Berkarya Lewat Penerjemahan

Posted: 29 August 2018 by Studio Pertunjukan Sastra

Menerjemahkan bukan pekerjaan yang kucita-citakan sejak masa kecil. Saya terpikir menjalani profesi ini hanya setelah aku menjadi pengangguran selama dua tahun namun tidak ingin bekerja di perusahaan atau jadi pegawai negeri. Keinginanku untuk menjalani hidup yang tidak jauh dari dunia pengetahuan, keasyikan membaca dan suasana belajar—padahal tidak punya dana untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S-2—dan ingin punya nama yang disandingkan dengan nama para penulis besar, itulah yang mengantarku ke seruas jalan berliku dan terjal: PENERJEMAHAN.

Ketika pertama kali aku mengungkapkan keinginanku jadi penerjemah buku-buku filsafat kepada seorang teman yang kebetulan sedang mengambil S-2, dia tertawa geli dan dengan tatapan mata yang menyembunyikan ejekan, dia berkata:  “Sudahlah, Lae… Kirim ajalah lamaran banyak-banyak. Jangan pikir macam-macam. Baca buku filsafat berbahasa Indonesia saja sangat susah dipahami, apalagi menerjemahkan… Ha, ha, ha…yang realistislah!”

Tetapi setahun kemudian aku menyerahkan sebuah buku berjudul: Menyatu Dengan Semesta karya Fritjof Capra. Aku meminta dia membuka halaman kedua buku itu dan dia melihat namaku sebagai penerjemah tertulis di buku itu. “Bah!”, katanya tak percaya, “Jadi juga rupanya. Selamat! Selamat! Harus begitulah jadi orang, berani berjuang!” katanya, air muka yang masih sulit memercayai apa yang baru saja dia baca.

***

Aku tidak pernah kursus bahasa Inggris. Tidak pula rajin membaca buku grammar atau buku-buku lain yang dapat menunjang peningkatan kemampuan berbahasa Inggris. Hanya saja nilaiku bahasa Inggris sejak Sekolah Menengah sampai kuliah, memang selalu bagus tetapi itu tidak membuatku bisa membaca literatur berbahasa Inggris dengan yakin bahwa aku mengerti dengan tepat apa yang sedang kubaca. Semasa kuliah pun aku selalu mengandalkan buku-buku berbahasa Indonesia untuk memahami suatu topik, walaupun aku sering kali meminjam buku-buku tebal berbahasa Inggris dari perpustakaan, itu cuma untuk gaya thok!

Langkah pertama yang kulakukan ketika aku memutuskan untuk jadi penerjemah adalah mengambil sebuah tulisan Urbanization and Modernization yang termuat di dalam Ecyclopedia Britannica, Knowledge in Depth, dan mulai menerjemahkannya. Hasil terjemahanku itu kutunjukkan kepada seorang teman sebaya yang mengandalkan sumber-sumber berhasa Inggris dalam mencari informasi dan pengetahuan, dan nilai Toefelnya, katanya 600 lebih. Setelah membaca dan membandingkan dengan aslinya, dia menilai: “Buruk Sekali!” Setelah kuterjemah ulang, dia bilang: “Masih kacau!” Kuterjemahkan lagi, “Sama saja, Ut”, katanya dengan wajah menyembunyikan rasa kasihan. Keempat kalinya kuluangi, dia mulai enggan untuk membacanya tetapi aku membujuk-bujuknya dan memohon agar dia sudi kiranya memberitahukan letak kesalahanku dan memberi saran untuk perbaikan. Dan terjemahanku yang keenam, dia nilai: “Yah udah lumayan…”. Aku tidak tahu apakah itu ucapan akumulasi kebosanan membaca yang itu-itu lagi atau memang aku sudah mengalami kemajuan.

Penilaian temanku yang kabur itu tidak menghalangiku nekat pergi ke penerbit untuk mengajukan lamaran. Dengan wajah penuh harap aku menyatakan kepada seorang editor sebuah penerbit kecil Yogya bahwa aku ingin menerjemahkan buku-buku fisafat untuk penerbitnya. Dengan mantap aku berkata:

“Saya bukan lulusan sastra Inggris, juga tidak pernah kursus menerjemahkan, tidak pula menguasai grammar, tetapi ingin sekali jadi penerjemah buku-buku bidang filsafat dan senang sekali kalau diberi kesempatan untuk mencoba dan ditunjukkan kesalahan-kesalahan terjemahanku.”

Anehnya, sang editor segera memberiku sebuah buku setebal 400-an halaman, The Platos Post-Modern karya Leo Strauss. Enam bulan kemudian buku itu selesai kuterjemahkan dan kuserahkan kepada penerbit masih dalam tulisan tangan dan termuat dalam belasan buku tulis. Dua bulan kemudian saya datang menanyakan kabar terjemahanku, ternyata penerbitnya tidak akan menerbitkannya karena naskah yang kuserahkan sudah lenyap di rental pengetikan karena penerbit tidak punya dana untuk membayar biaya pengetikan. Pemilik penerbitan merogoh kantongnya dan menyerahkan uang dua ratus ribu rupiah kepadaku sebagai upah terjemahanku. “Maaf, mas,” katanya, “penerbitan ini kolaps, tolong didoakan biar bisa bangkit lagi dan kita bisa kerja sama lagi.”

Dengan mengantongi uang hasil kerjaku selama enam bulan itu, aku berjalan kaki di siang bolong dari Patangpuluhan menuju belakang Pasar Terban di jalan C. Simanjutak, sambil bermenung-menung di bawah terik matahari. Sepanjang jalan tidak ada yang menarik perhatianku kecuali sebuah warung mie ayam yang aroma masakannya menggiring aku memasuki warung itu untuk mengisi bahan bakar meneruskan perjalanan yang lumayan jauh. Itulah pengalaman pertamaku gajian sebagai penerjemah!  

Dua puluh tahun telah berlalu sejak pengalaman itu, 80-an buku sudah kuterjemahkan, dan 70-an sudah terbit, dan aku bolehlah dikatakan sebagai penerjemah ‘sungguhan’ tetapi bukan ‘profesional’ jika yang dimaksud kata yang belakangan menyangkut penghasilan yang memadai: setelah 20 tahunan menerjemah, aku tidak bisa mengandalkan profesiku untuk menghidupi keluarga kecil dengan 2 anak yang masih kecil.

Namun mengapa aku masih menerjemah? Mungkin ini soal klangenan atau impian yang selalu membandel untuk ikut meramaikan alih pengetahuan dari sumber-sumber berbahasa Inggris ke dalam bahasa ibu negeri kita, dengan harapan menyumbang bagi pertumbuhan dan dinamika pengetahuan di negeri ini. Dengan menerjemah, aku berkesempatan terus-menerus belajar sambil mendapat penghasilan atau dengan ucapan Yogya: sinau nalika nggawe dhuwit

Disampaikan oleh Saut Pasaribu dalam acara Bincang-Bincang Sastra edisi 155 bertajuk Ruang-ruang Sunyi: Tentang Seni Menyulih Bahasa, yang diselenggarakan Studio Pertunjukan Sastra, Sabtu, 25 Agustus 2018 di Ruang Sutan Takdir Alisjahbana, Balai Bahasa Yogyakarta.

Foto diambil dari dokumentasi Studio Pertunjukan Sastra

Pendapat Anda: