Skip links

[Ngibul #89] Laba-laba Keturunan Ke-19 yang Mengilhami Puisi dalam AADC

Sungguh ini pagi yang bangsat bagi Dul Kibul. Ia dibangunkan seekor laba-laba besar hingga gagal ciumannya pada kening seorang gadis yang begitu asu dirindukannya. Kapan lagi bisa bermimpi seperti itu? Tidur saja sudah sulit, apalagi mimpi, apalagi mimpi bertemu gadis pujaan, apalagi mimpi mencium keningnya.

Dan sekarang, Dul Kibul kembali mengumpat karena laba-laba itu mengaku-ngaku sebagai keturunan ke-19 dari nenek moyangnya; si laba-laba belang penyulam jaring di tembok keraton putih, yang kemudian dilihat dan ditulis oleh seorang sineas—yang kebetulan tengah berdarma wisata—sebagai jaring yang disulam malaikat.

“Bayangkan,” kata laba-laba itu, “kalau moyangku yang sedang sakit taring tidak memaksakan diri membuat jaring, pasti si sineas tidak akan bisa membuat puisi itu dan tak akan ada film yang membuat kawan-kawanmu terobesi menjadi penyair.”

“Aku menonton filmnya,” kata Dul Kibul, “dan mengidolai salah satu tokohnya hingga terobsesi menjadi dirinya.”

“Rangga memang inspiratif.”

“Aku tidak suka Rangga. Tidak pula ingin jadi penyair.”

“Lalu kau suka siapa?”

“Aku lebih suka dengan Memet yang menghibur.”

“Duh Dewa Arthropoda… kamu bodoh memilih yang bodoh.”

“Tidak apa-apa. Aku lebih suka menjadi bodoh bila memang yang bodoh sepertiku lebih banyak bermanfaat bagi yang lain.”

“Bukan ‘bermanfaat’, melainkan ‘dimanfaatkan’.  Tidak ‘bagi’, tapi ‘oleh’. ”

“Apa laba-laba belajar ilmu bahasa?”

“Jelaslah… sekarang saja aku menggunakan bahasa primata. Tidak cuma itu, segala pengetahuan yang ada dalam buku-buku juga kami serap, makanya bangsamu menggolongkan kami sebagai hewan berbuku-buku.”

“Bangsamu mungkin pintar, tapi bagiku yang bodoh memang lebih banyak bermanfaat untuk yang lain daripada mereka yang pintar yang lebih banyak memikirkan keuntungan hanya bagi dirinya sendiri.”

“Jangan pukul rata begitu. Apa kamu kenal Ugthobam?”

“Siapa itu?”

“Kau tak mengenalnya? Padahal itu sudah ada dalam buku sejarah.”

“Jangan ngaco.”

“Ah ya aku lupa. Itu hanya ada dalam buku sejarah bangsa kami. Manusia belum mengenalnya. Ugthobam adalah salah satu nenek moyang kami yang pintar, penemu ‘Teknik Cepat Menjebak Banyak Serangga’. Karena kepintarannya, teknik yang ditemukannya seabad lampau itu sampai sekarang masih banyak bermanfaat bagi bangsa kami.”

“Seperti Edison untuk manusia. Tapi itu cuma satu dibanding seribu jumlahnya, setara jumlah eksperimennya.”

“Dan kamu lebih memilih termasuk yang 999?”

“Ya, bila yang 1 memang pintar.”

“Dan karena memilih jadi bodoh kamu lebih banyak memikirkan keuntungan untuk yang lain daripada untuk dirimu sendiri? Sampai kamarmu jarang kau bersihkan.”

“Wah, itu beda kasus. Kalau kamar jarang dibersihkan itu malas, bukan bodoh.”

“Malas adalah sumber kebodohan.”

“Itukan bagi orang yang ber-malas-malasan, bukan malas betulan, bukan yang bermalas dengan sesungguh-sungguhnya.”

“Maksudnya?”

“Aku sengaja malas, sesungguh-sungguhnya, agar kamu dan bangsamu hidup tentram di kamarku. Setidaknya kamu dapat membuat jaring yang besar-besar di sini tanpa aku ganggu.”

“Makanan di sini gemuk-gemuk. Aku suka itu.”

“Nah kan malah bermanfaat bagi kamu. Tapi, untuk apa pagi ini kau bangunkan aku?”

“Kau tidak memperhatkan jaring yang barusan kubuat?”

“Iya, hasilnya lumayan beraturan…”

“Kamu tidak sungguh-sungguh memperhatikannya. Lihatlah lebih cermat.”

Dul Kibul mengucek-ngucek mata, dan tertawa, bahkan terbahak ketika melihat bentuknya hampir menyerupai sesuatu yang baginya belum begitu sempurna.

“Kamu menertawakan hasil kerjaku?”

“Sesuatu yang lucu harus dihargai dengan tertawa bukan?”

“Tapi aku mengerjakannya dengan serius.”

“Tapi hasilnya memang lucu.”

“Setidaknya hargailah proses kerjaku.”

“Tapi kan yang aku lihat hanya hasil kerjamu.”

“Duh Dewa Arthropoda, selalu rumit ngobroldengan manusia.”

“Kamu harus berlatih lebih tekun lagi. Aku tahu kamu sedang berusaha membuat jaring berbentuk lambang cinta.”

Tuh kan kamu yang salah sangka… Bukan itu yang ingin aku buat, tapi…”

“Yang benar kamu ingin membuat itu?”

“Sumpah disambar sapu!”

“Astagalabalaba…”

“Minta maaflah pada ibumu, kamu telah menertawakan wujud dari mana engkau dilahirkan. Duh Dewa Arthropoda, ampunilah manusia penghuni kamar ini.”

Pendapat Anda: