[Ngibul #55] Sisa-sisa Adu Domba

Posted: 5 March 2018 by Olav Iban

23 Agustus 1682,  kapal Kemphorn diberangkatkan dari Inggris menuju Banten. Menumpang di dalam kapal, serombongan diplomat Kesultanan Banten yang dipimpin Kiai Ngabei Nayawipraja dan Kiai Ngabei Jayasedana. Membawa pulang hasil diplomasi 3,5 bulan dalam secarik surat pribadi yang diserahkan setangan kepada mereka oleh Raja Charles II untuk Sultan Ageng. Isinya bukan main-main: janji persahabatan Kerajaan Inggris dengan Kesultanan Banten.

Dua diplomat itu sebelumnya bertolak dari pelabuhan Banten pada Senin, 10 November 1681, membawa muatan lada, kayu bahar, jahe, cengkih, dan barang-barang pribadi senilai 7.000 rial. Juga diangkut pula hadiah Sultan Banten untuk Raja Inggris berupa 200 batang lada, beberapa berlian, dan seperangkat burung merak emas dengan batu permata yang kesemuanya bernilai 12.000 rial.

Rakyat London mengelu-elukan dua diplomat dari negeri jauh. Mengagumi kemewahan hadiah dari Sultan Banten. Rombongan duta besar Banten dijemput 60 kereta kuda yang ditarik enam ekor kuda. Di arakan terdepan ada pasukan berkuda para bangsawan Inggris yang dipimpin Sir John Wetwang. Kemudian diikuti sebuah kereta yang di dalamnya terdapat dua payung putih milik Sultan yang tidak dikembangkan—perwakilan kehadirannya. Lalu kereta untuk Kiai Ngabei Nayawipraja ditemani oleh Sir Charles Cotterel, Sir Henry Dacres, dan Mordent, sementara kereta Kiai Ngabei Jayasedana ditemani Sir Jeremey Sambroock, Master Darcey, dan Marshall. Di belakangnya lagi terdapat iring-iringan pasukan duta besar yang membawa payung-payung bangsawan Kesultanan Banten.

Sepanjang jalan dari Towerhill ke Aldgata dan Leadenhall Street, bukan main meriahnya rakyat London menyambut misi diplomatik dari Banten itu. Seremoni penyambutan dilakukan tiada taranya. Selain untuk menghormati Sultan Banten, juga karena mereka duta besar pertama dari bagian dunia Timur yang pernah datang ke Inggris. Mereka diperkenalkan kepada Raja Charles II dan Ratu pada 14 Mei 1682 lewat upacara besar, diikuti dengan penyerahan surat pribadi Sultan Banten dan pemberian hadiah-hadiah.

Selama bulan Juni 1682, kedua tamu penting itu dibawa berkunjung dan diperkenalkan ke Tower of London, Westminster Abbey, House of Lords, dan House of Commons. Sebelum kedua duta besar Banten ini menyelesaikan misinya dan pulang ke tanah air, mereka mendapat gelar bangsawan oleh Raja Inggris beserta pedang kehormatan. Kiai Ngabei Nayawipraja diberi gelar Sir Abdul, sedangkan Kiai Ngabei Jayasedana mendapat gelar Sir Achmet.

Kisah gilang-gemilang misi diplomatik Kesultanan Banten itu tak banyak yang tahu. Tak pernah ada noktahnya dalam buku sejarah. Penyebabnya sepele: karena kapal Kemphorn Inggris yang membawa kedua diplomat itu ditolak berlabuh di Banten, tanah airnya sendiri.

Ketika mulanya rombongan diplomat Banten diberangkatkan tahun 1681, Sultan Haji sang Putera Mahkota (anak Sultan Ageng) masih memiliki hubungan baik dengan ayahnya yang anti-Belanda. Tetapi selang beberapa bulan kemudian, Sultan Haji berbalik arah politik. Ia membelot menjadi pro-Belanda. Sultan Ageng dikudeta oleh anaknya sendiri, terusir dari istananya dan dipenjarakan. Sultan Haji yang akhirnya berkuasa atas bantuan Belanda mengusir semua orang Inggris dari Banten pada 12 April 1682, dan putuslah kontrak persahabatan Inggris-Banten yang telah jauh-jauh melintasi samudera.

