[Ngibul #78] Kekiri-kirian, Kengeri-ngerian

Posted: 3 September 2018 by Asef Saeful Anwar

Malam. Bulan separuh, seperti judul lagu dangdut yang tersiar dari radio Marbakat.

Marbakat melihat Dul Kibul berjalan ke arah rumahnya. Ia terpaksa matikan suara Lilis Karlina dari radionya, menyambut kawannya itu.

“Barusan aku selesai nulis tentang tanda-tanda kebangkitan komunis di Indonesia,” kata Dul Kibul kepada Marbakat sambil memberikan kantong kresek.

“Tahu saja kalau ini sudah September”, sambut Marbakat sambil membuka kantong kreseknya: sebungkus kopi lampung dan seperempat gula pasir.

“Itu untuk satu pekan.” Saut Dul Kibul. “Kalau habis nanti kubawakan lagi. Mumpung kau belum beristri boleh kan aku sering-sering ke sini?”

Marbakat hendak menyela tapi digusah Dul Kibul untuk masuk dan segera menyeduh kopi.

Dul Kibul mulanya seorang pekerja serabutan yang menulis buku-buku how to. Juga pernah rutin menulis naskah drama testimonial kesembuhan untuk iklan obat herbal di beberapa radio. Prestasi yahudnya dalam menulis naskah drama itu yang juga pernah membuatnya sempat dikontrak sebuah radio untuk menulis naskah curhat fiktif dalam program yang mengaitkan curhatan pendengar dengan lagu-lagu populer atau kenangan. Sesekali ia masih menerima job itu, tapi khusus untuk lagu-lagu Malaysia, sebagai pelepas jiwa sentimentalis melankolis nan kritis yang diidapnya.

Kini, ia lebih banyak bekerja sebagai penulis berita-berita picisan hasil comot sana comot sini dari berbagai sumber yang searah tujuannya, yang dibuat sesuka dan sesuai pemesannya. Pekerjaan yang baginya lebih ringan dengan untung yang lebih berat. Apalagi bila kibulannya dibagi-bagikan orang hingga ribuan. Ia sering manggut-manggut sendiri, senyum-senyum sendiri, tertawa sendiri, kegirangan sendiri bila tulisannya membuat heboh.

“Marbakaaat…!” Dul Kibul berteriak dari teras, “kamu sudah pernah baca tulisanku tentang 9 tanda kemunculan dajal?”

Marbakat bukan tidak mau menimpali, hanya malas berteriak untuk menjawabnya dari  dapur. Ia hanya ingin kopi yang direbusnya, mereka suka kopi yang direbus, segera matang lalu bergabung di teras bersama kawan bebuyutannya itu. Ia mengenal Dul Kibul dari warung burjo dekat rumahnya, dan ia selalu suka apa yang diceritakan Dul Kibul, meskipun ia tahu apa yang diomongkan asal-asalan. Ia selalu menanti omongan Dul Kibul sebagai penghiburnya, pengusir kesepiannya. Sementara Dul Kibul suka Marbakat karena ia sering menjadi pendengar yang tekun sekaligus komentator yang bisa membiakkan ide-ide di kepalanya.

Karena tak mendapatkan jawaban, Dul Kibul memilih melinting tembakaunya, beberapa batang juga ia lintingkan untuk Marbakat.

Saat kopi telah disuguhkan dan lintingan sudah berjumlah empat, mereka pun bercakap-cakap dengan asap berkebul-kebul.

“Jadi, dengan kerangka serupa tanda kemunculan dajal itu aku menulis 3 tanda kebangkitan komunis di Indonesia.”

“Kamu dapat data dari mana?”

“Tidak perlu itu, meskipun aku tahu kibulan yang paling baik itu yang disertai banyak data.”

“Jadi dari pengamatan langsung?”

“Tepat. Ini hasil pengamatan dan pemikiranku asli. Orisinil.”

“Tanda pertama apa?”

“Yang pertama, kebangkitan komunis di Indonesia ditandai dengan munculnya banyak orang kidal daripada orang normal. Ini jelas pengaruh komunisme yang mengagungkan kekirian.”

“Dari mana kamu tahu?”

“Dari tanda kedua.”

“Apa itu?”

“Di negeri ini juga mulai banyak orang pintar dalam berbagai macam pengetahuan. Logika mereka yahud, tapi masalah yang berkaitan dengan pemanfaatan hasil olah logika itu masih minim. Ini artinya mereka lebih banyak menggunakan otak kiri daripada otak kanan. Lebih mengunggulkan sains daripada kesenian. Ada banyak anak negeri juara olimpiade sains, tapi berapa yang mendaptan penghargaan seni? Sekali lagi, otak kiri digunakan secara maksimal tapi otak kanan seperti ditumpulkan. Ini sungguh cara kerja komunis.”

”Ketiga?”

“Cabai merah lebih banyak dicari daripada cabai hijau.”

“Serius ini.”

“Oh ya… sorry…aku sruput kopi dulu dong…”

Dul Kibul menghidu kopi lalu menyeruputnya dengan tertib. Marbakat tak mau kalah.

“Joss. Mantaps.”

“Yang ketiga apa, Bul?

“Ketiga, sekarang mulai bertebaran tanda yang menunjukkan polisi kita sudah dimasuki oleh unsur komunis. Ada banyak plang bertuliskan ‘Ke Kiri Jalan Terus’ di setiap perempatan jalan raya. Itu jelas banget. Dan waktu lampu merah menyala, sekali lagi ingat merah itu lambang komunis, ke kiri dibolehkan, ke kanan dan lurus malah dilarang. Padahal kanan itu lambang kebaikan, lurus itu lambang kebenaran, kok malah tidak diperbolehkan. Dan perlu kamu tahu, sejak kemerdekaannya, negeri ini secara tak langsung mendukung komunisme. Kamu tahu aturan saat kita berjalan di jalan raya? Mengapa orang-orang negeri ini melajukan kendaraannya di lajur kiri, bukan di kanan? Padahal, negara-negara Eropa dan Amerika yang menentang komunisme kan jelas di kanan, bukan di kiri. Jadi sebenarnya sejak merdeka kita sudah kiri, sudah merah, bahkan jauh sebelum merdeka ding.”

“Mantaps. Analisis yang yahud.”

“Seyahud kopi buatanmu.”

Mereka menyeruput kopi lagi.

Marbakat tampak berpikir serius dan bertanya: “Oh ya, Bul, kamu tahu negara komunis mana yang sekarang masih ada dan paling besar?”

“Cina, eh Tiongkok ya namanya sekarang.”

“Kamu pernah dengar sabda nabi yang isinya: ‘Tuntutlah ilmu sampai ke negeri cina’?”

“Pernah. Jangan ragukan pengetahuan agamaku.”

“Nah kalau bisa mending kamu buat tulisan nabi menganjurkan belajar komunisme ke Cina.”

“Wah ndak mau, bisa berabeh nanti. Bisa dianggap penistaan.”

“Bukannya kamu nulis pakai nama pena?”

“Iya sih…Tapi kan nama Syaiful Anwar sebagai nama penaku sudah lekat sebagai penulis masalah-masalah religius.”

“Bisa hilang pasar ya.”

“Begitulah.”

“Mau kamu beri judul apa tulisanmu?”

“Pengennya sih ‘Kekiri-kirian, Kengeri-ngerian’.”

“Bagus itu. Pakai itu saja.”

“Ah kamu kayak nggak tahu aja sekarang judul yang laku kayak apa.”

“Lha terus mau pakai judul gimana?”

“Yang click bait dong…”

“Udah dapat judulnya?”

“Udah, judulnya: ‘Astaghfirullah, 3 Tanda Kebangkitan Komunis di Indonesia Mulai Nyata, Nomor 3 Bikin Ngelus Dada’.” ***

Pendapat Anda: