[Ngibul #94] Tidak Tahu ≠ Goblok

Posted: 7 January 2019 by Asef Saeful Anwar

“…guoblok tenan!” Itu ekor kalimat yang sempat nyambar telinga Dul Kibul ketika akan duduk di bangku panjang warung burjo Kabita di depan kosnya.

“Siapa yang goblok?” timpalnya sebelum meminta Aa Ujang mengambilkan piring.

“Itu lho, mosok  wudlu dari air segayung ngono kuwi.” sela Lik Narto, menghisap rokok seven-six-nya, menghembuskan asapnya, dan memperlihatkan video yang barusan dilihatnya di ponsel.

“Siapa itu?” tanya Dul Kibul.

 “Itu cawapres lho…” Aa Ujang menyambut sambil menyerahkan piring pada Dul Kibul.  

Masak sih ada cawapres goblok?” Dul Kibul bertanya, tapi matanya mengarah pada nasi yang tengah dikeluarkannya dari kantong kresek ke atas piring.

“Kamu pasti belum tahu juga tingkah lainnya ya?” Lik Narto menyela sambil mematikan api rokoknya di asbak.

“Kenapa harus tahu?” Dul Kibul menyambar botol saus, menggoyangkannya ke arah tepi piringnya.

“Kapan kamu bisa gemuk kalau makan cuma kitu-kitu wae?” sela Aa Ujang sambil mengambilkan air putih untuknya. Dul Kibul tak menjawab. Lik Narto memperhatikan betapa kurus lelaki gundul di sampingnya, seperti tulang dibalut kulit, tanpa daging. Dia baru sadar meskipun sering ketemu pada malam Minggu di pos ronda karena jadwal yang sama.

“Gemuk dan tidak gemuk itu urusan Tuhan. Yang penting masih bisa makan tanpa minta-minta itu sudah berkah.”

Emangnya kamu tidak minta saus?” Aa Ujang menaruh segelas air putih di samping piring Dul Kibul.

“Saus ini kan hakku karena aku beli gorengan di sini,” jawabnya setelah mencomot bakwan.

“Halah, modal kamu cuma seribu,” sergah Aa Ujang yang terpaksa maklum dengan kebiasaan Dul Kibul. Bila dalam sebulan dirata-rata, tidak sampai 3 kali makan berlauk telur atau sarden. Selebihnya setiap hari bawa nasi sendiri dan hanya bayar satau atau dua gorengan. Meski begitu Aa Ujang tidak merasa dirugikan sebab Dul Kibul sering menemaninya begadang dengan cerita-cerita asyik, dari yang lucu, konspiratif, jorok, cerita horor, sampai prediksi hasil dan analisis pertandingan sepakbola yang sering tepat.

Barangkali uang seribu itu malah bukan modalnya, modal Dul Kibul ya lidahnya yang pintar menghibur itu. Termasuk ketika ia mengatakan kalau Aa Ujang mirip dengan Charlie ST12 pada malam-malam ketika Dul Kibul memainkan gitar sementara si Aa menyanyikan lagu-lagu pop melayu.

“Perkara makananku nggak usah dibahas. Yang masalah wudlu itu gimana, Lik?” tanyanya setelah menelan kunyahan nasi.

“Kamu makan dulu, ngobrolnya nanti. Biar kamu benar-benar jadi mahasiswa ber-adab,tidak cuma kuliah di Fakultas Adab,” saran Lik Narto, yang kembali mengambil bungkus rokok dari sakunya. Tinggal sebatang, dan ia menyalakannya sambil menunggu Dul Kibul selesai makan. Sementara Aa Ujang mengaduk-aduk santan burjo yang tengah dihangatkan.

Ketika piring Dul Kibul hanya menyisakan garis bekas saus dicocol, dan air di gelas telah diminum tiga perempat, ia kembali bertanya: “Jadi, siapa yang goblok?”

“Iya orang itu, yang ada dalam video.”

“Kenapa bisa begitu?”

“Ya, masak masalah wudlu saja nggak ngerti.”

“Memang kalau nggak ngerti itu bodoh? Kalau nggak tahu itu goblok?”

“Ya nggak juga, tapi ini masalah paling dasar. Anak kecil aja tahu.”

“Tapi nggak bisa begitu, Lik. Anak kecil tidak bisa dijadikan standar. Masing-masing orang kan dididik berbeda. Barangkali waktu kecil dia belum sempat diajari bab wudlu dengan baik.”

“Jadi goblok kan?”

“Jangan begitu lah… Kalau Lik Narto nggak tahu bahasa Sundanya “pisang”, apakah disebut goblok? Kalau Aa Ujang tidak tahu bahasa Jawanya “kelapa”, apakah dia goblok?”

“Ini bukan masalah bahasa, Bul. Ini masalah agama.”

“Nah karena masalah agama itu makanya aku berani mendebat. Tidak boleh lah menggoblok-goblokkan sesama.”

“Tapi ini sudah keterlaluan.”

“Memangnya yang bersangkutan sudah diberi tahu tentang cara wudlu yang benar?”

“Ya nggak tahu, tapi kemarin pernah dia melangkahi makam seorang kiai.”

“Apa dia juga sudah diberi tahu tentang adab ziarah kubur lalu mengulangi kesalahan?”

“Itu juga aku tidak tahu.”

“Berarti Lik Narto yang goblok.”

“Lho kok dadi aku?”

“Kan banyak nggak tahunya… Begini lho, Lik, keterlaluan itu kalau sudah diingatkan tapi mengulangi kesalahan berkali-kali. Kalau belum tahu ya wajar.”

“Kayaknya kamu mendukung cawapres itu ya?”

“Aku tidak mendukung siapa-siapa. Intinya siapa pun yang salah ya wajib diingatkan. Bukan digoblok-goblokkan. Lik Narto tahu nggak kenapa wudlu dalam air segayung tidak sah?”

Nggak tahu. Yang jelas dulu diajarkan kalau wudlu sebaiknya menggunakan air yang mengalir atau air dalam kolah ukuran besar.”

“Nah ini aneh. Lik Narto memang benar kalau wudlu itu nggak sah, tapi sebabnya salah. Lik Narto tahu jenis-jenis air?”

“Air hujan, air mineral, air minum.”

Mendadak Dul Kibul tertawa terbahak-bahak. Aa Ujang kaget dan heran, apalagi Lik Narto. Hampir lima menit, Dul Kibul baru berhenti tertawa dan meminta air putih lagi ke Aa Ujang. Sehabis menenggak beberapa tegukan, ia tidak menjelaskan mengapa tertawa, tapi bertanya lagi.

“Lik Narto tahu air mustakmal?”

“Apa itu?”

“Ternyata Lik Narto juga sama nggak tahunya dengan cawapres tadi.”

“Maksudnya?”

“Bingung aku menjelaskannya. Pokoknya begini saja, jika muncul masalah adab ziarah kubur, masalah wudlu, atau masalah sekitar agama Islam lainnya barangkali itu peringatan agar kita kembali belajar pada dasar-dasar agama Islam. Pada dasarnya masih banyak orang yang mengaku tahu ajaran Islam, tapi sejatinya belum tahu. Nah kalau belum tahu tapi dikiranya sudah tahu itu gawat. Sebab pengetahuan itu beriringan dengan pengamalan. Kalau orang tahunya sholat isya 3 rokaat, pasti dia akan sholat 3 rokaat.”

“Halah ini pasti karena kamu mendukung cawapres itu ya?”

“Kalau mendukung, aku harusnya lebih dulu tahu video itu daripada Lik Narto. Lha ini aku aja baru tahu.”

“Tapi kamu membelanya itu maksudnya apa?”

“Aku tidak membela. Aku cuma mengingatkan Lik Narto.”

“Ya kan benar. Harusnya cawapres itu yang diingatkan kok malah aku. Sekarang kamu mending jujur saja. Kamu mendukung siapa?”

“Aku tidak mendukung siapa-siapa, Lik.”

“Anak muda kok golput.”

“Tidak mendukung kan bukan berarti tidak memilih, Lik.”

“Lha ya nanti mau milih siapa?”

“Ndak tahu, Lik. Tahu cawapres itu saja baru sekarang. Siapa capresnya saja belum tahu.”

Tiba-tiba Aa Ujang yang menyela: “Dul Kibul itu nggak tahu apa-apa, Lik, apalagi tentang pilpres. Kalau ke burjo ini saja dia minta tipi dimatikan, kecuali bola.”

Ya wis ah, aku tak ndisiki ya.” jawab Lik Narto.

Monggo, Lik.”

Tak lama setelah Lik Narto pergi, Marbakat datang.

“Bul, sudah makan?” tanya Marbakat

“Sudah.”

“Padahal aku mau traktir lho.”

“Belum rezekiku.”

“Ada apa eh kethoke lesu tenan?”

“Aku pesan soda gembira aja boleh?”

“Boleh saja asal langsung gembira lho ya.”

“Makanya itu aku pesan minuman itu.”

Mbok cerita. Ada apa toh?”

Dul Kibul pun bercerita tentang obrolannya dengan Lik Narto tadi sementara Aa Ujang meracik soda gembira.

“Beneran seperti itu?” Marbakat menyangsikan.

“Tanya saja Aa Ujang kalau nggak percaya. Dia saksinya.” Aa Ujang yang menyuguhkan soda gembira mengangguk, membenarkan.

“Soalnya ada yang mengganjal dari ceritamu. Dan aku yakin itu fiktif.”

“Soal apa?” tanya Dul Kibul setelah tiga tegukan soda gembira.

“Pendapat-pendapatmu terlihat cerdas eh. Nggak mungkin itu pikiran kamu. Pasti ngarang.”

“Bajingan. Kamu boleh nraktir aku, tapi tidak lantas boleh ngenyek gitu lho ya.”

“Sorry, sorry…. Aku cuma heran kok kamu bisa lesu hanya gara-gara masalah itu. Itu masalah yang sudah biasa lho, Bul.”

“Biasa katamu?”

“Makanya jangan keluar kamar cuma di Burjo. Aktifkan juga media sosialmu biar kamu bisa mengikuti berita. Sudah banyak pertengkaran karena soal itu. Sudah banyak pertemanan, persahabatan, bahkan persaudaraan rusak karena soal pilpres.”

“Kalau seperti itu terus-terusan negara ini bisa bubar.”

“Ternyata benar kata Lik Narto, kamu mendukung salah satu capres.”

“Jangan asal nuduh.”

“Itu kata-katamu persis seperti salah satu capres.”

“Astaga, yang benar? Tapi benar lho ya kalau bertengkar seperti itu terus, negara ini bisa punah.”

“Benar-benar kamu ya.”

“Astaghfirullah…. masih salah lagi?”

“Iya itu masih sama.”

“Ya Owloh… Intinya, biar Indonesia nggak bubar, biar Indonesia nggak punah, make Indonesia great again!”

“Kacau. Kamu memang pendukung capres itu.”

“Sudahlah nggak usah dibahas lagi.”

“Nah kan semakin menunjukkan karakter pendukung capres itu.”

“Astaghfirullah….pertemanan kita juga bisa bubar ini gara-gara pilpres.”

“Syukurlah kalau gitu….”

“Kok malah disyukuri?”

“Karena sekarang aku sudah bukan temanmu, itu soda gembira bayar sendiri ya.”

“Oalah… Semprul !!!”

Pendapat Anda: