[Ngibul #56] Puitika Yoga Sastra Ragil Suwarna Pragolapati

Posted: 12 March 2018 by Asef Saeful Anwar

Ada dua penyair yang hilang hingga saat ini, yakni Wiji Thukul dan Ragil Suwarna Pragolapati. Wiji hilang saat masa reformasi, sementara Ragil hilang saat kemerdekaan Indonesia berumur 50 tahun. Wiji diperkirakan menjadi korban penculikan, sementara Ragil dipercaya moksa di laut kidul dalam sebuah laku yoga sastra. Mengingat riwayat dan karya Wiji telah banyak diulas, tulisan ini akan mengulik Ragil, itu pun sebatas pada sumbangan pemikirannya.

Setakat ini pembicaraan mengenai Ragil Suwarna Pragolapati masih berkitar tentang (1) perannya sebagai dokumentator yang tekun sehingga kisah-kisah orang semasanya tentang kehebatan masa lalu dapat dibuktikan, apalagi bila itu berkaitan dengan Persada Studi Klub—komunitas sastra yang telah melahirkan sejumlah sastrawan, (2) kerja kerasnya bertungkus lumus dalam membina penyair/penulis muda, terutama ketika Umbu Landu Paranggi meninggalkan Yogyakarta, dan (3) peristiwa gaibnya di Pantai Selatan pada 15 Oktober 1990. Tulisan ini akan menguraikan secara singkat mengenai salah satu sumbangan pemikirannya untuk sastra Indonesia, yakni konsep puitika yoga sastra, dari maksud yang hendak disampaikannya hingga mengapa konsep ini seperti tidak diterima dalam arena sastra Indonesia.

Dalam buku Salam Penyair (Bentang Budaya, 2002) ia menyatakan bahwa sastra Indonesia merupakan “anak durhaka” yang berkiblat pada sastra Barat yang mempertajam spesialisasi, alienasi, aliran, bahkan memisahkan sastrawan dan kritikus. Ia dengan keras dan berulang-ulang mengkritik gagasan sastra yang dibangun alam pikiran Barat. Baginya, itu tidak cocok diterapkan dalam sastra Indonesia yang memiliki sejarah dan kekhasan tersendiri. Ia berusaha menghilangkan pengkotak-kotakkan yang dilakukan ilmu sastra Barat yang dampaknya terlihat dalam sejumlah karya anak bangsa. Karya sastra Indonesia pun menjadi pengekor karya sastra Barat.

Oleh karena itu, sastra Indonesia, menurutnya, perlu bertaubat dan diruwat. Salah satu metode pertaubatan dan peruwatan tersebut adalah melalui puitika yoga sastra. Puitika ini menggabungkan agama, yoga, dan sastra dalam konsep triloka. Dalam pandangannya puitika yoga sastra tidak kenal spesialisasi, alienasi, pemisahan aliran, dan pemisahan fungsionalisasi diri sehingga teori dan praktik disatukan, ilmu dan seni dimanunggalkan, sastrawan dan kritikus maujud dalam satu diri sekaligus. Baginya, tak ada lagi pembedaan genre sastra sehingga dalam prosa dapat saja mengandung puitika dan lirika. Sebaliknya, dalam puisi dapat saja mengandung prosa.

Jejak gagasan tersebut dapat ditelusur dalam sejumlah sajak Ragil sebelum dia (meng-)hilang. Sajak-sajak itu tidak terlihat laiknya sajak pada umumnya dari segi diksi, rima, tipografi, enjambement, dan lain sebagainya. Bahkan, beberapa di antaranya terbaca seperti cerita pendek dengan dua sampai tiga halaman. Dengan bentuk yang plastis macam itu, ia menentang formalitas karya, yang mengarah pada bentuk, yang kerap memenjarakan gagasan seorang pengarang.

Ketika formalitas itu telah “dirusak”, maka sajak-sajak menjadi bebas berkata tentang apa pun tanpa batasan diksi (sehingga muncul kata-kata seperti “mazzz”, “sexualita”, “sinkresi harmoni”, atau “brigade cewek”), tanpa batasan rima (sehingga sajaknya lentur tanpa ada pemaksaan bunyi yang sama), dan tanpa batasan tipografi (sehingga bentuknya mengikuti isi yang hendak disampaikan, bukan sebaliknya). Yoga sastra, dengan demikian, amat memuliakan isi daripada bentuk. Maka, isi dari sajak-sajak Ragil umumnya kritik tentang ketidakadilan sosial. Sajak-sajak tersebut kerap diberi judul nama tempat, dan isinya merupakan sebuah impresi dari perjalanan penulisnya di tempat tersebut. Dalam sajak-sajaknya, Ragil menyebut dirinya sebagai yogawan dalam sudut pandang orang kedua atau ketiga—sebuah usaha penjarakan dengan karya. Sang yogawan melihat lingkungan sekitar lalu menunjukkan permenungan atau aksi terhadap keadaaan lingkungan itu.

Dari segi gagasan, puitika yoga sastra ini sejatinya mengandung potensi untuk turut mewarnai khazanah sastra Indonesia dekade 1980-an. Namun, gaungnya masih kalah oleh puisi mantra, puisi balada, puisi mbeling, dan puisi lirik yang telah riuh sebelumnya. Ada beberapa sebab mengapa konsep ini tampak kalah dalam bersaing di arena sastra Indonesia. Pertama, konsep puitikanya dibangun dengan semangat penentangan yang tinggi, tetapi lemah dari segi landasan gagasan. Hal ini berkaitan dengan semangatnya untuk menghilangkan formalitas karya sehingga dengan sengaja Ragil tidak merumuskan bentuk bagi karyanya. Sebagaimana diketahui, jenis-jenis puisi yang ditentangnya selalu dibangun dalam rumusan bentuk, dengan ide di baliknya, sementara puitika yoga sastra amat mengagungkan isi.

Selain itu, dari literatur yang ada, Ragil pun tidak menjelaskan secara sederhana apakah yoga sastra itu medium untuk menulis karya sastra, atau menjadikan karya sastra sebagai medium dalam beryoga, atau kedua-duanya sekaligus. Apabila dilihat dari kredo dan sajak-sajaknya, tampaknya yoga sastra adalah salah satu medium pengarang untuk menulis karya sastra. Sebagai medium, ia tidak harus mewujud dalam tulisan. Sebab, bisa saja seseorang menggunakan yoga sebagai jalan menulis karya sastra, tetapi hasilnya tidak seperti sajak-sajak milik Ragil.

Kedua, Ragil menulis kredo puitika yoga sastra berikut sajak-sajaknya setelah sempat menjadi pengagum sastrawan-sastrawan sebelumnya, semisal Chairil Anwar, yang justru ia kritik karena melahirkan banyak epigon. Sejatinya, hal ini merupakan bagian dari kesadaran Ragil yang patut diterima sebagai bagian dari “pertaubatannya”. Maka, kita dapat melihat dengan jelas perbedaan sajak-sajaknya yang dimuat di koran Pelopor Yogya, antologi puisi Tugu dan Tonggak dengan sajak-sajak terakhirnya dalam Salam Penyair. Namun, arena sastra Indonesia lebih menerima seseorang yang baru dengan gagasan yang baru meskipun pada akhirnya seseorang itu meninggalkan gagasannya, bukan sebaliknya. Sutardji Calzoum Bachri dapat menjadi contoh bagaimana ia hadir sebagai orang baru dengan gagasan baru dalam sastra Indonesia melalui puisi mantranya yang kemudian hari ia menulis puisi dengan tidak lagi sepenuhnya mematuhi kredonya tentang pembebasan kata dari maknanya.

Ketiga, jaringan media massa yang ada saat itu tidak menerima dengan baik karya-karya dengan konsep jenis ini. Karya dan kredo puisi Ragil baru sampai kepada publik sastra secara luas setelah diterbitkan Bentang Pustaka jauh tahun setelahnya. Ketika sampai pada publik pun karya ini tidak mendapatkan apresiasi yang cukup baik selain dikenang sebagai peninggalan terakhirnya, selain sebagai dokumentasi karya. Meskipun gagasan yoga sastra telah diintegrasikan dalam Studiklub Yoga Sastra (SYS) yang didirikannya pada 1985, ternyata tidak banyak atau malah belum ada anggota studiklub tersebut yang meneruskan konsep puitika ini dalam berkarya. Para anak didik dan sejumlah nama yang kemudian menjadi penyair berkat kerja kerasnya pun lebih memilih untuk mengenang cara dia dalam membina kepenulisan daripada meneladani konsep puitikanya dan menyebarluaskannya.

Kembali kepada gagasan dasar yoga sastra yang menentang segala jenis alienasi dan spesifikasi, sejatinya hal itu justru telah diamalkan oleh dua karibnya dalam Persada Studi Klub, yakni Linus Suryadi AG dan Emha Ainun Nadjib. Dengan Pengakuan Pariyem, Linus menerobos bentuk formal novel hingga kemudian muncul sebutan novel lirik atau prosa lirik—ketika saat itu lirik identik dengan puisi. Karya ini juga tidak dapat dikatakan sepenuhnya sastra Indonesia karena bangunannya disusun dalam kaidah sastra Jawa dan banyaknya kata dan struktur kalimat bahasa Jawa. Dalam buku itu, bentuk formal novel dan puisi dibenturkan, kaidah sastra Indonesia dan sastra Jawa dijalinkan. Sementara itu, Emha menentang spesifikasi dan alienasi itu dalam pekerjaan yang kini dijalaninya yang tidak dapat disebut dalam profesi tertentu sehingga banyak predikat dilekatkan oleh masyarakat kepadanya: budayawan, kiai, penyair, esais, dan lain-lain.

Ragil setia pada konsep puitikanya hingga (meng-)hilang saat melakukan olah yoga sastra di Pantai Selatan. Konon, ketika itu ia duduk di atas batu yang kerap diduduki Panembahan Senopati ketika menghadap Ratu Kidul. Di sana ia seolah tengah memenuhi panggilan yang pernah muncul dalam salah satu sajaknya: “Istirahatlah, Santriku. Aku Parangkusuma lokasi pesantren Yogamu tanpa gedung dan wujud. Bersuakalah padaku….”.

Adakah kini ia masih bersuaka di sana?***

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: https://kibul.in/cara-berkontribusi

Pendapat Anda: