apa pun yang sudah terlanjur terhidang.

Lalu, siapa yang paling berperan hingga proses distribusi itu terjadi? Kembali ke warung tenda di Magelang, saya tidak mungkin bisa menuang kecap di meja makan andai juru masak tidak menyediakannya. Atau minimal menyetujuinya ada di sana. Apakah ketersediaan kecap di meja adalah kemauannya sendiri, atau atas dasar dorongan bahkan paksaan orang lain, kita sebagai penyantap awam tidak pernah tahu. Yang bisa kita amati, ada kebiasaan dalam masyarakat kita atas ketersediaan kecap di meja rumah makan—khususnya pada jenis masakan tertentu. Maka, paling tidak atas kebiasaan itu, kecap sebagai instrumen distribusi kuasa merupakan sesuatu yang sejak awal diniatkan atau disetujui oleh juru masak. Ia sendirilah yang sejak awal meniatkan atau menyetujui (sebagian) kekuasaannya terdistribusi ke masing-masing penyantap.

Kalau sejak awal juru masak sudah meniatkan atau setuju rasa masakannya bisa diubah setelah terhidang, di mana letak kekeliruan saya menuang kecap ke kuah sop kaki kambing? Mari kita ikuti alur berpikir Damai dan Icha. Jika diperhatikan, ada pengalaman dengan konsep tertentu yang seolah hendak diraih oleh keduanya, hingga menambah kecap bisa disimpulkan sebagai tindakan yang menghalangi bahkan membatalkan. Yaitu, autentisitas. Atau, sesuatu yang dibayangkan bersifat autentik atas rasa masakan. Rasa asli; yang diniatkan sejak semula, dikreasikan, lalu diwujudkan oleh juru masak. Dan di benak mereka, hal itu sepatutnya dialami secara penuh oleh penyantap, terjaga sejak suapan pertama hingga tandas.

Saya suka pikiran seperti itu, sebenarnya. Dengan membayangkan ada yang autentik atas rasa masakan, juru masak diposisikan selayaknya seniman. Yang seharusnya tidak dicerabut dari karyanya. Ada keintiman yang terbayang antara juru masak dan masakannya, hingga pengalaman menyantap berarti juga merasakan selera, aspirasi, dan capaian estetis juru masak. Melaluinya, kita dapat mengalami juru masak sebagai karakter. Sebagai manusia, bukan sebatas perangkat otomatis penghasil masakan.

Hingga batas tententu, saya setuju dengan gagasan ini. Hampir selalu, sebelum ditambah kecap atau apa pun, saya mencicipi rasa masakan yang terhidang. Demi mencari tahu, seperti apa rasa mula masakan itu. Tapi toh, setelah mencicipi dan tahu, saya tetap tidak bisa membiarkan kuah sop kaki kambing saya, misalnya, tanpa tambahan kecap, sambal, dan acar; menyantapnya hingga akhir begitu adanya. Di titik ini saya berbeda dengan mereka.

Saya samar-samar merasakan, relasi juru masak dan pemakan dalam pembahasan ini analog dengan relasi insan dan tuhan. Ada kreator, menciptakan sesuatu, untuk kemudian tersampaikan pada subjek penerima. Dalam hubungan insan dan tuhan, sesuatu itu teks agama. Tuhan menciptakan ajaran dan susunan pengetahuan tertentu, untuk menghendakinya tiba pada insan melalui kitab suci dan para rasul. Teks agama, yang berisi ajaran dan susunan pengetahuan, adalah rasa masakan yang terhidang untuk kita kunyah.

Pertanyaannya kemudian, apakah tuhan juga menyediakan kecap di meja makan? Jika iya, teman-teman fundamentalis tentu orang-orang yang menyia-nyiakan kecap pemberian tuhan. Dengan tidak mengurangi rasa hormat, perlu juga lho sesekali mencicipi kuah sop kaki kambing dengan tambahan kecap. Dan sebenarnya kita tak pernah tahu niatan tuhan sebagai pencipta. Jangan-jangan dia justru lebih berharap kita menambahkan kecap ketimbang membiarkan kuah masakan dinikmati begitu adanya. Menambahkan, tentu dengan ukuran/subjektifitas masing-masing, dalam batas tertentu, hingga rasa yang sampai di mulut lebih sesuai dan berterima. Atau bahkan menjadi jauh lebih dalam dialami dan dihayati.

Meminjam konteks itu, Damai dan Icha tentu penganut fundamentalisme. Mereka merasa perlu mencari dan menjaga sesuatu yang autentik. Sedang saya? Menilik kebiasaan selama ini, dorongan saya atas autentisitas (atau yang terbayang bersifat autentik) adalah sebatas mencari tahu. Lalu menyempatkan mengalami, syukur-syukur bisa memahami. Tidak ada niatan sedikit pun untuk menjaganya tetap seperti semula. Apalagi kemungkinan untuk mengubahnya tersedia bahkan disediakan oleh pencipta sendiri. Atau, mungkin justru diniatkan sejak awal olehnya. Nah, teranglah sudah. Saya bukan seorang fundamentalis. Nilai yang saya anut berbeda dengan nilai yang diterapkan Damai dan Icha saat tak mau menambah kecap.

Eh. Omong-omong, memangnya ada ya yang bersifat autentik? Atau sejak semula sebatas konsep yang terbayang di benak manusia belaka?

Rinandi Dinanta

Rinandi Dinanta

Penulis lepas

Bagikan tulisan ini

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Tulisan Terkait