[Ngibul #77] Perhentian Pertama Membaca Kura-Kura Berjanggut

Posted: 27 August 2018 by Olav Iban

Kura-Kura Berjanggut

Mulanya saya begah ketika ditawarkan novel ini oleh admin WarungSastra.com.  Yang saya tanya, ono ra novel amrik liyane Steinbeck? Saat itu saya tertarik sangat dengan East of Eden yang baru saja diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Menimbang beban ongkos kirim pesanan buku yang akan dikirimkan dari Kali Code ke sungai Kahayan, tanggung rasanya bila hanya membeli East of Eden.

Kura-kura Berjanggut wae mas, ujar bakulnya. Mungkin bakulnya merasa ada kemiripan antara realisme Steinbeck dengan Azhari Aiyub. Saya—yang tak kenal penulis Indonesia siapa-siapa—perlu googling dulu mencari nama Azhari Aiyub. Tapi niat itu tertunda karena terbacalah sepenggal sinopsis di caption. Kok rasa-rasanya penceritaan yang begitu pernah saya baca. Di mana?

Circa 2012, ketika sedang kere-kerenya tidak sanggup beli buku baru, terpaksalah saya culik bacaan acak dari rak buku adik saya yang tidak ada bakat sama sekali punya bacaan oke. Judulnya 20 Cerpen Indonesia Terbaik  2009. Cuma satu cerpen yang saya pilih, itupun karena judulnya paling dowo (saya benci cerpen karena cepet entek) : “Pengantar Singkat Rencana Pembunuhan Sultan Nurrudin”.

Tuhan Mahabesar. Setelah membaca cerpen itu, pendapat saya cuma satu, dan itu bertahan sampai 2018, yakni: Iki yen ono novele mesti nguangkat pol.

Memang Tuhan Mahabesar. Kendati di dalam cerpen itu hanya disebut nama Azhari, saya langsung yakin dia Azhari yang sama dengan Azhari Aiyub, penulis Kura-Kura Berjanggut. Maka, oke gus, kura-kura wae!

Jebul harganya mahal, 195 ribu, dan beratnya setara Harry Potter and Goblet of Fire. Niat memangkas ongkos kirim pun menjadi muspro.

Mahal namun tak rugi. Dalam sekali buka, hampir-hampir saya tidak mampu berhenti membaca kisah sangkilat si Ujud, mata-mata penuh dendam yang berniat menghabisi Sultan Nurrudin—Sultan Lamuri kedelapan yang makbul melakukan pemberontakan dari dalam Penjara Jalan Lurus dan meruntuhkan kesultanan 200 tahun dalam enam hari bersama para pengemis gembel dan petani merica, lalu membantai seluruh pedagang merica anggota kongsi dagang Ikan Pari kapitalis arkaik. Subhanallah.

Jauh dari cerpen pengantarnya, novel ini justru dimulai dengan kalimat biasa-biasa saja. Seterusnya membahana. Jalannya cerita disusun dalam pola rapih tapi galawala, struktural tak wajar. Pembaca yang tak awas pasti akan tersesat dalam sudut pandang orang pertama tunggal-nya yang naratif tapi rodo intransitif. Pembaca akan kerap lengah dan lupa siapa objek penderitanya—atau sebaliknya, kehilangan siapa subjek pelakunya.

Kekayaan kosakata dalam novel ini sungguh menakjubkan, saya mesti menyimpan banyak kata yang tak pernah ditemukan dalam KBBI nomor berapa pun untuk diserahkan pada dewa google yang mahatahu (telat sadar ternyata ada glosarium di bagian akhir buku).

Menengok teknik penulisan dan pemilihan kalimat, sepertinya Azhari Aiyub menjiwai betul semangat realisme. Datar tapi banyak twist puitis. Melebar ke mana-mana tapi jeli dan patuh rambu. Nyata apa adanya tapi juga sekaligus meluapkan ambisi aneh seperti yang biasa dipunya oleh kaisar-kaisar Roma sebelum menyembelih mesias-mesias palsu. Novel ini membunuh munafiqun dengan kemunafikan. Begitu sturm und drang!

Membaca bagian awal Kura-Kura Berjanggut adalah sorga sastrawi bagi penyuka kisah-kisah sejarah. Dengan berlatar Kerajaan Lamuri awal tahun 1600-an (di Aceh sekarang) dan percampuran cerita-cerita eksotis tentang mimpi pertarungan gajah buta, tentang penyakit raja singa yang diobati oleh dokter yang juga terkena raja singa, tentang perdagangan budak hitam, sampai politik antarputera-mahkota. Semua disulam kristik utuh jadi satu. Inilah novel dekonstruktif yang semestinya ditempeli stiker Best-S(tory-t)eller.

Kura-Kura Berjanggut terbagi menjadi tiga bagian, yang pertama diberi nama Buku Si Ujud, yang kedua Buku Harian Tobias Fuller: Para Pembunuh Lamuri, dan terakhir  Lubang Cacing.

Saya belum selesai bagian pertama, baru sampai halaman 411. Bukan karena lelah, melainkan karena saya harus dinas ke luar pulau. Di situ kadang saya merasa sedih. Kura-Kura Berjanggut (yang sampai halaman 411 belum jelas itu kura-kura apa) bukanlah novel saku. Ini novel batu. Sebagaimana batu yang harus dimasukkan saku untuk menunda rasa kebelet buang hajat, novel 960 halaman ini mau tak mau harus saya ajak perjalanan dinas. Bagaimanapun juga tak elok tahi saya tercecer ke mana-mana selain di ruang ngibul ini. Akhir kata, saya wajib mengutip kalimat Kepala Suku Mojok.co yang sama-sama belum tuntas membaca Kura-Kura Berjanggut, yang demikian, “Kalaulah novel ini belum banyak dibahas di media, tentu bukan karena kualitasnya, melainkan para apresiator dan kritikus yang pasti sedang tenggelam dalam keterpukauan atas novel ini.” Itu Juni lalu, semoga Agustus ini sudah banyak yang membahasnya.

PS:

Kata Andreas Nova, saya beruntung mendapatkan cetakan pertama buku ini. Cetakan kedua kabarnya stok buku ghoib, harga naik.

Pendapat Anda: