[Ngibul #82] Bertemu Sjahrir di Makam Soekarno

Posted: 9 October 2018 by Olav Iban

Tak seperti nama Soekarno, tidak banyak dari manusia Indonesia generasi sekarang yang mengenal nama Sutan Sjahrir.  Kealfaan sejarah yang sama yang dilupakan kita ialah bahwa tiga bulan setelah Indonesia merdeka—dengan Soekarno-Hatta sebagai Presiden dan Wakil Presiden, sistem pemerintahan Indonesia berubah dari presidensiil menjadi parlementer karena persuasi cerdas dari sebuah buklet berjudul Perdjuangan  Kita. Selang sebulan sejak buklet 42 halaman itu beredar dan dibaca banyak kaum elit Indonesia, penulisnya pun ditunjuk menjadi Perdana Menteri Indonesia pertama pada 14 November 1945 (hanya 89 hari setelah proklamasi). Dia adalah Sutan Sjahrir.

Sjahrir bukan orang sembarangan. Ia lahir di Nagari (setingkat desa) Koto Gadang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Kampung paling beruntung se-Indonesia raya. Kampung yang paling banyak menghasilkan tokoh Indonesia kelas wahid. Dari tokoh masa lampau seperti Syekh Ahmad Khathib Al-Minangkabawi (imam Masjidil Haram sekaligus guru dari Ahmad Dahlan—pendiri Muhammadiyah, dan Hasyim Ashari—yang kemudian mendirikan Nahdatul Ulama), hingga tokoh Indonesia modern seperti Emil Salim.

Semenjak Perang Padri usai (1821-1837), rakyat Nagari Koto Gadang mendapat peranan istimewa dan paling fundamental bagi sejarah Indonesia, yakni menjadi angkatan pertama yang bersekolah dengan pendidikan Barat. Jadi janganlah malu kalau kalah bersaing ilmu dengan keturunan istimewa mereka. Sjahrir salah satu manusia istimewa itu. Tahu kau mengapa?

Dari segelintir manusia beruntung di kampung itu terdapat seorang jaksa bernama Datoek Dinagari, yang kemudian memperanakan seorang jaksa, dan lalu bercucu seorang jaksa pula. Cucu itu bernama Mohammad Rasjad gelar Maharadja Sutan, ayahanda Sutan Sjahrir.

Tahu kau K.H. Agus Salim yang brilian itu? Beliau adalah sepupu Sutan Sjahrir. Atau bila tidak, kau pastinya tahu Chairil Anwar sang penyair—dia adalah keponakan Sutan Sjahrir.

Tapi di sini kita tidak bicara banyak tentang keistimewaan Sutan Sjahrir. Untuk pembacaan lebih dalam tentang itu, silakan membaca analisis ringkas saya terhadap aktualisasi pemikiran Sjahrir bagi Indonesia masa kini di ugm.academia.edu.

Tulisan remeh ini semata-mata hanyalah perwujudan impulsivitas saya yang terkejut bertemu sosok Sjahrir di Makam Bung Karno, orang yang secara tak langsung berperan besar dalam kematian Sjahrir.

Sjahrir lahir pada tahun 1909, selisih delapan tahun dari Soekarno. Ketika Soekarno yang memimpin PNI ditangkap oleh Pemerintah Hindia Belanda dan berujung pada pembubaran PNI, Hatta bersama-sama dengan Sjahrir (keduanya kala itu sedang kuliah di Belanda) menyelamatkan PNI dengan mendirikan PNI-Baru (Pendidikan Nasional Indonesia).

Pada tahun 1931, Hatta mendorong Sjahrir untuk pulang ke Indonesia dan kemudian menjadi pemimpin PNI-Baru dengan tujuan menghidupkan kembali PNI (Partai) yang ditinggalkan Soekarno. Kekuatan agitasi dan mobilisasi Soekarno kala itu sudah sangat tenar di dalam negeri, namun jaringan luar negeri Soekarno berada di bawah Hatta dan Sjahrir. Mungkin ini dikarenakan Soekarno belum pernah ke luar negeri. Sementara Hatta dan Sjahrir, nama keduanya telah dikenal oleh banyak aktivis anti-kolonialisme di luar sana lewat Perhimpunan Indonesia yang dipimpin oleh mereka berdua.

PNI-Baru pimpinan Sjahrir dianggap berbahaya, hingga akhirnya Sjahrir pun ditangkap juga pada 1934. Dan pada 1935, ia bersama Hatta diasingkan ke Boven Digul lalu dipindah ke Banda Neira selama tujuh tahun hingga Jepang menyerang nusantara.

Di masa awal kedatangan Jepang, triumvirat Soekarno-Hatta-Sjahrir yang baru saja kembali dari pengasingan telah bersepakat bahwa dua pemimpin yang lebih dikenal (Soekarno dan Hatta) akan bekerja sama secara terbuka kepada pemerintah pendudukan Jepang. Sedangkan Sjahrir—yang kurang dikenal—akan beraksi incognito memusatkan perlawanan para pemuda dengan menyusun gerakan perlawanan bawah tanah. Dua strategi berbeda demi tujuan yang sama.

Sjahrir adalah salah satu orang yang pertama kali mendesak adanya pergerakan cepat untuk memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Pada sore 14 Agustus 1945, terjadi pertemuan enam mata antara Soekarno, Sjahrir, dan Hatta di rumah Soekarno. Terjadi adu argumen panjang lebar antar-ketiganya. Sjahrir ingin proklamasi dilaksanakan 15 Agustus 1945 melalui radio dengan Soekarno sebagai proklamator tunggal. Hatta dan Soekarno menolak karena tetap meyakini keputusan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang merencanakan proklamasi pada 24 Agustus 1945. Soekarno juga menolak bilamana nanti ia sendiri yang memproklamirkan.

Penolakan ini mengecewakan golongan muda (yang sebagian besar adalah anak-anak ideologis Sjahrir) dan berimbas pada Peristiwa Rengasdengklok 16 Agustus 1945. Malam Jumat legi menjelang 17 Agustus 1945, ketika Hatta dan Soekarno bersama tokoh-tokoh lain serta para golongan muda merumuskan proklamasi, Sjahrir menolak hadir. Begitu pula keesokan harinya sampai detik-detik proklamasi dilewati. Hatta begitu kecewa karena ketidakhadirannya. Seandainya Sjahrir tidak keras hati bisa saja ia turut menandatangani teks proklamasi mewakili golongan muda. Semua ini dijabarkan gamblang oleh Hatta lewat buku Sekitar Proklamasi (1969) satu tahun sebelum Soekarno meninggal.

Tapi Sjahrir bukannya pasif. Ada sumber yang mengatakan Sjahrir sudah membuat konsep teks proklamasi sendiri sebelum Hatta dan Soekarno menyusun bersama golongan muda di rumah Laksamana Maeda.

Fyi, tokoh-tokoh golongan muda berada dalam pengaruh ideologinya. Kalau kau ingat foto-foto lampau yang memotret gerbong-gerbong kereta penuh corat-coret kemerdekaan dalam bahasa Inggris, Sjahrirlah otak di belakangnya.

Kondisi politik Indonesia tidak mulus setelah proklamasi. Banyak negara yang meragukan pemerintahan Indonesia yang dianggap bentukan Jepang. Padahal citra Jepang di mata dunia amatlah buruk sejak pecahnya Perang Dunia II. Belum lagi benturan-benturan ideologi di dalam tubuh pemerintah Indonesia. Maka, seperti yang telah saya kisahkan di atas, gaya politik Indonesia berubah. Sjahrir maju ke depan menjadi Perdana Menteri memimpin politik diplomasi Indonesia, sementara Soekarno dan Hatta mengendurkan sedikit ke belakang.

Indonesia di bawah pimpinan Sjahrir lebih terbuka dan mengedepankan diplomasi ketimbang angkat senjata. Hasil-hasilnya penting, namun sayangnya kerap disalahartikan. Yang paling kentara adalah pertentangan Sjahrir dengan Jenderal Soedirman dan Tan Malaka. Keragu-raguan dan penolakan yang semakin gencar membuat Sjahrir memilih mengundurkan diri dari posisi Perdana Menteri.

Gegar karena pengunduran itu, 19 jam kemudian parlemen malah berbalik arah mendukung kebijakan politiknya. Soekarno turut memintanya kembali menduduki jabatan itu. Namun Sjahrir tetap mundur dan mengembalikan mandatnya pada tanggal 27 Juni 1947. Tetapi tiga hari kemudian atas desakan Soekarno dan Hatta, Sjahrir diangkat sebagai Penasehat Istimewa Pemerintah, sebuah posisi unik yang cuma sekali ada.

Begitu hebat tik-tok di antara mereka bertiga sehingga mereka dijuluki Triumvirat Indonesia—julukan yang memudar semenjak label Dwitunggal digembar-gemborkan Orde Baru guna mengikis ketunggalan Soekarno.

Di balik kekuatan trio tersebut, sebenarnya rakyat sudah mencium aroma pertikaian antara Hatta-Sjahrir vs Soekarno.

Yang paling nyaring memang ketika kekecewaan Hatta terakumulasi lewat pernyataan mundur dari jabatan Wakil Presiden tahun 1956 dan menamatkan riwayat Dwitunggal Soekarno-Hatta. Namun yang lebih seru adalah pertikaian Sjahrir dengan Soekarno sebagaimana yang disampaikan Hatta dalam buku Bung Hatta Menjawab (1978).

“Satu kali (di Prapat ketika Soekarno dan Sjahrir diasingkan bersama-sama dengan KH. Agus Salim) Soekarno menyanyi di kamar mandi, cukup keras juga dan bagi Sjahrir rupanya dirasa terlalu ribut, hingga Sjahrir berteriak, ‘Houd je mound!’ (tutup mulutmu!).  

“Waktu kemudian saya tanyakan Soekarno mengapa benci sama Sjahrir, ia mengatakan, ‘Bagaimana juga saya adalah Kepala Negara, mengapa dia menghardik saya seperti itu? Tanyalah Haji Agus Salim bagaimana hal sebenarnya waktu itu.’ (tambahan: sebagai Perdana Menteri, Sjahrir tentu adalah Kepala Pemerintahan).

“Tambah lagi cerita yang menyebabkan marahnya Bung Karno kepada Sjahrir. Dalam penyusunan delegasi diusulkan oleh Leimena kepada saya agar Sjahrir dijadikan ketua, karena Roem dirasakan kurang kuat menghadapi orang yang pintar-pintar dalam delegasi Belanda.

“Saya katakan kepada Leimena itu tidak bisa, mengingat Sjahrir sudah lama sejak Renville tak mau duduk dalam delegasi perundingan dengan Belanda. Roem tetap ketua, Sjahrir dijadikan penasihat, kata saya. Maka Leimena pergi menemui Sjahrir di Jakarta. Ternyata Sjahrir bersedia jadi penasihat, bahkan ia datang menemui saya di Bangka untuk berunding. Saudara Gafar, Sekretaris Negara, membuatkan surat pengangkatan untuk Sjahrir selaku penasihat resmi. Saya tanyakan, ‘Apa perlu surat pengangkatan yang resmi begitu?’ Gafar seorang yang

legalistik menjawab,”Ya, saya mengingatnya antara Ali Sastroamidjojo tak senang sama Sjahrir. Jadi kalau ada surat pengangkatan begini menjadi gedekt (terlindungi),’ kata Gafar. ‘Baiklah,’ kata saya. Akhirnya surat pengangkatan itu dibuat oleh Gafar selaku Sekretaris Negara, kemudian di-teken oleh Bung Karno.

“Surat pengangkatan tersebut dibawa oleh Roem ke Jakarta dan diberikannya kepada Sjahrir. Sjahrir setelah menerimanya, terus berkata, ‘Apa dia (Soekarno) itu! Mengapa dia yang harus mengangkat saya. Yang seharusnya mengangkat saya adalah Sjarifuddin (Kepala Pemerintah Darurat RI di Sumatera). Roem juga kesal, tetapi lebih kesal lagi dan marah ialah Soekarno setelah mendengar itu. Bagaimana juga hal ini tentu dirasakan Bung Karno sebagai suatu penghinaan baginya.”

Demikian kesaksian Hatta.

Kejengkelan Soekarno kepada Sjahrir sebenarnya sudah lama terjadi jauh sebelum itu. Menurut saya, salah satu penyebabnya adalah karena runcingnya perbedaan cita-cita mereka tentang seperti apa pemerintahan Indonesia kelak setelah merdeka. Soekarno, yang eklektis Jawa, sejak prakemerdekaan sudah menyarankan adanya satu partai negara—partai tunggal. Sedangkan Sjahrir, yang sosial-demokratis Barat, menginginkan banyak partai—multipartai. Keduanya sama-sama punya blok pendukung yang kuat di golongan elit ketokohan Indonesia.

Gagasan Soekarno itu berhasil diwujudkan ketika PPKI menyetujui pendirian partai negara pada 27 Agustus 1945 dan mensahkan Partai Nasional Indonesia sebagai partai negara. Sedihnya, PNI sebagai partai negara dibubarkan hanya lima hari kemudian karena dianggap menyaingi peran KNIP dan dikhawatirkan menimbulkan perpecahan yang tidak perlu. Dan tahukah kau siapa Ketua BP-KNIP (tim kecil di tubuh besar KNIP)? Betul, dialah Sutan Sjahrir.

Manuver Sjahrir didukung oleh Hatta. Sebagai Wakil Presiden, Hatta mengeluarkan Maklumat Wakil Presiden No. X 16 Oktober 1945 tentang perubahan fungsi KNIP dari semula pembantu Presiden menjadi badan yang sederajat dengan Presiden, dan diserahi kekuasaan legislatif untuk ikut serta menetapkan GBHN sebelum terbentuknya MPR, DPR, dan DPA.

Terbayang kecewanya Soekarno kala itu. Apalagi setelah pelimpahan kekuatan legislatif itu, KNIP merancang perubahan kabinet presidensiil menjadi kabinet parlementer (yang jelas multipartai) dan menunjuk Sjahrir menjadi Perdana Menteri sehingga semakin membuat surut fungsi Soekarno tak lagi menjadi Kepala Pemerintahan.

Strategi balasan Soekarno mengambil alih kekuasaan saya rasa tak perlu banyak dibahas. Saya yakin hal-hal ini telah diketahui banyak orang, terutama ketika ambisi itu mencapai puncaknya lewat TAP MPRS No. II/MPRS/1963 tentang Penetapan Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Bung Karno Menjadi Presiden Seumur Hidup.

Lucunya, kelompok yang menggaungkan Soekarno menjadi Presiden seumur hidup adalah Serikat Organisasi Karyawan Sosialis Indonesia (SOSKI). Semua orang tahu, Sjahrir adalah tokoh penting sosialisme Indonesia, pendiri Partai Sosialis Indonesia yang dibubarkan Soekarno pada 1960 bersama Masyumi. Usut punya usut, ketika kini zaman semakin terbuka, tersibaklah peran ABRI dalam asala-muasal SOSKI sebagai strategi politik untuk mengimbangi kekuatan persuasif PKI.

Kita tidak akan pernah tahu seberapa besar ketidaksukaan Soekarno kepada Sjahrir. Yang bisa kita tahu adalah kenyataan bahwa pada tahun 1962, Sjahrir ditangkap dengan tuduhan palsu atas apa yang disebut Peristiwa Cendrawasih di Makasar. Peristiwa pelemparan granat oleh sekelompok orang kepada iring-iringan mobil Presiden Soekarno.

Pelapor tuduhan palsu itu kemudian ditangkap dan dijatuhi hukuman maksimum satu setengah tahun, tetapi lucunya Sjahrir yang menjadi korban dari penuduhan palsu itu malah tidak pernah diadili apalagi dibebaskan.

Informasi lain menyebutkan bahwa Sjahrir ditangkap karena dianggap melakukan rapat konspirasi subversif ketika ia bersama Hatta, Roem, Sultan Hamid II, dan sejumlah tokoh lain menghadiri upacara Ngaben ayahanda Anak Agung Gde Agung di Bali. Entah mana yang benar, tapi yang jelas penangkapan dan penahanan itu menghancurkan perasaan Sjahrir.

Soe Hok Gie, yang juga simpatisan Sjahrir, menulis dalam Mingguan Djaya, 23 April 1966, bahwa kejadian itu membuat hati Sjahrir benar-benar patah, kecewa. Bukan kecewa karena penangkapannya, tetapi kecewa karena sebagian besar kaum cendekiawan Indonesia waktu itu bungkam atas kecurangan politik dan segala ketidakadilan.

Sjahrir awalnya hanya menjadi tahanan rumah. Lalu dipindah ke Penjara Madiun selama satu tahun. Pada November 1962, Sjahrir menderita tensi tinggi sehingga harus dipindahkan ke RSPAD Gatot Subroto, Jakarta. Setelah membaik Sjahrir dipindah ke penjara Jl. Keagungan, dan kemudian dipindah lagi ke Rumah Tahanan Militer Budi Utomo.

Di Rumah Tahanan Militer ini Sjahrir mendapat serangan stroke kedua. Ia ditemukan terkapar di kamar mandi pada malam hari, tapi pertolongan medis tidak segera diberikan. Baru keesokan harinya Sjahrir dibawa ke rumah sakit dan dilakukan operasi. Operasi ini gagal dan berakibat fatal. Sejak itu Sjahrir tidak lagi dapat bicara. Sungguh menyedihkan. Dalam kenestapaannya sosok jenius ini tidak bisa menyampaikan pemikirannya, tak mampu menyampaikan rasa sayangnya kepada istri dan kedua anaknya yang bersedih melihat kondisi Sjahrir.

Istri Sjahrir memohon kepada pemerintah agar menyetujui Sjahrir dirawat ke Zurich, Swiss. Pada tanggal 21 Juli 1965, Sjahrir yang tidak dapat bicara berangkat ke Swiss dengan dilepas lewat pelukan dan air mata oleh para sahabatnya.

Sjahrir wafat pada tanggal 9 April 1966 di Zurich, Swiss. Sang Perdana Menteri pertama Indonesia itu meninggal dunia jauh dari tanah airnya, dalam kondisi disabel, dengan status sebagai tahanan negara. Ironis sekali.

Mirisnya lagi, Soekarno sebagai Presiden Indonesia yang memenjarakan Sjahrir sampai jatuh sakit dan wafat, tiba-tiba berbalik hati dan mengeluarkan Keputusan Presiden No. 76/1966 tentang penetapan Sutan Sjahrir sebagai Pahlawan Nasional hanya selang beberapa jam saja setelah berita wafatnya Sjahrir tersiar.

19 April 1966, jenazah Sjahrir sampai di Indonesia. Puluhan ribu manusia berhujan-hujan mengiring jenazah masuk ke liang kubur di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Satu di antaranya adalah Hatta.  Dalam upacara pemakaman itu Hatta memberi salam terakhir kepada sahabatnya itu, “Ia berjuang untuk Indonesia merdeka, melarat dalam pembuangan Indonesia merdeka. Ikut serta membina Indonesia merdeka. Tetapi ia sakit dan meninggal dalam tahanan Republik Indonesia yang merdeka.”

Jenazah Sutan Sjahrir sempat singgah di Belanda untuk mendapatkan penghormatan terakhir dari para tokoh internasional.

Bagi kita yang mengetahui keironisan jalan hidup Sjahrir tersebut, rasanya sulit membayangkan bertemu secuil saja monumen tentang Sjahrir di tempat peristirahatan terakhir Soekarno.

Soekarno pernah membayangkan seperti apa nanti tempat jasadnya dibaringkan. “…di bawah pohon yang rindang, dikelilingi oleh alam yang indah, di samping sebuah sungai dengan udara segar dan pemandangan bagus. Aku ingin beristirahat di antara bukit yang berombak-ombak dan di tengah ketenangan. Benar-benar keindahan dari tanah airku yang tercinta dan kesederhanaan darimana aku berasal. Dan aku ingin rumahku yang terakhir ini terletak di daerah Priangan yang sejuk…” Wasiat tempat yang utopis, penuh damai dan tanpa musuh.

Nyatanya, Presiden Soeharto tidak berniat memakamkan Soekarno sesuai wasiatnya itu. Di Blitar, jauh dari ibukota, di sanalah Soekarno dimakamkan bersanding dengan makam kedua orangtuanya.

Makam Bung Karno dibuat megah. Pada 2004, pengembangan kembali dilakukan dengan menambahkan bangunan baru yang menjadi satu komplek dengan Makam Bung Karno, yaitu Perpustakaan dan Museum Bung Karno. Di museum itulah saya tersenyum-senyum sendiri ketika melihat berjajar memanjang lukisan para tokoh perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Dalam hati, saya yakin sekali tidak akan ada Sjahrir di sini. Keyakinan ini mulanya terbukti. Ketika mengikuti flow, saya jumpai lukisan Soekarno di urutan pertama, diikuti Hatta di urutan kedua. Di tempat ketiga—tempat di mana seharusnya ada Sjahrir, diduduki oleh tokoh lain yang namanya tidak saya ingat.

Lambat laun makin penasaranlah saya untuk menelusuri pengurutan ini. Pada baris kesembilan langkah saya terhenti dan terkesima. Terpampang portrait Sjahrir. Ia digambarkan berbeda dari wajah-wajah Sjahrir yang kerap muncul di banyak media.

Normalnya, terdapat dua jenis wajah Sjahrir yang kerap muncul di foto-foto lama. Jenis pertama adalah Sjahrir pra dan awal kemerdekaan yang kurus kecil dengan pandangan merunduk nan tenang. Sedangkan jenis kedua adalah Sjahrir yang mulai menggemuk dengan senyuman santai sumringah.

Lukisan Sjahrir yang saya jumpai di Museum Bung Karno jauh berbeda. Sjahrir tampak bisu, tua, dan layu. Senyumnya tampak kecut bahkan menjurus cemberut. Batin saya bertanya-tanya, seperti inikah raut muka Sjahrir bilamana ia tahu lukisan wajahnya terpampang di dekat makam seorang Soekarno? Semoga tidak. Semoga Bung Kecil dan Bung Besar sudah damai di alam sana.

Pendapat Anda: