[Ngibul #75] Klitih, Hichki, dan Pendidikan Kita

Posted: 6 August 2018 by Bagus Panuntun

Jika ada satu alasan yang membuat orang mulai mengatakan “Jogja tak lagi aman” alih-alih “Jogja berhati nyaman”, barangkali alasan yang paling jamak adalah makin banyaknya aksi klitih di Jogja.

Klitih sendiri dimaknai sebagai aksi kekerasan remaja untuk menganiaya orang di jalanan dengan target korban yang mana suka. Artinya, tak ada motif pribadi semacam dendam kesumat atau bahkan motif ekonomi seperti  merampok atau mencopet. Motivasi para pelaku konon tertuju demi harga diri mereka di antara teman-teman selingkarannya. Dalam bahasa yang lebih kekinian, motivasi klitih adalah “keren-kerenan” di antara sesama pelaku. Semakin kejam, brutal, dan membuat orang menjadi gempar, maka semakin keren pula mereka.

Ada banyak pendapat yang mengungkapkan tentang sebab menjamurnya klitih di Yogyakarta. Beberapa berpendapat bahwa klitih lahir dari tradisi tawuran antar sekolah, sementara ada juga pendapat yang mengatakan klitih lahir dari kemuakan warga lokal terhadap semakin banyaknya pendatang di Kota Pelajar, yang seringkali tak paham patrap alias unggah-ungguh alias tata krama hidup di Jogja.

Pendapat pertama saya kira cukup masuk akal. Klitih pada awal dekade 2.000-an memang identik dengan tawuran antar pelajar. Para pelajar yang kebanyakan pelajar SMA ini, biasanya menghabiskan akhir pekan dengan berombongan dan berboncengan motor, keliling kota, lalu ketika berpapasan dengan pelajar dari sekolah lain, mereka akan mencoba mencari masalah supaya bisa melibas ‘lawan’-nya. Meski demikian, pada awalnya klitih masih terbatas pada aksi saling hantam saja. Tak ada penggunaan senjata tajam, apalagi aksi membunuh secara random seperti sekarang.

Beralih ke pendapat kedua yang menyatakan klitih hadir dari makin banyaknya pendatang, saya kira pendapat ini sangat perlu kita pertanyakan. Pendapat ini mungkin tak sepenuhnya salah. Kita saat ini memang seringkali melihat para pendatang di Jogja yang kurang srawung dengan masyarakat lokal, bahkan seringkali bersikap eksklusif, dan hanya bergaul dengan teman sesama daerahnya. Namun di sisi lain, saya kira para pendatang juga tak sedikit dalam memberi pemasukan bagi warga lokal yang misalnya berbisnis indekost, kuliner, atau bisnis-bisnis kreatif lain. Sejauh pengamatan pribadi saya, masih ada simbiosis mutualisme antara pendatang dengan warga lokal.

Tak hanya itu. Dalam relasi yang lebih bersifat humanis, kolaborasi warga lokal dengan pendatang juga punya andil besar dalam mengangkat nama Jogja sebagai salah satu kota paling kreatif di Indonesia. Jika kita bergabung dengan komunitas tertentu di Jogja, kita tentu akan melihat bahwa komunitas-komunitas di Jogja diisi  anggota dengan spektrum yang sangat berwarna: ada warga asli Jogja namun ada juga yang berasal dari Sabang sampai Merauke. Kolaborasi dalam berbagai komunitas ini saya kira justru memperkuat citra Jogja sebagai kota yang pluralis sekaligus multikultural.

Ketidakpercayaan saya terhadap pendapat kedua semakin kuat ketika bulan ramadhan lalu terjadi aksi klitih yang menewaskan kakak angkatan saya di Fakultas Ilmu Budaya: Dwi Ramadhani alias Kubil.

Kubil dan Jagal Klitih Berumur 16 Tahun

Kubil melewati hari terakhir dalam hidupnya dengan membagikan sahur gratis kepada orang-orang jalanan sebelum kemudian tewas dibacok di perempatan Mirota, Jogja. Kematiannya yang tragis namun jatmika kemudian mengundang bela sungkawa tak habis-habisnya, namun tak pelak juga diikuti amarah pada begal pembunuh yang awalnya tak diketahui siapa.

Setelah beberapa hari dilakukan pelacakan, para polisi dan detektif akhirnya berhasil mengungkap siapa pembunuh tak dikenal tersebut. Namun orang-orang tak pernah menyangka bahwa salah satu sosok yang membunuh Kubil adalah bocah berumur 16 tahun.

Ketika mendengar berita tersebut, saya mulai memikirkan, apakah benar seorang bocah semuda itu sudah mempersoalkan tingkah-adab para pendatang?

Pertanyaan ini akhirnya terjawab setelah suatu hari saya menuliskan kegelisahan tersebut di twitter dan mendapat respon dari @lelakibudiman yang mengirimkan tulisan berjudul “Lumrahing Manungsa”. Tulisan di blog pribadi Ahmad Rahma Wardhana ini menyoroti sosok tersangka pembunuhan Kubil, si bocah 16 tahun, yang merupakan tetangganya sendiri.

Wardhana menceritakan masa lalu bocah tersebut yang ternyata adalah korban perundungan saat masih SD dan SMP. Ia kerap dipaksa dimintai uang, dikeroyok, hingga dikucilkan teman-teman sekelasnya. Namun alih-alih mendapat tanggapan serius dari pihak sekolah, ia justru dua kali dibiarkan harus pindah sekolah hingga akhirnya mendapat teman sepergaulan yang bengis dan barbar.

Kita tentu paham bahwa kita tidak sedang membela bocah tersebut meski kita tahu nasib pernah merenggut masa kecilnya yang indah. Tetapi dari sini setidaknya kita tahu, bahwa permasalahan klitih tak sekadar hadir karena semakin banyaknya jumlah pendatang. Lebih dari itu, ada sebab yang lebih mengakar dan saya kira hal itu berasal dari pendidikan kita.

Sejak SD hingga SMA, kita tak sekali-dua kali melihat mereka yang dianggap badung justru semakin disingkirkan. Bimbingan Konseling di negeri kita lebih sering memberi poin hukuman bagi anak-anak bermasalah, alih-alih mendampingi dengan sabar atau mencari tahu sebab-musabab kenakalan mereka. Saya kira hal tersebut yang membuat istilah ‘di-BK’ terkesan sangar dan terdengar buruk.

Sementara guru-guru di kelas juga tak kalah moralisnya dan biasanya lebih tak peduli mengapa seorang siswa bisa menjadi sangat brandal. Memikirkan hal tersebut, saya jadi teringat satu sosok guru dalam film India berjudul Hichki (2018).

Hichki dan Bagaimana Naina Mathur Mengajar Kelas 9F

Hichki berkisah tentang Naina Mathur (Rani Mukerji), seorang guru penderita touerette syndrome, sebuah gangguan neurologis yang membuat penderita tak bisa berhenti cegukan seumur hidupnya. Ia tak bisa mengontrol cegukannya atau bahkan sekadar menahan diri untuk diam selama 5 menit. Lebih lagi, suaranya saat cegukan sungguh keras dengan bunyi “Cak! Cak!” atau “Wak! Wak!” yang aneh betul saat didengar.

Pada mulanya, penyakit bawaannya membuat Naina harus ditolak 18 kali ketika melamar sebagai guru. Sampai akhirnya, setelah 5 tahun menjaga mimpi, Naina mendapat kesempatan untuk mengajar di St. Notker, salah satu sekolah unggulan yang mau menerima Naina karena dua hal: pertama, Naina adalah alumni St. Notker yang berprestasi, kedua, Naina hanya diberi kesempatan mengajar di kelas 9F, kelas yang dihuni 14 bocah bergajulan dari daerah kumuh Mumbai.

Bocah-bocah kelas 9F adalah siswa yang bisa diterima di St. Notker karena kebijakan pemerintah India, yang menghendaki setiap sekolah harus menerima murid yang tinggal di sekitar lokasi, terlepas dari kualitas yang mungkin berada di bawah standar. Tujuan program tersebut memang untuk memberi kesempatan bagi anak-anak kurang mampu untuk mengenyam pendidikan berkualitas. Sayangnya, kenakalan penghuni kelas ini membuat tak satupun guru mau mengajar mereka. Sampai akhirnya Naina datang.

Ketika Naina mendapat kesempatan mengajar di hari pertama, Naina pun dikerjai habis-habisan. Bocah-bocah ini misalnya memasang kursi dengan kaki patah yang membuat Naina terjungkal dan dipermalukan di depan umum. Mereka bahkan menirukan cegukan Naina untuk mengolok-oloknya. Namun alih-alih menyerah dan menyalahkan moral anak-anak tersebut, Naina justru berusaha mencari tahu latar belakang mereka.

Dalam satu fragmen, Naina yang heran mengapa tak ada satupun orang tua yang datang saat pengambilan rapot, memutuskan untuk datang ke rumah murid-murid 9F. Pada kunjungannya tersebut, Naina akhirnya tahu bahwa murid-muridnya lebih memilih membantu orang tuanya menjual sayur di pasar atau menambal ban di bengkel. Ia juga melihat realitas bahwa mereka tinggal di lingkungan yang mengalami kekeringan dan harus berebut air minum ketika kemarau datang. Dari kunjungannya, Naina akhirnya tahu bahwa penghuni kelas 9F adalah bocah-bocah yang terlahir di lingkungan kumuh dan berada dalam lingkaran setan kemiskinan.

Dari situlah Naina memutuskan untuk berusaha melakukan apapun supaya murid-muridnya tetap bisa diterima di St. Notker dan punya harapan yang lebih benderang untuk masa depan mereka.

Film Hichki saya kira sangat kontekstual untuk melihat bagaimana kondisi pendidikan di Indonesia sekarang. Hichki adalah film yang menyinggung isu diskriminasi dalam lingkungan pendidikan. Dan kita tahu, diskriminasi adalah permasalahan pelik. Sekolah sebagai ruang yang konon menjunjung tinggi nilai kesetaraan, nyatanya selalu memunculkan liyan dalam berbagai ragam bentuknya, mulai dari kaum difabel, mereka yang berasal dari kelas ekonomi ke bawah, atau mereka yang seringkali dianggap nakal dan bodoh.

Tak hanya sampai di situ, Hichki juga nampaknya mencoba menunjukkan bahwa akar terdalam dari permasalahan pendidikan kita adalah sistem yang terlalu demam pencapaian. Kritik ini ditunjukkan Hichki dengan fragmen-fragmen yang mempertentangkan model belajar kerja keras (hard work) dengan model belajar bersenang-senang (fun).

Dalam film ini, model belajar yang pertama diwakili oleh Mr. Wadia, guru fisika sekaligus wali dari kelas favorit, 9A, yang orientasi belajarnya sangat terpaku pada silabus. Mr. Wadia adalah perwakilan dari sebagian besar guru yang menolak kelas 9F karena menganggap mereka merepotkan dan memperendah nilai rata-rata siswa. Sementara model yang kedua tentu saja diwakili Naina, yang alih-alih kerap memberikan pelajaran di kelas, justru kerap membawa murid-murid kelas 9F belajar di taman atau lapangan. Ia juga menyempatkan diri untuk bertemu dan ngobrol dengan orang tua murid, makan es krim bersama muridnya, dan membangun kedekatan lain yang lebih bersifat kemanusiaan.

Menonton Hichki membuat saya berpikir bahwa saat ini kita perlu lebih banyak guru yang berpikir seperti Naina. Guru yang tak sekadar mengajar, namun juga mendengar. Guru yang tak hanya datang ke sekolah, namun juga sudi mampir rumah. Juga guru yang berpikir—sebagaimana dituliskan Timothy D. Walker dalam buku Teach Like Finland—bahwa sistem mendidik perlu menghargai kebahagiaan di atas pencapaian.

Salah satu kutipan paling terkenal dari film Hichki adalah ucapan Naina bahwa 

“Tak ada murid yang buruk. Yang ada hanyalah guru yang buruk.”

Ucapan Naina mungkin tak sepenuhnya benar. Namun kita tahu, guru yang mau berkata demikian adalah guru yang sangat rendah hati. Ia menyadari bahwa guru lebih bisa mengubah murid dibanding murid bisa mengubah guru.

Jika saja kita semua mau belajar dari Naina, barangkali permasalahan seperti klitih dan kenakalan-kenakalan remaja lainnya bisa teratasi.

Pendapat Anda: