[Ngibul #74] Minat Baca, Duta Baca dan Komunitas Baca

Posted: 30 July 2018 by Andreas Nova

Tentu anda sudah tahu bahwa membaca adalah salah satu kemampuan dasar yang sangat penting dimiliki oleh seorang manusia di zaman modern ini. Juga anda tentu tahu bahwa minat membaca di Indonesia angkanya cukup memprihatinkan. Salah satu upaya meningkatkan minat baca dan menumbuhkembangkan budaya gemar membaca masyarakat negara kita. Perpustakaan Nasional sejak tahun 2006 mengangkat seorang figur menjadi Duta Baca Indonesia. Salah satu tugas utama Duta Baca Indonesia adalah sebagai motivator nasional peningkatan minat baca masyarakat. Tahun 2006-2010, Duta Bahasa Indonesia adalah Tantowi Yahya, lalu tahun 2011-2015 diampu oleh wartawan senior, Andi F. Noya, kemudian 2016-2019, Najwa Shihab terpilih menjadi Duta Baca Indonesia.

Memilih seorang Duta Baca sebagai motivator untuk meningkatkan minat baca tentu saja bukan langkah yang salah sebagai salah satu upaya meningkatkan minat baca masyarakat. Namun, keberadaan “teman” membaca saya rasa jauh lebih penting untuk “menularkan” kegemaran membaca.

Beberapa teman, secara terpisah seringkali bercerita bahwa kegemarannya membaca seringkali dianggap “aneh”. Tidak hanya membaca, sekedar membawa buku bacaan saja seringkali rentan dianggap introvert di dalam lingkar pergaulan mereka. Mereka seringkali dianggap suka “tenggelam dalam dirinya sendiri” kalau sudah membaca buku. Padahal “menenggelamkan diri sendiri” tidak hanya dilakukan oleh orang yang suka membaca buku, orang yang kecanduan dengan gawai juga terkadang lebih “tenggelam” dari para pembaca buku. Anggapan mereka yang lebih akrab dengan buku, tidak bisa bergaul dengan manusia dapat ditemukan dimana saja, termasuk di Yogyakarta yang merupakan kota pelajar.

Sejatinya, DI Yogyakarta adalah salah satu provinsi yang memiliki minat baca cukup tinggi. Data BPS menunjukkan bahwa DIY menempati posisi ketiga provisi dengan minat baca tinggi di bawah Provinsi Riau dan DKI Jakarta. Idealnya minat baca yang tinggi akan berbanding lurus dengan prestasi belajar yang tinggi. Namun, ironisnya minat baca yang tinggi tersebut malahan berbanding lurus dengan angka kenakalan remaja yang juga tinggi di DIY. Bukan rahasia lagi jika di DIY fenomena kenakalan remaja (bahkan menurut saya malah menjurus pada kejahatan) seperti klitih banyak dilakukan oleh remaja yang seharusnya duduk manis di rumah sambil belajar atau baca buku.

DIY bukan provinsi yang kering akan bacaan. Banyak buku dari penerbit mayor hingga indie tersebar di Yogyakarta. Mau cari buku apa saja ada. Mau dalam kondisi baru ataupun bekas, sangat mudah sekali mencarinya. Bacaan ada, minat baca tinggi, masalahnya dimana? Yang ada di benak saya adalah peer pressure dalam mengembangkan minat baca.

Mereka yang punya minat baca, jarang sekali yang menunjukkan kegemaran membaca di depan umum. Mereka terkadang merasa aneh dan sendirian. Alangkah baiknya jika teman-teman yang memiliki kegemaran membaca sama-sama berkumpul dan membaca atau berdiskusi tentang buku.

Salah satu komunitas di Yogyakarta yang beranggotakan orang-orang yang memiliki kegemaran membaca adalah Klub Buku Yogyakarta (KBY). Kebetulan baru beberapa pekan yang lalu saya bergabung menjadi anggota Klub Buku Yogyakarta. Di komunitas ini, saya menemukan teman-teman yang asyik diajak berdiskusi mengenai buku. Banyak kegiatan-kegiatan menarik yang dibuat oleh teman-teman dari KBY. Ada bisa menengoknya pada tautan berikut.

Komunitas-komunitas seperti ini penting untuk meningkatkan peer pressure dalam mengembangkan minat baca. Daripada anda bengong gak jelas mendingan ikut Bengong Bersama KBY. Kehabisan buku bacaan, anda bisa minta masukan buku apa yang menarik dari teman-teman KBY. Gak punya duit buat beli buku bacaan? Main ke Perpustakaan Jalanan. Semoga ke depan KBY punya markas sendiri yang berfungsi sebagai perpustakaan, tempat nongkrong dan diskusi. Mending baca buku kan daripada diajak main sama temen terus ujung-ujungnya malah minum minuman keras, pakai narkoba, atau klitih?

Lebih membahagiakan lagi ketika beberapa hari yang lalu tersiar kabar bahwa salah satu anggota KBY, Salsabila Olivia Hatim—lebih dikenal dengan panggilan Olive Hatim—direkomendasikan menjadi Duta Baca DIY. Lengkap sudah. Tapi saya masih menunggu Olive salaman dan foto bareng sama mbak Najwa Shihab terus sepik-sepik mbak Nana buat nulis di situs web ini, hehehehe…. Salam Duta Kibul.in.

Pendapat Anda: