[Ngibul #61] Sejarah Kecil Awal dan Akhir Keraton Surakarta dan Pernak-Pernik Cara Berpikir Masyarakat Kita

Posted: 16 April 2018 by Olav Iban

Sekitar tahun 1948 hingga 1966, pascamerdeka hingga tragedi PKI, ada satu buku yang populer dibaca masyarakat Jawa. Judul buku itu adalah Peran Ramalan Djojobojo dalam Revolusi Kita. Ditulis oleh Tjantrik Mataram, nama samaran yang artinya murid Mataram.

Saya mengetahui buku ini dari seorang bapak sepuh yang mengaku diri sebagai dosen Fakultas Hukum UI yang sedang mengambil S3 Filsafat di UGM. Saya, yang kala itu masih mahasiswa S1, bersama Mas Wisnu penjual koran di Kantin Bonbin UGM, ternganga-nganga dikisahkan masa revolusi dulu. Percakapan berdiri di kios koran berpindah ke bangku kantin. Si bapak ini sepertinya jengkel dengan saya, sementara saya tidak percaya dengan kisah si bapak. Maka, kami berdua sepakat membolos kuliah. Beliau menguliahi saya, dan saya belajar darinya. Sampai di akhir sore, bapak ini memberi tugas: cari buku tersebut, baca, lalu hubungi ketika selesai. Ia memberi nomor HP-nya, dan pulang.

Tidaklah penting dikisahkan di sini bagaimana kuliah-kuliah informal kami selanjutnya di Kantin Bonbin. Yang menarik ialah semenjak itu saya menyadari kesalahan dalam pengupayakan generalisasi terma dari dunia Barat dengan Timur. Masyarakat Indonesia, terutama Jawa, memiliki cara berpikir yang lebih seru dalam mendefinisikan terma-terma (juga benda) Barat yang diadopsi ke kebudayaan Indonesia, ketimbang pencetus aslinya di Barat sana.

Ambillah satu contoh terma relokasi (atau dalam kasus ini tepatnya pendirian ulang) kota kerajaan dari Kartasura ke Surakarta. Relokasi memang tak sepenuhnya konsep Barat karena kata Loka diambil dari bahasa Sansekerta yang berarti tempat, dunia, atau bagian semesta. Tapi sengaja saya ambilkan sebagai contoh karena cara berpikir dalam kajiannya sungguh menarik, dan melibatkan pemikir Barat dan pemikir Timur.

Peristiwa pemindahan ibukota itu dikisahkan dalam Babad Giyanti, sebuah babad bersajak yang ditulis sekitar abad ke-18 oleh pujangga keraton Yasadipura. Dikisahkan pada tahun 1745, Sunan Paku Buwana II mengumpulkan para penasihat dan menterinya untuk memberitahukan niat angalih nagara (pemindahan ibukota) yang baru saja dihancurkan oleh pasukan gabungan Cina-Jawa di bawah pimpinan Sunan Kuning dan pasukan Madura pimpinan Cakraningrat IV.

Maka dimintalah kepada mereka untuk mencari lokasi yang tepat sebagai penggantinya. Di sana juga ada seorang komandan garnisun Belanda yang urun pendapat. Menurutnya, Desa Kadipolo di sebelah timur sungai Bengawan Solo adalah tempat paling pas untuk membangun sebuah ibukota. Tanahnya rata dan sebagian hutannya sudah sempat dibabat. Di lain pihak, seorang tumenggung bernama Tumenggung Honggawongsa mengusulkan Desa Solo. Namun, tempatnya berawa dan berbukit-bukit. Ketika ditanya alasannya, ia mengemukakan bahwa menurut perhitungannya bila ibukota ditempatkan di timur Bengawan, maka orang Jawa akan kembali memeluk agama Budha (tiyang jawi badhé wangsul Buda malih). Tak ayal, pendapat itulah yang diterima sehingga dibangunlah Keraton Surakarta di Desa Solo yang berawa dan berbukit-bukit itu.

Kekhawatiran Sunan Paku Buwana II tentang kembalinya orang Jawa memeluk agama Budha bukan tanpa alasan. Di Jawa, terdapat sebuah ramalan terkenal dari Sabdopalon yang konon adalah penasihat Brawijaya, raja Majapahit terakhir. Ketika sang raja—atas dorongan Sunan Kalijaga—memutuskan masuk agama Islam, Sabdopalon memilih meninggalkan sang raja sambil berkata bahwa ia akan kembali lagi 500 tahun lagi menyebarkan agama Budha ke seluruh Jawa. Lalu, ia pun menghilang di udara.

Tafsir terhadap perkataan Sabdopalon ini tidak melulu diartikan kebangkitan agama Budha. Beberapa buku (seperti buku Tjantrik Mataram dan juga buku Sabdo Palon Genggong karya Sumodidjojo) lebih mengartikan budi dalam konsepsi pengetahuan luhur ketimbang budi sebagai Budha.

Untuk lebih serunya (bagi yang bisa berbahasa Jawa), saya kutipkan tembang sinom Sabdopalon berikut:

“Sabdopalon matur sugal, yén kawula boten arsi, angrasuk agama Islam, wit kula punika yekti, ratuning danyang Jawi, momong marang anak putu, sagunging pri prayangan, kang dumunung tanah Jawi, wus pinasti sayekti kula pisahan.

 “Kalawan Paduka Nata, wangsul mring kajiman mami, mung kula matur pitungkas, benjing ing sapungkur mami, yen wus prapta kang wantji, jangkep gangsal atus taun, awit dinten punika, kula gentos ing agami, agami Budi kula sebar tanah Jawi.”

Peristiwa Brawijaya memeluk agama Islam terjadi pada tahun 1478 (atau 1400 Saka), maka dalam hitungan 500 tahun tersebutlah tahun 1978.

Selain penyerbuan kampus ITB oleh militer, tidak ada peristiwa heboh di tahun 1978. Tidak ada kemunculan tokoh gaib Sabdopalon, tidak ada pula kelahiran kembali agama Budha. Sepanjang 1978 yang begitu-begitu saja, hanya satu peristiwa yang luar biasa, yakni seekor macan dari Gunung Merapi tersesat sampai di kampus UGM, Sleman. Dan adalah putra Presiden Soeharto yang khusus datang dari Jakarta untuk membunuhnya (Denys Lombard, Nusa Jawa 1, 2008:27). Tentu tidak ada yang mengkait-kaitkan turunnya macan Gunung Merapi dengan ramalan Sabdopalon, cuma saya saja yang kurang kerjaan. Kalaupun iya benar, toh sudah ditembak mati—oleh anak presiden pula.

Masyarakat nusantara memiliki cara pandang yang berbeda, unik, dan menarik dalam memaknai sesuatu yang baru masuk dari luar kebudayaan mereka. Cara pandangnya cenderung asosiatif. Seperti misalnya tentang meriam.

Raja-raja Jawa memiliki kegemaran khas terhadap meriam berkaliber raksasa yang dianggap perlambang kerajaan dan tanda pengaruh raja terhadap dunia. Di antara meriam-meriam raksasa, tersebutlah meriam Ki Jimat milik Sultan Demak yang dibuat sekitar tahun 1528 dengan bantuan Khoja Zaenal, seorang Portugis yang menjadi abdi Sultan Demak. Selain itu ada pula meriam Si Jagur buatan Portugis yang direbut VOC dari Malaka dan sekarang bisa dikunjungi di Kota Tua, Jakarta. Atau ada pula meriam Sapu Jagad yang terkenal itu.

Suara dentumannya yang menggelegar menjadi tanda kekuatan sang raja. Biasanya ditembakkan pada saat-saat tertentu, seperti upacara penting, saat pengumpulan massa, atau bahkan penanda kemurkaan raja. Kemegahannya serta bentuknya yang gigantik membuat meriam berubah fungsi dari yang semula alat tempur menjadi pusaka keramat kerajaan yang menjadi representasi kewibawaan raja.

Bagi masyarakat awam, meriam-meriam raksasa itu memunculkan kenangan pra-Islam tentang lingga dan kultus kesuburannya. Jadi tak sulit menebak mengapa banyak sekali wanita-wanita mandul mendatangi meriam keramat milik raja untuk meminta berkah darinya, sebagaimana dilukiskan Comte de Beauvoir ketika mengunjungi Jawa pada 1866.

Mungkin bagi sebagian orang modern, cara pikir yang seperti ini ditertawakannya saja. Perlu kita ingat bahwa ketakutan akan kekurangan anak sesungguhnya merupakan ciri arkais pedesaan Nusantara masa lampau yang berlangsung sangat lama, yang diwarisi dari suatu masa dahulu kala yang amat jauh ketika kekayaan sejati bukanlah tanah dan uang melainkan tenaga kerja, yakni ketika manusia harus melawan hutan rimba dan membuat ladang berundak untuk bertahan hidup (Lombard, Nusa Jawa 3, 2008:84).

Selain meriam, dapat pula dicontohkan tentang konsep taman. Bila di Barat taman-taman istana dekat dengan unsur simetris, matematis, dan segala pendapat estetika pascarenaissance di mana alam dibentuk sedemikian rupa untuk menyenangkan mata dan pikiran, maka di Timur (yang tidak mengalami renaissance) memaknai taman sebagai mikrokosmos, suatu semesta mini di mana raja sebagai pucuk pimpinannya—perwakilan sang khalik di dunia.

Taman di dalam kebudayaan timur dipenuhi simbolisme. Di Keraton Yogyakarta misalnya, ditanam 64 pohon beringin, termasuk dua pohon beringin utama, sehingga mencapai jumlah yang sama dengan usia Nabi Muhammad pada saat wafatnya. Pohonnya pun bukan sembarang pohon. Ketika Ki Jayadaru (salah satu beringin di alun-alun utara) mati pada 1925, masyarakat gempar dan sebuah upacara diadakan untuk menguburnya. Segera raja mencari penggantinya. Walau tidak mudah—baru didapat jauh hingga ke Pasundan—akhirnya ditanam pohon beringin penggantinya yang diberi nama Ki Janadaru.

Tentang tanaman, ada kisah menarik. Keraton Surakarta sejak lama dipercaya memiliki keterkaitan dengan bunga langka wijayakusuma (pisonia silvestris) yang dipercaya milik Ratu Kidul. Pada setiap penobatan raja baru di Surakarta, bunga tersebut harus dimakan oleh sang raja baru (dahar kembang wijoyokusumo).

Bunga ini tak boleh sembarangan. Tumbuhnya hanya di sebuah pulau di tengah laut sekitar Nusakambangan. Ketika Paku Buwono XI hendak dinobatkan, berangkatlah utusan keraton mencari bunga tersebut. Salah seorang utusan mestilah tinggal di pulau itu sampai sewaktu malam melihat bunga wijayakusuma untuk dipetik. Cara memetiknya pun tak bisa asal. Tidak boleh dilihat. Pemetik haruslah memejamkan mata dan memasukannya ke dalam bokor emas.

Kabar yang tersiar kala itu bahwa bunga wasiat sulit didapat sehingga memerlukan waktu yang lama. Sekembalinya di Solo, dari stasiun menuju keraton ternyata bunga wasiat tersebut disinggahkan dulu ke Kantor Gubernur Belanda untuk diperiksa. Masyarakat pun gelisah karena tindakan itu adalah pamali. Tiada seorang pun selain susuhunan diperbolehkan membuka dan melihat bunga wijayakusuma dari laut selatan. Kendati tersiar berita bahwa bunga yang diperiksa itu adalah palsu, sementara yang asli sudah dibawa masuk ke dalam keraton lebih awal, tetap saja masyarakat berprasangka jelek. Semenjak itu banyak masyarakat yang beranggapan keraton mulai kehilangan wahyunya dan menjadi awal kemunduran Keraton Surakarta.

Sungguh sedih bila diingat lagi bagaimana dahulu pemindahan keraton Surakarta dimulai oleh sebuah pandangan, dan berakhir juga oleh sebuah pandangan.

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: https://kibul.in/cara-berkontribusi

Pendapat Anda: