[Ngibul #48] Puisi dalam Stereotip Gaib dan Menye

Posted: 15 January 2018 by Fitriawan Nur Indrianto

Entah mengapa di kalangan masyarakat umum khususnya anak muda puisi kerap dianggap sebagai sesuatu yang kalau tidak gaib ya menye. Gaib karena bagi anak muda bahasa puisi dianggap sebagai bahasa yang berat. Seolah bahasa puisi adalah bahasa planet Namec yang ditulis para alien. Ketika seorang kenalan baru menanyakan pada kita perihal jurusan kuliah, dan tahu bahwa kita adalah mahasiswa sastra, maka mereka akan langsung menyahut, “Wah pintar nulis puisi dong. Berat nih.” Kadang saya mau menjawab, “Berat ndasmu,” tapi urung (karena memang berat sih).

Kegagalan pencitraan puisi sebagai sesuatu yang indah, manusiawi namun tetap membumi tampaknya memang sudah dikonstruksi sejak lama. Tentu kita ingat jargon “Jangan berbicara padaku dengan bahasa manusia // aku dari surga” dari Chairil Anwar. Nampaknya, kemahatinggian puisi memang sudah terbentuk sejak tradisi sastra Indonesia (modern) lahir. Puisi menjadi asing dari masyarakat, menjadi bahasa golongan menengah perkotaan, dan hidup dalam ruang skala terbatas.

Meski puisi kerap dianggap mahatinggi, di sisi lain puisi sering dimaknai sebagai sarana pengungkapan rasa cinta yang bertele-tele (menye-menye). Entah apa yang salah dengan persepsi kita mengenai puisi. Puisi seolah hanya urusan kata-kata berbunga penuh rayuan dusta, sarana buat nembak cewek, atau sebagai bahan kutipan kata-kata bijak belaka. Begitu menyedihkannya stereotip puisi terilustrasi di  film layar lebar berjudul Jomblo  (2006). Dalam film itu, tokoh Olive benar-benar menjadi pecundang, mengungkapkan perasaan dengan puisi, susah-susah menulisnya plus akhirnya cintanya tetap ditolak. Njir! Kasihan amat.

Kalau kita membuka instagram dan menulis tagar puisi dalam kolom pencarian, maka akan muncul puluhan akun yang bertema puisi. Hanya saja, sebagian besar akun itu diisi oleh puisi yang seperti saya katakan di atas: “menye-menye.” Seringkali juga, puisi liris ala Sapardian seperti “aku ingin mencintaimu dengan sederhana”, dikutip oleh para kids ini dengan sepenggalan saja. Padahal puisi itu menyimpan makna filosofis pada bait berikutnya tapi kemudian diabaikan.

Ini sungguh problematik. Di satu sisi, puisi telah berada dalam stereotip yang asing karena keadiluhungan bahasanya, tetapi di sisi lain puisi muncul dengan stereotip yang lebay. Menariknya, jenis pertama hidup dalam arena skala terbatas yang hanya dinikmati oleh para pecinta sastra. Sementara yang kedua menjadi gejala populer, viral, dan digandrungi.

Bagaimana kontradiksi ini bisa hadir? Sejauh yang saya pahami tradisi berpuisi kita (sastra Indonesia modern) memang sudah terkonstruksi sedemikian rupa. Dibandingkan dengan karya sastra lain, puisi memang dianggap memiliki kesakralan tersendiri. Tak sembarang orang bisa menciptakan puisi yang bagus. Kata-kata dalam puisi pun begitu dipilih dan seringkali menggunakan bahasa yang kurang dikenal masyarakat sehingga seolah-olah tampak asing. Selain itu, ketaklangsungan pengungkapan yang menjadi salah satu unsur puisi diwujudkan dalam bentuk gaya kebahasaan yang sebenarnya sederhana saja, tetapi karena jarang didengar sehingga kemudian dianggap berat dan asing. Orang tak lagi mau bersusah-payah untuk mengungkap makna di balik pernyataan yang tak langsung itu. Sementara itu, gejala yang kedua yakni puisi cinta menye-menye lahir dari mereka yang menulis puisi dengan tak mau bersusah-susah. Gejala yang kedua ini saya kira lahir dari ketakmampuan menjangkau puisi yang ditulis dengan bahasa yang “bersusah-payah” itu. Sebenarnya, para penulis puisi jenis ini ingin dekat dengan puisi jenis pertama namun puisi tersebut dirasa terlalu tinggi dan tak terjangkau. Kemudian lahirlah jenis puisi yang kedua yang seringkali asbun dan miskin makna.

Sebagai penjaga gawang rubrik puisi Kibul, kedua gejala ini memang sering saya temukan. Banyak penulis yang mencoba mengikuti gaya penulisan sastra yang bersusah-payah itu. Mereka ini biasanya adalah orang-orang yang memiliki sedikit pengetahuan soal sastra. Hanya saja, seringkali penulis puisi terjebak dalam kebentukan (metafora-metafora) yang malah terlalu muluk bahkan nyaris tak terbaca. Segalanya dibikin canggih dan terkesan begitu puitik namun sebenarnya norak. Sementara jenis yang kedua memang harus saya katakan tidak menarik. Ketika bertemu puisi-puisi cinta yang lebay, jelas ini akan lebih sulit mendapat kesempatan tampil di Kibul (Walaupun banyak puisi cinta yang tak lebay dimuat Kibul).

Problematika yang demikian memang sudah sejak lama muncul sebagai dinamika dalam perkembangan sastra Indonesia. Sejak masa kolonial, sastra kita memang dibentuk sebagai sastra yang asing. Sastra yang sebelumnya menggunakan bahasa Melayu pasar (sebuah bahasa yang digunakan sehari-hari) kemudian tergeser oleh sastra adiluhung versi Balai Pustaka. Kemudian sastra semacam itu terus direproduksi menjadi sastra kanon sampai ke perkembangannya dewasa ini.

Sebenarnya perdebatan demi perdebatan telah banyak mencuat, misalnya dalam polemik Lekra versus Manifesto Kebudayaan, perdebatan sastra kontekstual, dan sebagainya. Intinya, banyak pelaku budaya resah karena kemahatinggian kesusastraan Indonesia. Sayangnya jawaban akan hal itu tampaknya tak juga muncul-muncul.

Di tengah polemik yang tak kunjung usai, gejala populer merebak sejak memasuki tahun 1980-an. Puncaknya adalah pascareformasi ketika orang mulai jenuh dengan keteraturan yang diciptakan. Raditya Dika cs., barangkali menjadi pionier untuk mencipta sastra yang populer pascareformasi dengan gayanya yang nyeleneh tapi digemari. Sastra didekati dengan gaya yang lebih sederhana. Kemudian muncul juga penulis lain yang menulis dengan gaya yang demikian. Hal yang sama juga terjadi dalam penulisan puisi. Puisi pun mulai terdegradasi dalam bentuk yang sederhana. Bahasanya mudah dimengerti tapi seringkali kehilangan substansi. Sayangnya hal tersebut seolah-olah menjadi common sense juga sebagai sesuatu yang taken from granted.

Sebenarnya ada puisi-puisi yang memiliki bentuk bahasa yang sederhana tapi tetap kaya makna. Puisi Joko Pinurbo barangkali menjadi salah satu catatan di dekade ini yang berhasil membawa puisi dalam ungkapan dan bahasa yang lebih sederhana namun tak kehilangan susastranya. Tapi puisi model Jokpin juga masih belum menyebar dan kalah bersaingan dari puisi lebay yang marak. Remy Silado juga pernah mencoba menghadirkan puisi dengan gaya baru melalui puisi-puisi mbelingnya. Namun lagi-lagi juga kurang efektif menjangkau publik luas dan hanya terbatas pada masyarakat sastra belaka.

Inilah akar masalahnya. Ada ruang kosong di mana para sastrawan (pemerhati sastra dan juga pemerintah) gagal menciptakan jembatan antara yang adiluhung dan yang bisa diterima masyarakat. Puisi tiba-tiba terpetak dalam ruang yang jaraknya begitu jauh. Masalahnya adalah puisi memang tidak pernah benar-benar dikenalkan kepada masyarakat luas, sehingga yang adiluhung tetap menjadi asing. Padahal, bahasa puisi yang seolah gaib dan berat itu andai saja menjadi konsumsi sehari-hari tentu akan menjadi sesuatu yang biasa-biasa saja.

Jika memang terus akan seperti ini, sudah pasti puisi akan tetap berada dalam ruang surgawi yang tertutup itu. Ia akan tetap asing.

 

*Gambar adalah lukisan Vincent Van Gogh berjudul Wheatfield Under Thunderclouds, 1890

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: https://kibul.in/cara-berkontribusi

Pendapat Anda:

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *