Hiperrealitas Kisah Cinta Mas Pur

Posted: 19 July 2018 by Dimas Indiana Senja

 

Tugas pertama seorang perempuan ialah menyerah

pada berbagai tuntutan kedermawanannya…”

 

Ungkapan Simone De Beauvoir dalam buku “Second Sex” (2016: 296) tersebut saya rasa cukup mewakili apa yang saat ini dialami Novita (Putri Anne). Dalam sinetron Tukang Ojek Pengkolan (TOP) part 6/6 (11 Juli 2018), Novita memberanikan diri untuk menyudahi hubungannya dengan Mas Pur (Furry Setya Raharja) lantaran orang tua Novita tidak merestui hubungan mereka. “Mau gimana juga kan mami ga setuju Mas Pur, mami kan lebih senengnya sama Mas Radit. Ya daripada kita terlalu panjang, terlalu keburu, terlalu nyaman, sepertinya lebih baik udahin aja,” ucap Novita sambil sesenggukan.

Novita adalah proyeksi dari perempuan yang mendapat stigma sebagai “second sex”. Ia dibebani dengan tuntutan bahwa perempuan harus mengalah, mengikuti perintah atau kehendak “yang berkuasa” atas dirinya dalam hal paling personal sekalipun. “Kekuatan besar” di luar dirinya itu membatasi langkah dan keinginannya untuk memperjuangkan sesuatu yang menjadi pilihannya.

Fenomena tidak direstuinya sebuah hubungan oleh orang tua adalah problematika universal yang banyak terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Hal inilah yang menyebabkan hastag #maspuradalahkita dan #kamibersamamaspur menjadi viral baru-baru ini. Ada semacam keterwakilan yang dialami oleh banyak lelaki di luar sana, yang memiliki kesamaan nasib dengan Mas Pur. Apalagi, potret Mas Pur adalah simbol masyarakat “kelas dua”, masyarakat proletariat yang dicirikan dengan, misal, tampang biasa saja, penghasilan biasa saja, gaya hidup yang biasa-biasa saja.

Mas Pur dihadapkan dengan kenyataan bahwa mayoritas orang tua yang mempertimbangkan banyak hal terkait dengan dengan siapa anak perempuannya hidup bersama kelak. Anggapan bahwa Mas Pur, dengan berbagai keterbatasannya, tidak akan mampu memberi kesejahteraan terhadap kehidupan (materiil) Novita adalah sesuatu yang menarik. Mas Pur adalah proyeksi kekalahan kaum proletar atas dominasi sekaligus hegemoni kapitalis. Bahwa kebahagiaan seolah hanya dimiliki orang-orang yang memiliki modal. Padahal itu hanya kebahagiaan semu. Tapi begitulah realitas hidup, kapitalisme sudah merambah sektor percintaan.

“Aku harus melihat kamu bahagia, meskipun kamu bahagianya sama orang lain bukan sama aku,” kata Mas Pur dengan nada yang getir. Sebuah kepasrahan yang tidak diinginkan siapapun. Tapi Mas Pur telah menunjukkan bahwa ada hal yang lebih berat dari cinta itu sendiri, yaitu melihat orang yang dicintai bahagia–meski bukan dengan dirinya. Fenomena ini membenarkan bahwa fragmen cinta paling luka adalah saat dua orang mengaku saling mencintai dan bersepakat untuk tidak saling memiliki.

Kisah cinta Mas Pur dan Novita begitu mengharu biru. Membuat banyak orang turut dalam kesedihan berkepanjangan. Namun dalam kacamata Erich Fromm,  mereka sudah menunjukkan bahwa cinta adalah “memberi”. Tindakan memberi bukan terletak dalam persoalan materi, tetapi terletak dalam kenyataan diri manusia (human realism) itu sendiri.

“Yang terpenting dalam hal ini bukan soal bahwa dia telah mengorbankan hidupnya demi orang lain melainkan bahwa dia telah memberikan apa yang hidup dalam dirinya; dia memberikan kegembiraannya, kepentingannya, pemahamannya, pengetahuannya, kejenakaannya, kesedihannya-semua ekspresi serta manifestasi yang ada dalam dirinya. Dengan tindakan tersebut seseorang telah memperkaya orang lain, meningkatkan perasaan hidup orang lain lewat peningkatan perasaan hidupnya sendiri… (Erich Fromm, The Art Of Loving, hal.41)

Banyak hal yang bisa dipelajari dari apa yang dialami Mas Pur dan Novita. Sebuah refleksi kehidupan percintaan yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Mas Pur dan Novita merelakan perpisahan untuk saling memberikan “yang terbaik”. Mas Pur menunjukkan hakikat dari cinta yang sebenarnya dan semestinya. Kata-kata: “Tapi yang harus kamu ingat, di sini ada hati yang selalu dengan tulus menyayangi kamu” adalah kunci dari kepasrahan seorang pecinta sejati. Bahwa dia tidak berhenti untuk mencintai, meski tak bisa memiliki. Apa yang dialami Mas Pur bukanlah sesuatu yang sederhana. Bukan. Ini bukan semata persoalan perasaan. Jauh melampaui itu semua.

Pendapat Anda: