[Ngibul #76] Tips Memilih Sekolah untuk Anak

Posted: 13 August 2018 by Danu Saputra

Saya percaya tiap anak terlahir dengan keunikan masing-masing. Itulah yang menyebabkan saya tidak sepakat dengan aliran Empirisme dalam pendidikan yang mengumpamakan anak seperti kertas putih kosong. Saya pikir lebih tepat jika anak-anak diumpamakan seperti kertas dengan beragam warna dan bentuk. Keberagaman itu kemudian menuntut tiap orang tua untuk lebih memahami anak mereka dalam rangka mengasuh dan mendidiknya menjadi menusia dewasa.

Saya pikir kita bersepakat bahwa orang tua memegang peranan vital dalam pengasuhan dan pendidikan anak. Meski begitu, pada zaman sekarang ketika masyarakat begitu majemuk, orang tua tidak dapat berdiri sendiri dalam mengasuh dan mendidik anak. Anak dapat terpapar berbagai hal di luar apa yang diajarkan oleh orang tuanya. Baik itu hal-hal yang mendukung atau pun hal-hal yang tidak sejalan dengan program asuh-didik orang tua. Ketika paparan-paparan tersebut dianggap menjadi sebuah hambatan dalam mencapai tujuan asuh-didik, maka muncullah lembaga pendidikan sebagai salah satu solusi. Lembaga pendidikan yang saya maksud dalam tulisan ini adalah sekolah formal, meski banyak lembaga pendidikan lain seperti tempat bimbingan belajar, sanggar tari, sanggar lukis, dan lain sebagainya yang memiliki fungsi yang sama untuk menyaring beragam paparan negatif.

Saya katakan sebagai salah satu solusi karena bisa jadi orang tua menemukan solusi lain untuk mencapai tujuan asuh-didik mereka. Dengan lebih memahami sang anak, orang tua dapat dengan bijak memutuskan untuk memasukkan anak ke suatu lembaga pendidikan, menerapkan sistem homeschooling atau bahkan unschooling pada anak.

Pada tahap memutuskan tersebut, seringkali orang tua terjebak pada keputusan yang belum matang. Tidak sedikit orang tua yang asal memasukkan anak dalam sekolah, asal tempatnya favorit, asal fasilitas lengkap, asal bisa belajar dengan baik, asal nilainya bisa bagus, dan asal-asal yang lainnya. Mereka lupa bertanya, apa iya tempat favorit pasti menyenangkan untuk anak? Apa iya fasilitas lengkap akan membantunya berkembang? Apakah fasilitas yang ada membantu anak dalam menghadi kondisi sulit atau hanya membuat anak terhindar dari posisi sulit? Apa anak menyukai apa yang dia pelajari? Dan pertanyaan yang paling mendasar, apa sih tujuan menyekolahkan anak?

Tujuan menyekolahkan anak bisa beragam, salah sedikitnya mungkin supaya anak-anak menjadi pintar, mendapat ijazah, bisa melanjutkan ke jenjang lebih tinggi, mendapat pekerjaan yang “mentereng”, atau untuk membuat anak menjadi dewasa. Dugaan saya, sedikit sekali yang menyekolahkan anak dengan tujuan agar anak menjadi dewasa. Setelah jelas tujuan untuk menyekolahkan anak, kita sebagai orang tua dapat merenung sejenak, apa benar hanya sekolah yang dapat memfasilitasi tujuan itu? Jika tidak, apakah itu memiliki potensi lebih baik dari bersekolah? Jika iya, sekolah seperti apa yang sesuai dengan sang anak?

Saya tidak ingin berbantah-bantahan tentang tujuan menyekolahkan atau tidak menyekolahkan anak mereka karena tiap orang memiliki jawabannya masing-masing. Di sini saya hanya ingin berbagi pada mereka yang sudah memutuskan untuk menyekolahkan anak mereka. Sependek pengalaman saya menjadi guru di sekolah dasar, ada beberapa hal yang harus Anda perhatikan dalam memilih sekolah yang tepat untuk anak Anda.

Pertama

Sesuaikan sekolah dengan tipe belajar anak Anda. Jika anak Anda bertipe kinestetis yang selalu aktif bergerak, sebaiknya jangan memasukkan ke sekolah yang menuntut anak duduk diam di bangku mereka. Selain karena anak akan merasa tidak nyaman, pihak sekolah tentu akan menganggap anak Anda sebagai murid yang bermasalah.

