[Ngibul #86] Uang 2 Milyar

Posted: 6 November 2018 by Danu Saputra

Wawan yang sedang senang hati karena telah menemukan cara menyeduh kopi yang menurutnya paling tepat menelepon Ari, mengajaknya berkumpul di rumah Hadid. Ari yang sedang senggang segera mengiyakan ajakan Wawan. Selain mereka bertiga sekarang sudah jarang berkumpul, Ari juga rupanya ingin berbagi pikiran yang sudah beberapa waktu belakangan ini mengganggunya.

Siang ini, ketiga orang yang sudah bersahabat sejak SMA itu berkumpul di gazebo, di belakang rumah Hadid. Gazebo itu terletak cukup tinggi, untuk mencapainya, ketiga sahabat itu harus menaiki sekitar 10 anak tangga yang dibuat dari kayu pohon kelapa. Gazebo tersebut memang dirancang sedemikian hingga sebagai tempat untuk mengawasi kandang ayam petelur milik Hadid. Di samping kandang ayam, terdapat beberapa pohon kelapa, dan di samping gazebo terdapat beberapa pohon avokad dan mangga. Buah dari pohon mangga ini lah yang menemani Wawan, Ari, dan Hadid bercakap-cakap. Tentu saja selain buah mangga ada juga air putih, beberapa kudapan, rokok kretek, serta kopi yang disajikan khusus oleh Wawan.

“Bagaimana Did kopinya? Enak kan?” tanya Wawan pada Hadid.

“Enak juga, lha aku cuma duduk trus kopi ada di depanku, bagaimana tidak enak?”

“Halah, jawabanmu itu ndak enak tau. Kalau menurutmu gimana Ri, enak kan?” Wawan ganti bertanya pada Ari.

“Biasa aja, sama-sama kopi hitam,” sahut Ari sekenanya.

“Dasar Kamu, lidah sachetan enggak bisa mbedain kopi enak atau enggak.”

“Loh kok malah nyalah-nyalahin lidahku, maksudmu apa?”

“Ya kamu itu, dikasi kopi enak, diseduh dengan baik, apa enggak bisa menghargai sedikit?”

“Lha memang ini rasanya sama aja sama kopi hitam yang lain, diseduhnya juga sama aja caranya. Aku lihat kamu nyeduh tadi.”

“Pasti beda rasanya dengan kopi yang lain, ini aku nyeduhnya sama persis dengan cara nyeduh kopinya Dul Kibul. Pasti lebih enak, pasti bisa menghadirkan gagasan-gagasan cemerlang.”

“Ndak urus! Mau diseduh pakai cara Dul Kibul, Pendhoza, Via Vallen, atau Fahmi Shahab, kopi ya kopi. Sama aja, yang penting itu kamu ngopinya sama siapa?”

Ketika kedua sahabatnya beradu mulut, Hadid menyalakan lagi rokok kreteknya, kebal-kebul sambil nyeruput kopi.

“Sudah lah Wan, aku ini bukan spesialis pencicip kopi. Jadi aku ndak begitu paham rasa kopi, kamu ndak perlu nanya ke aku. Yang penting aku bisa ngopi sambil ngerokok, sudah senang.”

Wawan terdiam sebentar, kemudian melanjutkan kalimatnya, “Sebenarnya aku ini mau berbagi pikiran sama kalian,” Ari berbicara sambil melihat Hadid dan Wawan.

“Ya dibagi sajalah Ri,” kata Hadid sambil mengunyah mangga dan melihat kandang ayam.

“Kamu ada masalah apa Ri?”

“Sebenarnya bukan masalah besar Wan. Begini, beberapa waktu belakangan ini aku kepikiran kalau misalnya dapat duit 2 milyar, mau dibuat apa uang sebanyak itu?”

“Memangnya kamu punya duit segitu Ri?”

“Ya belum, tapi kan semua harus disiapkan dulu Wan.”

Ari berhenti sebentar, menyalakan rokok, menyeruput kopi, lalu mengunyah kudapan. Wawan juga menyalakan rokok, lalu mulai berpikir tentang uang 2 milyar.

“Sebenarnya sudah aku pikirkan Wan, semua duitnya aku pakai usaha. Masalahnya, usaha apa yang tepat? Mau bikin rumah kost, kok balik modalnya lama banget. Dibikin warung kopi, aku ndak yakin bisa bertahan lama, banyak pesaingnya. Untuk usaha, duit 2 milyar kok masih kurang rasanya. Kira-kira usaha apa ya yang ndak ada resikonya?”

“Nah, itu masalahmu Ri, aku tahu. Dari awal kamu melakukan masalah fatal, semua uang kamu pakai usaha, harusnya ada yang kamu simpan, dan ada yang kamu sumbangkan sebagai amal, sedekah.”

Wawan mulai bersemangat, dia menyeruput kopi lagi lalu menghisap rokok kreteknya dalam-salam sebelum pelan-pelan menghembuskannya.

“Begini Ri, kalau aku sih. Dari 2 milyar itu, aku sumbangkan 1 milyar. Sisanya yang 500 juta, aku pakai untuk pegangan, uang jaga-jaga. Sisanya yang 500 juta, aku pakai usaha. Jenis usahanya bebas, apa saja, aku yakin berhasil. Dengan cara ini, aku yakin mimin risiko, soalnya aku sudah nyumbang 1 milyar dan aku yakin uang 1 milyar itu akan kembali ke aku berlipat-lipat jumlahnya. Aku pernah dengar seorang ustadz bilang kalau uang yang sumbangin nanti bakal balik berkali-kali lipat. Aku percaya itu dan aku yakin tidak akan rugi.”

“Kalau aku, semuanya aku sumbangin, aku sedekahin.”

“Loh uangmu habis semua dong Did?”

“Iya Did, masa depanmu nanti bagaimana? Kamu harus pikirin itu juga. Ndak gitu caranya sedekah Did. Harus ada yang disimpan, dipakai usaha.”

“Tenang Wan, Ri, kalau nanti butuh uang untuk usaha ya tinggal menghayal lagi dapet duit 2 milyar, persis kayak kalian sekarang ini.”

Pendapat Anda: