[Ngibul #85] Memaknai Relasi Prancis-Afrika melalui (Pen)Dongeng

Posted: 30 October 2018 by Bagus Panuntun

Abd Al Malik, seorang rapper, penulis, sekaligus sutradara Prancis keturunan Kongo, dalam bukunya Qu’Allah bénisse la France (2007) pernah berujar jika Prancis diibaratkan sebagai sebuah teater, maka orang-orang Afrika adalah figuran di dalamnya. Sebagai figuran, orang-orang Afrika bukan sekadar tak mampu menggerakkan cerita, namun sekaligus berada di kasta terendah dalam “teater kehidupan” Prancis.

Perandaian tersebut nampaknya ia tandaskan untuk mewakili situasi sosial yang dialami warga keturunan Afrika di Prancis saat ini. Dibanding pendatang lain yang  berasal dari Eropa, Asia, atau Amerika, orang-orang Afrika adalah kelompok yang paling sering mendapat tekanan dari masyarakat Prancis. Mereka tak bisa lepas dari stereotip negatif seperti kelompok terbelakang, pelaku pencopetan-pemerkosaan, hingga penyebar berbagai paham radikal. Oleh sebab stereotip tersebut, para keturunan Afrika hitam pun hampir selalu dianggap sebagai kelompok penuh mudarat bagi si “tuan rumah”.

Membincangkan imigran Afrika di Prancis, membuat saya mengingat salah satu film dokumenter yang tahun lalu saya tonton di Festival Film Dokumenter Yogyakarya berjudul Conter Sa Vie (2015). Film berdurasi 30 menit garapan Héloïse Dériaz, mahasiswi Antropologi asal Swiss ini, berkisah tentang Catherine, seorang perempuan asal Afrika Sub-Sahara/Afrika Hitam yang berprofesi sebagai pendongeng dan tinggal di Prancis.

Film ini bagi saya cukup berkesan karena seperti mengajak kita mempertanyakan kembali anggapan tentang imigran Afrika yang melulu negatif, mala, beban bagi Prancis.

Dalam film tersebut, Catherine dihadirkan sebagai sosok yang terbiasa diundang ke berbagai sekolah dan institusi untuk menceritakan kisah-kisah khayali dari Afrika kepada bocah-bocah Prancis. Namun, Catherine tak sekadar menganggap dongeng sebagai sumber mata pencaharian. Baginya, dongeng adalah jalan hidup. Ia percaya dongeng adalah hal yang dibutuhkan manusia karena ujarnya “la conte c’est magique, la conte c’est humaniste”. “Dongeng itu magis, dongeng itu humanis”. Berpijak dari keyakinannya tersebut, ia pun berkenan mendongeng untuk siapa saja. Termasuk di sebuah sekolah dasar yang semua muridnya bocah kulit putih.

Conter Sa Vie seperti menghadirkan Catherine sebagai penanda simbolik yang menunjukkan bahwa Afrika nyatanya masih berfaedah bagi Prancis. Melalui film ini, kita akan melihat Catherine yang  seringkali diundang ke suatu sekolah untuk mendongeng, dan dari dongeng-dongengnya lah diharapkan terbentuk karakter positif bagi generasi baru Prancis.

Kisah Catherine sebenarnya menarik sekaligus menggelitik jika dikaitkan dengan konteks relasi Prancis-Afrika hari ini. Salah satu wacana yang kerap muncul tentang mengapa Prancis kurang menyukai para imigran  adalah karena imigran mempunyai budaya berbeda yang berbanding terbalik dengan budaya mereka. Budaya Afrika tak pernah bisa lepas dari sesuatu yang dianggap kuno: mitos, dongeng, sihir. Sementara Prancis justru dikenal sebagai negara yang sangat kekeuh dalam meyakini nilai-nilai modernitas. Bagi masyarakat Prancis, narasi ilmiah selalu punya tempat lebih tinggi dibanding narasi mitos. Dalam taraf yang lebih ekstrim, bahkan tak jarang orang Prancis mempercayai diktum modernitas: “percayalah hanya pada yang objektif dan empirik”.

Akan tetapi melalui film ini, kita tahu bahwa Prancis nyatanya masih membutuhkan dongeng-dongeng untuk mendidik generasi mereka. Dongeng-dongeng Afrika. Yang tak melulu objektif apalagi empirik, namun penuh mitos dan rapalan mantra.

Mengontruksi Identitas Afrika Hitam

Bagi sebagian orang, Conter Sa Vie mungkin hanya film biografi tentang Catherine dan kesehariannya sebagai pendongeng. Namun, bagi saya Conter Sa Vie adalah film yang menghadirkan Catherine sebagai subjek yang tengah bersikap terhadap isu identitas. Terutama tentang isu relasi Prancis-Afrika. Sikap tersebut hadir melalui detil-detil film yang mungkin kurang diperhatikan sebagian penonton.

Dalam Conter Sa Vie, Catherine nampak selalu menggunakan atribut-atribut keafrikaan kemanapun ia pergi. Ia tak hanya nampak begitu percaya diri dengan gaya rambut kinky (keriting-mengembang) khas perempuan Afrika. Ia juga selalu memakai berbagai atribut warna terang mencolok, khususnya merah-kuning-hijau yang tentu berkorelasi dengan identitas Afrika Hitam sebagaimana sering kita lihat di warna bendera Ghana, Togo, Kamerun, Zimbabwe, dsb. Ketika mendongeng, Catherine juga menggunakan kostum mirip dukun Afrika dan tak jarang ia merapalkan mantra-mantra dengan bahasa Afrika.

Dalam salah satu narasi yang ia bawakan di bagian pembuka film, Catherine bahkan menyebut dirinya sebagai “Perempuan dari Selatan” yang bertemu Héloise, si sutradara asal Swiss, “Perempuan dari Utara”. Narasi ini seakan menjadi cara Catherine menarik batas tegas akan identitasnya sebagai orang selatan (Afrika), bukan orang utara (Eropa).

Melalui berbagai identitas Afrika yang ia tunjukan dengan gamblang dan berulang-ulang sepanjang film, kita dapat mengira bahwa Catherine sebenarnya adalah subjek yang secara sadar tengah mengkonstruksi identitasnya: Catherine memilih tetap menjadi seorang Afrika meski hidup di tengah masyarakat Prancis. Ia mewakili subjek yang disebut Molefi Kete Asante, seorang akademisi Afro-Amerika, sebagai Afrosentris. Dalam bukunya In my Father’s House (1992) Asente menyebut Afrosentris sebagai subjek yang percaya bahwa sejarah, mitologi, syair, cerita rakyat, dan berbagai kebudayaan Afrika memiliki semangat spiritual dan peradaban yang tinggi.

Alternatif Tindak Resistensi

Sampai di sini, saya kira kita dapat memaknai bahwa Conter Sa Vie bukan sekadar film biografis tentang perempuan Afrika yang mencintai dongeng saja. Conter Sa Vie sebenarnya adalah film yang menarasikan kisah seorang imigran yang tetap memilih mempertahankan identitas Afrikanya di tengah kondisi sosial yang begitu paradoksal.

Bagaimanapun, memilih tetap menjadi Afrika mempunyai satu konsekuensi besar. Semakin seorang imigran nampak sebagai Afrika, semakin ia akan terus terikat dengan rantai stereotip negatif pada dirinya.  Kondisi paradoksal ini lah yang pada akhirnya kerap membuat para imigran melakukan tindak resistensi.

Apakah Catherine juga melakukan resistensi?

Ada hubungan yang rumit antara tindak resistensi dengan stereotip negatif terhadap imigran Afrika. Resistensi sebenarnya merupakan wujud pelampiasan para imigran yang selama ini selalu mendapat dampak buruk akibat cara pandang orang kulit putih—yang seringkali menganggap mereka terbelakang dan tukang bikin onar. Dampak buruk tersebut misalnya terjadi dalam proses pencarian kerja. Di Prancis, selembar curriculum vitae dengan pas foto wajah berkulit gelap seringkali akan disingkirkan sebelum track record-nya dibaca. Singkat kata, para imigran selalu menjadi korban dari kekerasan budaya.

Pada titik seperti inilah, mereka melakukan resistensi supaya keberadaan mereka dapat diakui orang Prancis. Bentuk-bentuk resistensi tersebut bisa kita lihat misalnya dalam novel Qu’Allah benisse la France karya Abd Al Malik. Dalam salah satu sekuen novel tersebut, Abd Al Malik menceritakan gerombolan imigran Afrika di pinggiran kota Strasbourg yang memilih menjadi pencuri dengan menjadikan les blancs (orang kulit putih) sebagai target utama mereka. Di samping itu, mereka juga menjadi penjambret di tempat-tempat wisata, peminum alkohol tingkat dewa, hingga menjadi bandar narkoba, yang semua tindakan itu merupakan pelampiasan mereka terhadap snobisme orang Prancis.

Sayangnya, berbagai tindak resistensi tersebut justru kerapkali melanggengkan stereotip negatif tentang mereka. Alih-alih mendapat pengakuan dan makin disegani, mereka justru makin ditakuti. Akibatnya, dialog antar budaya seolah menjadi hal yang begitu sulit hadir di Prancis. Di sinilah Catherine seolah memberi sebuah alternatif tentang sebuah tindak resistensi. Resistensi baginya bukanlah membalas kekerasan dengan kekerasan lain. Untuk menunjukkan harkat, dignity-nya, kekerasan budaya tak bisa dilawan dengan kekerasan fisik. Bagi seorang Afrosentris, kekerasan budaya justru harus “dilawan” dengan budaya pula. Seperti ia melawan dengan dongeng: sekeping identitas Afrika yang syarat nilai kemanusiaan.

Pendapat Anda: