[Ngibul #84] Kita Semua Pendosa, Bukan Pendhoza

Posted: 22 October 2018 by Andreas Nova

Saya pernah membaca sebuah postingan di salah satu media sosial. Postingan itu berisi potongan ceramah suatu agama. Tepatnya seperti apa saya lupa. Tapi intinya tidak membolehkan untuk mendengar atau menyaksikan acara yang membuat orang terlena dan tertawa terbahak-bahak. Jika orang terlena dan terlalu banyak tertawa, mudah terhasut oleh setan katanya.

Lalu kemudian si penceramah mencoba menjelaskan, katanya para pelawak membuat cerita yang tidak nyata supaya memancing tawa orang. Membuat cerita yang tidak nyata itu saja sudah dosa dan itu dilakukan berkali-kali. “Dosanya berlipat-lipat, dong”, begitu katanya.

Kemudian saya jadi berpikir, berarti para komedian tunggal adalah para pendosa? Setiap pekan selalu ada tayangan komedi tunggal, itu kan pasti mereka mengarang bit-bit komedi yang mungkin tidak nyata? Padahal banyak sekali teman-teman yang bercita-cita menjadi komedian tunggal. Apakah mereka bercita-cita menjadi seorang pendosa?

Lalu di media sosial yang sama, saya melihat trailer film yang akan tayang tahun depan. Wah ini, mereka juga pendosa nih. Narasi filmnya pasti kisah yang tidak nyata. Karena saya tahu betul tulisan “berdasarkan kisah nyata” dalam film belum tentu 100 persen kisah nyata. Pasti ada bumbu-bumbu fiksi yang dicampurkan supaya film itu sedap untuk disaksikan khalayak dan diterima oleh pasar. Penulis naskahnya jelas pendosa. Sutradaranya pendosa bukan? Pendosa dong, kan dia ikut dalam proses pembohongan itu. Para juru kamera segenap kru juga ikut dalam proses dosa itu.

Lalu bagaimana dengan para penulis fiksi? Dosanya luar biasa dong. Kan yang ditulis semuanya tidak nyata. Apa ya kisah-kisah dalam kumpulan cerpen atau novel itu sebenarnya kisah nyata? Kan ya ndak to?

Bagaimana dengan teman saya Asef yang jebolan pesantren dan (setahu saya) tidak pernah menunda salat? Apakah karena ia menulis Alkudus, kitab suci sebuah agama yang fiktif kemudian ia menjadi pendosa besar? Bagaimana dengan Eka Kurniawan yang menulis realisme magis? Ah sudah pasti pendosa. Segala hal yang berbau magis itu sudah pasti tidak nyata.

Kalau begitu bagaimana menjalani hidup tanpa kebohongan? Bukankah sejak kecil kita terbiasa dijejali oleh hal-hal yang tidak nyata? Seangkatan dengan saya pasti pernah membaca komik atau cerpen yang pastinya tidak nyata. Barangkali, ketika kita kecil dan tidak mau makan, orangtua kita menyuapi kita dengan mengajak kita berimajinasi, seolah sendok berisi nasi (dan sayur) adalah pesawat dan mulut kita adalah hangar pesawat. Sejak kecil kita dicekoki film kartun yang membuat kita ingin menjadi tokoh dalam cerita fiksi tersebut. Kita semua pendosa, orangtua kita, semua manusia adalah pendosa.

Sejak kapan kita bisa memisahkan ini adalah hal yang nyata, ini yang fiksi? Sejak sekolah? Belum tentu. Ketika guru di sekolah mengajar tentang planet-planet, apakah kita bisa membuktikan kalau itu adalah hal yang nyata? Apakah guru kita mengajak kita bermalam di sekolah dengan teropong dan menunjukkan, “Itu yang bersinar tipis-tipis di langit sebelah situ namanya planet Venus”?

Bahkan jika kita tarik ke belakang sekali, dosa pertama manusia adalah berbohong. Kalau anda percaya, barangkali anda tahu bahwa Hawa membohongi Adam supaya mau memakan Buah Pengetahuan, yang kemudian memicu murka Tuhan dan mengusir mereka berdua dari Eden.

Kemudian ketika Adam dan Hawa melahirkan anak-anak dari rahim seorang pembohong. Ketularan dosa? Menurut yang saya percayai sih, iya, itu namanya dosa asal. Kemudian anak-anak mereka beranakpinak memenuhi seluruh muka bumi. Bumi yang diciptakan Tuhan dipenuhi oleh para pembohong dan keturunannya. Maka tidak heran apa yang dihasilkan mereka selalu tercium bau kebohongan. Apakah isi bumi ini tidak ada yang benar?

Manusia kemudian mencari kebenaran. Baik secara fisik maupun metafisik. Tapi ya itu kebenaran yang mereka percayai sendiri sih. Dulu bumi datar dianggap kebenaran. Lalu menyingsinglah teori bumi bulat mematahkan teori bumi datar. Bumi bulatpun menjadi kebenaran. Beratus tahun kemudian, orang mulai meragukan bumi bulat dan bumi datar pun kembali menjadi kebenaran bagi sebagian kecil orang.

Lalu kebenaran yang sesungguhnya benar itu apa sih? Kalau saya sih belum bisa menjawab. Kebenaran yang kita yakini itu ya yang kita percayai. Kalau sudah sampai tahap yakin dan percaya itu sudah susah menerima kebenaran lain yang barangkali justru benar. Toh kata orang kan kita sekarang sudah era post-truth. Kebenaran itu ya yang diyakini, meskipun fakta-fakta sudah mematahkan kebenaran yang telah diyakini itu. Kebenaran yang berdasarkan emosi, bukan lagi logika. Kebenaran yang kadang menutup mata kita yang mencoba melihat sisi lain dari sebuah kebenaran.

Ya, itu kalau anda percaya sih, toh saya juga seorang pendosa, anda tidak wajib percaya pada saya.

Kemudian bagaimana dengan situs web yang sedang anda baca ini? Jelas berdosa itu. Namanya aja Kibul. Isinya pasti ngibul semua. Eh tapi kok mengaku dengan menggunakan nama Kibul? Berarti jujur dong. Eh, tapi kok isinya ada cerpen yang fiksi? Berarti benar ngibul dong? Ah embuh, mumet.

Pendapat Anda: