[Ngibul #45] Pose dan Caption

Posted: 18 December 2017 by Asef Saeful Anwar

Banyak orang percaya bahwa kepribadian seseorang dapat dilihat dari bagaimana cara ia tersenyum, apakah ia sekadar menarik bibirnya untuk membentuk sebuah ceruk, atau turut pula bibir itu dibuka untuk memperlihatkan barisan giginya. Mereka yang tersenyum tapi dengan rapi menyembunyikan barisan giginya cenderung orang-orang dengan pribadi yang tertutup, sebaliknya mereka yang gemar tersenyum dengan membuka bibirnya hingga barisan giginya terlihat adalah pribadi yang terbuka.

Tentu itu hanya berlaku untuk senyum yang jujur, tulus, dan natural, bukan dalam rangka pose, dibuat-buat, dan manipulatif. Bila kita berhadapan langsung dengan seseorang, sebuah senyum dapat mudah diidentifikasi apakah pura-pura, terpaksa, atau tulus apa adanya menggambarkan kepribadiannya. Konteks ketika senyum itu mengembang menjadi titik terang yang mampu menjelaskan kejujuran sebuah senyum. Persoalannya apabila senyum itu muncul dalam sebuah potret yang hanya mengekalkan momen melalui latar belakang gambar, tapi telah tercabut dari konteksnya, kita tidak dapat dengan mudah mengidentifikasinya.

Kamera, bagaimanapun, adalah media yang kini paling banyak mereproduksi kepalsuan. Ia hadir dengan kemampuan memaksa manusia bersikap sesuai momen. Jika kau hadir dalam acara pemakaman, senyummu terlarang direkam kamera, sebisa mungkin wajahmu harus dibuat sendu, pilu, atau kalau bisa pipimu basah, entah dengan metode apa.

Kamera seperti panggung kecil dengan latar kenyataan yang ada pada setiap tempat di mana kita duduk dan berpijak. Setiap kali ada kamera yang hendak menangkap peristiwa, itu adalah waktu untuk berakting. Hitungan “satu, dua, tiga” untuk siap-siap dijepret, perkataan “cheese” untuk mengembangkan senyum, “gaya bebas”untuk bertingkah semaunya, bahkan “candid” untuk terlihat seolah natural—ah, bahkan yang natural pun perlu dibuat-buat—merupakan serangkaian aba-aba untuk berakting. Hasilnya kita sendiri yang tahu apakah pose kita saat itu palsu, ikut-ikutan, atau memang merepresentasikan perasaan sewaktu gambar itu diambil.

Kehadiran kamera dalam ponsel kini juga turut menyeragamkan cara, yang kemudian berimbas pada hasil. Lihatlah bagaimana teknik yang dinamakan swafoto tak jumud dilakukan dengan cara yang monoton dengan gambar-gambar pose senyum 2 jari (kecuali generasi lama, termasuk saya yang tidak mengenal teknik tersenyum macam itu sehingga gagu di depan kamera) atau manyun memonyongkon bibir, dan objek serta latar objek yang seragam (hitunglah berapa banyak potret makanan dengan posisi siap dimakan atau potret perempuan-perempuan berlatar interior sebuah mobil).

Senyum dan kamera adalah dua hal yang bisa saling mendukung untuk menipu, maka ketika menghadapi kamera saya cenderung melepaskan perasaan sealami mungkin agar potensi kepalsuan yang dibawa kamera menjadi luluh.

Namun, ketika sebuah gambar hendak diunggah dan dibumbui caption, saya justru memiliki potensi membuat kebohongan yang lebih besar dibandingkan sekadar pose palsu. Bagaimanapun bahasa tidaklah benar-benar mampu mewakili kenyataan, ia selalu kurang dan tidak jarang justru berupaya mengubah persepsi pada kenyataan. Apa yang disebut “Kereta Senja Utama” dan “Kereta Fajar Utama” kenyataannya mengacu pada satu benda yang sama, hanya beda waktu keberangkatannya. Antara “gelas separuh penuh” dan “gelas setengah kosong” adalah kenyataan yang sama pula. Bila bahasa mampu merepresentasikan kenyataan dengan baik, tentu hanya akan ada satu bahasa (satu istilah) untuk menyebut satu kenyataan. Faktanya, itu tidak terjadi. Bahkan, manusia amat gemar menyembunyikan kenyataan dengan bahasa. Seseorang yang dulu pernah bercita-cita menjadi dokter tapi saat dewasa malah menjadi selebritas menyembunyikan kagagalannya dengan berkata “Kalau dokter menyembuhkan orang sakit, artis menyembuhkan orang sedih. Sama-sama menyembuhkan kan?”. Tentu, ada banyak contoh lain bagaimana upaya menyembunyikan kegagalan meraih cita-cita dengan membungkusnya melalui bahasa dengan satu alasan, berpikir positif, sebagai upaya menghibur diri.

Orang-orang yang tidak bisa atau kesulitan mengubah kenyataan akan berupaya mengubah persepsi atas kenyataan itu melalui bahasa. Eufemisme yang dijabarkan sebagai salah satu bentuk kesantunan berbahasa justru sering dimanfaatkan dalam upaya tersebut. “Penjara” yang kini disebut “lembaga pemberdayaan” itu apakah memang sudah memberdayakan para penghuninya atau masih sekadar memenjarakannya? “Narapidana” yang kini disebut sebagai “warga binaan” apakah memang sudah dibina dengan baik dan benar? Apakah penghargaan kita kepada “asisten rumah tangga” sudah lebih baik daripada kepada “pembantu rumah tangga”?

Dengan banyaknya ruang untuk menuangkan tulisan, termasuk caption untuk melengkapi unggahan gambar, kerapuhan bahasa semacam kasus di atas tak jarang pula dimanfaatkan oleh banyak orang untuk memplesetkan apa yang ada dalam gambar. Ini yang kemudian kita kenal sebagai meme. Jadi, kata-kata tidak hadir sebagai penjelas, melainkan justru mengaburkan gambar. Gambar jalanan Jakarta yang tergenang banjir dengan sebuah kutipan dari debat calon gubernur menjadi viral dalam sebuah permainan bahasa. “Kolam” yang dalam pernyataan semula diacukan kepada “fasilitas” atau “lapangan pekerjaan” (ini pun tidak benar-benar merepresentasikan pikiran sang calon gubernur, bisa jadi rujukannya lain). Namun, oleh pembuat meme “kolam” itu sengaja diacukan pada “genangan air banjir”. Keduanya bukan “kolam” yang harfiah, mereka memainkan pengertian “kolam” sekehendak bebas mereka dengan tujuan yang berlainan. Dalam kasus semacam ini, alih-alih melancarkan komunikasi, bahasa justru menghambat komunikasi. Selama tidak ada rujukan yang jelas (“kolam” apa yang dimaksudkan), mereka tidak akan dapat berkomunikasi dengan baik. Untuk gambar pribadi penulisan caption tentu berbeda dengan gambar meme sehingga ditulis dengan lebih serius dan memiliki tujuan untuk memunculkan sesuatu yang tidak terdapat dalam gambar di benak para pembaca.

Semakin besar kita memikirkan bagaimana berpose di hadapan kamera, semakin kuat potensi kita menciptakan kepalsuan. Semakin kuat kita memikirkan caption apa yang hendak dituliskan, semakin besar potensi kita membuat kebohongan. Di zaman kiwari saat setiap orang memiliki jejaring sosial, manusia berada pada ketegangan untuk memilih salah satunya. Ada orang-orang yang gagap berpose, macam saya, akan lebih mampu bermain kebohongan daripada kepalsuan. Karena gagap berpose, mereka tidak suka memotret dirinya sendiri dan memajangnya di akun jejaring sosialnya.

Sementara di sisi lain, orang-orang yang kesulitan menuliskan sebuah caption biasanya telah piawai berpose dengan hasil-hasil gambar yang aduhai. Karena mereka kesulitan menuliskan caption, tak jarang mereka mengambil quote dari lirik lagu (dari dangdut sampai indie), novel (karya Tere Liye atau—sebaiknya—penulis yang lebih yahud lainnya), puisi (karya Sapardi Djoko Damono, Aan Mansyur, atau penyair—kalau bisa jangan liris—lainnya), pernyataan tokoh publik, kitab suci, kitab primbon, buku pelajaran, buku saku Pramuka, atau sumber-sumber lainnya yang dianggap mampu menambah pesan dari pose yang ada dalam potret.

Sangat jarang ada orang yang memiliki kemampuan membuat kebohongan dan kepalsuan sekaligus. Di sisi lain, ternyata ada pula orang yang tak pandai berpose sekaligus tak bisa menyusun caption, dan beruntunglah mereka yang termasuk golongan ini. Sebab di pundak golongan terakhir inilah kemurnian dan kejujuran dijunjung demikian tinggi tanpa sekalipun mereka merasa melakukannya. Untuk melihat kamu termasuk golongan yang mana, silakan lihat akun jejaring sosialmu masing-masing, apakah lebih banyak memacak gambar diri atau lebih banyak menuliskan caption yang panjang, atau jangan-jangan keduanya sekaligus?***

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: https://kibul.in/cara-berkontribusi

Pendapat Anda:

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *