[Ngibul #83] Sajadah Merah

Posted: 15 October 2018 by Asef Saeful Anwar

Dul Kibul tengah menulis naskah dengan nama pena Syaiful Anwar, itu artinya ia sedang membuat tulisan yang berkaitan dengan agama. Dari judulnya saja sudah terlihat: Sajadah Merah. Apakah ia akan menulis cerpen atau artikel? Coba kita tengok paragraf kedua tulisannya:

Semua orang yang pernah menggunakan sajadah hampir semuanya dalam rangka beribadah. Begitu seringnya sajadah diidentikkan dengan ibadah membuat banyak orang menganggap bahwa ukuran ketertiban seseorang dalam beribadah dapat dilihat dari sajadah yang dimilikinya. Hingga ada anggapan bahwa mereka yang sajadahnya kucel rajin beribadah, yang sajadahnya bagus jarang beribadah, dan yang tidak punya sajadah dianggap tidak pernah beribadah. Anggapan-anggapan itu membuat hakikat sajadah yang sebenarnya selembar kain sebagaimana kain lainnya seperti kaos, handuk, dan keset, jarang dilihat. Saya jadi ingat kisah Gus Dur yang mengelap piring dengan sempak baru di depan tamunya yang membuat sang tamu menjadi heran dan gelagapan. Selain sebagai kain, ada aspek lain juga yang bisa hadir dari sajadah.

Wah kok menyinggung Gus Dur, apakah karena mau hari santri makanya Dul Kibul memasukkan salah satu tokoh dari kalangan santri sebagai strategi agar tulisannya banyak dibaca? Bukannya sekarang suara santri memang sedang diperebutkan setelah dulu pernah diperebutkan oleh industri musik? Wah kok meluas ke sempak, apa hubungannya sempak dengan sajadah? Apakah karena keduanya sama-sama kain? Kita tinggalkan paragraf ketiga yang intinya hanya menyinggung Gus Dur, santri, dan sempak. Kita langsung ke paragraf keempat.

Ada empat orang yang memiliki kenangan khusus pada saya terkait sajadah. Pertama, ketika di pesantren saya memiliki seorang teman bernama Abdul Hadi—nama aslinya Mulyadi, tetapi oleh Kiai nama itu diganti. Ia adalah santri yang tekun mendaras Al-Qur’an, pengumandang azan yang syahdu, dan pelantun sholawat yang merdu. Tak heran kalau banyak santri putri naksir kepadanya. 
Suatu malam ia menangis tersedu-sedu. Saya mendapatinya berpakaian rapi lengkap dengan baju koko, sarung, dan picis hitam, tetapi di tangan kirinya ia memegang sajadah dan tangan kanannya ada pemantik yang sedang coba dinyalakannya. Saya langsung mencegahnya. Ia jatuh terduduk lalu meneruskan tangisannya. Saya tanyakan mengapa ia mau membakar sajadah itu.
“Sholatku jadi tak khusyuk, ketika melihat sajadah itu saat sholat bayangan Laili selalu hadir.”
Ya, sajadah itu memang pemberian Laili, dan saya adalah orang yang dititipi Laili untuk diberikan kepada Hadi.
“Mbok kamu merem saat sholat.”
“Sudah, tapi kalau merem malah tambah jelas bayangannya.”
“Ya tapi tidak usah dibakar begitu.”
“Lha terus?”
“Ya itu kan bisa untuk alas tidur.”
Dan sejak saat itu Hadi menggunakan sajadah dari Laili untuk alas tidur. Kabar terakhir yang kudengar tentang Hadi sekarang ia sudah punya pesantren kecil di kampungnya dan mengajar ngaji anak-anak kampung. Namun, ia selalu berkilah ketika kusinggung tentang pesantren kecilnya: “Aku cuma angon bebek.” Tentu, itu hanya kiasan untuk santri-santrinya. Ketika aku tanyakan bagaimana kabar Laili, ia selalu menjawab: “Alhamdulillah baik, dan selalu dalam kasih sayang ayahnya.” Ya, putri kecilnya diberinya nama Laili. (semoga istri Kang Hadi tidak membaca cerita ini. Amin)

Waduh kok tiba-tiba sudah sampai paragraf ketujuh. Dilanjut saja ya. Dul Kibul saja lanjut menulis meskipun Marbakat datang menyambanginya. Marbakat tahu kalau pintu rumah Dul Kibul sedang tertutup dan terdengar musik dangdut berarti Dul Kibul sedang menulis. Kita biarkan Marbakat menunggu di teras. Kita lanjut pada paragraf kesembilan.

Kedua, saya pernah mengontrak rumah bersama beberapa orang ketika kuliah. Salah satu teman bernama Najib. Ketika ada temannya yang berkunjung dan hendak salat, Najib selalu meminjam sajadah saya untuk salat temannya. Saya ingin menyarankannya untuk beli sajadah, tapi saya khawatir menyinggung perasaannya. Akhirnya saya yang mengalah dengan menaruh sajadah saya di ruang tengah, agar sewaktu-waktu bila saya tak ada, dan ada teman Najib hendak salat bisa langsung menggunakannya. Cara itu cukup efektif, tapi saya cukup penasaran mengapa Najib tidak punya sajadah, dan alasannya membuat saya kaget, ia ucapkan dengan nada merendah:
“Dulu pernah punya sajadah, Mas, tapi kok malah jadi malas jamaah, malas ke masjid.”
“Lha kalau Mas Najib ketinggalan jamaah gimana?”
“Ya saya akan tetap ke masjid atau mushola, Mas, di sana kan nanti pasti ada orang yang belum salat juga.”

Marbakat menyalakan rokoknya. Ia tahu akan menunggu cukup lama sampai Dul Kibul keluar. Percuma ia masuk rumahnya meskipun tidak terkunci, tapi kamar kerjanya pasti terkunci. Dan di pintu kamar kerja Dul Kibul tertulis petikan ayat dari Al-Qur’an: “Sesungguhnya orang-orang yang memanggil engkau dari luar kamarmu kebanyakan mereka tidak mengerti.” (QS. 14: 4).

Kita langsung ke lanjutan tulisan Dul Kibul saja:  

Ketiga, saya punya teman bernama Olav. Ia pemeluk teguh kristus. Saya berkawan baik dengannya dan beberapa kali berkunjung ke rumahnya. Tak seperti dua cerita di atas, saya hanya ingin mengatakan bahwa Olav memiliki sajadah dan picis yang khusus digunakan oleh kawan-kawannya ketika berkunjung ke rumahnya. Jadi, teman-teman muslimnya dapat salat di rumahnya dengan  sajadah dan picis itu. Sajadah di sini menjadi perekat perkawanan, tidak semata sarana ibadah.  
Keempat,

Dul Kibul berhenti menulis. Ia menemui Marbakat yang sudah dua kali memanggil namanya.

“Sudah selesai?” tanya Marbakat melihat Dul Kibul membuka pintu.

“Belum. Ada sesuatu yang berat untuk ditulis.”

“Mau aku baca dulu?”

“Silakan.”

Marbakat dipersilakan masuk ke kamar kerja Dul Kibul dan membaca naskah yang barusan dituliskannya. Dul Kibul sendiri memilih di teras dan menyalakan rokok.

“Gimana?” tanya Dul Kibul ketika Marbakat kembali ke teras.

“Bagus. Terharu aku membacanya.”

Dikibulin kok terharu.”

“Jadi itu cerita nggak bener?”

“Memangnya kebenaran bisa laku?”

“Lha terus kok bisa seperti nyata gitu?”

“Aku kan sudah bertahun-tahun pakai nama pena Syaiful Anwar, sudah merancang biografi fiktifnya, de el el, intinya kupelajari benar karakter penulis fiktif itu.”

“Ini pesanan?”

“Ya, untuk hari santri.”

“Cepat selesaikan. Aku mau curhat nih.”

“Tapi yang keempat sulit aku tuliskan.”

“Ya tiga saja. Lalu simpulkan.”

“Tapi kok pengen yang keempat dituliskan.”

“Dasar plin-plan!”

Gimana ya enaknya?”

“Pikir aja sendiri!”

“Bingung eh.”

“Lha memangnya apa sih cerita yang keempat?”

“Tentang kiaiku.”

“Ini ngibul apa tidak?”

“Kamu simpulkan sendiri saja.”

“Lha gimana ceritanya?”

“Jadi, suatu malam aku bangun…. eh enaknya ini langsung aku tuliskan saja. Kamu nanti baca ya.” Dul Kibul kembali ke kamar kerjannya. Tak berapa lama ia kembali ke teras.

“Sudah?”

“Belum.”

“Piye toh.”

“Bingung.”

Mbelgedhes. Ayo cerita saja sama aku.”

“Jadi waktu itu aku malam-malam bangun. Aku ambil wudlu dan ke masjid pesantren. Aku ketemu kiaiku. Ia habis salat malam kayaknya. Ia dari arah pengimaman, aku dari arah pintu masjid. Aku lihat di kening kiaiku itu seperti ada abu yang nempel. Hitam gitu. Tapi aku kan nggak berani lihat lama-lama. Aku nunduk. Aku salim. Aku cium tangannya. Dan beliau keluar ke masjid. Aku ke tengah masjid, beberapa baris di belakang pengimaman untuk salat tahajud. Ketika aku salat, aku dengar suara tokek dari atas masjid, dari arah pengimaman tepatnya. Salatku jadi terganggu. Lama banget itu tokek ber—apa sebutannya…? Pokoknya bersuara lah. Sampai aku selesai. Ketika aku selesai salat dan berdoa, aku melihat ada sesuatu yang jatuh ke atas sajadah di pengimaman. Otomatis aku langsung ke sana dan kamu tahu apa yang aku lihat?”

“Jelas tai tokek lah?”

“Ya, memang itu, tapi ada yang lain juga”

“Air kencingnya?”

“Bukan.”

“Lalu?”

“Sajadah itu gosong tepat di bagian tempat kening bersujud.”

“Lalu tai tokeknya di mana?”

“Malah bahas tai tokek.”

“Lha terus apa yang mau dibahas?”

“Kamu tidak ingat aku cerita apa?”

“Tokek dan tai-nya.”

“Sialan. Ini tentang kiaiku lho.”

“Oh iya… di keningnya ada…”

“Nah itu.”

“Itu apa?”

Gini lho, kamu sering lihat orang-orang yang memiliki jidat hitam?”

“Sering banget akhir-akhir ini.”

“Apa anggapan orang-orang sama mereka?”

“Mereka ahli sujud, mereka khusyuk ketika sujud hingga lama sekali, sampai keningnya menghitam.”

“Nah ini beda dengan kiaiku, kalau kiaiku yang gosong sajadahnya, bukan keningnya.”

“Wah iya…mantul, mantap betul. Terus gimana ceritanya?”

“Ya aku cuci sajadah itu kan tadi kena tai tokek. Tapi waktu dijemur sajadah itu hilang dan pas aku lihat pengimaman, di sana sudah ada sajadah yang sama dengan sajadah yang aku cuci. Sama warnanya, sama-sama merah, dan sama motifnya, tapi tidak ada bagian yang gosong.”

“Kamu sudah pernah cerita ini ke siapa?”

“Belum ke siapa-siapa, baru kali ini aku bisa cerita ke kamu.”

“Terus tulisanmu mau dilanjutkan tidak?”

“Aku coba menuliskannya tapi gagal terus.”

“Ya sudah simpulkan saja dari ketiga cerita yang sudah ada.”

“Siaaap. Nantilah.”

“Eh kenapa judulnya sajadah merah?”

“Nanti kamu baca paragraf terakhirnya saja, ada jawabannya di situ.”

Dan inilah paragraf terakhirnya:

Apa yang baru saya sadari dari cerita mengenai sajadah itu adalah, baik sajadah yang dimiliki oleh Hadi, Olav, maupun sajadah milik saya sendiri, yang dulu sering dipinjam Najib dan kini menjadi alas duduk ketika saya mengetik tulisan ini semuanya berwarna merah.
Pendapat Anda: