Kabar Baik dan Ajakan untuk Mengerti

Teman-teman saya bertanya,
“Baik-baik di sana?”
“Apa kabar?”
“Aman?”
Well, terima kasih sudah bertanya. Itu sangat berarti. Sepertinya salah satu kebahagiaan sebagai seorang perantau adalah mendapatkan pertanyaan mengenai kabar yang datang dari orang-orang di kampung halaman, mungkin keluarga, teman, atau pujaan di masa silam. Melonjak girang hati ini 

Saya sedang baik dan berbahagia, Teman.
Segala macam hiruk pikuk yang menyangkut pulau tempat saya tinggal saat ini, tidak mengancam saya sama sekali. Saya masih mengajar anak-anak, seperti biasa. Saya masih berkawan dengan teman-teman di sini, tidak ada bedanya. Saya masih ke pasar, belanja, menggandulkan noken di kepala, berbalas salam selamat pagi, masuk ke gereja, jabat tangan dan mengucapkan “selamat hari Minggu” atau “wa wa wa”, salam khas di pegunungan tengah Papua. Seakan tidak ada yang berubah, sama.

Akan tetapi, ada juga yang mengusik pikiran saya. Meskipun jaringan internet masih sangat terbatas, berita tentang Papua yang sempat menjadi trending topic di twitter Indonesia sampai juga Wamena. Saya melihat beberapa teman mulai bereaksi di media sosial. Kabar-kabar mengenai gejolak yang muncul akibat berita itu juga mulai terdengar. Jarak dua-tiga jam naik mobil dari Wamena tentu bukan penghalang bagi berita macam begitu masuk ke Bokondini. Sampai akhirnya tersiar kabar terbaru mengenai suasana mencekam di Jayapura akibat aksi massa yang ricuh.

Meski demikian, seperti sudah saya bilang sebelumnya, tidak ada yang berbeda. Anak-anak remaja di sekolah tetap menerima saya dan pelajaran yang saya bawa, Bahasa Indonesia.

Teman, sepertinya hanya memberi kabar bahwa “saya dalam keadaan baik” saja tidak cukup bagi saya, maka seperti “Sebuah Berita Kepada Kawan”, saya sampaikan tulisan ini.

Setelah satu tahun melihat Papua dari pegunungan tengahnya, mata saya semakin terbuka bahwa dalam hati mereka yang sedang menggelar aksi massa, dalam kemarahan mereka yang terungkapkan melalui kata-kata dan status di social media, dan bahkan dalam kehidupan sehari-hari orang Papua yang terlihat “tanpa suara”, saya melihat tidak ada hati untuk Indonesia.

Teman,
Kamu bisa jadi akan tersinggung berat kalau saya ceritakan beberapa hal mengenai apa yang orang Papua pikir tentang Indonesia. Akan tetapi tunggu sebentar, saya akan bercerita sedikit tentang apa yang saya pikir tentang orang Papua. Dulu.

Sebelum saya mengenal istilah rasisme, kesukuan, dan teman-temannya, saya menganggap mentertawakan orang-orang Papua dari jauh lalu merasa waspada ketika harus dekat dengan mereka adalah hal yang wajar. Apa yang saya mengerti tentang orang Papua waktu itu—saat masih kanak sampai remaja—adalah berbeda, terbelakang, berkulit gelap, dan berbahaya. Pengertian semacam ini tentu saya dapat dari lingkungan terdekat saya. Lalu setelah saya kuliah dan bertemu banyak orang Papua yang kuliah di Yogyakarta, saya mulai mengenal apa itu rasisme, tapi tidak sungguh paham. Saya sudah tahu bahwa tidak semestinya saya menganggap mereka sebagai “alien”, tapi tetap saja, di beberapa kesempatan, saya mentertawakan orang Papua.