Kedua

Pastikan fasilitas yang disediakan sekolah adalah untuk membantu proses belajar anak. Sama seperti orang tua, tugas guru di sekolah adalah untuk membantu anak dalam belajar sehingga anak dapat terus berkembang. Karena itulah maka sekolah wajib memberikan fasilitas yang membatu proses belajar anak bukan memberikan fasilitas sehingga anak terhindar dari kesulitan. Ketika fasilitas yang diberikan adalah untuk terhindar dari kesulitan maka anak akan memahami bahwa ia tidak perlu berusaha dengan keras karena akan selalu ada orang lain yang siap sedia membantu mereka. Sebagai sebuah renungan, salah satu sekolah menyediakan OB/OG sehingga ketika kelas kotor atau murid menumpahkan makanan atau minuman, maka OB/OG yang akan membersihkannya. Manurut Anda, apakah itu fasilitas yang membantu proses belajar atau fasilitas yang membuat terhindar dari kesulitan?

Ketiga

Perhatikan pola relasi guru-murid dan murid-murid. Di zaman sekarang ini, pola relasi dalam bermasyarakat bersifat lebih terbuka dan fleksibel. Pola relasi dalam masyarakat ini mempengaruhi pola relasi di dalam sekolah karena pada sejatinya sekolah merupakan miniatur dari masyarakat.  Di dalam sekolah, relasi antara guru dan murid, serta relasi antar murid yang bertingkat dapat berpotensi membuat anak merasa diperlakukan tidak adil. Hal itu dapat memicu anak untuk bersifat defensif sehingga terlihat agresif.

Keempat

Pastikan para guru yang mengajar di sekolah tersebut memiliki kepribadian yang siap memahami. Guru yang memiliki kepribadian siap memahami akan dapat memberikan apa yang dibutuhkan oleh anak-anak muridnya. Ketika anak membuthkan teladan, maka guru akan meberikan contoh. Jika anak membutuhkan rekan, maka guru hadir sebgai teman bekerjasama. Bila anak membutuhkan pendapat, maka guru hadir sebagai konsultan, bukan malah menjadi komandan atau juru perintah.

Guru yang memiliki kepribadian siap memahami akan dapat memahami anak sebagai diri mereka sendiri secara utuh. Hal ini menjadikan program pendidikan di sekolah dilakukan dengan memperhatikan kondisi anak, bukan sekadar dilakukan dengan menyesuaikan kondisi gurunya.

Kelima

Pastikan para guru di sekolah tersebut sudah dewasa dan selesai menjadi anak-anak. Ketika guru belum menjadi dewasa, mereka akan terjebak dalam strategi anak-anak dalam berinteraksi dengan anak didik mereka. Strategi anak-anak seringkali muncul dalam bentuk adu menang, yaitu saling bersikeras memaksakan kehendak masing-masing. Kehendak yang muncul karena dorongan mencari yang enak dan menghindari yang tidak enak. Jika proses adu menang ini berlangsung terus menerus, lama-kelamaan anak akan belajar memaksakan kehendak pada orang lain.

Ketika seorang guru sudah menjadi dewasa, dia sudah memahami konsep perlu dan tidak tidak perlu, sehingga dia mengerti bahwa tidak perlu melayani strategi adu menang dari anak-anak murid mereka.

Ada lagi yang perlu diperhatikan oleh para orang tua, tapi ini bukan terkait dengan sekolah yang dituju. Ini lebih pada individu masing-masing orang tua. Sebelum kita memasukkan anak kita ke sekolah, kita perlu melihat jauh ke dalam diri kita sendiri.

Apakah kita sudah cukup dewasa untuk menjadi orang tua? Apakah memasukkan anak ke sekolah merupakan bentuk tanggung jawab kita atas asuh-didik anak atau jangan-jangan bentuk pelarian dari kita yang tidak mampu mengasuh dan mendidik anak?

Apakah anak-anak benar-benar butuh sekolah atau jangan-jangan kita sebagai orang tua yang butuh sekolah? Jika anak-anak yang butuh, mengapa kita yang uring-uringan saat anak mendapat nilai di bawah standar? Mengapa kita juga yang sibuk mengerjakan tugas pekerjaan rumah anak?

Maka saya pikir, sebelum kita memutuskan sesuatu pada anak, kita harus benar-benar mengenali anak-anak kita. Tapi sebelum itu, kita juga perlu mengenali diri kita sendiri, jauh lebih dalam.

Pendapat Anda:

1 Comment

Comments are closed.