[Ngibul #99] Dari Ekas ke Pantai Pink

Beberapa hari yang lalu, Sigma, sahabat saya sejak jaman SMP yang sekarang tinggal di Bali, datang ke Lombok. Menurut jadwal, dia akan tiba di Lombok International Airport (LIA) pukul 11 pagi, tapi sampai pukul 11.30 saya yang sudah menunggu di LIA belum bisa menghubunginya. Saya baru mendapat kabar darinya kalau dia baru mendarat pada pukul 12 tepat. Terlambat satu jam dari jadwal.

Dalam perjalanan menuju penginapan di daerah Ekas, Sigma menceritakan bagaimana penerbangannya dari Bali sungguh mencekam karena kondisi cuaca yang buruk. Pesawat cukup lama berputar-putar di atas LIA karena tidak dapat mendarat, turbulensi terasa begitu keras, apalagi dia menggunakan pesawat Boeing 737 MAX 8, jenis pesawat yang pernah jatuh di Teluk Karawang pada Oktober 2018 lalu. Saya yang pada dasarnya memiliki rasa takut naik pesawat tidak mampu membayangkan betapa menakutkan berada dalam kondisi yang dialami Sigma.

Pilihan tempat menginap Sigma agak unik. Dia memilih menginap di bagian selatan Pulau Lombok, tempat yang agak susah dijangkau. Satu-satunya cara untuk ke Ekas adalah dengan menyewa kendaraan atau menggunakan kendaraan dari agen travel. Tidak ada transportasi umum.

Memang, pemandangan saat akan memasuki Ekas sangat indah. Kita dapat melihat hamparan laut dengan beberapa kapal nelayan berlatar belakang perbukitan yang indah. Selain itu, kita juga dapat melihat kebun jagung yang terhampar rapi, mengingatkan saya pada beberapa bagian dalam film Interstellar. Tapi, jalan yang harus kami tempuh sangat buruk. Jalan aspal berlubang di sana sini dan meski tidak panjang ada yang masih berupa tanah berbatu. Hampir tidak ada sumber penerangan di jalan, ketika malam hari saya pulang, saya bersyukur hujan tidak turun karena pasti akan memperburuk jarak pandang saya yang pada dasarnya sudah tidak terlalu bagus.

“Tempatnya bagus juga ya Dan,” kata Sigma beberapa saat setelah kami tiba di penginapan.

“Bagus gimana Sig? Tempat kayak gini pasti banyak di Bali”

“Ya bagus suasananya, pemandangannya indah tapi sepi. Cocok untuk menyepi dan merenung. Di Bali tidak ada tempat sebagus ini yang sesepi ini”

Saya hanya mengangguk dan tersenyum mendengar jawaban Sigma. Mungkin jawabannya hanya untuk menghibur dirinya sendiri yang sudah kecapaian. Mungkin juga itu jawaban yang jujur, entahlah. Kalau dipikir, memang wajar kalau di Bali tidak ada lagi tempat yang sepi. Pulau Bali memiliki luas wilayah 5.780 kilometer persegi, dengan jumlah penduduk ber-KTP sekitar empat jutaan jiwa. Penduduk tidak ber-KTP sekitar enam jutaan jiwa. Sedangkan di Lombok, pulau dengan luas wilayah 4.514 kilometer persegi, memiliki jumlah penduduk ber-KTP sekitar tiga jutaan jiwa, dan penduduk tidak ber-KTP tidak sampai satu juta jiwa.

Esoknya, kami pergi ke Pantai Pink. Pantai yang terkenal karena memiliki pasir berwarna merah muda itu letaknya memang tidak terlalu jauh dari Ekas, hanya sekitar 22 kilometer. Meski begitu, kami membutuhkan waktu sekitar satu setengah jam untuk dapat sampai di Pantai Pink. Jalan tanah bergelombang dan berbatu membuat kami harus sangat berhati-hati dalam mengendarai kendaraan. Ketika pulang, kami membutuhkan waktu lebih lama, sekitar dua setengah jam karena saat itu turun hujan sehingga jalan tanah berubah menjadi lumpur yang licin. Jalan yang lebih susah dilalui membuat kami lebih berhati-hati, radar kewaspadaan kami meningkat pesat, kecepatan kendaraan kami jauh menurun.

Untuk mencapai Pantai Pink, kami harus melewati Hutan Sekaroh, sebenarnya Pantai Pink sendiri masih merupakan wilayah Hutan Sekaroh. Dulu, sekitar tahun 1996, paman saya pernah tinggal di dalam Hutan Sekaroh. Saat itu dia bekerja untuk menjaga hutan. Seingat saya, paman tidak lama di sana, dia kemudian pulang ke rumah orang tua saya di Selong, kemudian kembali ke Jawa. Ketika melewati Hutan Sekaroh, saya menduga paman tidak betah tinggal di sana. Sekarang, di tahun 2019 saja, suasana di dalam hutan masih sangat angker, apalagi dulu. Meski begitu, di sana sudah ada satu penginapan yang cukup eksklusif. Jalan menuju penginapan ditutup oleh portal yang dijaga oleh beberapa orang petugas jaga. Hanya tamu penginapan yang dapat melalui ke jalan itu. Dari beberapa info yang saya dapatkan, butuh merogoh kocek berjuta-juta untuk dapat menginap semalam di penginapan tersebut. Wajar kalau kemudian tidak banyak wisatawan lokal yang menginap di sana.

Sebenarnya ini bukan pertama kalinya saya datang ke Pantai Pink. Beberapa bulan yang lalu, saya pernah datang bersama rombongan fotografer. Kebetulan saat itu Dinas Pariwisata Lombok Timur mengadakan lomba fotografi dalam rangka memajukan pariwisata Lombok Timur. Dalam lomba fotografi itu, para fotografer memotret model dengan berlatar belakang keindahan Pantai Pink. Saat itu sedang musim kemarau, jalanan kering, pohon banyak yang meranggas, rerumputan di bukit di atas pantai kering, tapi Pantai Pink tetap cantik. Saya tidak tahu bagaimana cara kerja Dinas Pariwisata Lombok Timur, tetapi dengan sebegitu terkenalnya Pantai Pink dan tetap dikunjungi oleh wisatawan meski akses jalan sangat buruk, tidak ada transportasi umum yang mudah dijangkau, dan minimnya fasilitas umum, saya pikir Dinas Pariwisata sudah bekerja dengan efektif.

Untuk masuk ke wilayah Pantai Pink, saya harus membayar sepuluh ribu rupiah per orang. Sebelum membayar, portal tidak akan terbuka. Jalan masuknya tidak terlalu panjang memang, kurang lebih 300 meter, tapi di sisi kanan kiri jalan terdapat banyak tumbuhan semak yang menghalangi pandangan. Di sisi kiri tebing, di sisi kanan jurang, jalan curam yang hanya dapat dilewati satu mobil dan satu sepeda motor beriringan, pesan saya, banyak-banyaklah berdoa saat melalui jalan ini.

Di pantai pink, saya melihat banyak wisatawan asing yang sedang menikmati suasana. Di warung tempat saya minum air kelapa muda, kalau tidak salah duga, ada banyak wisatawan dari Tiongkok. Beberapa wisatawan lain berasal dari Korea dan Rusia. Dugaan saya muncul setelah saya mendengar bahasa yang mereka gunakan dalam berkomunikasi, mohon maaf jika dugaan saya salah.

Joss tenan iki. Temen-temenku yang mau ke Lombok bakal tak rekomendasikan ke sini,” tiba-tiba Sigma berkata seperti itu dalam perjalanan kami pulang.

Lha ngopo?

“Mereka pasti bakal terkesan dengan perjalanannya. Lost in the island!”

Saya duga strategi menjebak merupakan pilihan yang dipakai oleh tim marketing Pantai Pink. Umpannya Pantai Pink, jebakannya jalanan yang jelek dengan fasilitas umum yang minim. Sedangkan yang menyebar jebakan adalah mereka yang pernah memakan umpan dan terkena jebakan. Ini hanya dugaan lho, itu juga kalau tim marketing-nya ada, tidak perlu ditanggapi serius, santai aja, kayak di Pantai Pink.

“Lha kamu, kalau ke Lombok lagi, mau ke Pantai Pink lagi?” tanyaku.

“Ya jelas, aku ke Gili wae, wes karuan,” kata Sigma sambil tertawa.

Woo gembus!

Danu Saputra

Danu Saputra

Teman yang baik. Suka kopi, kretek, dangdut koplo, dan gemar memotret. Menerima undangan makan-makan dan ngopi.

Bagikan tulisan ini

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Tulisan Terkait