Seorang anak mengkhianati ayahnya? Apalagi kalau bukan karena adu domba. Adu domba? Apalagi kalau bukan karena nafsu kekuasaan melebihi hasrat kekeluargaan.

Berlalu waktu, 130 tahun kemudian, Kesultanan Banten tiada lagi sebanding dengan Kerajaan Inggris Raya maupun Kerajaan Belanda. Pada tahun 1808, Deandels, Gubernur Jenderal Hindia Belanda, memerintahkan penghancuran Istana Surosuwan karena Sultan Banten kala itu menolak memindahkan ibukotanya guna pembangunan Jalan Raya Pos. Lebih menyedihkannya, ketika Kerajaan Inggris berkuasa di tanah Jawa, tanpa ampun Gubernur Raffles melucuti tahta Sultan Banten. Kesultanannya pun resmi dihapus dari peta dunia pada 1813 oleh Pemerintah Kolonial Inggris, sang calon mantan sahabat.

Kisah di atas hanya satu dari senarai sisa-sisa adu domba. Di Indonesia, permainan politik devide et impera (memisah dan menguasai) sudah lama melegenda sampai ke desa-desa walau tak ada yang bersusah payah belajar darinya. Kerajaan-kerajaan besar di belahan Bumi lain bukannya luput dari adu domba. Bahkan berkali lipat banyak dan akibatnya. Perang Napoleon (1803-1915), perang Kaisar Wilhelm (1914-1918), perang Adolf Hitler (1939-1945) adalah contoh majestik adu domba yang kualitas dan kuantitasnya lebih gila ketimbang perang Sultan Haji. Bedanya, mereka belajar dan yang lain tidak.

Mereka, yang belajar, tak mau lagi jatuh ke dalam perpecahan dan pertikaian. Menolak terpenjara di balik tembok kesukuan, agama, ras. Mereka telah belajar bahwa adu domba adalah permainan majenun yang mengatur agar suku, agama, ras berkohesi dengan hak-hak kelompok, bukan hak-hak individu.

Saeful dan Andreas bukan lagi Saeful dan Andreas, melainkan orang kristen atau muslim, cina atau pribumi. Orang yang terlarut ke dalam permainan majenun adu domba tidak mampu melihat Saeful atau Andreas sebagai individu, tetapi hanya mau memandang mereka sebagai representasi kelompok suku, agama, rasnya. Padahal, bilamana sekejap saja ia melihat Saeful atau Andreas sebagai individu, hilanglah perbedaan dan muncullah persaudaraan. Serupa seandainya Sultan Haji memandang Sultan Ageng sebagai ayahnya, alih-alih lawan kekuasaannya.

Mereka yang mau belajar dari sisa-sisa adu domba akan mampu mengembangkan hidup ini. Sibuk melakukan misi-misi konstruktif yang memacu kebahagiaan universal: membuat mobil listrik, membangun PLTB, mendirikan perpustakaan gratis, mengajar di desa tertinggal, mencari algoritma pengentas kemiskinan, membuat roket ke luar angkasa, dst.

Sebenarnya lucu bila ingat kita yang lebih dulu mengenal amalgamasi malah masih terpenjara di antara tembok itu. Seperti Kesultanan Banten di masa gilangnya dulu, mereka—yang belajar—ini mengirimkan misi-misi yang melompati tembok kesukuan, agama, ras.

Dulu, ketika Indonesia dilanda pertumpahan darah antarsaudara 1965, seorang sarjana muda Institut Teknologi California mencetuskan ide perjalanan lintas galaksi, mencari apa yang belum diketahui umat manusia di luar sana. Kini, Februari 2018, ketika sebagian ‘sultan-sultan’ kita disibuki perdebatan hari Valentine, selamat Imlek, kembalinya PKI—atau apalah itu—sementara itu semua, di langit sana dalam keheningan luar angkasa, sebuah misi lintas galaksi Voyager sudah 21.166.657.174 km jauhnya dari Bumi, melewati Pluto sambil terus mengirimkan informasi ilmiah ke Bumi untuk masa depan umat manusia.

Lalu, kita?

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: https://kibul.in/cara-berkontribusi

Pendapat Anda: