[Ngibul #73] Dul Kibul Pengen Sekolah Lagi

Posted: 23 July 2018 by Asef Saeful Anwar

Dul Kibul termenung cukup lama. Pesanan naskah drama untuk anak SMP dari seorang kepala sekolah malah ditelantarkannya. Jiwa sentimentalisnya yang kritis itu malah terbawa pada kenangan masa kecilnya. Tiba-tiba ia pengen sekolah lagi.

Ya, Dul Kibul pengen sekolah lagi. Ia ingin kembali menyaksikan bagaimana bel yang berdentang mampu mengubah Pak Guru yang pandai menyusun kalimat tiba-tiba menjadi begitu mahir membagi dan mengkalikan angka-angka yang berderet panjang hanya dengan sebuah rumus sederhana.

“Hidup itu harus penuh perhitungan,” kata beliau selepas mengoreksi pekerjaan murid-muridnya yang banyak salahnya.

“Soalnya kok lebih sulit daripada contohnya ya, Pak,” gerutu Dul Kibul.

“Sebab dalam contoh kalian hanya menyimak. Kalian tidak mengerjakannya. Kalian tidak melakukan apa pun selain melihat dan mendengar. Jadinya, soal dalam contoh terlihat mudah dan terdengar gampang.”

“Terus tadi contohnya buat apa, Pak Guru?” Marbakat bertanya seperti menggugat. (Ah, mengapa Marbakat muncul dalam lamunannya? Biarkanlah, biar ramai)

“Agar kalian tahu cara mengurai dan menyelesaikan masalah.”

“Tapi akhirnya kami tidak bisa…” Turinah terdengar pasrah dan malas. (Waduh, Turinah, si janda kembang itu, yang lulus SMP langsung nikah, juga ikut-ikutan masuk lamunan. Tak apa. Asal tidak membuat salah fokus.)

“Untuk menjadi bisa kalian memang harus tidak bisa dulu.”

“Tapi kenapa soalnya lebih sulit dari contohnya?” Dul Kibul kembali menggerutu.

“Sebab Bapak percaya kalian bisa mengerjakannya. Dan memang kalian bisa mengerjakannya.”

“Tapi kan cuma sedikit yang betul.”

“Biar sedikit yang penting ada yang betul. Akan bertambah banyak betulnya kalau kalian sering berlatih.”

“Jadi, Pak Guru akan memberi soal lagi? Duh…”

“Tidak, kalian buat soal sendiri lalu kerjakan sendiri. Kalau tidak bisa kasihkan ke teman semeja.”

“Kalau nanti kami salah mengerjakannya?”

“Jangan takut salah. Salah dalam belajar itu tidak dosa. Kita nanti bisa bahas bersama.”

“Kenapa kami harus buat soal sendiri?”

“Karena dalam hidup kalian pasti akan membuat masalah. Untuk itu kalian harus tahu jalan keluarnya, atau nanti dibantu teman untuk menyelesaikannya. Saling membantu menyelesaikan masalah adalah pelajaran utama dari kerja kelompok.”

***

Dul Kibul pengen sekolah lagi. Ia ingin menyaksikan banyak keajaiban yang dilakukan Ibu Guru dengan sebatang kapur yang dipegangnya. Dengan sebatang kapur itu, Ibu Guru mampu mengecilkan gunung, rumah, dan sawah serta segala isi dunia ini untuk dipasang di papan tulis. Ibu Guru juga pandai melekatkan nada-nada lagu riang dalam setiap ketukan mistar kayunya. Dan yang paling diingat Dul Kibul, beliau bisa dan biasa membesarkan atau mengecilkan kepala para muridnya hanya dengan bolpoin merah yang digariskan pada pekerjaan mereka.

“Anak-anakku, kata-kata adalah mukjizat,”

Demikian Ibu Guru berujar sebelum menggaritkan kapur putihnya pada papan yang hitam, dan dengan doa yang dipanjatkannya tiap malam untuk Dul Kibul dan kawan-kawannya—ya Ibu Guru adalah orang yang amat baik sehingga selalu mendoakan murid-muridnya—beliau mampu mengubah susunan garis-garis kapur putih itu menjadi kata-kata yang berwarna-warni: merah (mereka melihat warna merah), kuning (mereka melihat warna kuning), hijau (mereka melihat warna hijau)….lalu ia menuntun murid-muridnya melewati tangga nada dengan riang gembira. Ah, betapa saat kecil ia dan kawan-kawannya begitu banyak dikenalkan warna dan ketika dewasa mereka justru cenderung melihat segalanya dalam hitam dan putih, seolah tak ada warna lain,

“Setiap kata, anak-anakku, memiliki jiwa,”

Ibu Guru hampir selalu berkata demikian menjelang murid-muridnya berdoa sebelum pulang, seperti mantra yang tiada memiliki arti, tapi berkhasiat menenangkan murid-muridnya agar tidak terburu-buru.

“Buru-buru itu perbuatan hantu, manusia tidak begitu,”

“Apa di sekolah ini ada hantunya, Bu Guru?” tanya Dul Kibul.

“Tidak ada. Di sekolah ini, terutama di kelas ini ada banyak malaikat, dan mereka mendekat ketika kalian menulis untuk melihat catatan kalian. Makanya, tulisan kalian harus rapi. Mereka juga tersenyum ketika mendengar kalian membaca.”

“Apa malaikat bisa mendengar suaraku kalau aku membaca dalam hati?” Marbakat selalu bertanya dengan nada menggugat.

“Bisa. Selama kalian membaca, baik dalam hati maupun dengan nyaring, mereka mendengarkan. Dan mereka sangat suka mendengarkan saat kalian membaca.”

“Jadi, malaikat tidak hanya mendengarkan doa ya, Bu Guru?” Turinah bertanya tapi seperti menyimpulkan.

“Iya, benar. Dan mereka sangat suka manusia yang rajin berdoa. Ayo berdoa dulu sebelum pulang.”

***

Dul Kibul benar-benar pengen sekolah lagi. Ia ingin sekali mengulang dan belajar kembali bagaimana cara berdoa sebelum pulang, sebab sudah berkali-kali ia pulang dari tempat kerja tapi tak pernah berdoa. Sebagai tukang kibul ia memang telah lupa cara berdoa. Dan kini, ia begitu resah bila sewaktu-waktu berpulang tanpa sempat berdoa lebih dulu.

Pendapat Anda: