Guru Penjaga Peradaban: Refleksi Pendidikan di Era Revolusi Industri 4.0

Guru dalam bahasa Sanskerta terdiri dari kata Gu yang artinya gelap dan Ru yang artinya terang. Sisi gelap dan terang menjadi satu. Guru bisa mempunyai arti penyeimbang sisi gelap dan terang. Guru adalah gabungan dunia gelap dan terang yang memberikan arah menuju kebenaran. Guru dapat diartikan juga mengangkat sisi gelap menuju sisi terang. Mungkin dari situ muncul tokoh Batara Guru. Batara Guru adalah penguasa tiga dunia, dunia para dewa, dunia manusia, dan dunia bawah (setan). Batara guru dapat membukakan telinga manusia untuk melihat hal yang baik dan hal yang buruk.

Pak Bakri tidak pernah lelah mengajar. Ia bingung akhir-akhir ini kepalanya sering pusing. Usut punya usut beliau yang saat ini berusia 58 tahun berusaha belajar mengakses internet untuk mendapatkan bahan ajar yang update. Ide itu ia dapatkan setelah mendatapkan pelatihan guru go-blog. Dia teringat pada masa muda dulu. Saat itu, ia mengajar dengan gaya orasi berapi-api ala Bung Tomo. Anak-anak terbelalak kagum. Sesekali ia bercerita tentang tokoh idolanya, Iwan Fals. Ia bercerita bahwa Iwan Fals adalah seseorang yang berani menyarakan hati wong cilik. Anak-anak menangkap api-api semangat sang guru muda. Ketika musim kapas, Pak Bakri mengumpulan klentheng dari buah kapas untuk media hitung-menghitung, kadang untuk bermain bas-basan, kadang untuk melempar siswanya yang ngantuk. Pak Bakri sering menyarankan anak-anaknya untuk bermain bersama-sama dan tidak boleh curang, ada gobak sodhor, benthik, sepak tekong, sunda manda, dan lain-lain. Bagi Pak Bakri, permainan tradisional membuat murid-muridnya senang dan guyub. Kali waktu yang lain anak-anak diminta untuk membantu Pak Warto, penjaga sekolah, untuk sekedar mencabuti rumput. Ia mengatakan bahwa Pak Warto sudah renta, sudah menjadi kewajiban kita untuk membantunya. Tidak hanya Pak Warto, anak-anaknya pernah diajak membantu mengangkat belanjaan Bu Wid-penjual bubur, memapah Mbah Bewok-penjual gulali yang kepleset di jalan becek, dan orang-orang lainnya yang membutuhkan bantuan. Pak Bakri tidak pernah mengajarkan berbuat baik ia hanya melakukan yang perlu dia lakukan, pun anak-anaknya terpatri hal itu. Kini tahun 2019, konon Revolusi industri 4.0 sedang berlangsung. Pak Bakri gamang, jiwanya menantang perubahan, hatinya tetap teguh belajar, fisiknya tidak.

Kisah yang berbeda datang dari Jakarta Selatan. Sudah sepekan Pak Andre mengikuti pelatihan merancang media pembelajaran berbasis IT. Pada akhir pelatihan, ia diminta merancang sebuah game untuk pembelajaran matematika. Ia berjam-jam mengahadap laptop untuk mencari tutorial di youtube cara membuat game menggunakan macromedia flash. Hanya butuh sehari, Pak Andre menjadi ahli. Di Sekolah, game itu diuji. Game buatannya mengakomodasi minat murid-muridnya yang tumbuh dengan asuhan smartphone. Game matematika dilahap dengan singkat oleh murid-muridnya, penilaian secara otomatis langsung terekam, Pak Andre tak perlu koreksi. Ia mengabdikan diri untuk belajar teknologi pembelajaran. Segala temuan teknologi pendidikan terbaru dengan singkat ia kuasai. Pembelajaran di kelas diwarnai aplikasi kuis seperti kahoot, moodle, dan quizlet. Aplikasi belajar mandiri seperti seesaw, padlet, dan quipper video pun ia tuangkan dengan inovatif di kelas. Hasil ujian siswa melejit. Siswa sangat antusias menanti tantangan yang diberikan Pak Andre. Gairah kopetitif dan persaingan kreativitas memang mewarnai kelasnya. Pak Andre sadar betul hal itu. Kecepatan dalam menerima dan mengolah informasi secara kreatif menjadi target pembelajaran Pak Andre. Ia kerap meminta siswanya berkompetisi membuat produk kreatif hasil dari berselancar di internet. Ia memimpikan suatu saat muridnya dapat membuat smart product dan smart services yang dapat berguna bagi masyarakat.

Pak Bakri adalah tetangga Boni. Pak Andre adalah paman Boni. Kebetulan atau tidak sekarang Boni menjadi mahasiswa keguruan. Ia bercita-cita menjadi guru. Kata banyak orang cita-cita Boni sederhana.

Saat ini Boni semester 4 dan sedang menjalani magang yang mengharuskan dia mengobservasi kegiatan pembelajaran di kelas. Boni diminta belajar dari seorang guru pamong, Pak Budi. Pak Budi menjelaskan bahwa di era revolusi industri 4.0 ini pembelajaran harus mengarah pada kemampuan berpikir tingkat tinggi. Pak Budi menjelaskan pada Boni bahwa pada abad 21 ini keterampilan yang harus dimiliki siswa adalah 4C (communication, collaboration, critical thinking, dan creativity).  Suatu ketika pada pembelajaran PKn tentang keanekaragaman suku di Indonesia, salah seorang siswa memberikan pendapatnya tentang indahnya tato orang Mentawai. Siswa tersebut mengatakan jika tato itu harus jadi kebanggan Indonesia karena tatto Mentawai adalah salah satu tatto tertua di dunia. Sontak Pak Budi mengardik pendapat siswa tersebut. Pak Budi mengatakan bahwa tatto itu simbol kriminalitas. Murid itu langsung terdiam. Ia malu dan merasa salah. Boni, sang guru muda hatinya bergejolak karena apa yang dikatakan anak itu benar. Gambar tato Mentawai sempat viral dan dianggap sebagai tato tertua di dunia. Sebagai seorang guru magang hatinya bergejolak, dalam hatinya mempertanyakan makna critical thingking yang tadi pagi disampaikan Pak Budi kepadanya.

Di Kampus Boni, Seminar-seminar pendidikan bernuansa revolusi industri 4.0 banyak diselenggarakan. Pembicaranya ahli-ahli. Boni sering ikut demi sertifikat syarat lulus. Katanya Indonesia sudah tertinggal dalam menyongsong revolusi industri 4.0. Kita masih dianggap melaksanakan revolusi industri 3.0 bahkan 2.0.  Ciri khas revolusi industri 4.0 adalah adanya sensor-sensor yang membaca data. Pembicara bercerita bahwa melalui sensor-sensor yang tersebar, data-data diolah dengan alogaritma tertentu dan menghasilkan artificial intelligece yang dapat melakukan perintah otomatis. Maka jangan heran kalau tiba-tiba ada orang yang menawarkan obat diabetes. Bisa jadi secara tidak sadar kita buang air di urinoir yang bersensor dan mengirim data yang terhubung dalam big data dan tiba-tiba perusahaan obat tahu bahwa air seni kita menunjukkan potensi diabetes secara otomatis mengirimkan iklan obatnya. Boni menelaah kata-kata itu big data dan artificial intelligece. Dia baru ingat suatu ketika ia parkir di suatu mall tiba tiba dapat sms iklan promo donat di mall itu, yang ia heran adalah mengapa pihak mall bisa tahu nomornya. Boni menjadi sadar bahwa Hpnya memancarkan sensor yang tertangkap teknologi di mall itu dan langsung dikirimi pesan promo, yeaaah. Selamat datang di era revolusi industri 4.0.

Kecanggihan ini menuntut konsekuensi. Setiap tanggal 1 Mei buruh teriak mayday-mayday “tolong-tolong”. Buruh-buruh semakin terdesak dengan kecanggihan mesin-mesin. Biasanya mereka berbaris memasang label kemasan minuman, sekarang pekerjaan mereka telah digantikan secara efektif oleh mesin. Buruh yang tersisa adalah buruh checking, meneliti kesalahan produksi, dan memantau mesin yang panas. Tidak hanya buruh, satpam digantikan CCTV yang mendeteksi kerawanan secara otomatis. CCTV dilengkapi pemindai wajah, maka dia akan memberi tahu jika ada wajah asing berkeliaran di area pabrik. Baru-baru ini sebuah perusahaan konstruksi di Jerman dapat membangun gedung di Korea melalui alat berat yang terkoneksi internet. Mereka mengoprasikan alat-alat berat dari jarak jauh.

Boni masih asik mengikuti diskusi seminar yang mulai merujuk pada dunia pendidikan. Pembicara menggambarkan dunia pendidikan ke depan. Pendidikan dengan nuansa digital semakin kental. Pembelajaran melalui media video mulai banyak digemari. Seperti pekerjaan konstruksi yang bisa dikerjakan jarak jauh. Guru nantinya juga bisa mengajar jarak jauh. Siswa belajar dengan cara yang berbeda. Tujuan belajar siswa pun berubah. Ia membayangkan bahwa belajar tidak harus bertatap muka. Belajar bisa dari rumah, bisa dari WC, bisa dari atas pohon. Dampaknya adalah profesi guru akan semakin berkurang. Biasanya dalam satu kelas diajar seorang guru, bayangkan jika kelasnya virtual, maka satu guru dapat mengajar ratusan bahkan ribuan siswa sekaligus. Hanya guru berkualitaslah yang dapat bertahan. Boni yang notabene calon guru jadi kepikiran. Ia teringat kisah Pak Bakri dan Pak Andre, dia juga terbayang Pak Budi. Pak Bakri dan Pak Andre adalah kisah ideal, Pak Budi adalah realitas. Mereka adalah guru yang baik, tetapi tidak semua guru baik dapat bertahan di zaman ini. Boni memiliki tiga pilihan, menjadi Pak Bakri yang menyasar hati, menjadi Pak Andre yang merengkuh teknologi, atau menjadi Pak Budi yang realistis.

Boni merenung-renung. Ia teringat Pak Budi yang berapi-api ketika menjelaskan tantangan abad 21 kepadanya tetapi menjadi orang yang sangat kolot dalam memaknai tato. Anomali ini banyak terjadi. Guncangan budaya memang melanda guru-guru. Boni berkesimpulan, guru perlu merengkuh perubahan dengan optimis dan berpikiran terbuka. Peka dalam mendengar perubahan, tidak menghindari kerumitan berpikir. Jika perlu diskusi panjang, diskusilah. Jika tidak tahu jawabannya, berbesar hatilah. Kenalilah dunia siswa. Kenali film yang populer saat ini. Kenali artis Korea idaman mereka. Kenali restoran yang sedang trending di Instagram. Generasi milenial memiliki pencapaian yang berbeda. Rengkuhlah hatinya dengan berpikiran terbuka, setelahnya ajaklah mereka untuk menemukan prinsip-prinsip hidup yang hakiki. Setidaknya inilah kritik Boni terhadap Pak Budi. Pak Budi adalah gambaran umum guru-guru saat ini. Guru yang memahami konsepnya teapi sulit melakukannya.

Boni merasa tidak secakap Pak Andre dalam teknologi, teknologi berkembang cepat sekali, arusnya terlalu deras. Boni merenung kembali. Kesadaran porsi akan kebutuhan adalah kunci. Guru perlu mengadaptasi teknologi dengan bijak. Jika arusnya terlalu deras, gurulah yang menjadi tanggul, jika lajunya sangat kencang gurulah yang harus menjadi remnya, jika terlalu dingin gurulah yang harus menyulut bara, jika terlalu panas gurulah yang menyejukkan. Seminar di kampus mengingatkan Boni bahwa revolusi industri 4.0 memang menuntut kolaborasi antara manusia dan teknologi. Teknologi bukan lagi “budak” tetapi partner atau rekan. Pilihlah rekan kerja yang baik dan sesuai, tidak harus berpartner dengan semua teknologi. Kesibukan merengkuh teknologi dapat menghilangkan esensi. Maka esensinya dipahami, teknologinya baru dicari. Boni sedikit ingat satu berita bahwa beberapa pendiri google tidak membiarkan anak-anaknya menggunakan HP sebelum 14 tahun. Mereka percaya bahwa imajinasi dan kreativitas dapat telatih maksimal ketika keadaan sangat terbatas. Boni ingat juga ketika ia membaca novel Harry Potter, imajinasinya lebih liar dan hebat dibanding penggambaran visual di filmnya yang terbatas.

Akhirnya Boni terbayang Pak Bakri yang memakai hati. Begitu lama Boni merenung. Ia membayangkan Pak Bakri. Sebagai tetangga, Boni pernah mendapat les gratis dari Pak Bakri. Boni sering berkaca-kaca jika mendengar cerita Pak Bakri dari muridnya atau dari kawan yang mengenal Pak Bakri. Pak Bakri tidak lekang oleh zaman. Pak Bakri hidup di sanubari setiap siswanya. Jika saja Pak Bakri masih mampu, Boni yakin beliau akan berjuang belajar teknologi. Pak Bakri adalah pribadi yang terlibat. Ia melibatkan diri pada lingkungan dan zamannya. Hati dan naluri yang menggerakkannya. Ia membukakan mata siswanya pada realitas yang tidak selalu indah sekaligus ia mengajak bertindak menuju kebaikan. Pak Bakri mengajak siswanya melihat gelap sekaligus terang seperti arti kata guru. Teknologi juga perlu hati, maka kembalilah pada yang hakiki.

Boni berkesimpulan bahwa guru yang akan bertahan di era distrupsi adalah guru yang memiliki kualitas diri baik sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Peradaban akan berubah. Ketika semua orang berpacu dalam perubahan, di sinilah peran guru, menjaga perubahan tetap pada nilai-nilai kemanusiaan, menjaga karakter siswa, menjaga kewarasan, menjaga hati, menjaga manusia muda, menjaga peradaban seperti peran Batara Guru.

Apri Damai Sagita Krissandi

Apri Damai Sagita Krissandi

Lulusan Jurusan Sastra Indonesia UGM, dan Magister Pendidikan Bahasa Indonesia UNJ. Bukunya yang sudah terbit Membaca Sinema Indonesia (bersama penulis lain) (2010), Perlawanan Sastra Koran dalam Hegemoni Orde Baru (2015), Pembelajaran Bahasa Indonesia Inovatif (2016), Nilai Budi Pekerti dalam Gamelan (2017), Bahasa Indonesia untuk Sekolah Dasar (Pendekatan dan Teknik) (2017), Merancang Buku Cerita Anak yang Berkarakter (2017), Perencanaan Pembelajaran yang Khas Sekolah (2018), beberapa penelitiannya diterbitkan dalam jurnal, saat ini mengajar di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

Bagikan tulisan ini

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Tulisan Terkait