Sampai akhirnya ketika saya memutuskan untuk bekerja di Papua, banyak yang berpesan “hati-hati” yang kesannya berbeda sekali dengan “hati-hati” yang pernah saya dapat sebelumnya. Ada juga yang berpesan, “jangan sampai dapat jodoh orang sana”. Ada yang bilang, “Wah, kamu pasti akan jadi yang paling putih di sana,” atau “Kamu pasti akan jadi yang paling ganteng di sana” dan masih ada beberapa lainnya. Semua itu datang dari keluarga dan teman-teman saya sendiri. Sampai sekarang.

Pernah kamu melakukan itu? Atau kamu tahu berapa banyak orang di sekitarmu melakukan hal yang sama?

Pernah ada teman yang bertanya, “Bagaimana sebenarnya keadaan di sana (Papua)?”

Sepertinya saya sudah enam bulan lebih tinggal di Papua waktu itu dan saya ceritakan apa yang sudah saya lihat dan saya singgung tentang keinginan orang Papua untuk merdeka. Teman saya membalas, “Wah sayang lah kalau merdeka, Papua kan sangat menguntungkan.”

Seketika hati langsung bergejolak, ingin marah, membalas pesannya dengan huruf kapital, “KENAPA KAMU HANYA PIKIRKAN TANAHNYA YANG MENGUNTUNGKAN, TIDAK PIKIRKAN ORANG-ORANGNYA? ITU KENAPA MEREKA MAU MERDEKA!!!”
Itu sebelum saya menyadari bahwa mungkin jika saya mendapatkan pertanyaan, “Bagaimana kalau Papua merdeka?” enam bulan sebelumnya, saya juga akan mengatakan hal yang sama dengan apa yang teman saya katakan. Sekaligus saya sadar pada saat itu, bahwa pandangan saya terhadap Papua sudah berubah. Enam bulan setelah saya tinggal di Papua.

Beberapa bulan lalu, saya mendapat teman baru di Bokondini, orang Jawa. Suatu hari, dengan terang-terangan dia mengatakan “Anak-anak ini bodohnya kebangetan,” sambil menunjukkan berlembar-lembar kertas ujian nasional anak SMA negeri yang kacau dalam penulisan identitasnya, “masa mengisi identitas saja tidak bisa.” Dia terus saja bersungut-sungut mengatakan bahwa mimpi menyelenggarakan pendidikan ideal di Bokondini adalah sia-sia, karena anak-anak Papua itu bodoh. Waktu itu saya berpikir bahwa sepertinya sia-sia juga kalau saya mengatakan kepadanya, “Teman, anak-anak di sekolah saya bisa kok. Anak-anak Bokondini juga, masih SMP, kerja sendiri lagi, tanpa kunci jawaban.”

Sekitar dua bulan lalu, teman dari teman saya, seorang perwira, mentraktir kopi di Wamena sambil berbagai cerita. Saya menaruh hormat pada si perwira muda yang tampak berwibawa dan berkharisma ini sampai ia menanyakan tantangan-tantangan yang saya hadapi sebagai guru di pedalaman. Saya ceritakan dengan semangat bagaimana saya berada di sekolah dengan visi yang sangat jelas yang berusaha memberikan pendidikan terbaik dan tetap tinggal di kampung dengan harapan dapat memberi pengaruh kepada lingkungan di sekitarnya. Saya ceritakan juga bagaimana beberapa orang berjuang bertahun-tahun membantu anak-anak Papua mendapatkan masa depan lebih baik melalui pendidikan yang benar, meskipun harus sering menghadapi banyak halangan yang datang justru dari lingkungan anak-anak itu sendiri. Memotong cerita bersemangat saya, sang perwira berkata, “Kalau memang mereka tidak mau dibantu, ya sudah, kita manfaatkan saja, begitu kan?”

Sedikit mangap, saya tak mampu menjawab. Seketika itu, runtuhlah hormat dan sa pusemangat. Beruntung sekitar lima menit kemudian kami pulang.

***

Mengutip lirik lagu Sherina yang berjudul “Lihatlah Lebih Dekat”

“…lihat segalanya lebih dekat, dan kau bisa menilai lebih bijaksana,
lihat segalanya lebih dekat, dan kau bisa mengerti.”

Teman, saya ingin mengajakmu untuk “menilai lebih bijaksana” dan “mengerti” mengapa ada orang Papua yang ingin merdeka. Bukan sekadar “ada” tapi buanyak orang Papua yang ingin merdeka, seperti saya pernah tulis sebelumnya, bahwa bukan hanya mereka yang bersenjata saja yang ingin merdeka, bahkan dalam diam seorang mama-mama yang membawa ubi, tergambar bintang kejora di nokennya, dalam semangat anak-anak sekolah kami yang menjaga guru-gurunya seperti menjaga telur agar tidak pecah, terungkap kata merdeka. Indonesia adalah penjajah bangsa Papua. Saya bahkan menemukan gambar-gambar “tentara pembebasan Papua” yang terselip dalam lembar-lembar buku tugas anak-anak.

Pada awalnya, ketika saya mendengar banyak hal tentang impian merdeka dari lingkungan sekitar, jiwa nasonalis saya bergejolak dan berpikir, “bodoh sekali orang-orang ini kalau mau merdeka. Mereka merdeka memangnya mau buat apa? Mereka belum siap dan Indonesia tidak menjajah Papua. Papua adalah Indonesia.”

Perlu satu tahun bagi saya, waktu yang sebenarnya masih terlalu singkat, untuk lebih mengerti bahwa memang tidak ada hati untuk Indonesia bagi banyak orang Papua. Sementara itu, Indonesia “hadir” di tempat ini dalam bentuk yang mengerikan: sekolah-sekolah negeri tidak jalan, fasilitas-fasilitas umum yang macet, desa-desa terpelosok dengan akses sangat terbatas pada apapun, pemerintahan yang jadi lahan korupsi, PNS yang lebih sibuk dengan bisnisnya daripada tugas yang seharusnya, hukum nasional yang tidak berfungsi meski aparatnya terus digaji, dana desa dibagi-bagi secara tunai, dan angka kematian akibat HIV yang terbilang tinggi. Apakah ini karena orang-orang Papua sendiri? Pelaku-pelakunya mungkin orang Papua, tapi siapa di balik semua ini? Kenapa ketidakberesan yang mengerikan ini dibiarkan terus terjadi? Saya lantas singkirkan dulu jiwa nasionalis saya. Saya coba buka mata, buka hati, pasang telinga. Saya ingin mencoba untuk mengerti.

Saya mengingat bagaimana cara saya memandang orang Papua satu tahun sebelumnya dan saya bayangkan pastinya masih banyak orang-orang di Indonesia yang memandang orang Papua dengan cara pandang lama saya. Teman pasti juga sudah melihat perlakuan-perlakuan yang berbeda kepada orang-orang Papua di tempat Teman berada. Saya bahkan melihat sendiri di Papua, yang salah satunya adalah pelayanan rumah sakit dan Puskesmas yang sangat galak kepada orang Papua tapi lembut dan penuh perhatian kepada orang pendatang. Saya pernah pernah berobat untuk bisul sebesar kacang ijo dan dimanja-manja, sementara seorang mama yang mengobatkan anaknya yang terkena infeksi saluran pernafasan akibat terlalu banyak mengisap asap honai mendapat bentakan, “Makanya mama juga harus tahu urus anak, bukan hanya tahu bikinnya saja!”

Itu yang terlihat. Ada lagi yang tidak terlihat, tapi terasa sangat kuat menjadi alasan orang-orang Papua ingin merdeka.

Dendam.

Dendam yang diturunkan dari generasi ke generasi, diobrolkan dari honai ke honai, dikhotbahkan dari gereja ke gereja dan sekarang disebarluaskan melalui berbagai media di dunia maya. Bersama dengan dendam itu, pesan kemerdekaan disampaikan.
Dendam apa? Di Bokondini, orang-orang menyebut “Peristiwa tahun ‘77”, di Biak orang menyebut “Biak Berdarah”, di media sosial orang-orang menyebut “Kekejaman TNI-POLRI”, dan sepertinya masih banyak peristiwa tak berjudul yang meninggalkan dendam mendalam. Kata-kata semacam pembantaian, penganiayaan, pembunuhan, pelanggaran HAM dan sebagainya sepertinya cukup menggambarkan dendam seperti apa yang dimaksud di sini. Teman bisa mencari referensi terpercaya untuk ini, salah satunya yang saya rekomendasikan adalah buku Seakan Kitorang Setengah Binatang, yang isinya adalah wawancara kepada Filep Karma, tokoh penting dalam perjuangan Papua. Dari dia juga lah saya mendapatkan istilah “tidak ada Indonesia di hati orang Papua”. Teman juga bisa menjadikan tulisan saya ini sebagai pengantar untuk memahami Papua lebih dekat.

Papua memandang Indonesia sebagai penjajah yang diperparah dengan tanda kehadiran Indonesia di Papua: kebobrokan. Otsus dan dana besar yang menyertainya, membuat keadaan di Papua semakin mengerikan. Itu datangnya dari Indonesia.

Teman, saya cinta Indonesia, tapi ketika melihat dan mengalami “Indonesia” dari sisi Papua,
sungguh . . .
Saya jadi mengerti mengapa dari mulut anak kecil yang belum puber pun muncul kata “MERDEKA”. Teman, kamu boleh tidak setuju kalau Papua merdeka, tapi cobalah untuk mengerti mengapa orang Papua ingin merdeka, lalu kamu akan tahu apa yang sebaiknya kamu lakukan.

***

Beberapa hari lalu, saya sempat melihat beberapa kiriman di media sosial tentang kekejaman Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) OPM kepada orang pendatang di Papua dengan caption kira-kira “Hentikan kekejaman gerakan separatis. Basmi mereka. NKRI harga mati” sambil menyebut beberapa akun media sosial lembaga keamanan RI.
Hal seperti ini hanya akan menambah kebencian di hati orang Papua.
Kalau kamu pernah melakukan ini, Teman, jangan lakukan lagi. Kalau kamu mengetahui temanmu melakukan ini, tolong beri tahu dia, atau beri dia tulisan ini, karena di sisi lain, tersebar pula beberapa kiriman yang menunjukkan kekejaman TNI-POLRI kepada orang Papua dilengkapi caption panjang mengenai HAM dan kemerdekaan. Mari kita buat keadaan ini lebih mendamaikan.

Teman, saya merasa senang tinggal di sini. Apalagi dengan sifat saya yang senang belajar, saya menjadi mengerti banyak hal. Sifat ini pulalah yang telah membawa saya kembali kepada Tuhan dan oleh karena Tuhanlah, saya masih ada di sini dan menulis ini kepadamu.

Kalau Teman seorang nasionalis yang peduli dan ingin Papua tetap bersama RI, Teman bisa mendukung dan mendoakan saya dan rekan-rekan di sini, sebagai perwakilan Indonesia dalam usaha memperbaiki hubungan dengan Papua.

Kalau teman seorang yang pro-kemerdekaan Papua, Teman bisa mendoakan kami di sini sebagai perwakilanmu yang mempersiapkan kemerdekaan yang baik melalui pendidikan yang benar.

Kami akan sangat senang mendapatkan dukungan dan doa darimu, tapi mohon maaf kalau kami tidak peduli dengan merdeka atau ikut RI, karena kami di sini bekerja untuk Tuhan. Kami percaya Tuhan mempunyai tujuan yang baik. Kami di sini untuk melaksanakan kehendak-Nya. Kami di sini, di Ob Anggen, sedang mengerjakan bagian yang sudah Ia percayakan kepada kami.

salam hangat, peluk erat

Alangga Dwi Kusuma

diterbitkan pertama kali di blog milik penulis, woanderwhy.

Alangga Dwi Kusuma

Alangga Dwi Kusuma

Teman-jalan-jalan-dan-membaca-mu

Bagikan tulisan ini

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Tulisan Terkait